Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.
Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.
"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.
"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.
Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Pendataan Kekasih
Entah karena rasa lelah yang menyerang atau karena hangatnya jaket loreng milik Sagara. Membuat Alunar masih tertidur lelap meskipun sinar matahari mulai masuk ke sisi lain barak.
“Dokter Aluna ayo cepat bangun! Sudah pagi. Dokter nanti bisa kesiangan waktu subuhnya.”
Suara Irma sambil menggoyangkan tubuh Alunar beberapa kali. Akhirnya berhasil membangunkan perempuan cantik itu.
Huaa...!
“Sekarang jam berapa, Kak?” tanya Alunar sambil menutup mulutnya yang menguap.
“Sebentar lagi jam 6 pagi.”
“Astaghfirullahaladzim.”
Alunar turun dari ranjang lalu berlari ke kamar mandi. Waktu sholatnya benar-benar habis. Selesai sholat subuh di waktu kritis, Alunar langsung membersihkan diri untuk segera mengawali aktivitas pagi.
“Kenapa kakak tidak membangunkanku?”
Irma yang duduk di kursi terus mengawasi dokter cantik kesayangan komandan mereka. Lalu pandangan matanya menatap jaket loreng di atas ranjang yang sudah bisa dipastikan milik Sagara, karena terlihat jelas nama dada bagian jaket bertuliskan "SAGARA".
“Dokter semalam tidurnya nyenyak sekali serasa dipeluk sama kapten Sagara, ya?” Bukannya menjawab pertanyaan. Justru Irma melontarkan pertanyaan jahil.
“Eh, kakak bicara apa? Siapa juga yang dipeluk kapten tidak jelas seperti dia?” kilah Alunar memalingkan wajahnya. Tak ingin Irma melihat wajah merahnya menahan malu.
“Kalau dokter memiliki perasaan terhadap kapten Sagara sangatlah wajar. Justru dokter menjadi perempuan beruntung karena telah berhasil menaklukkan hati kapten Sagara yang dikenal sangat lurus,” tutur Irma mencoba menyakinkan Alunar yang kini mencoba menghindar.
“Kita berangkat sekarang saja ya, Kak.”
“Siap, dok.”
“Kakak tunggu di luar duluan saja. Aku merapikan tempat tidur ini terlebih dahulu.”
“Siap, dok.”
Karena tidak ingin membahas tentang Sagara. Alunar buru-buru merapikan tempat tidurnya serta menyembunyikan jaket loreng milik Sagara.
“Dok!” panggil Irma sebelum keluar kamar.
“Iya, Kak.”
“Apakah dokter Aluna sadar saat banyak mata perempuan menatap kapten Sagara, justru tatapan mata itu hanya tertuju ke dokter?”
Alunar diam, jujur untuk hal ini dirinya sama sekali tidak menyadari hal itu. Entah karena enggan membahas sosok Sagara atau dirinya hanya fokus pada laki-laki itu. Hingga dirinya tidak menyadarinya.
“Saya tunggu di teras ya, dok.”
“Siap, Kak.”
Setelah kepergian Irma. Kini mata Alunar fokus pada jaket loreng milik Sagara. Jaket yang masih tercium aroma tubuh Sagara hingga membuatnya tidur nyenyak.
“Apa yang kamu lakukan Alunar? Apa yang dirinya lakukan semalam hanya kebetulan saja. Jadi, jangan pernah berpikir macam-macam!” ucap penuh peringatan Alunar pada dirinya sendiri.
Bersama dengan Irma dan juga tim medis lainnya Alunar menuju ke pos kesehatan. Dirinya ingin fokus dengan pekerjaan sebagai upaya melupakan sosok Sagara yang menghantui pikirannya. Namun, hal yang terjadi justru sebaliknya.
“Kenapa suara langkah kaki ini terus menghantuiku? Berhenti memikirkan dia, Alunar,” ucap Alunar menyakinkan dirinya sendiri saat mendengar langkah kaki masuk ke ruangannya.
“Dia lagi,” gumam Alunar melihat keberadaan Sagara di ruangannya.
"Izin, dokter Alunar. Ada berkas logistik obat yang perlu disesuaikan dengan laporan patroli fisik saya kemarin," jelas Sagara dengan nada suara tenang jauh dari kesan bentakan.
"Oh, iya, Kapten. Silahkan duduk! Mari kita periksa bersama angkanya!” ajak Alunar.
Sagara menarik kursi kayu di seberang meja, lalu duduk berhadapan langsung dengan Alunar. Suasana di antara mereka berdua mendadak dilingkupi rasa canggung yang manis. Untuk beberapa saat, hanya terdengar suara lembaran kertas yang dibalik dan goresan pulpen Alunar.
Namun, setelah semua urusan angka selesai. Sagara tidak langsung pergi dari ruangan Alunar. Justru dirinya terus menatap Alunar dengan detak jantung tidak karuan.
“Dokter Alunar," panggil Sagara.
"Iya, Kapten? Apakah ada bagian laporan salah tulis?" tanya Alunar bingung karena Sagara menatap dirinya beberapa saat.
Ahem…!
Suara berdehem dari mulut Sagara terdengar cukup jelas. Mencoba menyamarkan salah tingkahnya.
"Bukan masalah laporan dinas, dok," jawab Sagara pelan, membuang pandangannya sekilas ke arah lapangan luar sebelum kembali menatap mata Alunar.
"Saya hanya ingin bertanya secara pribadi. Di Jakarta sana, apakah Anda sudah memiliki seorang kekasih atau calon pendamping hidup?" tanya Sagara langsung yang kini justru detak jantung Alunar tidak baik-baik saja.
"Eh? Kekasih? Kenapa Kapten tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?" tanya Alunar gugup.
Sagara mengacak rambut pendeknya dengan tangan kiri. Salah tingkahnya semakin menjadi-jadi karena tertangkap basah diam-diam mengagumi Alunar
"Siap, ini hanya bagian dari pendataan latar belakang personel luar yang bertugas di pos perbatasan, dok,” jawab Sagara.
“Agar kami tahu siapa yang harus dihubungi di Jakarta jika terjadi situasi darurat di lapangan," kilah Sagara berbohong. Lagi dan lagi Sagara menggunakan alasan pendataan militer konyol demi menutupi rasa ingin tahunya tentang Alunar.
Alunar menahan senyum geli mendengar penuturan Sagara. Jelas dirinya tahu jika Sagara hanya mencari alasan. Terlihat jelas dari wajah memerah dan perilaku salah tingkah.
"Saya tidak punya kekasih di Jakarta, Kapten," jawab Alunar jujur dengan suara lembut yang mampu merontokkan dendam di masa lalu Sagara pada Faza
“Teman laki-laki?” tanya Sagara memastikan.
“Hanya sebatas teman biasa saja. Laki-laki yang dekat dengan saya hanya keluarga.”
“O…”
“Karena ayah selalu memastikan siapa saja yang dekat dengan saya. Maklum, karena saya putri satu-satunya. Jadi, semua hal khususnya laki-laki harus melewati ayah dan juga kedua adik laki-laki saya.”
Jawaban Alunar membuat Sagara bernafas lega. Meskipun untuk melewati Faza dan dua adik laki-laki Alunar jelas bukanlah hal yang mudah. Tapi paling tidak dirinya tak memiliki saingan.
"Berarti Jenderal Faza sangat protektif pada putrinya," balas Sagara hangat.
"Benar, ayah sangat protektif. Makanya saya sampai sekarang masih jomblo," timpal Alunar sambil tersenyum.
“Apakah ada hal lain yang ingin ditanyakan?”
“Sudah cukup. Saya izin kembali ke pos.”
“Silahkan, Kapten.”
***
Melihat kedekatan Alunar dan Sagara di ruang Alunar. Membuat rasa penasaran Irma meluap ke permukaan.
"Dokter Alunar,” panggil Irma hati-hati.
“Iya, ada apa suster Irma?”
“Tadi saya melihat Kapten Sagara datang dan cukup lama berada di ruang ini berdua saja dengan Anda. Apakah benar?" tanya Irma penasaran.
"Iya benar, suster. Tadi beliau hanya sedang mengantarkan laporan logistik obat Kampung Seberang yang perlu disesuaikan," jawab Alunar.
Mendengar jawaban Alunar. Membuat suster Irma tertawa lepas. Tentu saja membuat Alunar bingung.
“Hahaha… yes!”
“Ada apa suster Irma? Kenapa Anda terlihat sangat bahagia?”
Irma mendekatkan kursinya agar semakin dekat dengan Alunar. Membuat Alunar bertanya-tanya dengan tingkah lagu perawatnya.
"Ternyata tebakan saya benar tentang kapten Sagara yang memiliki perasaan terhadap dokter,” jawab Irma menampilkan wajah bahagia.
“Menurut saya dokter Alunar itu sangat beruntung bisa membuat Kapten Sagara sampai mau duduk lama dan berbicara selembut itu," tutur Irma antusias selayaknya tim sukses.
"Beruntung bagaimana, Kak? Memang sudah seharusnya bersikap ramah pada rekan kerja di pos ini," sanggah Alunar tanpa embel-embel suster saat memanggil Irma. Menandakan jika obrolan yang terjadi lingkup pribadi.
"Bukan begitu, dok! Asal dokter tahu saja, selama bertahun-tahun saya ditugaskan di pos perbatasan ini bersama Kapten Sagara. Beliau itu terkenal sebagai perwira yang paling tidak mudah tergoda oleh perempuan mana pun! Sesuai dengan penuturan saya tadi pagi," seru Irma membeberkan rahasia sang Komandan dengan penuh semangat
"Masa sih? Siapa tahu dia hanya bersikap sok jual mahal saja di depan kalian," cetus Alunar meragukan ucapan perawatnya.
"Siap, tidak, dok! Dulu pernah ada tim audit wanita dari kota dan beberapa anak gadis kepala suku adat pedalaman yang mencoba mendekati dan menarik perhatiannya dengan berbagai cara. Tapi apa reaksi Kapten Sagara?” tanya Irma yang dijawab dengan gelengan kepala.
“Beliau selalu bersikap dingin, kaku, dan langsung pergi mengabaikan mereka dengan alasan tugas patroli! Namun, tidak saat bersama dokter. Meskipun tegas, namun tatapan memuja ada" cerita Irma lagi dengan mata berbinar-binar meyakinkan Alunar.
"Benarkah dia sedingin itu pada perempuan lain?" tanya Alunar mulai tertarik dengan cerita latar belakang pria yang semalam mengawalnya pulang.
“Siap, betul, dok! Kapten Sagara itu punya prinsip yang sangat kuat dan hatinya keras seperti batu kalau urusan wanita. Tapi coba dokter lihat dua minggu belakangan ini.”
“Memangnya apa yang dia lakukan?”
“Beliau rela basah kuyup melompat pagar demi menolong dokter yang jatuh, rela membuntuti dokter empat jam di hutan karena cemas, sampai rela mengawal berjalan dari belakang tengah malam tadi! Itu artinya, dokter Alunar adalah satu-satunya perempuan yang berhasil meruntuhkan pertahanan hatinya yang beku itu! Kalau Anda tidak percaya bisa tanya ke Lettu Arisandhi atau Sertu Oka," tegas Irma panjang lebar tanpa jeda hanya untuk menyakinkan Alunar.
“Membuntuti di hutan selama empat jam?” tanya Alunar tidak paham.
“Dokter pasti tidak tahu saat kampung sebelah terkena demam massal dan Anda mendapatkan hukuman. Sebenarnya kapten Sagara itu menjaga dokter dari kejauhan.”
Alunar terdiam, jelas untuk hal ini dirinya benar-benar tidak menyadarinya.
“Dokter kan putri seorang jenderal yang berpengaruh di negara ini dengan karir mentereng. Jelas keamanan dokter itu harus utama. Apalagi saat itu ada penangkapan besar-besaran kasus penyelundupan antar negara.”
Alunar terdiam mendengar penuturan dari Irma. Rasa kesal yang sempat ada karena sikap kaku Sagara terhadapnya secara perlahan mulai terkikis.
“Apakah dia benar-benar melakukan itu semua demi untukku?” batin Alunar gundah gulana.
“Jika memang dia melakukan hal semua itu untukku. Apakah aku spesial itu?” batin Alunar lagi menyakinkan dirinya yang detak jantungnya kini benar-benar tidak karuan.
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
musuh siapa ini?
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
mpe kpn kamu seperti itu???
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi