NovelToon NovelToon
SULUNG

SULUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DIFAN2

Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.

Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukum Darah dan Penyelamat

Pendaran cahaya biru elektrik dari Dream Flower perlahan meredup, meninggalkan keheningan yang sarat akan ambisi baru di dalam gubuk bambu hitam.

Hera Grahansa menatap layar tabletnya dengan napas yang masih memburu. Angka-angka statistik regenerasi sel saraf yang tertera di sana bukan lagi sekadar teori fiktif.

Ini nyata.

Formula ini adalah jawaban absolut untuk menyembuhkan ibunya yang bertahun-tahun terbaring lemah akibat degradasi saraf kronis.

"Aku harus pulang," bisik Hera, jemarinya mencengkeram pinggiran meja kayu dengan erat.

Tatapannya beralih pada tabung-tabung sampel di depannya, lalu bergerak menatap Sulung.

"Penelitian ini sudah berhasil, Sulung. Aku punya formula utuh untuk menyelamatkan ibuku di kota. Aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi."

Sulung yang berdiri di dekat pintu gubuk, tidak langsung merespons. Wajahnya kembali mengeras, sedingin es pagi Alas Purba.

"Kau baru saja melihat sekilas keajaiban hutan ini, Profesor, dan pikiran pertamamu adalah bagaimana cara melarikan diri darinya."

Hera mengembuskan napas panjang.

Amarahnya tidak lagi meledak-ledak seperti hari-hari pertama ia diculik. Ada rasa respek yang mulai tumbuh di hatinya untuk pria di hadapannya ini. Sulung bukan sekadar pria rimba yang kasar, semalam pria itu menunjukkan kontrol diri yang luar biasa, dan pagi ini pengetahuannya terbukti menyelamatkan sampel berharga milik Hera.

"Ini bukan tentang melarikan diri dari hutan atau darimu," kata Hera, suaranya melunak, melangkah mendekati Sulung. "Ini tentang seorang anak yang ingin ibunya kembali sehat. Aku menghormati pengetahuanmu, Sulung. Kau benar soal air murni itu. Tanpa kau, penelitian ini mungkin sudah hancur. Tapi kumohon, pahami posisiku."

Sulung menatap mata Hera yang berbinar penuh harap. Atmosfer canggung sisa semalam mendadak kembali merayap di antara mereka. Karena jarak yang terlalu dekat, mata Sulung kembali terpaku pada tanda kemerahan di leher Hera yang sengaja ia sembunyikan di balik kerah jaket.

Menyadari tatapan intens Sulung yang tertuju ke lehernya, wajah Hera mendadak memerah. Detak jantungnya berpacu liar. Untuk mengalihkan rasa gugupnya yang mendadak membubung tinggi, Hera buru-buru berbalik badan dengan gerakan yang terlalu panik, bermaksud merapikan peralatannya.

Namun, karena terburu-buru, kaki Hera tidak sengaja tersangkut pada akar gantung yang menembus lantai gubuk.

"Ah—!" Hera kehilangan keseimbangan. Tubuhnya limbung ke belakang.

Grep.

Sebelum punggung Hera menghantam lantai bambu, sebuah lengan kekar yang sangat kokoh sudah melingkar sempurna di pinggangnya.

Sulung dengan refleks luar biasa menangkap tubuh Hera, menarik wanita itu hingga menempel pas di dada bidangnya yang telanjang. Posisi mereka begitu dekat hingga Hera bisa merasakan embusan napas hangat Sulung di pucuk kepalanya.

Hera membeku, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Dia mendongak, berniat mengucapkan terima kasih, tetapi pemandangan di depannya justru merusak momen romantis tersebut.

Tepung putih antiseptik yang tadi sempat Hera pegang, ternyata tumpah saat ia terjatuh. Kini, separuh wajah garang sang Panglima rimba dan sebagian rambut hitam panjangnya tertutup bedak putih medis, membuatnya tampak seperti hantu gandum hutan yang sedang kebingungan.

Hera berkedip sekali. Dua kali. Kemudian, sebuah tawa kecil yang tidak bisa ditahan lolos begitu saja dari bibirnya.

"Panglima rimba macam apa yang mukanya penuh bedak bayi begini?"

Sulung mengernyitkan alisnya yang kini berwarna putih, menatap Hera dengan pandangan datar nan dingin yang justru terlihat sangat menggemaskan. "Ini bukan bedak bayi. Ini racun kotamu yang baunya seperti bunga melati mati."

"Itu antiseptik wangi lavender, Sulung!" Hera tertawa lagi, tawa lepas pertamanya sejak menginjakkan kaki di Alas Purba. Tanpa sadar, tangan Hera bergerak naik, menggunakan jemarinya untuk mengusap sisa-sisa tepung putih di pipi Sulung dengan lembut. Sentuhan tak sadar itu membuat keduanya mendadak terdiam. Mata mereka bertautan, memancarkan getaran mesra yang hangat di tengah tumpahan bedak laboratorium.

Sebelum momen itu berlanjut menjadi sesuatu yang lebih intens, keheningan dahan pohon raksasa itu pecah oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan teriakan panik dari arah bawah gubuk.

"Panglima! Panglima Sulung!"

Suara lengkingan itu terdengar bergetar hebat. Sulung langsung melepaskan pelukannya pada pinggang Hera dengan cermat, kembali berubah menjadi sosok pemimpin yang waspada.

Dia menyibak pintu anyaman bambu dan melompat ke dahan luar, disusul oleh Hera yang buru-buru mengantongi beberapa peralatan medis darurat ke dalam saku jaketnya.

Di bawah tangga tali gubuk, dua orang pemuda klan rimba sedang memapah seorang pemburu lain yang kondisinya sangat mengenaskan. Darah segar berwarna merah pekat mengalir deras, membasahi pakaian kulit kayu yang mereka kenakan.

"Apa yang terjadi?" tanya Sulung dengan suara menggelegar saat ia turun dari tangga dengan lincah, mengabaikan fakta bahwa wajahnya masih agak cemong putih di bagian pelipis.

"Macan Loreng Alas Purba, Panglima!" salah satu pemuda menjawab sambil terengah-engah, meski matanya sempat melirik heran ke arah wajah Sulung yang tidak biasa.

"Wira terkena cakaran telak di dada saat kami berburu di batas lembah. Racun dari kuku binatang itu sudah mulai menyebar!"

Sulung mendekat, berjongkok di samping tubuh Wira yang sudah tidak sadarkan diri di atas tanah. Wajah pemburu itu pucat pasi, bibirnya membiru, dan di dadanya terdapat tiga robekan menganga yang sangat dalam hingga memperlihatkan jaringan otot yang hancur.

Hera yang baru saja turun, terkesiap melihat luka tersebut. Insting medisnya langsung mengambil alih. Dia menerobos maju, mengabaikan tatapan sinis dan waspada dari kedua pemuda klan yang langsung memegang gagang senjata mereka.

"Jangan menyentuhnya, wanita kota!" bentak salah satu pemuda.

"Diam!" bentak Hera balik dengan otoritas penuh seorang akademisi medis. "Dia bisa mati dalam hitungan menit karena kehabisan darah dan syok! Biarkan aku melihat lukanya!"

Sulung mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat mutlak kepada anak buahnya untuk mundur. "Biarkan dia melihatnya."

Hera segera berlutut di tanah yang basah. Dengan cekatan, dia meraba denyut nadi di leher Wira. "Denyut nadinya lemah dan cepat. Dia mengalami syok. Cairan tubuhnya keluar terlalu banyak."

Hera merobek tas kecil di pinggangnya, mengeluarkan sebotol cairan antiseptik, perban kompresi termal, sebotol antibiotik injeksi spektrum luas, dan alat jahit medis darurat.

"Aku menawarkan bantuan medis modern. Aku bawa antibiotik untuk menghentikan racun infeksi bakteri dari kuku macan itu, dan aku bisa menjahit jaringan dadanya agar darahnya berhenti. Apakah kau mengizinkanku?" tanya Hera cepat sambil menatap Sulung lurus.

Pemuda klan di samping Sulung memprotes,

"Panglima, jangan biarkan dia memasukkan racun kota ke dalam tubuh Wira! Kita harus membawanya ke Tabib Tetua!"

"Tabib Tetua berada di seberang sungai, butuh waktu lama ke sana. Pemuda ini akan mati dalam tiga puluh menit," potong Hera tajam tanpa mengalihkan pandangannya dari Sulung.

"Sulung, kau harus percaya padaku sekarang. Sama seperti aku mempercayaimu soal Dream Flower tadi pagi."

Atmosfer di bawah pohon raksasa itu mendadak sangat tegang. Sulung menatap Wira yang mulai kejang halus, lalu beralih menatap Hera. Di dalam mata wanita kota itu, tidak ada kilatan pengkhianatan; yang ada hanyalah tekad murni seorang penyembuh.

"Lakukan," perintah Sulung tegas. "Jika dia mati di tanganmu, hukum rimba akan menuntut darahmu, Hera."

"Dia tidak akan mati," jawab Hera mantap.

Hera langsung bekerja dengan efisiensi tingkat tinggi. Dia menyemprotkan cairan antiseptik ke luka terbuka Wira. Pemuda yang pingsan itu sempat melenguh kesakitan saat cairan kimia itu membersihkan bakteri. Dengan tangan yang stabil dan terlatih, Hera mengambil jarum lengkung dan benang bedah steril.

Set. Set. Set.

Jemari Hera bergerak lincah, menautkan kembali jaringan kulit dan otot yang robek dengan teknik jahitan dalam. Sulung memperhatikan setiap detail gerakan tangan Hera dalam diam. Ada rasa kagum yang diam-diam menyelinap di dada sang Panglima. Wanita yang beberapa saat lalu menertawakannya karena bedak tabur, kini bertransformasi menjadi sosok yang begitu dominan, dingin, dan penuh kendali di atas genangan darah.

Setelah jahitan selesai, Hera mengambil jepitan jarum suntik, mengisi tabungnya dengan cairan antibiotik dosis tinggi, lalu menyuntikkannya langsung ke pembuluh darah lengan Wira. Terakhir, dia membalut dada pemuda itu dengan perban kompresi untuk menekan sisa pendarahan.

Hera menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan sedikit noda tanah di pipinya. Dia memeriksa kembali denyut nadi Wira.

"Nadinya mulai stabil," kata Hera, napasnya terengah-engah karena tegang. "Napasnya sudah tidak terlalu pendek. Racun infeksinya akan diredam oleh obat yang kusuntikkan tadi. Biarkan dia istirahat di tempat yang hangat."

Kedua pemuda klan rimba itu terbelalak melihat dada rekan mereka yang kini rapi terbebat perban, dan kejang-kejang di tubuh Wira perlahan mereda. Mereka menatap Hera dengan pandangan yang tidak lagi dipenuhi kebencian, melainkan rasa ngeri bercampur hormat yang mendalam.

Sulung berdiri, lalu mendekati Hera. Dia mengulurkan tangannya yang besar untuk membantu Hera bangkit dari tanah. Hera menyambut uluran tangan itu, merasakan kembali kehangatan maskulin yang akrab menjalar ke tubuhnya.

Saat Hera sudah berdiri tegak, Sulung tidak langsung melepaskan genggamannya. Pria rimba itu menatap pipi Hera yang kotor, lalu dengan ibu jarinya yang kasar, ia mengusap noda tanah di pipi Hera dengan gerakan yang sangat lembut—sangat bertolak belakang dengan watak kaku yang biasa ia tunjukkan.

"Kau menyelamatkan salah satu pemburu terbaikku," ucap Sulung rendah, matanya menatap lekat ke dalam manik mata Hera.

Hera terpaku, merasakan wajahnya kembali memanas akibat perhatian kecil itu.

"Aku hanya melakukan tugasku sebagai ilmuwan dan manusia. Dan kurasa... wajahmu masih sedikit putih di sebelah kanan, Panglima."

Sulung mendengus pelan, memalingkan wajahnya yang mendadak salah tingkah, memicu senyum kecil di bibir Hera.

Jangan lupa komen ya.

1
FiaNasa
namanya sungsang,,apa waktu lahir kedunia dia dalam keadaan sungsang kah😄,,,hemmm...suka dg karakter sungsang ini,,kek nya dia pria jenaka n sangat menghargai wanita..kau hoda lah terus kakak mu yg pintu kulkas 2 pintu itu sungsang😂😂😂bolehlah kugoda juga si sungsang ini🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
kok masih pada ragu akan kemampuan Hera ya padahal Hera lo.sudah banyak membantu para prajurit n rakyat alas purba
falea sezi
sulung ini jin apa demit thor secara klo. manusia kn g mungkin ya 🤭
DIFAN2: ikut i terus alur ceritanya kak,👍🙏
total 1 replies
falea sezi
mampus jd orng gk percaya mistis
FiaNasa
Hera,,,jika kau tidak bisa bersama sulung,,biar AQ saja yg menggantikan nya,,,,waddawwww🤣🤣🤣
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
ternyata endingnya dipending😂😂😂padahal degup jantung kalian berisik smpai terdengar ketempatku,,kupikir jafi😂😂😂😂😂
FiaNasa: kehabisan stok sabar🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
wadidawwwww...fuananssss....fuanasssss....merinding sebadan²😂😂
DIFAN2: 😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
FiaNasa
haredanggggggg🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
tenang saja,,nanti Hera juga diantar pulang kok sama sulung
E F
dr bab brp thor?????
E F: heehhe
okey thor💪😍
total 2 replies
neni nuraeni
lnjut💪💪💪 kak thor
FiaNasa
mas sulung bener² udah posesif sama Hera,,udah jatuh cinta ...tidakkah kau merasakan getaran² cintahhh Dimata sulung her,,jgn kau abaikan cintanya mas sulung,klau kau tidak sanggup mencintainya .biar AQ saja yg mencintainya 🤣🤣🤣meledakkkkkk🤣🤣🤣
E F
lanjutty💪🙏😍
FiaNasa
sudah deh deh an beruntung mas sulung segera pulang
FiaNasa
kau pasti bisa melawannya Hera,,ayo tunjukkan kemampuanmu
E F
lanjutttt thor💪🙏😍
DIFAN2: Siap kak 👍
total 1 replies
Luna
next kak
DIFAN2: ditunggu ya kak 🙏
total 1 replies
FiaNasa
part menegangkan...
FiaNasa
pak tetua adat..klau lumutnya kurang ditempatku banyak Lo,,disawah²
FiaNasa: mau berapa kilo😄😄
total 2 replies
FiaNasa
kok AQ jadi curiga ya,,jgn² authornya ini ahli fisika😄
FiaNasa: pasti nya ini😄😄
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!