NovelToon NovelToon
KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

KEPERCAYAAN YANG BERHARGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Mengubah Takdir / Trauma masa lalu / Chicklit
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Sebuah kisah nyata tentang kehidupan seorang gadis cantik berhati lembut yang dipenuhi dengan beragam kebohongan yang ia buat hanya karena ia takut dengan apa yang akan ia hadapi,
Hingga akhirnya berujung dengan pernikahan yang membuatnya harus mengubur dalam dalam rasa penyesalannya karena harus berusaha untuk mencintai hal yang dicintai oleh suaminya, termasuk agama dan keyakinan pria yang menjadi pemuja hatinya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Dalam Sangkar Emas dan Bisikan Jiwa yang Terpatri

Suara deru mesin mobil mewah yang melaju membelah kesunyian malam Jakarta serasa menjadi pengiring bagi kehampaan yang kian menggerogoti dada Naya. Di sampingnya, Gavin memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi menggenggam jemari Naya begitu erat, seolah takut jika dilepaskan sekejap saja, wanita di sisinya itu akan menguap menjadi udara.

Pancaran lampu jalanan yang menembus kaca mobil sesekali menerangi wajah tegap Gavin. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan yang begitu pekat, jenis kebahagiaan murni dari seorang pria yang merasa telah berhasil memenangkan hadiah paling berharga dalam hidupnya. Namun bagi Naya, setiap usapan lembut ibu jari Gavin di punggung tangannya justru terasa seperti tumpukan beban yang kian menindih jiwanya hingga makin tak bernapas.

"Kita hampir sampai, Sayang," bisik Gavin lembut, menoleh sekilas dengan senyuman yang sanggup meluluhkan hati wanita mana pun. "Mulai malam ini, ini adalah rumah kita. Tempat di mana hanya ada aku, kamu, dan masa depan yang sudah kusiapkan dengan seluruh cintaku."

Naya hanya mampu mengangguk pelan, memaksakan kurva senyum tipis di bibirnya yang pucat. "Iya, Gavin..."

Ketika kendaraan berbelok memasuki sebuah kompleks perumahan elite di kawasan Jakarta Selatan dan berhenti di depan sebuah rumah berarsitektur modern klasik yang megah, jantung Naya berdegup kencang. Pagar besi tempa menjulang tinggi terbuka secara otomatis, menyambut mereka ke dalam pekarangan luas yang tertata rapi dengan pancuran air dan lampu-lampu taman bernuansa hangat. Rumah ini bagaikan istana. Sebuah sangkar emas yang indah, namun dibangun di atas fondasi pasir kebohongan yang setiap saat bisa runtuh menimbunnya hidup-hidup.

Gavin bergegas turun, membukakan pintu untuk Naya dengan gestur penuh penghormatan layaknya menyambut seorang ratu. Sebelum Naya sempat melangkahkan kakinya keluar, Gavin membungkuk dan dengan perlahan mengangkat tubuh Naya ke dalam pelukannya.

"Gavin! Apa yang kamu lakukan?" pekik Naya kaget, refleks melingkarkan tangannya di leher Gavin.

Gavin tertawa renyah—suara tawa yang begitu bernyawa dan hangat. "Tradisi, Naya. Aku tidak akan membiarkan kaki indah istriku menyentuh tanah sebelum engkau resmi melintasi ambang pintu rumah baru kita."

Gavin melangkah masuk melewati pintu kayu jati yang kokoh. Di dalam rumah, aroma wewangian kayu cendana dan bunga melati menyambut indra penciuman mereka. Interior rumah itu didominasi warna-warna hangat dengan pencahayaan yang lembut. Namun, pandangan Naya langsung tertambat pada sebuah salib kayu berukir indah yang terpasang anggun di dinding utama ruang keluarga, tepat di atas perapian buatan.

Mata Naya terpaku pada simbol itu. Seketika, dinding dadanya bergemuruh hebat. Di dalam benaknya, bisikan alunan azan Subuh yang saban pagi menggetarkan jiwanya sejak kecil mendadak bergaung keras, bertabrakan dengan kenyataan bahwa malam ini ia telah berdiri di bawah atap yang berbedak keyakinan. Lidahnya terasa kelu. Keberaniannya merembes jatuh ke lantai, menyisa jejak penyesalan yang kian bernanah.

Gavin menurunkan Naya dengan sangat hati-hati di tengah ruang tengah, lalu menangkup kedua pipi istrinya. "Rumah ini kubeli dan kudesain khusus untukmu, Naya. Di sini, tidak akan ada orang yang bisa menyakitimu lagi. Masa lalumu yang kelam, rasa sakit hatimu... semuanya sudah berakhir. Aku akan menjadi bentengmu."

Kata-kata Gavin begitu tulus, dipenuhi obsesi suci untuk melindunginya. Gavin memujanya tanpa batas. Pria itu menyintainya dengan seluruh jiwa dan raga, memandang Naya sebagai wanita paling suci dan tanpa cela. Justru karena itulah, rasa bersalah Naya terasa bagaikan sembilu yang mengiris-iris organ dalamnya. Gavin mencintai sebuah figur ilusi—seorang wanita Kristen yang taat bernama Naya, bukan Naya Farasya, seorang Muslimah yang kini tengah menyembunyikan identitas dan kepedihan trauma masa lalunya.

Jika saja kamu tahu, Gavin... jika saja kamu tahu betapa kotornya wanita yang sedang kamu peluk ini... bisik hati Naya dalam tangis yang tak bersuara.

"Kamu tampak lelah sekali, Naya," ucap Gavin, mengelus lembut dahi Naya dengan tatapan sarat kekhawatiran. "Mandilah dulu dengan air hangat. Aku akan menyiapkan minuman hangat untukmu di bawah, lalu kita beristirahat."

Naya mengangguk pasrah. "Terima kasih, Gavin."

Langkah kaki Naya terasa amat berat saat ia menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua. Kamar pengantin mereka didekorasi dengan sangat indah. Kelopak bunga mawar merah bertebaran di atas ranjang berukuran king-size bertirai putih transparan. Naya berjalan menuju kamar mandi dalam yang luas, lalu mengunci pintunya rapat-rapat.

Begitu selot pintu terkunci, seluruh pertahanan Naya runtuh seketika.

Ia bersandar di balik pintu kayu, meluruh jatuh hingga terduduk di atas lantai granit yang dingin. Isakan tangis yang sejak sore ia tahan mati-matian akhirnya pecah. Naya menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan agar suara tangisnya tidak terdengar sampai ke luar. Tubuhnya terguncang hebat oleh trauma, ketakutan, dan penyesalan yang teramat mendalam.

Setiap kenangan masa lalunya berputar bagaikan film bisu yang menyiksa. Ia teringat bagaimana Rian, mantan kekasih yang sangat ia percayai dulu, menghancurkan sisa-sisa harga dirinya. Rian yang memanipulasinya, menyelingkuhinya di depan mata kepalanya sendiri, dan meninggalkannya dalam kubangan depresi yang hampir membuatnya mengakhiri hidup. Trauma itu mengajarinya bahwa dunia ini sangat jahat, bahwa menjadi jujur hanya akan membuatnya terinjak-injak.

Lalu hadir Gavin—pria bagaikan malaikat yang membawakan secercah harapan di tengah kegelapan jiwanya. Gavin memberinya cinta yang begitu melimpah, namun cinta itu datang dengan satu syarat tak tertulis: persatuan keyakinan. Karena takut ditolak dan ditinggalkan lagi, Naya mengambil langkah gila. Ia menenun kebohongan demi kebohongan, memalsukan identitas diri, hingga berpura-pura menjadi pengikut kristiani yang taat demi mempertahankan hangatnya kasih sayang Gavin.

Dan kini, Rian kembali. Bagaikan iblis yang keluar dari dasar neraka, Rian muncul membawa amplop cokelat berisi bukti-bukti kebohongannya, siap menghancurkan sangkar emas yang baru saja didapatkannya.

"Tuhan... Ya Allah... ampuni aku..." bisik Naya terenga-engah, dadanya naik turun menahan sesak. "Aku takut... aku sangat takut..."

Naya bangkit dengan gemetar, berjalan mendekati wastafel. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gaun pengantin mewahnya yang dipenuhi kristal Swarovski kini terasa bagaikan rantai besi yang menjerat lehernya. Dengan jemari yang gemetar hebat, Naya melepas selubung pengantin (veil) di kepalanya, lalu mulai meraba punggungnya untuk menurunkan ritsleting gaun tersebut.

Namun ritsleting itu tersangkut di bagian tengah. Naya berusaha menariknya dengan panik, namun kian ditarik, kain renda itu makin terbelit. Kefrustrasian yang menumpuk membuat Naya terisak semakin kencang. Ia memukuli pinggiran wastafel, meratapi betapa tak berdayanya ia bahkan untuk sekadar melepas gaun kebohongannya sendiri.

Tiba-tiba, ketukan lembut terdengar di pintu kamar mandi.

"Naya? Sayang, kamu baik-baik saja di dalam?" suara Gavin terdengar dari luar, dipenuhi nada cemas. "Aku mendengar suara berisik. Boleh aku masuk?"

Naya menyapu air matanya panik, berusaha menetralkan nafasnya yang tersengal. "A-aku tidak apa-apa, Gavin... Cuma... ritsleting gaunku tersangkut."

Pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci sepenuhnya dibuka perlahan oleh Gavin. Pria itu melangkah masuk dengan cangkir teh chamomile hangat di tangannya. Saat matanya melihat wajah Naya yang sembab dengan mata memerah dan gaun yang setengah terbuka di bagian punggung, raut wajah Gavin langsung berubah menjadi lembut penuh rasa iba.

Gavin meletakkan cangkir teh di meja marmer, lalu berjalan mendekati Naya dari belakang. "Kenapa tidak minta tolong padaku, hm? Kamu tidak perlu menanggung semuanya sendiri lagi, Naya. Sekarang ada aku."

Tangan Gavin yang hangat menyentuh kulit punggung Naya yang terbuka, membuat Naya refleks meremang pelan. Gavin secara perlahan dan telaten membenarkan kain renda yang tersangkut, lalu menurunkan ritsleting gaun itu hingga ke pinggang dengan sangat hati-hati.

Dari pantulan cermin, Gavin menatap mata Naya yang basah. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Naya, memeluk pinggang istrinya dari belakang dengan lembut.

"Jangan menangis lagi, Naya," bisik Gavin, menyapu lembut sisa air mata di pipi Naya dengan ibu jarinya. "Aku tahu pernikahan ini mungkin membuatmu teringat akan luka masa lalumu. Aku tahu kamu masih membawa trauma berat dari pria pengkhianat itu. Tapi aku berjanji padamu, demi Tuhan yang kita sembah, aku tidak akan pernah menyakiti hatimu. Aku akan memanjakanmu, mencintaimu, dan menjadikanmu wanita paling bahagia."

Naya memejamkan matanya rapat-rapat. Kata-kata Gavin yang menyebut "Tuhan yang kita sembah" bagaikan belati yang menancap makin dalam di ulu hatinya. Gavin, andai kamu tahu... Tuhan kita tidak sama... jerit jiwanya dalam diam.

"Terima kasih, Gavin..." hanya itu kata yang sanggup keluar dari bibir Naya.

"Mandilah dengan air hangat. Aku menunggu di luar," Gavin mencium lembut pelipis Naya sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar kamar mandi, memberikan privasi untuk istrinya.

Satu jam kemudian, Naya telah berganti pakaian menggunakan gaun tidur sutra berwarna putih gading yang sopan. Rambut panjangnya yang basah dibiarkan terurai. Ketika ia keluar dari kamar mandi, lampu kamar utama telah diredupkan, menyisakan pendar cahaya hangat dari lampu tidur di samping ranjang.

Gavin sedang duduk di tepi ranjang, mengenakan kaos santai dan celana panjang. Di tangannya, ia memegang sebuah Alkitab kecil bercover kulit hitam. Pria itu mendongak saat mendengar langkah kaki Naya, lalu tersenyum manis.

"Sini, Sayang. Duduk di sebelahku," pinta Gavin sambil menepuk sisi ranjang di sampingnya.

Naya melangkah ragu, lalu mendudukkan dirinya di samping Gavin. Aroma wangi tubuh Gavin yang maskulin dan segar menyapa inderanya.

"Sebelum kita tidur, aku ingin kita berdoa bersama," ujar Gavin seraya membuka Alkitab tersebut. "Aku selalu bermimpi, malam pertama pernikahan kita akan ditutup dengan mengucap syukur kepada-Nya. Boleh aku membacakan satu ayat untukmu?"

Naya merasa tenggorokannya seperti tersumbat batu besar. Namun, membayangkan ancaman Rian dan ketakutan akan kehilangan kasih sayang Gavin membuat Naya tak punya pilihan lain. Ia harus melakoni peran ini. Ia harus belajar mencintai dan menerima apa pun yang dicintai oleh suaminya.

"Boleh, Gavin..." bisik Naya lirih.

Gavin menggenggam tangan kiri Naya, lalu mulai membaca ayat-ayat kitab sucinya dengan suara yang begitu tenang, merdu, dan penuh penghayatan. Setiap baris kata yang diucapkan Gavin melukiskan betapa dalamnya rasa syukur pria itu atas anugerah berupa Naya di dalam hidupnya.

Setelah membaca ayat tersebut, Gavin meletakkan Alkitab di meja samping ranjang, lalu menangkup kedua tangan Naya di dalam genggamannya.

"Mari kita berdoa," bisik Gavin pelan, lalu memejamkan matanya.

Naya menatap wajah Gavin yang begitu khusyuk. Pria tegap di depannya ini sedang memanjatkan doa dengan ketulusan yang luar biasa. Di dalam doanya, Gavin menyebut nama Naya berkali-kali, memohon agar Tuhan memberkati pernikahan mereka, melindungi rumah tangga mereka dari segala marabahaya, dan menuntun Naya agar selalu berada dalam naungan kasih-Nya.

Naya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air mata kembal merembes keluar dari sudut matanya, menetes satu per satu membasahi sprei sutra di bawahnya.

Ya Allah... Tuhan semesta alam yang Maha Pengampun... jerit batin Naya di dalam hati, memanjatkan doa rahasianya sendiri di tengah doa suaminya. Ampunilah hamba-Mu yang berdosa ini. Hamba terhimpit di antara rasa takut dan ketidakberdayaan. Hamba mencintai pria ini, namun hamba telah menukarkan identitas hamba dengan kebohongan. Dengarkanlah jeritan hati hamba, Ya Allah... Jangan hukum Gavin atas kebohongan yang hamba perbuat...

Ketika Gavin mengakhiri doanya dengan kata "Amin", pria itu membuka mata dan mendapati Naya sedang menangis sesenggukan. Gavin yang mengira Naya terharu oleh doanya, langsung merengkuh tubuh Naya ke dalam pelukannya yang hangat.

"Aku sangat mencintaimu, Naya. Sangat mencintaimu..." bisik Gavin penuh emosi, mendaratkan ciuman-ciuman hangat di puncak kepala Naya, keningnya, dan akhirnya di kedua pipinya.

Gavin merebahkan tubuh Naya secara perlahan di atas ranjang empuk itu, lalu menyusul di sampingnya. Pria itu menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua, lalu merangkul pinggang Naya rapat-rapat, menyembunyikan wajah Naya di dada bidangnya.

"Tidurlah, Istriku. Mulai hari ini, kamu aman dalam pelukanku," gumam Gavin pelan hingga akhirnya napas pria itu teratur, tertidur lelap dalam kelelahan setelah hari pernikahan mereka yang panjang.

Namun bagi Naya, malam itu baru saja menjadi awal dari malam-malam tanpa tidur yang akan menghantuinya. Dalam kegelapan kamar, Naya mendengarkan detak jantung Gavin yang berdetak stabil di balik dadanya. Rasa hangat pelukan Gavin terasa bagaikan candu yang menenangkan, sekaligus racun yang perlahan membunuhnya dari dalam.

Keesokan harinya, pendar sinar matahari pagi menembus celah-celah gorden kamar, menyinari wajah Naya yang terbangun dengan kelopak mata yang sembap. Gavin sudah tidak ada di sampingnya, namun aroma kopi segar yang menyeruak dari lantai bawah menandakan suaminya sudah terjaga lebih dulu.

Naya beranjak dari ranjang, merapikan gaun tidurnya, lalu melangkah turun ke lantai bawah. Di dapur bersih yang bernuansa serba putih, Gavin tampak sibuk membelakangi tangga. Pria itu hanya mengenakan celana santai dan kaos tipis, sedang memanggang roti dan menyiapkan dua cangkir kopi panas.

Melihat pemandangan manis itu, dada Naya berdesir hangat. Ini adalah kehidupan manis yang selalu ia impikan setelah masa-masa kelam patah hatinya—seorang suami yang penuh perhatian, penyayang, dan rela melayaninya. Namun manisnya kenyataan ini selalu dibayangi oleh kegelapan yang siap menelannya sewaktu-waktu.

"Selamat pagi, Pengantin Cantikku," tegur Gavin hangat saat menyadari kehadiran Naya. Gavin menghampirinya, mendaratkan kecupan singkat di bibir Naya yang membuat pipi wanita itu memerah alami. "Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"

"Pagi, Gavin... Iya, lumayan nyenyak," bohong Naya lagi.

"Duduklah. Aku membuatkan roti panggang alpukat dan kopi favoritmu," ujar Gavin dengan penuh semangat, menarikkan kursi bar untuk Naya.

Naya duduk dan menikmati sarapan buatan Gavin. Perhatian-perhatian kecil yang diberikan Gavin terasa begitu tulus. Setiap kali Naya tersenyum, mata Gavin berbinar bahagia, seolah tersenyumnya Naya adalah pencapaian terbesar dalam hidup pria itu. Obsesi Gavin untuk membahagiakannya begitu tebal dan nyata.

Namun, kedamaian pagi itu mendadak hancur berkeping-keping ketika ponsel milik Naya yang tergeletak di atas meja dapur bergetar nyaring.

Bzzzz... Bzzzz...

Naya menoleh ke layar ponselnya. Tidak ada nama yang tertera, hanya sebuah nomor tidak dikenal. Namun, serangkaian angka itu sudah sangat dihafal oleh Naya—nomor yang membawa trauma mendalam dari masa lalunya.

Darah Naya serasa membeku seketika. Tangannya yang sedang memegang pisau roti gemetar hebat.

Gavin yang melirik ponsel itu ikut menaikkan sebelah alisnya. "Siapa pagi-pagi begini yang menelepon? Nomor tidak dikenal?"

"A-aku... aku tidak tahu, Gavin," gagap Naya, wajahnya mendadak pucat pasi.

"Coba angkat saja, siapa tahu penting. Atau mau aku yang angkat?" Gavin mengulurkan tangannya hendak mengambil ponsel tersebut.

Ketakutan luar biasa menjangkiti seluruh sel tubuh Naya. Jika Gavin yang mengangkat, dan Rian bersuara di ujung telepon... semuanya akan berakhir pagi ini juga.

"Jangan!" pekik Naya sedikit terlalu keras, refleks menyambar ponsel itu lebih cepat dari tangan Gavin.

Gavin tertegun, terkejut melihat reaksi defensif yang ditunjukkan istrinya. Sorot mata Gavin berubaha heran, menyimpan kebingungan yang mendalam. "Naya? Ada apa? Kenapa kamu kaget sekali?"

Naya dengan cepat mencoba menguasai dirinya, menelan ludah yang terasa pahit. Ia memaksa sebuah senyuman kecil, meski tangannya di bawah meja meremas gaunnya hingga kusut. "Maafkan aku, Gavin... A-aku cuma kaget. Biasanya ini nomor penawaran asuransi atau telemarketing. Aku... aku akan mengurusnya di kamar mandi sebentar."

Naya berdiri dari kursi dengan terburu-buru, membawa ponselnya lalu setengah berlari menuju lorong dekat ruang tamu. Gavin menatap punggung istrinya yang menjauh dengan sorot mata yang perlahan meredup, menyisakan keraguan dan benih-benih kecurigaan kecil yang mulai tertanam di benaknya.

Di dalam lorong yang sepi, Naya menekan tombol hijau dengan jemari yang berguncang hebat. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya, menahan napas.

"Halo..." suara Naya berbisik tajam, sarat akan kemarahan dan ketakutan yang bercampur aduk. "Rian! Apa lagi yang kamu inginkan?!"

Kekehan dingin yang begitu dibenci Naya bergema dari balik telepon.

"Selamat pagi, Naya Farasya... atau harus kupanggil Naya Ardiansyah sekarang?" ejek suara Rian di ujung sana. "Bagaimana malam pertamamu dalam sangkar emas? Apakah kamu berhasil berakting dengan sempurna di depan suami sucimu itu?"

"Cukup, Rian! Hentikan semua ini! Kamu sudah berjanji tidak akan menghancurkan hidupku!" ancam Naya dengan suara tertahan, matanya melirik liar ke arah dapur, takut jika Gavin tiba-tiba menyusulnya.

"Aku tidak menghancurkan hidupmu, Naya. Aku hanya ingin menikmati permainan ini," suara Rian berubah menjadi dingin dan penuh manipulasi. "Tapi ingat, kendali ada di tanganku. Amplop cokelat berisi dokumen identitas aslimu dan bukti pemalsuan agama masih ada bersamaku. Kalau kamu tidak ingin Gavin menerima paket spesial ini sebelum makan siang..."

Naya menahan isakannya, dadanya terasa remuk. "Apa yang kamu mau, Rian? Katakan padaku!"

"Aku ingin kamu datang ke kafe dekat kantor lama kita, satu jam dari sekarang. Sendirian. Tanpa Gavin," perintah Rian tanpa bantahan. "Jika kamu terlambat satu menit saja, atau jika aku melihat bayangan suamimu... berkas ini akan langsung dikirimkan ke alamat rumah barumu."

Klik.

Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Rian.

Naya menyandarkan tubuhnya yang lemas di dinding dingin lorong. Ponselnya nyaris terlepas dari genggamannya. Air mata keputusasaan kembali menetes membasahi pipinya. Ia terjebak. Ia sepenuhnya berada di bawah cengkeraman iblis masa lalunya.

Naya mengusap air matanya kasar, berusaha merapikan riasan wajahnya secepat mungkin. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahannya di depan Gavin. Ia harus keluar rumah pagi ini, apa pun alasannya.

Saat Naya kembali ke dapur, Gavin sedang berdiri membelakanginya, memandangi salib kayu yang menggantung di dinding ruang keluarga dengan tatapan dalam.

"Gavin..." panggil Naya pelan.

Gavin memutar tubuhnya. Wajahnya yang tadi hangat kini tampak sedikit datar, meski sorot matanya masih memancarkan perhatian. "Siapa yang menelepon tadi, Naya?"

"Hanya... teman lamaku, Gavin," Naya berbohong lagi, menambahkan satu lagi tumpukan dosa di atas kepala sendiri. "Dia... dia bilang ada urusan mendadak terkait dokumen kepindahan barang-barangku dari rumah lama. Aku... aku harus keluar sebentar untuk menemuinya."

Gavin menatap Naya dalam-dalam, menatap tepat ke dalam manik mata istrinya yang terlihat bergelombang panik. Keheningan mencekat merayapi ruangan itu selama beberapa detik yang terasa bagaikan keabadian.

"Aku antarkan," potong Gavin tegas, melangkah mendekat. "Kamu istriku sekarang, Naya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian, apalagi urusan dokumen."

"Tidak perlu, Gavin!" potong Naya panik, membuat langkah Gavin terhenti. Naya segera memegang lengan Gavin, berusaha melembutkan suaranya. "Maksudku... kamu pasti lelah setelah acara kemarin. Kamu juga harus istirahat. Aku hanya sebentar saja, paling hanya satu jam. Aku janji akan segera pulang."

Gavin menatap tangan Naya yang memegang lengannya, lalu beralih menatap wajah Naya. Ada keraguan tajam yang melintas di mata Gavin—sebuah obsesi protektif yang terpukul oleh rahasia yang mulai ia rasakan dari istrinya.

"Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan, Naya?" tanya Gavin pelan, suarasa dalamnya bagaikan menembus dada Naya. "Kamu tahu kan, kalau aku paling benci dibohongi? Aku bisa memaafkan apa pun dalam hidup ini, Naya... kecuali pengkhianatan dan kebohongan dari orang yang paling kucintai."

Kata-kata Gavin terdengar bagaikan vonis mati bagi Naya. Tenggorokannya terasa Kering, darahnya berdesir dingin. Namun Naya sudah melangkah terlalu jauh. Jalan kembali sudah tertutup rapat oleh kebohongan yang ia ciptakan sendiri.

Naya memaksakan senyum manisnya, menatap Gavin dengan pandangan berpura-pura tulus. "Tentu saja tidak, Gavin. Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun darimu. Aku mencintaimu."

Gavin menghela napas panjang, lalu mengelus pipi Naya dengan lembut. "Baiklah. Pergilah. Tapi berjanjilah padaku... segera pulang. Aku akan menunggumu di sini."

"Aku janji," bisik Naya.

Naya berbalik melangkah meninggalkan rumah megah itu, mengambil tas tangannya dan melangkah keluar menuju taksi yang telah ia pesan.

Di balik jendela kaca ruang tamu, Gavin berdiri mematung. Matanya menatap tajam mobil taksi yang membawa istrinya pergi menjauh. Sorot mata pria yang tadinya dipenuhi pemujaan murni itu, kini perlahan berubah menjadi gelap, dipenuhi kegelapan obsesi dan benih-benih kecurigaan yang kian membara. Gavin meraih kunci mobilnya di atas meja.

Pernikahan yang dibangun di atas kebohongan, ketakutan akan trauma masa lalu, dan ancaman cinta terlarang kini mulai memasuki pusaran badai yang sesungguhnya. Sebuah takdir yang telah ditukar dengan harga yang teramat mahal, menuntut balasan air mata yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah, ada cerita aku yg lain yg ngga kalah seru juga loh, judulnya AKU TAK SALAH, dan TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA, ingat guys, subscribe, like, dan komen, share juga yah 🙏😭😘

1
Renjana
hadir kak😊
Lisye Aisyah Hematang: Makasih kak 🙏
total 1 replies
azza Binury
mudahan pembacanya rame ya kak. Kata-kata nya bagus lho ... aku masih belajar
Lisye Aisyah Hematang: Amin, makasih kak... Semangat yah kak, pasti bisa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!