Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 SUARA MEMANGGIL DAN PERJALANAN KE KOTA SENDARIA
Ada suara yang memanggilku dari dasar kegelapan.
Awalnya samar, seperti denting lonceng kecil yang tenggelam di dalam air. Aku tak tahu sudah berapa lama aku melayang di sana, di antara dingin dan sunyi. Tak ada tubuh, tak ada rasa sakit, hanya ingatan tentang cahaya yang dicabut dari langit.
"Hei... hei! Bangun!"
Suara itu makin dekat, makin nyaring, dan entah kenapa terdengar panik. Aku ingin menjawab, tapi lidahku seperti batu.
"Aku mohon, jangan mati dulu! Aku belum tahu namamu!"
Sesuatu menepuk pipiku. Sekali, dua kali, lalu tiga kali dengan tenaga yang terlalu kecil untuk disebut tamparan. Kelopak mataku bergetar, dan akhirnya terbuka.
Langit yang pertama kulihat. Warnanya kelabu keunguan, dengan retakan samar yang menjalar di antara awan, persis seperti yang kuingat sebelum gelap menelanku. Lalu sebuah wajah muncul tepat di atas hidungku.
Aku menjerit kecil dan refleks menarik diri. Kepalaku berdentum, dan aku mengerang sambil memegang pelipis.
Di depan mataku melayang seorang perempuan mungil, tingginya tak lebih dari telapak tanganku. Rambutnya hijau pucat, diikat dengan sehelai daun kering, dan sepasang sayap bening berkilau keperakan di punggungnya, mengepak sangat cepat hingga nyaris tak terlihat. Matanya besar dan bulat, dan saat ini penuh kecemasan.
"Ah...Akhirnya!" serunya sambil menempelkan kedua tangan di dadanya. "Kukira kamu udah jadi abu seperti tanah di sekitarmu!"
"Kamu Siapa..." Suaraku serak. Aku batuk, lalu mencoba lagi. "Apa yang terjadi?"
"Kamu pingsan," jawabnya, seolah itu jawaban paling jelas di dunia. "Sudah cukup lama. Aku melihatmu tergeletak di tengah lembah, dan kupikir kamusudah tidak bernapas. Aku sudah memanggilmu sepuluh kali, tahu!"
Aku mencoba duduk. Seluruh tubuhku terasa seperti habis diinjak kawanan banteng. Dadaku nyeri setiap kali menarik napas, dan rahangku berdenyut di tempat tinju itu menghantamku. Tapi aku masih utuh. Dia bahkan tak repot-repot membunuhku.
Pikiran itu membuat perutku mual lebih dari luka mana pun.
Kulihat pedangku tergeletak beberapa langkah dariku, setengah terkubur abu. Kuraih dan kuselipkan kembali ke sarungnya tanpa berkata apa-apa. Tanganku sedikit gemetar, dan kuharap dia tidak melihatnya.
"Oh iya, namaku Vivi," kata peri itu sambil terbang berputar di depan wajahku, lalu membungkuk sopan di udara. "Peri penjaga lembah ini. Yah, penjaga yang tidak terlalu berguna kalau harus jujur." Ia tertawa kecil, tapi tawanya cepat padam. "Dan kamu?"
"Namaku Arka," jawabku. "Aku pengembara dari selatan."
"Arka," ulangnya pelan, seolah mencicipi nama itu. "Nama yang bagus. Jadi, Arka, apa yang kau lakukan di lembah ini? Tempat ini tidak pernah didatangi manusia. Kami sudah lama menutup jalurnya."
Aku terdiam sejenak. Bagaimana menjelaskan hal yang bahkan aku sendiri belum paham? Ingatan itu datang lagi: mata merah tanpa kelopak, suara dingin yang membenci seluruh umatku, dan cahaya kedelapan kristal yang tersedot hilang.
"Aku sedang mencari sesuatu," ujarku akhirnya. "Bukan sesuatu sih, lebih tepatnya, Seseorang. Atau sesuatu yang mirip orang. Guruku menyuruhku mencari tahu identitas yang mereka sebut entitas."
Sayap Vivi berhenti mengepak sesaat, dan ia hampir jatuh sebelum buru-buru terbang lagi.
"ENTITAS?" bisiknya. Wajah kecilnya memucat. "Kamu... kamu menyebut nama itu, padahal kamu baru saja..."
"Kenapa? Kau tahu sesuatu?"
"Bukan tahu," katanya cepat, terbang mundur dua langkah. "Aku hanya merasakannya. Tadi, sebelum aku menemukanmu, langit bergetar. Bukan guntur, bukan gempa. Seolah seluruh dunia terguncang dari dalam." Ia menelan ludah. "Aku melihat pilar-pilar cahaya di ujung lembah padam satu per satu. Delapan pilar itu sudah berdiri lebih lama dari ingatan para peri tertua, dan sekarang..."
Suaranya tercekat. Ia menunjuk ke arah batu-batu hitam di kejauhan. Di sana, di tempat delapan kristal itu dulu berdenyut, hanya ada delapan lubang gelap yang menganga, dikelilingi tanah hangus.
"Mereka mengambilnya, bukan?" tanyanya lirih.
Aku mengangguk. Tak ada gunanya berbohong. "Sesuatu menyerangku. Aku melawannya, dan aku kalah. Lalu dia membawa semuanya ke langit."
"Kau melawannya?" Vivi menatapku dengan mata membulat. "Dan kau masih hidup?"
"Itu...bukan sesuatu yang bisa aku banggakan," kataku getir.
Ia tidak menjawab. Namun sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, dari balik bukit di sebelah timur terdengar suara yang membuat kami berdua membeku: jerit-jerit parau yang bersahutan, disusul bunyi dentang logam dan tawa kasar. Aku berdiri dengan susah payah, memanjat batu terdekat, dan mengintip.
Di kaki bukit, samar-samar tampak belasan makhluk pendek berkulit kelabu, bertelinga lancip dan bermata kuning, sedang mendirikan tenda dari kulit hewan dan potongan kayu. Beberapa dari mereka sibuk menyeret karung-karung ke dalam tenda, dan aku mengenali lambang karung itu: cap dagang pedagang desa terakhir yang kulewati.
"Aduh para Kroco," geram Vivi di sampingku. "Mereka bermunculan sejak langit bergetar tadi. Aku sudah melihat tiga kemah hanya dalam perjalanan ke sini. Kata angin yang kukenal, di utara, di barat, bahkan di seberang laut pun sama. Mereka mendirikan kemah di mana-mana dan menjarah apa saja."
"Seluruh dunia?" tanyaku.
"Seluruh dunia," ulangnya. "Kristal-kristal itu yang menahan mereka selama ini. Sekarang tak ada lagi yang menahan."
Aku turun dari batu, tanganku mengepal. Di dalam dadaku ada sesuatu yang terasa asing: bukan amarah semata, bukan juga malu. Mungkin tanggung jawab yang belum punya nama.
Kesombonganku di selatan sudah mati di lembah ini. Yang tersisa hanyalah sebuah pertanyaan: apa yang bisa dilakukan seorang pengembara yang kalah telak?
"Vivi," kataku. "Di sekitar sini, apakah ada distrik? Sebuah kota, atau apa pun yang dihuni banyak orang?"
Ia menoleh, berpikir sejenak, sayapnya mengepak pelan. "Ada. Sekitar dua kilometer dari sini, ke arah barat laut. Namanya Kota Sendira, kota perdagangan kecil di tepi sungai. Tempat itu ramai, setidaknya dulu. Kalau kroco-kroco itu belum sampai ke sana."
"Dua kilometer." Aku menarik napas panjang. "Aku butuh informasi. Siapa pun yang tahu sesuatu tentang entitas itu, tentang siapa tuannya, pasti ada di tempat ramai. Dan aku butuh tahu apa yang terjadi di seluruh negeri."
Aku berhenti, lalu menoleh pada peri kecil yang melayang di samping bahuku. Ada keraguan di tenggorokanku. Aku tak terbiasa meminta bantuan, apalagi pada makhluk yang baru kukenal sepuluh menit.
"Bisa Temani aku ke sana ?," ucapku akhirnya.
Vivi mengerjap. "Aku?"
"Iya...Kau kenal daerah ini, dan kau tahu hal-hal yang tidak kuketahui. Aku tidak memaksa, tapi aku tidak akan bisa sampai sejauh ini sendirian."
Untuk sesaat ia menunduk, memainkan ujung daun di rambutnya. Sayapnya berkilau tertimpa cahaya redup senja. Lalu ia mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya sejak aku membuka mata, ia tersenyum sungguh-sungguh.
"Sudah lama aku tak ke luar lembah," katanya. "Dan sejujurnya, aku tak mau ada di sini sendirian sekarang, dengan pilar-pilar yang sudah mati itu." Ia terbang tepat di depan wajahku dan mengulurkan tangan mungilnya. "Baiklah, Arka. Aku ikut. Tapi janji satu hal."
"Apa?"
"Jangan pingsan lagi di tengah jalan. Aku tidak kuat menyeretmu."
Aku mendengus, dan untuk pertama kalinya sejak peristiwa itu, sesuatu yang mirip tawa lolos dari dadaku. Kuulurkan jari telunjukku, dan ia menjabatnya erat.
"Janji."
Kami berangkat menuju barat laut, meninggalkan lembah batu hitam dengan delapan lubang kosongnya. Vivi terbang rendah di depanku, menunjukkan jalan di antara semak berduri dan bebatuan. Sesekali ia berhenti, telinganya bergerak-gerak mendengarkan angin, lalu memberi isyarat agar kami menghindar dari kemah kroco yang tampak di kejauhan.
Langit makin gelap. Di ufuk utara, garis-garis retak itu berpendar samar, seolah menunggu sesuatu.
Aku mempererat genggaman pada gagang pedang. Aku tidak tahu apa yang menanti di Kota Sendira, tidak tahu apakah aku cukup kuat, tidak tahu apakah aku pantas disebut pengembara setelah apa yang terjadi.
Tapi untuk pertama kalinya, aku tahu ke mana aku harus melangkah.