Zoya menikah bukan atas dasar cinta. Ia menerima perjodohan yang dilangsungkan orang tuanya.
Namun pria yang akan menjadi suaminya selingkuh tepat di hari pernikahannya yang telah sah secara agama dan hukum, ia melihat seorang wanita cantik dan seksi sedang bercumbu mesra dengan suaminya di gedung pernikahannya, tepat bawah pohon Sakura, Jepang
Meski belum ada ikatan cinta namun hatinya terasa perih merasa pernikahannya dikhianati.
Akankah Zoya dapat merebut hati suaminya, atau mereka harus bercerai saat itu juga ataukan mereka akan berbagi suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Besar
Dengan cepat Ku habiskan sarapan Ku yang terlambat. Kemudian berpamitan dengan kedua orang tuanya. Tetapi satu persatu saudaranya malah datang bertamu.
Aku menyambut mereka dahulu, namun tak bisa lama. Kami pun berkenalan.
"Ini adik kandungnya Mama, tante Silvia. Disebelahnya itu suaminya," Mama Edgar memperkenalkannya adiknya dengan ku
"Zoya, senang berkenalan dengan kalian," ucapku seraya mengulurkan tangan dan menjabat tangan mereka dengan senyumku.
Seramah mungkin tetapi suami Tante Silvia melihatku dengan tatapan nakal, dia bahkan mengedipkan satu matanya saat berjabatan tangan.
Aku bergidik, ngeriii jika dihadapkan dengan playboy gatel.
Lalu datang adik dari ayahnya, Maxim dan Gonzales. Keduanya membawa keluarga masing-masing. Kedua Orang tua Edgar adalah yang tertua.
Aku berkenalan dengan mereka dan satu orang anak seumuran dengan ku menatapku dengan penuh selidik. Dia terus meniti diriku dari atas hingga bawah. Sangat tidak nyaman, tetapi dia adalah saudara Edgar yang harus ku perlakukan dengan ramah.
"Poky, jangan melihatnya seperti itu," ujar orang tuanya yang bernama Maxim
Poky? Nama yang pernah ku dengar.
"Aku seperti pernah melihatnya dimana tapi aku lupa," aku Poky. Sebenarnya namanya adalah Pierre Ozky di singkat Poky
"Oh ya mungkin hanya sama saja, banyak wajah di Dunia yang terlihat sama bukan?" ucapku
"Haha Kau benar zoya, saat kecil Poky sangat mirip dengan Edgar. Untunglah ketika besar kalian memiliki wajah yang berbeda," sahut Delta, Ibunya Poky
"Apa kau bersekolah di Sekolah Culbix Perancis? Tempat les bermain musik," tanya Poky
"Ya, dari mana kau tahu?" ucap ku kembali bertanya
"Haha benarkan, kau Zoya si anak perempuan yang jago berkelahi. hahahaha," hanya Poky yang tertawa dan semua terdiam
Ucapannya seratus persen benar. Dan itu membuatku malu dengan julukan jago berkelahi. Apa kata mertuaku dan saudara lainnya.
"Hahhaha ya, tapi itu saat kecil. Aku hanya ingin jadi pembela temanku yang sering ditindas olehmu," ucapku membela diri.
Kebalikan dari Poky, lelaki itu lebih sering menindas temannya, merampas makanan atau barang milik temannya.
"Ya namanya juga anak-anak wajar di usianya karena sedang dalam pertumbuhan. Yang terpenting Poky sudah menjadi anak yang baik," ucap Maxim
Dan perbincangan kami berlanjut. Poky jauh berbeda sikapnya, dia lebih baik dan bijaksana. Tetapi tetap saja pria itu suka bercanda tak pernah serius dan satu hal yang ku suka dia periang. Tak seperti Edgar yang berlaku dingin
Aku lupa jika waktu mengejarku, Edgar memberiku waktu yang sangat sedikit. Akhirnya aku pamit pada semua orang disana. Kedua orang tuanya mengijinkan, begitu juga yang lain tetapi belum sampai kaki ku melangkah keluar pintu. Celetukan mereka membuat ku serba tidak enak
"Lihat menantu mu, bukannya menemani tamunya disini malah asik bekerja. Sangat tidak sopan, dan tidak menghargai kami yang datang dari jauh," ucap adik orang tuanya, berarti adalah tante Edgar yang juga menjadi tante ku. Namanya Silvia, sudah pasti dia akan menjadi tante yang terus menceritakan kejelekan ku nantinya. Hanya Feeling.
Aku tetap pergi karena aku sudah mengatakan pada mereka jika Edgar menungguku disana. So jika ingin menyalahkan, salahkan saja Edgar
Ku buka pintu mobilku dan menyalakannya, suara mesinnya sangat mulus begitu enak. Ku rasa Edgar menggantinya dengan mesin yang lain. Benar-benar tidak berisik.
Ku lajukan dengan perlahan dan begitu mobilku sudah keluar dari gerbang Mansion, ku injak pedal gas dan melajukannya dengan kecepatan penuh.
"Wow amazing, seperti mendapatkan mobil baru, haha i like it. Thanks Edgar," seru ku di mobil sendirian dengan kaca terbuka.
Jalan menuju Mansion miliknya masih di tumbuhan pepohonan sehingga sangat sejuk dan sayang jika kita melewatinya dengan kaca tertutup
Tapi begitu sampai dekat kota yang banyak asap. dan debu, aku langsung menutup kaca jendela. Ku lihat jam tanganku, lima menit lagi. Bisa ditempuh tetapi dengan kecepatan penuh dan itu tidak mungkin karena yang terjadi adalah jalanan sedang macet.
Sesampainya perusahaan Edgar. Aku berjalan terburu-buru karena terlambat 20 menit.
Semua karyawan menyapaku, dan aku balas menyapa tetapi sikap mereka semuanya aneh. Apakah aku salah berpakaian atau ada make up ku yang kurang benar? Karena saat aku melewati mereka, semuanya berbisik.
Bahkan saat aku mau masuk ke ruangan Edgar, sekretarisnya terlihat kaku.
"Ada apa?" tanyaku pada Xiaonian sebelum memasuki pintu Edgar
Baru saja wanita Jepang itu mau berbicara, terdengar suara teriakan dari dalam kantornya. Bukan teriakan karena sakit melainkan teriakan yang membuat seseorang keenakan.
Aku mengepalkan kedua tanganku dan mengambil napas sedalam-dalamnya, "Tak usah dijawab Xaionian, terimakasih," ucapku kemudian meninggalkan loby ruangan direktur.
"Nyonya," panggil Xiaonian sebelum ku melangkah dari jauh
"Saya mohon anda jangan menyerah. Maaf jika saya lancang tetapi satu hal yang harus anda tahu. Tuan adalah tipe pencemburu. Ambil hatinya dengan itu. Dan dia menyukai wanita tegar dan lembut. Bukan wanita manja seperti kekasihnya ini," ucap Xiaonian
"Hah? Dari mana kau tahu?"
"Saya tahu ketika dia akan berhadapan dengan kliennya. Dia selalu tidak suka jika ada orang yang menyaingi dirinya dia selalu cemburu dan ingin menjadi nomer satu. Dan dia selalu mengeluh jika melihat karyawannya cengeng, itu hasil dari analisa saya. Selama 10 tahun Saya bekerja menjadi sekretarisnya saat di Perancis hingga di Jepang. Dia memilih saya karena sayalah yang terkuat diantara yang lain. Anda tahu sendiri kan bagaimana kerasnya Tuan Edgar," ucap Xiaonian
Mengejutkan, 10 tahun bekerja dibawah tekanan. Pantas saja Edgar senang sekali menyiksaku mungkin dia ingin tahu seberapa kayaknya aku arghh entahlah yang jelas. Kali ini dia telah menginjak harga diriku di depan karyawannya.
"Terimakasih Xiaonian, aku pamit dulu ya... di sini panas," ucapku
Lebih baik ku pulang kembali ke Mansionnya, berkumpul dengan keluarganya dan membelikan beberapa souvenir dan hadiah makanan khas Jepang. Tapi saat membayar semuanya aku baru ingat, Edgar belum memberiku uang. Ya kami baru menikah beberapa hari. Mungkin Edgar lupa atau dia memang tidak ingin memberikannya. Biarlah uang ku terkuras asal keluarganya akan senang.
Yang harus ku pikirkan kini adalah membuat Edgar luluh dan memberikan hatinya untukku. Mungkin Xiaonian benar, membuatnya cemburu.
"Tapi siapa orangnya ya?" Pikirku sembari mengemudikan mobil menuju Mansion
banyak typo di novel ini. dan aku merasa novel ini ditamatkan dengan sangat terburu buru.
terima kasih banyak, kk author.