NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Taktik Cermin

Sekar menuang air hangat ke baskom dengan tangan yang tidak berani menyentuh kulit Dyah Ayu.

Pagi itu, Dyah Ayu duduk di depan cermin perunggu dengan wajah yang sengaja tidak ia rias. Ia menyentuh pelipisnya dua kali saat dayang itu menyisir rambutnya. Sekali, ia memejamkan mata terlalu lama, seolah sedang menahan pusing.

"Kepala hamba berat sekali, Sekar," gumamnya. "Seperti ada yang duduk di atasnya semalaman."

Sisir di tangan Sekar berhenti sesaat. Lalu bergerak lagi, lebih cepat.

"Mungkin karena anglo, Gusti. Asapnya."

"Mungkin."

Dyah Ayu menatap bayangan dayang itu di cermin perunggu yang buram. Gadis itu menunduk. Tetapi sudut bibirnya bergetar, seperti seseorang yang menahan sesuatu antara lega dan takut.

Sebelum tengah hari, kabar itu sudah sampai ke Paviliun Permaisuri. Selir Watugaluh mengeluh pusing. Selir Watugaluh tidur gelisah.

Bagus.

***

Ia tidak melaporkannya kepada Hayam Vira.

Ia memikirkannya dengan sungguh-sungguh semalaman, duduk di samping anglo dengan boneka tanah liat di pangkuannya. Ia membayangkan dirinya berlutut di Kedaton Dalam, meletakkan bungkusan kain mori itu di depan Raja. Ia membayangkan Sekar diseret ke Balai Agung.

Dan ia membayangkan Permaisuri menangis dengan indah, bersumpah tidak tahu apa-apa, lalu menyaksikan Sekar dipenggal dengan wajah yang pucat dan berduka. Persis seperti Nyai Kenanga.

Sekar akan mati. Nyai Ganggeng akan kembali ke lereng Kawi. Permaisuri akan menunggu satu bulan, lalu mencoba cara lain.

Tidak.

Kali ini, ia ingin Permaisuri merasakan apa yang dirasakan seorang perempuan saat ia menyadari orang-orang di sekelilingnya tidak bisa lagi dipercaya.

***

Ratih datang membawa keranjang pakaian kotor dari Paviliun Permaisuri, seperti setiap tiga hari sekali. Ia meletakkannya di dapur belakang Srigading, membungkuk, dan pergi tanpa sepatah kata.

Di dasar keranjang, di bawah tumpukan kain sutra yang berbau melati, terselip sebuah kantong kecil dari kain bekas.

Isinya dua hal.

Pertama, segumpal rambut panjang. Hitam, tebal, sedikit bergelombang di ujungnya. Wanginya bukan kemiri dan kenanga, melainkan minyak cendana bercampur bunga kantil. Minyak yang hanya boleh dipakai satu perempuan di seluruh Keputren.

Kedua, sebuah lempeng perunggu kecil sebesar kuku ibu jari. Di permukaannya terukir sekuntum teratai yang ditembus sebilah belati. Pengaitnya bengkok, seperti dipotong paksa dari sesuatu.

Lencana pemimpin Prajurit Estri. Hanya ada satu di keraton ini. Selalu tergantung di sabuk kulit Nyi Ageng Rukmi.

Di bawahnya, Ratih menulis dengan arang di secarik daun lontar: Lepas saat ia berlatih belati di halaman. Ia akan mengira jatuh di rumput.

Dyah Ayu meremas daun lontar itu dan melemparkannya ke dalam anglo.

***

Ia membersihkan jarum-jarum tembaga itu lebih dulu.

Satu per satu, ia mencabutnya dari tubuh boneka. Ia mencelupkannya ke dalam air kapur sirih yang mendidih di atas anglo, menggosoknya dengan abu sekam, mencelupkannya lagi. Bau pahit kecubung naik bersama uap, lalu perlahan memudar. Ketika ia selesai, karat kehijauan masih menempel di permukaan tembaga, tetapi tidak ada lagi bau yang tertinggal.

Ia tahu siapa yang akan tidur di atas boneka ini.

Selir Madya Nimas Larasati. Putri Rakryan Tumenggung Jayaprana, panglima pasukan pengawal ibu kota, pendukung terkuat Permaisuri di Dewan setelah Rakryan Wiradipa. Perempuan yang selalu duduk di sebelah kanan Permaisuri dalam setiap sowan, yang tertawa paling keras ketika Selir Ratna mengejek jarahan perang.

Dan perempuan yang tiga bulan lalu dinyatakan tabib keraton sedang mengandung.

Dyah Ayu tidak mempunyai belas kasih untuk Nimas Larasati. Tetapi anak di dalam rahim perempuan itu tidak pernah menuang teh beracun untuk siapa pun.

Jarum-jarum itu harus terlihat sama. Hanya isinya yang harus berbeda.

Ia menusukkan kembali ketiga jarum bersih itu ke tempat semula. Kepala. Perut. Dada. Lalu ia mengambil rambut dari kantong Ratih, menggulungnya menjadi gumpalan kecil, dan menekannya ke dalam lubang kosong di dada boneka. Lubang yang semalam diisi rambutnya sendiri.

Rambut Permaisuri tenggelam ke dalam tanah liat yang lembap. Ia menutupnya dengan sejumput tanah dan meratakannya dengan ibu jari, persis seperti yang dilakukan dukun tua itu. Ia membiarkan beberapa helai ujungnya mencuat keluar.

Wangi cendana dan kantil yang samar. Cukup untuk dikenali oleh siapa pun yang pernah duduk di sebelah kanan Permaisuri.

***

Paviliun Selir Madya terletak di sisi barat Keputren, dekat kolam pemandian. Bangunannya berlapis prada emas di setiap tiang, dengan dinding papan jati berukir dan serambi yang menghadap ke barisan pohon kemuning.

Pengawalnya dua Prajurit Estri di gerbang depan. Tidak ada yang menjaga pintu belakang. Pintu belakang hanya untuk abdi dan tukang cuci.

Mbok Darmi, perempuan Watugaluh yang dulu menenun kain untuk Ibu Dyah Ayu, kini mencuci seprai di belakang paviliun itu setiap dua hari sekali. Ia mengganti kain ranjang Selir Madya setiap sore, sebelum lampu dinyalakan.

Sore itu, ia membawa masuk seprai bersih dengan bungkusan kecil terselip di lipatannya. Ia keluar sepemakan sirih kemudian, dengan seprai kotor di bahunya, dan tidak menoleh ke belakang.

Bungkusan kain mori itu kini terikat benang lawe merah di balok rangka ranjang Selir Madya. Tepat di bawah tempat ia meletakkan kepala.

***

Malam turun dengan bulan setengah di langit.

Dyah Ayu meninggalkan Srigading melalui celah di bawah akar pohon asam. Penjaga Sayap Dalam berdiri di depan paviliun dengan tombak tegak, menatap alang-alang yang berdesir. Di belakang mereka, di bawah tanah, seorang selir dengan kain gelap merangkak di lorong sempit yang berbau tanah dan akar busuk.

Ki Bongkok menunggunya di ujung lorong dengan pelita kecil yang ditutupi tempurung kelapa. Hanya seberkas cahaya tipis yang lolos dari lubang di tempurung itu.

Lorong pelayan bercabang seperti akar beringin di bawah Keputren. Ki Bongkok mengenal setiap belokannya. Mereka bergerak tanpa bicara. Melewati bawah dapur sesaji. Melewati bawah kolam teratai besar, di mana air merembes dari langit-langit dan menetes ke tengkuk mereka. Melewati bawah tembok paviliun-paviliun selir, di mana sesekali terdengar suara dari atas: tawa tertahan, bisik dayang, langkah kaki di papan.

Di bawah pohon kemuning di belakang Paviliun Selir Madya, mereka naik ke permukaan melalui sebuah lubang yang ditutupi bilah-bilah bambu dan daun kering.

Bau kemuning menyergap hidung Dyah Ayu. Manis dan pekat.

Pintu belakang paviliun itu hanya sepuluh langkah dari sana. Pintu kayu sederhana, setengah terbuka untuk mengalirkan udara malam. Dari dalam, cahaya pelita kuning menyelinap lewat celahnya.

Dyah Ayu merayap di atas tanah, di bawah bayangan pagar kemuning. Lempeng perunggu kecil itu tergenggam di telapak tangannya, hangat oleh suhu kulitnya.

Ia berhenti di depan ambang pintu belakang. Di celah antara papan ambang dan tanah, ada sedikit ruang tempat debu dan daun kering terkumpul.

Ia menyelipkan lencana Prajurit Estri itu di sana. Tidak tersembunyi sepenuhnya. Ujung pengaitnya yang bengkok mencuat sedikit, menangkap cahaya pelita dari celah pintu. Seseorang yang menyapu ambang pintu besok pagi akan menemukannya. Atau seseorang yang mencari sesuatu malam ini.

Ia mundur. Perlahan, seperti kadal yang merayap mundur dari sarang semut.

Ketika ia kembali ke lubang di bawah pohon kemuning, Ki Bongkok sedang berlutut di sana. Tangannya yang kering memegang sesuatu. Seikat daun kering yang ia ambil dari tanah.

"Ada yang lewat," bisiknya. "Dari arah kolam pemandian. Bukan Prajurit Estri. Langkahnya terlalu ringan."

Dyah Ayu menahan napas.

Di kejauhan, di antara pohon-pohon kemuning, sebuah bayangan bergerak. Kecil, tergesa, membawa sesuatu di tangannya. Bayangan itu berhenti di dekat pagar belakang paviliun Selir Madya, menoleh ke kiri dan kanan, lalu berjalan cepat ke arah utara. Ke arah Paviliun Permaisuri.

Dyah Ayu tidak mengenali wajahnya. Tetapi ia mengenali cara berjalannya. Langkah-langkah pendek, terlalu cepat, kepala tertunduk.

Langkah seorang dayang yang terbiasa pergi tanpa menoleh.

***

Mereka kembali ke Srigading sebelum pentungan ketiga.

Dyah Ayu mengganti kain gelapnya dengan kemben tidur, membasuh tanah dari lutut dan siku dengan air dingin dari kendi, lalu berbaring di ranjang. Anglo di sudut bilik masih menyimpan bara yang hampir padam.

Ia tidak tidur. Ia mendengarkan.

Keputren di malam hari tidak pernah benar-benar sunyi. Kodok bersahutan di kolam teratai. Seekor anjing menggonggong di luar tembok. Angin menggesek daun-daun kemuning di sisi barat.

Lalu, tepat setelah pentungan ketiga, semuanya terpotong oleh satu suara.

Jeritan.

Melengking, panjang, dan pecah di tengahnya. Bukan jeritan kesakitan. Jeritan seseorang yang terbangun dan menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini. Jeritan itu menggema di atas kolam-kolam teratai, memantul di dinding-dinding paviliun, dan membuat kodok-kodok berhenti bernyanyi.

Lalu suara barang yang dilempar dan pecah. Lalu tangisan. Lalu teriakan-teriakan dayang, bersahut-sahutan, semakin banyak.

Pelita-pelita mulai menyala di seluruh Keputren. Satu per satu, dari jendela ke jendela, seperti kunang-kunang yang terbangun. Langkah-langkah kaki berlarian di selasar. Logam berdenting: Prajurit Estri yang mencabut belati sambil berlari.

Dyah Ayu bangkit dan duduk di tepi ranjang. Ia tidak membuka jendela. Ia tidak perlu.

Suara Nimas Larasati terdengar jelas di udara malam yang dingin, histeris dan pecah, cukup keras untuk didengar sampai ke sudut Srigading.

"Rambutnya! Ini rambutnya! Aku tahu wangi ini, aku duduk di sampingnya setiap hari!" Suara itu tersedak oleh isakan. "Ia ingin membunuh anakku! Gusti Permaisuri ingin membunuh anakku sebelum lahir!"

Di sudut bilik, bara terakhir di dalam anglo perunggu retak dan padam.

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!