Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Pertama
“Pak, sebentar,” Aku menarik lengannya saat kami berjalan di sepanjang koridor. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, tidak terasa sudah 6 jam kami di Mall.
Kegiatan kami di sana? Membingungkan.
Setelah makan kekenyangan, sholat di Mushola, ketiduran (ternyata dia juga tidur di sana setelah Jumatan) Bangun, ambil Wudhu.
Setelah segar dengan air wudhu, kami lapar lagi. Karena tidak ingin makan terlalu berat akhirnya kami ngemil cake di cafe. Belanja barang nggak jelas, nonton live show, Masuk bioskop dan malah ketiduran lagi di bioskop.
Bangun-bangun, rasanya aku sudah menganggap Mall itu rumahku sendiri.
Kami menelusuri setiap lantai di mall itu, suasana sudah semakin ramai dengan pekerja kantoran yang hangout bersama teman-temannya menyambut weekend dengan batik mereka yang warna-warni. Ini hari Jumat, sebagian besar kantor memang mewajibkan karyawannya memakai batik di hari Jumat.
Aku sangat jarang hangout bersama teman-temanku karena aku biasa langsung pulang ke rumah. Dulu kalau jalan-jalan di Mall tanpa Tommy rasanya jengah nggak tahu mau ke mana, buta arah tanpa tujuan, merasa melakukan aktivitas tak berguna. Nyatanya sampai rumah kegiatan weekend-ku selalu dipenuhi dengan kegiatan rumah tangga tanpa jalan-jalan santai juga.
Jadi sekarang aku seperti anak hilang yang bebas dari kandang, seluruh gedung kutelusuri dan kuamati.
“Kenapa?”
“Beraaat,” aku mengangkat banyak tas belanja, di tangan Pak Felix sudah ada juga banyak tas belanja. Semuanya barang-barangku. Di mall ini dia hanya beli 1 dasi, itu pun pesanan khusus jadi diantar ke rumahnya besok.
“Duh nenek gombreeeeng! Saya boleh kesel nggak sih nih! Dasar bocah!” Omelnya.
“Paaak teleponin driver kantor dong buat titip tas belanjaaaa,” rajukku.
“Driver disuruh ke sini, terus saya balik sendiri naik motor gitu?”
“Ya iya saya naik mobil,”
“Nggak!” dia balik badan dan melanjutkan perjalanan.
“Pak, saya nggak kuat lagi,” aku jongkok di depan toko perhiasan.
Dia menghampiriku lalu menunduk, “Yuk, bisa yuk, nanti Om beliin permen. Tuuuh lolipopnya di ujung tuuuuh,” sahutnya menggodaku. Sampai Mbak-mbak penjaga toko ikutan tertawa mendengarnya.
Kalau Om-Omnya kayak beliau, nenek-nenek juga mau kali digeret jalan-jalan. Akunya aja yang nggak tahu diri nyuruh Sugar Daddy angkut-angkut tas belanja.
Lalu aku merasa ada pantulan cahaya menyilaukandi sudut mataku. Ku tolehkan kepalaku ke samping dan kulihat toko perhiasan.
Seketika aku teringat mengenai kalung berlian yang kuberikan ke mertuaku. Kalung yang dipermasalahkan oleh si Pelakor. Apa sebenarnya yang dikatakan mertuaku ke Pelakor itu sampai katanya aku yang mengambil kalung itu.
Kusadari juga, aku tidak memiliki perhiasan asli selama ini. Kutatap jemariku, hanya ada satu cincin di sana dengan mata zircon yang besar. Cincin xuping titanium anti karat.
Dan kusambar ponselku untuk memeriksa e-banking.
“Kamu ngapain sih jongkok di situ sambil mainan hape?’ tanya Pak Felix.
Aku membaca angka saldo yang tertera. Sudah gajian rupanya. Lumayan ada dua gidit di rekeningku, beserta bonus pencapaian bulan lalu.
Aku tidak berkewajiban untuk mentransfer dana ke siapa-siapa lagi saat ini. Biaya kost-anku juga hanya 1,5 juta sebulan yang sudah kubayar sekaligus untuk 3 bulan.
Boleh juga kuhiasi jemari ini dengan cincin emas sungguhan. Bukan berlian juga tak apa, yang penting ada investasi berkilau yang melingkari jariku.
Memanjakan diri sendiri... ternyata senyaman ini ya.
“Hehe,” aku menoleh ke arah Pak Felix sambil melirik toko perhiasan.
Pak Felix merogoh dompetnya dan tampak memilih kartu debit.
“Pak, untuk yang kali ini jangan!” cegahku, “Saya mau beli perhiasan pakai uang saya sendiri. Saya mau pakai penghasilan saya untuk investasi,”
Pak Felix tampak mengangkat alisnya. “Kamu menolak saya belikan?” sepertinya dia lumayan kaget.
“Iya, saya mau beli sendiri,” jawabku yakin.
Lalu ia tampak berpikir, “Ini berkaitan dengan masalah kalung berlian mertua kamu ya? Lebih enak kalau perhiasan dibeli dengan uang sendiri sehingga klaimnya lebih mudah di kemudian hari,” desisnya.
“Dari mana bapak tahu perihal kalung berlian itu?”
“Ya nguping di depan pintu lah,”
“Mau tahu aja urusan orang,”
“Buat jaga-jaga itu,”
Lalu kami sama-sama menyeringai, “Ya sudah sana masuk. Saya mau telepon Pak Muji buat bawa mobil ke sini. Tapi kamu pulang bareng saya naik motor, ya!”
“Siap komandan!” Aku langsung menitipkan semuanya ke Pak Ganteng dan melenggang dengan tangan kosong ke dalam toko perhiasan.
**
Dengan cincin berlian melingkari jari tengah tangan kananku, aku melenggang menghampiri Pak Felix yang duduk menungguku di lobby mall. Hanya berlian murah tanpa sertifikat sih, tapi menurutku itu pun sudah cantik sekali. Tokonya memberi garansi 10 tahun untuk bisa dijual kembali, tapi hanya ke toko itu.
Pria itu mengangkat wajahnya dan menatapku sambil tersenyum. Senyum lembut sinisnya yang khas, tapi semakin aku mengenalnya, aku merasa memang setting tubuhnya ya sudah dari sananya seperti itu.
Aku duduk di sebelahnya sambil mengangkat tanganku, memperlihatkan cincin yang kubeli.
“Bagus, cocok untuk kamu,” katanya.
Aku masih menunggu kalimat selanjutnya. Tapi ternyata tak kunjung ada.
Dia hanya menatapku, aku pun hanya diam menatapnya.
‘Apa?” tanyanya kemudian.
“Itu aja Pak? Ngga ada cemo’ohan atau ejekan?”
“He? Apa yang saya perlu kritik?”
“Cincinnya beneran bagus Pak? Ini saya beli yang paling murah loh Pak,”
“Menurut saya sih bagus ya. Murah kan belum tentu murahan. Kamu pakai karung beras aja tetap cantik kok,”
Kok rasanya ada yang salah ya... dia memujiku, tapi aku malah kebingungan.
“Lagipula, kamu memilih toko yang tepat. Toko itu, LSJ, memang terkenal bisa memilihkan perhiasan yang pas untuk digunakan konsumennya,”
“Bapak tahu toko itu?”
“Ownernya kan termasuk Three Kings,”
“Wah, pantas saja cincinnya sudah terlihat berbeda Pak! Tadi ada beberapa pilihan sih, tapi mata saya nggak bergeming ke yang ini. Kata pegawai tokonya coba tutup mata bu, nah yang terbayang yang mana? Hahahaha!” aku benar-benar merasa senang saat itu.
“Iya kalau tak ada yang terbayang juga, lebih baik pulang. Nah dalam seminggu itu kamu teringat yang mana, itulah yang kamu beli. Kalau dalam seminggu kamu tidak terbayang apa pun ya tak usah beli. Saya percaya itu cara Tuhan memberi tahu Makhluknya mengenai mudharat atau tidaknya barang yang kita beli,”
“Intinya beli beginian sih jangansampai berhutang Pak,”
“Kita kerja di Bank, dan profesi kamu AO loh. Kamu malah menyarankan supaya jangan berhutang, bisa-bisa nggak gajian kamu,”
“Ya karena sayatahu bobroknya usaha ini jadi saya tidak terlalu menyarankan, hehe,”
“Payah kamu, berhenti saja bekerja. Usaha retail saja pakai toko online,”
“Lah terus pendapatan saya dari mana?”
“Dari saya,”
“Dari bapak? Saya jadi ART di tempat Pak Felix gitu? Dipikir-pikir lebih halal sih Pak,”
“ART? Saya sudah punya 20 orang, nambah lagi buat apa?”
“Ya terus buat apa bapak kasih saya gaji tiap bulan? Ada lowongan pekerjaan apa Pak?”
Tapi Pak Felix hanya diam sambil tersenyum. Kali ini aku merasa senyumannya penuh arti.
“Saya boleh menduga-duga, Pak?”
“Buat apa menduga-duga?”
“Ya habis tingkah bapak aneh,”
Tapi Pak Felix diam lagi. Kali ini sambil tersenyum.
Ia berdiri, menadahkantangannya ke arahku. Aku bingung harus apa.
Jadi kuserahkan tanganku padanya.
Ia menggenggam jemariku dan kurasakan tarikan ke atas, dia memintaku berdiri.
Lalu tanpa kuduga, ia mendekat...
Mencium bibirku.
Beberapa saat kemudian dia melepaskanku.
Dan menatapku dengan mata keabuannya.
“Kalau sudah begini, bukan sekedar dugaan lagi, kan?” bisiknya sambil mengelus pipiku.
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
sesuka itu aq pada karyamu thor