Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Rumah Megah
Deru halus bus pedesaan tua yang ditumpangi Aurel akhirnya mereda saat armada berwajah kusam itu berhenti tepat di persimpangan jalan menuju kawasan Gunungpati. Pintu bus berderit terbuka, melepas Aurel turun ke atas permukaan jalan aspal yang temaram. Begitu bus tua itu kembali meraung meninggalkan lokasi, keheningan malam pegunungan seketika menyelimuti sekelilingnya.
Langkah kaki Aurel melangkah perlahan menyusuri jalanan kampung yang hanya diterangi oleh lampu-lampu gantung sederhana milik warga. Kain rok seragam sekolahnya yang tipis serta bagian bawah sepatunya penuh dengan bekas cipratan lumpur tanah dari lereng Gunung Ungaran. Namun, dinginnya angin malam dan seragamnya yang kotor sama sekali tidak dihiraukannya. Pikiran dan benak Aurel masih dipenuhi oleh kepungan teka-teki yang kian membingungkan.
Satu fakta baru yang sangat mengejutkan kini tertanam tajam di kepalanya: Dua pria berjas rapi mengendarai mobil sedan hitam mewah dari Semarang bawah telah datang mencari Suster Rina lebih dulu.
Fakta itu mengubah segalanya. Keberadaan Suster Rina yang kabur terburu-buru bukan lagi sekadar pelarian seorang mantan perawat yang dihantu kesalahannya sendiri, melainkan ada tangan-tangan berkuasa dari lingkaran atas Kota Semarang yang sedang berusaha memburu, membungkam, atau menghapus jejak masa lalu itu.
Ketika langkah kaki Aurel yang lelah akhirnya sampai di depan pagar kayu gubuk sederhananya, pandangannya seketika tertuju pada teras depan. Di sana, di bawah pijar redup bohlam sarang laba-laba, berdiri sosok wanita paruh baya bermuka teduh yang tak henti-hentinya memandang cemas ke arah jalan raya. Bu Sari, dengan selendang batik lusuh yang melilit di bahunya, sedang menunggu kepulangannya dengan gelisah.
"Aurel? Ya Allah, Gusti... Nak, dari mana saja kamu baru pulang jam segini?" suara Bu Sari memecah keheningan malam, sarat akan getaran kecemasan yang amat tulus begitu menangkap sosok putri tunggalnya berjalan mendekat.
Bu Sari menyongsong Aurel di anak tangga teras. Tangan kasarnya tangan yang setiap hari bekerja keras menumbuk rimpang kunyit, jahe, dan temulawak segera memegang erat kedua bahu Aurel. Pandangan mata Bu Sari lalu turun mengamati kondisi seragam sekolah putrinya yang bernoda lumpur kering.
"Kenapa baju seragammu kotor begini, Nak? Ada apa di sekolah? Apa kamu tadi terserast atau ada masalah di jalan?" tanya Bu Sari beruntun. Jemari tangannya yang hangat dan menebal mengusap lembut pipi Aurel yang dingin diterpa angin malam.
Melihat raut wajah ibunya yang dipenuhi ketulusan, kasih sayang murni, serta rasa cemas yang tak bertepi, dada Aurel mendadak terasa terimpit sangat sesak. Air mata yang sejak sore ditahannya di lereng gunung kini mendesak hebat di sudut matanya. Wanita di hadapannya ini adalah orang yang selalu menjaganya saat demam, yang memasakkan nasi hangat di pagi hari, dan yang membesarkannya dengan penuh kelembutan di tengah segala keterbatasan.
"Tidak apa-apa, Bu... Aurel tadi ada kerja kelompok susulan di sekolah sampai sore," bisik Aurel terpaksa berbohong secara halus demi menenangkan batin ibunya. "Tadi salah naik bus angkutan kota, jadi sempat tersesat sebentar sebelum dapat bus ke arah sini."
Bu Sari menghela napas panjang penuh kelegaan, lalu merangkul dan memeluk tubuh Aurel erat-erat ke dadanya. "Alhamdulillah... yang penting kamu selamat dan tidak kenapa-kenapa, Nak. Ayo masuk. Ibu sudah hangatkan sayur lodeh dan siapkan air hangat untuk kamu mandi. Biar badannya tidak masuk angin."
Di dalam dekapan hangat ibunya yang beraroma wangi rempah jamu yang khas, Aurel memejamkan mata rapat-rapat. Hatinya teriris pedih oleh dilema yang kian tajam membakar jiwa: Bagaimana mungkin aku tega menyakiti dan meragukan kasih sayang Ibu yang seluar biasa ini hanya demi mengejar teka-teki asal-usul kelahiranku?
Pada saat yang hampir bersamaan, puluhan kilometer di sebelah utara di kawasan elite Candi, Semarang Atas suasana di dalam kediaman megah milik keluarga Hartono terasa sangat dingin, kaku, dan mencekat.
Di balik pintu kayu jati tebal ruang kerja pribadinya, Pak Hartono duduk anggun di balik meja ukir yang megah. Cahaya pendar dari lampu gantung kristal memantulkan aura wibawa yang keras pada wajah pengusaha kaya raya tersebut. Di hadapannya, dua orang pria berbadan tegap yang mengenakan setelan jas bernuansa gelap berdiri menunduk penuh sikap hormat.
"Jadi... kalian gagal menemukan wanita itu di Desa Lerep?" suara Pak Hartono terdengar dalam, dingin, dan sarat penekanan yang tak boleh dibantah.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Hartono," jawab salah seorang pria berjas dengan suara rendah dan penuh kehati-hatian. "Saat kami tiba di lokasi tiga hari lalu, Suster Rina sudah mengemas seluruh barangnya dan melarikan diri di tengah malam menggunakan kendaraan travel. Warga setempat juga tidak ada yang mengetahui secara pasti ke mana arah tujuannya."
Pak Hartono menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, matanya memicing tajam. Jemari tangannya yang mengenakan cincin batu mulia mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu jati dengan irama perlahan namun menebarkan ketegangan yang nyata.
"Pastikan masalah ini tetap tertutup rapat. Jangan sampai ada desas-desus yang bocor ke luar, apalagi sampai terdengar oleh media," perintah Pak Hartono dingin. "Perluas jangkauan pencarian kalian. Cari tahu jalur travel yang ditumpanginya malam itu. Saya tidak mau ada mantan perawat RS Elisabeth yang memegang masa lalu keluarga ini berkeliaran tanpa pengawasan saya."
"Baik, Pak Hartono! Kami akan langsung berkoordinasi untuk melacaknya hingga ke luar Jawa," jawab kedua pria itu kompak seraya membungkuk hormat sebelum melangkah keluar meninggalkan ruangan.
Namun, tanpa disadari oleh Pak Hartono maupun kedua utusannya, di balik pilar beton berukir di lorong remang luar ruang kerja, sosok Bu Maya Larasati berdiri mematung.
Kedua tangan Bu Maya tertangkup rapat di dadanya yang bergetar hebat. Bibirnya terkatup kaku, matanya membelalak lebar dalam kegelapan lorong. Ia telah mendengar seluruh bait percakapan rahasia itu dari balik pintu yang sedikit renggang.
Suster Rina? Perawat RS Elisabeth malam badai sembilan belas tahun lalu? batin Bu Maya berteriak histeris dalam keheningan yang menyiksa. Kenapa Mas Hartono diam-diam menyuruh orang berjas melacak perawat itu? Apa yang sebenarnya disembunyikan Mas Hartono dariku selama sembilan belas tahun lalu?
Keraguan yang selama ini menggerogoti batin Bu Maya tentang warna kulit sawo matang Clarissa, tabiatnya yang sangat berlawanan dengan keluarga mereka, serta kejanggalan malam kelahiran sembilan belas tahun lalu mendadak berubah menjadi bara api yang siap meledakkan ketenangan rumah tangga megah tersebut.
Keesokan harinya di SMA Loyola, matahari pagi memancarkan cahaya cerah menyinari pelataran dan koridor lantai dua sekolah. Derap langkah kaki murid-murid, keriuhan obrolan, dan tawa bersahut-sahutan memenuhi udara.
Aurel berjalan tenang menyusuri koridor sambil membawa buku catatan pelajaran di dadanya. Wajahnya agak pucat dan ada lingkaran tipis di bawah matanya karena kurang tidur sepanjang malam, namun binar matanya tetap memancarkan ketenangan yang teduh.
Dari arah berlawanan, Clarissa melangkah dengan gaya anggun yang disengaja, didampingi dua siswi yang selalu mengekor di belakangnya. Begitu matanya menangkap sosok Aurel, senyum ejekan yang sangat sinis langsung menyungging di bibirnya.
"Wah, lihat siapa yang jalan pagi-pagi di koridor," sindir Clarissa dengan suara keras yang sengaja ditujukan agar didengar oleh murid-murid sekitar. "Anak penjual jamu dari kampung yang kemarin sok polos. Muka kamu kok pucat berantakan begitu? Habis jualan jamu gendong keliling kampung semalaman, ya?"
Beberapa murid di dekat dinding koridor menghentikan langkah, sebagian menahan senyum canggung, sementara sebagian lain menatap situasi tegang itu dengan bisik-bisik. Aurel sendiri hanya menghentikan langkahnya, menatap Clarissa secara langsung dengan tenang tanpa terpancing sedikit pun untuk membalas dengan kata-kata kasar.
Namun, sebelum Clarissa sempat melanjutkan kalimat merendahkannya lebih jauh, sebuah suara berat dan tegas mendadak memotong tajam dari arah belakang.
"Cukup, Clarissa."
Cristan Dewangga melangkah maju dengan langkah tegap, berdiri tepat di samping Aurel. Mata tampannya menatap Clarissa dengan dingin, tajam, dan penuh kekecewaan yang nyata.
"Jangan gunakan kekayaan orang tuamu cuma untuk merendahkan teman sekolah sendiri," tegas Cristan dengan nada bernuansa wibawa yang menggema di koridor. "Sikap angkuhmu itu sama sekali tidak mencerminkan murid SMA Loyola."
Wajah Clarissa seketika berubah merah padam karena rasa malu yang luar biasa hebat dan amarah yang membakar dadanya. Harga diri yang selama ini ia agungkan di depan satu sekolah mendadak runtuh berantakan dihadapan puluhan pasang mata murid lain terutama karena Cristan Dewangga, cowok yang sangat didambakannya, secara terbuka melangkah maju untuk membela Aurel!
kalau bisa double up