Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta di Balik Senyum
Malam itu, ballroom hotel tempat perayaan ulang tahun Mahendra Group berlangsung mulai dipenuhi para tamu undangan. Sejumlah petinggi perusahaan, pemegang saham, dan rekan bisnis hadir untuk mengikuti acara tahunan tersebut.
Devan tiba bersama Aira. Dengan setelan jas hitam, ia menyambut beberapa orang yang menghampirinya. Sementara itu, Aira berjalan di sampingnya dengan gaun biru tua pilihan Siska.
Beberapa tamu melirik Aira dengan rasa ingin tahu. Pernikahannya dengan Devan masih menjadi pembicaraan di lingkungan keluarga Mahendra, terlebih karena tidak banyak orang yang mengetahui alasan di balik pernikahan tersebut.
Aira menyadari tatapan itu, tetapi ia tetap mengikuti langkah Devan tanpa menunjukkan kegelisahan.
Di dekat pintu masuk ballroom, Siska sedang berbincang dengan beberapa tamu. Ketika melihat putranya datang, ia menghampiri mereka.
"Kalian sudah datang," katanya singkat.
Devan mengangguk. "Beberapa tamu sudah hadir?"
"Sebagian besar sudah. Pamanmu juga ada di sini."
Tatapan Siska kemudian beralih kepada Aira. Ia tidak memberikan komentar mengenai penampilan menantunya itu, hanya mengangguk singkat sebelum menyapa seorang tamu yang baru datang.
Tidak lama kemudian, Devan dihampiri beberapa petinggi perusahaan. Ia meminta Aira menunggu sebentar sebelum mengikuti mereka untuk berbincang.
Aira tetap berada di dekat Siska. Ia tidak berusaha ikut dalam percakapan bisnis yang tidak dipahaminya, tetapi tetap menyimak suasana di sekelilingnya.
Tak lama berselang, Hadi Mahendra datang bersama dua orang pemegang saham. Setelah menyapa Siska, ia mengalihkan perhatiannya kepada Aira.
"Akhirnya kita bertemu lagi," ujarnya dengan senyum ramah. "Bagaimana, sudah mulai terbiasa menghadiri acara keluarga Mahendra?"
"Masih belajar menyesuaikan diri, Tuan Hadi," jawab Aira sopan.
"Itu wajar. Lingkungan ini tentu berbeda dengan tempatmu sebelumnya."
Aira mengangguk. "Benar, Tuan. Namun, saya rasa setiap orang membutuhkan waktu untuk mengenal lingkungan yang baru."
Hadi tersenyum tipis. Ia kemudian melirik dua pemegang saham yang berdiri di sampingnya.
"Ngomong-ngomong, keputusan Devan untuk menikah cukup mengejutkan banyak orang. Apalagi, ia sedang menghadapi banyak hal penting di perusahaan."
Salah seorang pemegang saham mengangguk pelan.
"Memang. Dalam situasi seperti ini, setiap keputusan seorang calon pemimpin tentu akan menjadi perhatian."
Aira memilih diam. Ia menyadari bahwa pembicaraan itu tidak lagi sekadar mengenai dirinya, melainkan mulai mengarah kepada Devan.
Hadi kembali menatapnya.
"Menurutmu, apakah sulit menjadi bagian dari keluarga yang memiliki tanggung jawab sebesar ini?"
Aira berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Saya menyadari bahwa ada banyak hal yang belum saya pahami. Namun, saya tidak ingin berpura-pura mengetahui sesuatu yang memang belum saya kuasai. Saya akan belajar menyesuaikan diri dan menjalankan tanggung jawab saya sebaik mungkin."
Jawabannya membuat kedua pemegang saham itu saling bertukar pandang.
Hadi tetap tersenyum, tetapi ia belum mendapatkan reaksi yang diharapkannya.
"Jawaban yang cukup bijak. Namun, dalam keluarga seperti ini, keputusan pribadi terkadang bisa memengaruhi kepercayaan orang terhadap seseorang."
Sebelum Aira sempat menanggapi, Siska menyela dengan nada tenang.
"Kurasa kepercayaan terhadap seseorang sebaiknya dinilai dari bagaimana ia menjalankan tanggung jawabnya, bukan semata-mata dari siapa yang menjadi pasangannya."
Hadi menoleh kepada kakak iparnya itu.
Siska melanjutkan, "Kita semua tentu ingin Mahendra Group dipimpin oleh orang yang mampu membawa perusahaan ini maju. Jadi, biarkan kinerja dan keputusan bisnis yang menjadi bahan penilaian."
Kalimat itu terdengar wajar di tengah percakapan mereka. Namun, Hadi memahami bahwa Siska sedang memperingatkannya agar tidak menggunakan Aira untuk menyudutkan Devan secara terbuka.
"Aku setuju," jawab Hadi. "Pada akhirnya, waktu yang akan membuktikan semuanya."
Ia tersenyum sebelum mengalihkan pembicaraan kepada para pemegang saham.
Aira melirik Siska sekilas. Ia tidak menyangka perempuan itu akan menanggapi ucapan Hadi. Namun, ia tidak berani menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk pembelaan terhadap dirinya.
Siska tetaplah Siska, dengan sikap dingin yang selama ini Aira kenal.
Tak lama kemudian, Devan kembali menghampiri mereka. Ia sempat melihat Hadi yang sedang berbincang dengan beberapa tamu sebelum menoleh kepada ibunya.
"Ada yang perlu dibicarakan?"
"Tidak ada," jawab Siska. "Pamanmu hanya sedang membicarakan hal-hal yang menurutnya penting."
Devan memahami maksud ucapan ibunya. Ia kemudian menatap Hadi yang kembali mendekat bersama seorang pemegang saham senior.
"Devan," sapa Hadi. "Kami tadi sedang membicarakan arah perusahaan ke depan."
"Apa yang ingin Paman bicarakan?"
Hadi tersenyum.
"Tentang kepemimpinan. Menurutku, seseorang yang ingin menduduki posisi penting harus mampu memastikan bahwa setiap keputusannya tidak mengganggu kepercayaan orang-orang yang bekerja bersamanya."
Devan menatap pamannya dengan tenang.
"Kalau yang Paman maksud adalah keputusan bisnis, aku siap mempertanggungjawabkannya. Namun, penilaian terhadap kepemimpinan seharusnya didasarkan pada kemampuan seseorang menjalankan perusahaan."
"Benar. Tapi terkadang, keputusan di luar pekerjaan juga bisa memengaruhi pandangan orang."
"Kalau begitu, biarkan mereka menilai berdasarkan fakta, bukan dugaan."
Jawaban Devan membuat Hadi terdiam sesaat. Ia tidak menyangka keponakannya akan menanggapi sindiran itu secara langsung tanpa kehilangan ketenangannya.
"Semoga saja begitu," ujar Hadi akhirnya.
Devan tidak melanjutkan perdebatan. Ia kemudian berpamitan kepada pemegang saham tersebut untuk memenuhi panggilan seorang direktur yang hendak berbicara dengannya.
Aira mengikuti Devan setelah pria itu memberi isyarat kepadanya.
Siska tetap berada di tempatnya, sementara Hadi kembali bergabung dengan para tamu lainnya.
Meski percakapan tadi berlangsung singkat, Hadi mulai menyadari bahwa menyudutkan Devan melalui pernikahannya tidak akan semudah yang ia bayangkan. Devan tidak terpancing, sedangkan Aira pun tidak menunjukkan sikap yang bisa dijadikan bahan ejekan.
Namun, Hadi belum berniat mengubah rencananya.
..._____🍀🍀🍀🍀____...
Acara berlangsung hingga malam semakin larut. Setelah rangkaian sambutan dan perayaan selesai, para tamu mulai meninggalkan ballroom.
Devan berpamitan kepada beberapa petinggi perusahaan sebelum menghampiri Aira. Mereka kemudian berjalan menuju pintu keluar.
Dalam perjalanan menuju mobil, Aira sempat melihat Siska berbincang dengan Hadi dari kejauhan. Keduanya tampak tenang, seolah tidak ada percakapan menegangkan yang terjadi sebelumnya.
Aira tidak mencoba menebak apa yang sedang mereka bicarakan. Ia hanya mengikuti Devan menuju mobil.
Setelah mereka duduk, mobil mulai meninggalkan hotel.
"Percakapan dengan Paman Hadi tadi tidak mengganggumu?" tanya Devan setelah beberapa saat.
Aira menoleh.
"Tidak terlalu. Aku hanya menjawab pertanyaannya."
Devan mengangguk pelan.
"Kau tidak perlu memaksakan diri untuk menanggapi semua perkataannya. Paman Hadi selalu punya alasan di balik apa yang ia sampaikan."
"Aku mengerti, Mas Devan."
Devan kembali menatap jalanan di depan. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi pikirannya masih tertuju pada percakapan malam itu.
Aira memang berasal dari lingkungan yang berbeda dengan keluarga Mahendra. Namun, ketika Hadi berusaha menyudutkannya, perempuan itu tidak kehilangan ketenangan ataupun merendahkan dirinya sendiri.
Devan mulai menyadari bahwa Aira mampu menghadapi situasi semacam itu tanpa harus selalu bergantung kepadanya.
Kesadaran tersebut terasa asing baginya. Selama ini, ia menganggap pernikahan mereka sebatas kesepakatan untuk memenuhi tuntutan kakeknya. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana Aira akan menghadapi dunia yang kini menjadi bagian dari kehidupannya.
Sementara itu, Aira memilih memandang ke luar jendela. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah malam ini, tetapi ia mulai memahami bahwa pernikahannya telah menempatkannya di tengah persaingan yang bukan miliknya.
Ia hanya berharap bisa menjalani kesepakatan mereka tanpa menjadi alasan bagi Devan untuk menghadapi masalah yang lebih besar.
Mobil terus melaju membelah jalanan Jakarta.
Di balik senyum dan percakapan formal malam itu, persaingan keluarga Mahendra masih jauh dari selesai.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,