Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Judul yang Menyakitkan
Laut di pesisir selatan tak pernah sama dua hari berturut-turut.
Pagi pertama bulan madu, ombaknya abu-abu dan galak, memecah di karang seperti kemarahan yang tak sempat diucapkan. Pagi ketiga, airnya berubah hijau jernih dan tenang, dan Bu Rukmi, yang ikut dengan alasan "menjaga kesopanan" meski tak seorang pun memintanya, duduk di bawah pohon waru dengan sarung terlipat di lutut, tersenyum sendiri sambil menonton menantunya belajar berenang di air setinggi pinggang.
"Mas, jangan melawan arus!" teriak Andien dari tepi. "Ikuti saja!"
"Aku sedang mengikuti!"
"Mas sedang tenggelam!"
Carlo muncul dengan rambut basah menutupi mata, terbatuk-batuk, lalu tertawa. Andien berlari ke air dan menariknya berdiri. Mereka bergulat kecil di antara ombak, dua orang dewasa yang bertingkah seperti anak-anak, sementara Pak Jamal di kejauhan mengangkat jaring sambil menggeleng penuh pengertian.
Itu lima hari yang paling tenang dalam hidup Andien. Tanpa rencana, tanpa rahasia, tanpa seseorang yang menunggu di ujung telepon. Setiap malam mereka duduk di teras penginapan Pak Jamal, makan ikan bakar dengan sambal dabu-dabu, dan membiarkan ombak bicara untuk mereka.
Lalu hari keenam, Raka menelepon.
---
"Pak, maaf mengganggu bulan madunya."
Suara Raka di ponsel Carlo terdengar hati-hati, terlalu hati-hati. Carlo, yang sedang mengupas jeruk di teras, langsung meletakkan pisaunya.
"Ada apa?"
"Ada artikel terbit pagi ini di sebuah situs berita daring. Sudah dibagikan ribuan kali sejak subuh." Raka menarik napas. "Saya rasa Bapak dan Bu Andien perlu melihatnya sebelum ada yang mengirimkannya."
"Kirim sekarang."
Beberapa detik kemudian ponsel itu bergetar. Carlo membuka tautan, dan Andien, yang baru keluar dari kamar dengan handuk di bahu, melihat wajah suaminya berubah dari tenang menjadi sesuatu yang mengeras seperti batu.
"Mas?"
Carlo tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan ponsel.
Judul artikel itu hitam, tebal, dan besar.
**"DARI GUBUK KE KONGLOMERAT: GADIS DESA YANG MERAMPAS SUAMI DOKTER ELIT"**
Di bawahnya terpajang foto, bukan foto pernikahan mereka, melainkan foto lama yang entah bagaimana ditemukan seseorang: Andien keluar dari paviliun Jalan Palem Raja, dengan kebaya lusuh dan rambut dikepang, wajahnya tampak ketakutan karena tertangkap kamera dari kejauhan.
Andien membaca paragraf pertama dengan jari yang mulai dingin.
*Siapa sangka seorang gadis kampung tanpa pendidikan dan harta bisa menjerat hati pewaris Wiranegara Group hanya dalam hitungan minggu? Sumber dekat keluarga mengatakan, perempuan bernama Andien itu diduga sengaja memanfaatkan kondisi Carlo yang sedang terluka untuk menikah secara diam-diam, sementara sang suami sah, dr. Laras Prameswari, tengah berjuang menyelamatkan nyawa pasien di rumah sakit...*
Ia berhenti. Kata-kata di layar mulai kabur, bukan karena air mata, tetapi karena sesuatu yang lebih dingin dan lebih tua, rasa yang ia kenal sejak masa kecil, saat anak-anak tetangga menyindirnya di warung karena bajunya bekas.
*Pelakor.*
Artikel itu tidak menyebut kata itu secara langsung, tetapi seluruh kalimatnya berputar mengitarinya seperti burung pemakan bangkai. Tentang gadis desa yang "licik". Tentang rumah singgah yang "hanya kedok pencitraan". Tentang pernikahan kedua yang "diakali" saat sang pewaris tak berdaya. Tak ada satu kalimat pun tentang Hendra, tentang Bram, tentang malam di sungai, tentang ancaman gas di dapur.
"Mas," bisiknya. "Ini bohong."
"Tentu saja bohong." Suara Carlo rendah dan sangat tenang, jenis ketenangan yang membuat Andien tiba-tiba waspada. "Aku akan menelepon pengacara. Kita tuntut media itu, tarik semua tulisannya, dan..."
"Tidak."
Carlo menatapnya. "Dien?"
"Jangan telepon pengacara dulu." Andien meletakkan ponsel di meja. Tangannya sedikit gemetar, tetapi ia menggenggam kedua tangannya sendiri di pangkuan hingga gemetar itu berhenti. "Saya mau pulang. Besok pagi."
"Dien, kita masih punya dua hari lagi di sini."
"Saya tahu." Ia menatap laut yang kini berkilau di bawah cahaya siang. "Tapi saya tidak mau bersembunyi, Mas. Sekali lagi pun tidak."
---
Mereka tiba di Menteng pukul sembilan malam keesokan harinya, dan Rumah Pulang sudah dikepung.
Bukan dengan kekerasan. Hanya dengan kamera. Belasan wartawan berdiri di depan gerbang putih dengan mikrofon dan lampu sorot, jalanan penuh mobil dan motor. Beberapa relawan dapur berdiri di balik pagar dengan wajah cemas, dan seorang ibu tua dari desa jauh, salah satu penghuni tetap yang sedang menemani suaminya berobat, menangis di teras sambil memeluk Pak Slamet.
Raka menjemput mereka di ujung jalan dan membawa mereka lewat pintu belakang. Laras sudah menunggu di dapur besar, jas dokter masih melekat, rambutnya tak serapi biasanya.
"Aku sudah menelepon redaksi mereka sejak tadi pagi," katanya begitu melihat Andien. "Aku bilang artikel itu fitnah dan akan kutuntut sendiri. Mereka bilang akan 'meninjau ulang'. Aku rasa itu berarti tidak."
"Bu Laras tidak perlu..."
"Perlu." Laras menggenggam bahunya. "Mereka menjadikan namaku alat untuk menyakitimu. Aku tidak akan duduk diam."
"Siapa sumbernya?" tanya Carlo.
"Tidak jelas. Wartawannya menyebut 'sumber dekat keluarga', tapi aku mengenal semua orang yang tahu detail itu. Tak satu pun mungkin membocorkannya." Laras mengerutkan dahi. "Foto Andien di paviliun itu diambil dari kamera pengawas rumah di seberang jalan. Hanya orang yang punya akses ke arsip lama yang bisa mendapatkannya."
"Orang-orang Bram."
"Mungkin. Atau sisa-sisa jaringannya yang belum tertangkap." Laras menghela napas. "Yang jelas, tujuannya jelas. Menghancurkan Rumah Pulang dari dalam."
Andien menatap mereka berdua, lalu mengalihkan pandangan ke jendela dapur yang menghadap halaman depan. Dari balik kaca, ia bisa melihat lampu sorot wartawan menyapu pagar putih, bayang-bayang kepala-kepala berdesakan, dan papan kayu bertuliskan *Rumah Pulang* yang berkilat di bawah cahaya.
Di dalam dadanya, sesuatu bergerak pelan. Bukan marah. Bukan takut. Sesuatu yang lebih mirip tekad, seperti saat ia memutuskan tidak memanggil siapa pun di tepi sungai.
"Saya mau bicara dengan mereka," katanya.
"Dien..." Carlo memulai.
"Bukan karena dipaksa. Bukan untuk membela diri." Andien menoleh, dan di matanya tak ada lagi gadis yang gugup di ruang tamu keluarga Prameswari. "Saya hanya mau menjawab satu hal. Kalau saya tidak menjawab, mereka akan mengisi kekosongan itu dengan cerita mereka sendiri."
Laras dan Carlo bertukar pandang. Dan untuk pertama kalinya, tak seorang pun dari mereka mencoba mengatur apa yang harus Andien lakukan.
---
Andien keluar lewat pintu depan dengan celemek putih dan kebaya kerja.
Ia tidak berdandan. Tidak mengganti baju. Rambutnya masih diikat tinggi seadanya, wajahnya masih menyimpan sisa kelelahan perjalanan. Ia hanya berjalan ke tengah halaman, berdiri di bawah beringin, dan menunggu sampai kerumunan wartawan itu mulai tenang.
"Selamat malam," katanya. Suaranya tidak lantang, tetapi jernih. "Nama saya Andien Suparman. Saya kepala dapur di rumah ini."
Kamera berkilat. Seseorang berteriak, "Bu Andien! Benarkah Anda menikahi Pak Carlo saat dia masih beristri?"
"Benar."
Hening sesaat, lalu gumam yang menggelegar. Carlo, di balik pintu, menegang, tetapi Laras menahan lengannya.
"Saya menikah dengan Mas Carlo di desa saya, sebelum saya tahu dia sudah menikah," lanjut Andien tenang. "Dia tidak jujur. Saya tidak tahu. Itu kesalahan dia, bukan saya, dan dia sudah mengakuinya di depan penghulu, di depan Bu Laras, di depan seluruh desa saya."
"Jadi Anda tidak merebut suami orang?"
"Saya tidak merebut apa pun." Andien menatap wartawan yang bertanya, seorang perempuan muda berkemeja biru dengan buku catatan tergenggam erat. "Dr. Laras Prameswari adalah perempuan yang paling baik pada saya sepanjang hidup saya. Beliau yang menawarkan saya dapur ini. Beliau yang bercerai secara baik-baik, bukan karena saya, tetapi karena dia memilih hidup yang lebih jujur."
"Tapi artikel itu menyebut Rumah Pulang hanya pencitraan..."
"Silakan masuk."
Wartawan itu berkedip. "Maaf?"
"Silakan masuk, semuanya." Andien melangkah ke samping dan membuka gerbang lebar-lebar. "Sudah jam sembilan malam. Kalian pasti lapar. Dapur ini masih menyala, dan hari ini kami masak sup ayam untuk empat puluh orang."
Hening yang aneh menyelimuti halaman. Wartawan saling pandang. Beberapa menurunkan kamera.
"Lihat sendiri," lanjut Andien. "Lihat siapa yang tidur di sini. Lihat siapa yang makan. Tanya langsung pada ibu-ibu yang menemani suami mereka berobat. Kalau itu pencitraan, setidaknya kalian akan kenyang."
Seorang ibu tua yang tadi menangis di teras melangkah maju, menyeka mata dengan ujung kerudung. "Nduk Andien ini yang kasih saya nasi hangat waktu suami saya masuk ICU, Mbak. Tidak ada orang lain di kota ini yang tanya apakah saya sudah makan."
Gumam pelan merambat di antara kerumunan.
Wartawan perempuan berkemeja biru itu, yang namanya Dita, kata tanda pengenalnya, menurunkan buku catatannya perlahan. Lalu, entah mengapa, ia mengangguk.
"Boleh saya masuk, Bu?"
"Tentu."
---
Satu jam kemudian, Dita duduk di bangku kayu di sudut dapur dengan semangkuk sup ayam di tangan dan buku catatan terbuka di pangkuan. Wartawan-wartawan lain tersebar di berbagai sudut, mewawancarai relawan dan penghuni dengan nada yang jauh lebih lunak daripada tadi.
"Saya yang menulis artikel itu," kata Dita pelan ketika Andien duduk di sampingnya.
"Saya tahu. Dari nama di bawah judulnya."
"Saya menulisnya berdasarkan data yang saya terima dari redaktur. Katanya sumbernya valid." Dita menatap mangkuknya. "Saya seharusnya memverifikasi. Itu kesalahan saya."
"Kenapa Ibu tidak memverifikasi?"
"Karena tenggat. Karena saya takut dimarahi. Karena judul yang heboh dibayar lebih tinggi." Ia mengusap wajah. "Alasan-alasan yang terdengar bodoh kalau dikatakan keras-keras."
Andien tak langsung menjawab. Ia menatap perempuan muda itu, yang usianya mungkin hanya beberapa tahun di atasnya, dengan sepatu lusuh dan tas yang talinya sudah mulai terkelupas.
"Saya tidak marah, Bu Dita."
Dita mengangkat wajah, terkejut. "Tidak?"
"Saya marah pada orang yang memberi Ibu data itu. Bukan pada Ibu." Andien tersenyum kecil. "Dan saya ingin tahu siapa dia."
Dita terdiam lama. Lalu ia membuka tasnya, mengeluarkan ponsel, dan memperlihatkan layar kepada Andien.
"Dia mengirim pesan melalui akun anonim. Tapi ada satu hal yang saya perhatikan." Ia menunjuk foto kecil di sudut profil. "Metadata fotonya masih tersimpan. Diambil dengan kamera pengawas yang terpasang di sebuah gedung di Jalan Palem Raja. Dan tanggal pengunduhannya, tiga hari sebelum Pak Bramantyo ditangkap."
Andien menatap angka-angka itu, dan dingin merambat di tengkuknya.
"Berarti seseorang sudah menyimpannya sejak lama."
"Dan menunggu waktu yang tepat untuk menyebarkannya." Dita mengangguk. "Saya akan menelusurinya, kalau Ibu mengizinkan. Bukan untuk berita. Untuk menebus kesalahan saya."
Andien menatapnya lama, lalu mengangguk.
"Satu syarat."
"Apa saja, Bu."
"Makan supnya dulu. Jangan sampai dingin."
Dita tertawa kecil, canggung, dan mulai menyendok. Di seberang dapur, Carlo dan Laras berdiri berdampingan di ambang pintu, memperhatikan dengan wajah campur aduk antara bangga dan cemas.
Di luar jendela, lampu sorot satu per satu padam. Dan di atas papan kayu di gerbang, huruf-huruf cokelat tua itu masih berkilat dalam gelap.
**RUMAH PULANG**
*Singgah untuk keluarga yang menemani.*
---
*Bersambung ke Bab 29...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya