Tantya Ambardhita hanya lulusan SMA. Bagi keluarga suaminya, itu cukup menjadi alasan untuk merendahkannya.
Mereka menganggap Tantya tak punya apa-apa. Namun anehnya, setiap kebutuhan mertua dan tiga iparnya selalu dibebankan kepada perempuan itu. Tantya diperlakukan seperti ATM berjalan—diminta memberi, tetapi tak pernah dihargai.
Sampai suatu hari, Rendra, suaminya, membawa mantan kekasihnya pulang kampung. Bukan hanya mengajak perempuan itu masuk ke mobil, Rendra bahkan menyuruh Tantya duduk di kursi belakang.
Ironisnya, mobil yang mereka banggakan itu adalah milik Tantya.
Di sebuah rest area, Tantya akhirnya meninggalkan mereka. Dan sejak hari itu, Tantya bukan lagi istri yang selalu mengalah.
Keluarga Rendra mengira mereka sedang kehilangan seorang istri yang hanya lulusan SMA.
Mereka belum tahu…
perempuan yang selama ini mereka remehkan menyimpan identitas dan kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Memilih Dirinya Sendiri
Tantya melangkah meninggalkan dapur tanpa menoleh lagi kepada Bu Martha maupun Rendra. Ia sudah cukup mendengar penghinaan yang dilontarkan oleh ibu mertuanya, terlebih ketika Rendra, suaminya sendiri, justru menganggap dirinya sebagai seseorang yang bisa dimanfaatkan karena sifatnya yang penurut.
Sesampainya di kamar, Tantya menutup pintu perlahan. Ia berdiri sejenak di dekat pintu, mengembuskan napas panjang, berusaha meredam gejolak perasaan yang sejak tadi berkecamuk di dadanya.
Sungguh, ia tidak pernah menyangka akan diperlakukan sedemikian rupa oleh keluarga suaminya. Selama ini, ia berusaha menempatkan diri sebaik mungkin. Ia membantu ketika dibutuhkan, tidak banyak menuntut, bahkan rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga Rendra. Ia melakukannya bukan karena merasa berkewajiban membiayai mereka, melainkan karena menganggap mereka sebagai keluarganya sendiri.
Namun, rupanya kebaikan itu justru membuat mereka merasa berhak merendahkannya.
Tantya menggeleng pelan. Sudahlah. Ia tidak ingin terus-menerus memikirkan orang-orang yang bahkan tidak mampu menghargai keberadaannya.
Ia kemudian mengambil handuk dan perlengkapan mandi, lalu masuk ke kamar mandi. Air yang membasahi tubuhnya sedikit membantu meredakan rasa gerah akibat udara pagi, tetapi tidak serta-merta menghilangkan kekecewaan yang memenuhi hatinya.
Di bawah guyuran air, pikirannya justru semakin mantap. Ia akan pulang ke rumah ibunya. Untuk apa bertahan di rumah itu jika keberadaannya saja tidak dianggap? Toh, tinggal di sana tidak membuatnya lebih dihargai. Justru semakin lama ia berada di tengah-tengah keluarga suaminya, semakin banyak pula perlakuan yang harus ditelannya dalam diam.
Kali ini, ia ingin mengambil jarak. Bukan untuk mencari perhatian Rendra. Bukan pula untuk membuat ibu mertuanya merasa bersalah. Ia hanya ingin menenangkan diri di tempat yang membuatnya merasa diterima, tanpa harus terus-menerus membuktikan bahwa dirinya pantas dihormati.
Apalagi, acara lamaran yang akan dilaksanakan besok bukanlah sesuatu yang mengharuskannya menginap di rumah keluarga Rendra. Ia masih bisa datang bersama ibunya, menghadiri acara tersebut sebagaimana mestinya, lalu pulang setelah semuanya selesai. Keputusan itu terasa semakin masuk akal.
Selesai mandi, Tantya mengenakan pakaian rumahan yang nyaman. Ia mengeringkan rambutnya seadanya, kemudian mulai membereskan barang-barang miliknya.
Sebuah tas besar dikeluarkannya dari lemari. Ia memasukkan beberapa potong pakaian, pakaian dalam, perlengkapan mandi, serta barang-barang pribadi yang sekiranya dibutuhkan selama berada di rumah ibunya. Ia juga memeriksa meja rias, memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal.
Gerakannya teratur, tanpa terburu-buru. Namun, ada ketegasan dalam setiap tindakannya.
Sesekali, pandangannya jatuh pada sisi tempat tidur yang biasa ditempati Rendra. Ia teringat ucapan suaminya tadi, yang dengan enteng mengatakan bahwa dirinya dipertahankan karena bisa dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan rumah sekaligus menyumbangkan uang.
Pahit rasanya mengingat itu semua. Tantya mengancingkan tasnya, lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
Kalau memang keberadaanku hanya dianggap berguna ketika kalian membutuhkan sesuatu, untuk apa aku harus terus berada di sini? batinnya.
Ia tidak berniat membuat keributan. Tidak pula ingin mengumumkan kepergiannya kepada semua orang. Untuk apa? Jika mereka memang tidak peduli dengan perasaannya, ia tidak perlu menghabiskan tenaga untuk menjelaskan alasan yang sebenarnya sudah mereka dengar sendiri.
Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Tantya mengangkat tasnya dan membawanya keluar kamar.
Dari arah ruang makan, terdengar suara percakapan dan denting peralatan makan. Rupanya, Bu Martha, Rendra, dan anggota keluarga lainnya sedang menikmati sarapan. Bi Lilis pun sibuk melayani mereka di meja makan.
Tantya berhenti sebentar di depan pintu kamar, melirik ke arah ruang makan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tidak ada yang memanggilnya. Tidak ada pula yang datang untuk menanyakan apakah ia sudah sarapan atau belum?.
Ia tersenyum tipis, senyum hambar yang lebih menyerupai ungkapan kecewa daripada kebahagiaan.
Baiklah. Ia juga tidak perlu menunggu siapa pun.
Dengan tas di tangan, Tantya berjalan melewati ruang tengah menuju pintu depan. Langkahnya tenang, tidak menunjukkan keinginan untuk mencari perhatian. Ia membuka pintu, keluar, lalu menguncinya kembali sebelum menuju mobil yang terparkir di halaman.
Udara pagi masih terasa sejuk. Beberapa tetangga tampak mulai beraktivitas, tetapi Tantya tidak menghiraukan mereka. Ia membuka bagasi mobil, meletakkan tasnya di sana, kemudian masuk ke kursi pengemudi.
Setelah memasang sabuk pengaman, ia menyalakan mesin. Dari dalam mobil, Tantya sempat melirik ke arah rumah itu. Rumah yang menjadi tempatnya menginap, tetapi pagi ini justru terasa begitu asing baginya.
Ada sedikit keraguan yang melintas. Bagaimanapun, Rendra adalah suaminya. Seharusnya, rumah keluarga suaminya juga bisa menjadi tempat yang nyaman untuknya.
Namun, pikiran itu segera ditepisnya. Rumah seharusnya menjadi tempat seseorang merasa diterima, bukan tempat ia harus terus menelan penghinaan hanya demi mempertahankan keharmonisan semu. Dengan bertemu ibunya, dia juga akan membicarakan kemungkinan terburuk untuk pernikahannya. Saat ini, dia sudah gak mau bertahan dengan orang-orang yang jelas-jelas selalu merendahkannya.
Tantya mengalihkan pandangan ke depan, kemudian perlahan menginjak pedal gas. Mobilnya bergerak meninggalkan halaman rumah itu, melaju menyusuri jalan desa menuju jalan raya yang akan membawanya ke kecamatan lain, tempat ibunya tinggal.
Sepanjang perjalanan, Tantya memilih tidak menyalakan musik. Ia hanya ingin menikmati kesunyian, membiarkan pikirannya beristirahat dari segala persoalan yang sejak semalam menguras emosinya.
Sesekali, ia menarik napas panjang ketika melewati hamparan sawah dan pepohonan di tepi jalan. Pemandangan pagi yang tenang sedikit membantu menenteramkan hatinya.
Ia belum tahu apa yang akan dikatakan Rendra ketika menyadari dirinya sudah tidak ada di rumah. Ia juga tidak tahu bagaimana reaksi Bu Martha jika mengetahui menantu yang dianggapnya tidak berguna itu memilih pergi tanpa meminta izin.
Namun, untuk kali ini, Tantya tidak ingin memusingkan semua itu.
Besok, ia akan datang kembali bersama ibunya untuk menghadiri acara lamaran. Ia akan menjalankan kewajibannya sebagai bagian dari keluarga tanpa harus mengorbankan harga dirinya lebih jauh.
Setelah acara selesai, ia akan kembali ke rumah ibunya karena memang itu yang membuat hatinya lebih tenang. Berbaur dengan keluarga suaminya saat ini, hanya akan membuatnya lebih terpuruk.
Setidaknya, untuk sementara waktu, ia ingin berada di dekat seseorang yang tidak membuatnya merasa rendah hanya karena pekerjaan dan keadaan ekonominya. Padahal, kalau mau jujur, yang merendahkannya saat ini, bahkan lebih rendah dari dirinya. Dirinya saat ini sudah bisa menggaji karyawan lebih dari dua puluh orang. Omzetnya pun dalam sebulan sudah milyaran. Namun, suami dan keluarganya yang sejak awal memang merendahkannya, tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.
Keluarga Rendra juga tidak tahu, selama ini dia kuliah desain dan administrasi niaga di kampus yang berbeda. Tahunya mereka, Tantya hanya lulusan SMK.
Dan pagi itu, dengan mobil yang terus melaju meninggalkan rumah keluarga suaminya, Tantya akhirnya memilih dirinya sendiri.