NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Kai Cemburu

Malam kian melarut saat gemerlap lampu ibu kota berubah menjadi titik-titik pendar kecil di kejauhan. Di sebuah taman pribadi beratap kaca yang terletak di lantai tertinggi salah satu properti tersembunyi milik Aditya Group, suasana terasa begitu sunyi dan privat. Hanya suara gemericik air mancur buatan dan hembusan angin malam yang menerpa pepohonan hias di dalam ruangan.

Alya berdiri di dekat dinding kaca raksasa, masih mengenakan gaun malam berwarna hitam elegan yang ia kenakan saat menghadiri acara perusahaan. Bintang-bintang malam menggantung di langit Jakarta, membiaskan cahaya lembut yang menimpa wajahnya yang cantik dan tenang.

Langkah kaki yang mantap namun halus terdengar mendekat dari arah pintu masuk privat.

Tanpa perlu memutar tubuhnya, Alya sudah tahu siapa yang datang. Aroma wangi kayu cendana yang khas dan familier seketika menyapa inderanya, membawa rasa hangat dan aman yang selalu ia rindukan di tengah peliknya permainan sandiwara yang harus ia jalani.

Kai Aditya melangkah mendekat. Pria itu sudah melepas jas tebalnya, menyisakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, rolled up hingga ke siku lengan. Raut wajah tampannya yang biasanya selalu tenang, terkendali, dan memancarkan wibawa dingin seorang pemimpin puncak, malam ini tampak berbeda.

Ada kilatan gelisah yang pekat di balik manik matanya yang tajam. Ada guncangan emosi yang telah ia tahan setengah mati sepanjang malam.

Kai berhenti tepat satu langkah di belakang Alya. Ia tidak langsung memeluknya seperti biasa, juga tidak menyapa dengan senyuman hangatnya. Pria itu berdiri mematung, menatap pantulan bayangan Alya di dinding kaca raksasa dengan pandangan yang dalam dan intens.

Keheningan melingkupi mereka berdua selama beberapa detik yang terasa begitu panjang dan menegangkan.

"Kamu bahagia tadi?" tanya Kai tiba-tiba.

Suara Kai terdengar rendah, serak, dan menyimpan getaran emosi yang begitu asing dari sosok CEO yang biasanya tidak tersentuh itu.

Alya perlahan memutar tubuhnya, menghadap Kai sepenuhnya. Ia menatap mata Kai yang berkilat menahan rasa, menangkap setiap guratan ketegangan di wajah pria yang amat dicintainya itu.

"Kamu tahu jawabannya, Kai," jawab Alya pelan, suaranya jernih dan begitu lembut.

Kai menatap bibir Alya—bibir yang beberapa jam lalu ia lihat disentuh oleh ucapan-ucapan manis berpura-pura di depan para kolega dan kamera media. Kai menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman getir yang dipaksa-paksa melengkung di bibirnya.

"Saya tahu," bisik Kai, menghembuskan napas panjang yang terasa panas dari dadanya. "Saya tahu itu semua cuma bagian dari strategi kita. Saya tahu kamu bersikap manis padanya cuma untuk memancing Siska membakar cemburu dan membuat mereka makin ceroboh..."

Kai menggantungkan kalimatnya. Ia mengalihkan pandangannya ke samping sejenak, memejamkan matanya rapat-rapat seraya membasahi bibirnya yang kering, sebelum kembali mengunci tatapan matanya langsung ke manik mata Alya.

"...tapi tetap saja saya tidak suka melihatnya," tutur Kai jujur. Setiap kata yang keluar dari bibirnya sarat akan kebenaran emosional yang tak lagi sanggup ia sembunyikan.

Dada Alya berdesir kencang. Melihat sosok Kai yang selalu kokoh bagaikan benteng batu kini menunjukkan sisi rentan dan kejujuran perasaannya secara terbuka membuat sudut hati Alya meleleh oleh rasa haru yang luar biasa.

Alya melangkah satu tapak mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga ia bisa merasakan kehangatan tubuh Kai.

"Kamu cemburu?" tanya Alya berbisik, menatap lurus ke dalam manik mata Kai dengan binar mata yang hangat.

Kai diam cukup lama. Pria bertubuh tegap itu mematung, menatap wajah Alya yang begitu dekat dengannya. Selama belasan tahun menjaga nama Alya di dalam hatinya—sejak hari di mana Alya memberinya gambar bunga matahari dan separuh roti cokelat—Kai selalu memposisikan dirinya sebagai perisai yang tak bergetar. Namun malam ini, melihat wanita yang teramat dicintainya harus memeluk dan tersenyum pada pria yang pernah menghancurkannya adalah ujian terbesar bagi kewarasannya.

"Sangat," jawab Kai akhirnya. Suaranya rendah, penuh kepastian, dan tanpa keraguan sedikit pun. "Sangat cemburu, Alya. Rasanya saya ingin melangkah ke tengah ballroom itu, menarik tanganmu keluar, dan menghancurkan siapa pun yang berani menyentuhmu."

Alya menyunggingkan senyum kecil—senyuman tulus yang dipenuhi rasa cinta yang mendalam dan kedamaian sejati.

"Tapi kamu tetap membiarkanku?" tanya Alya pelan seraya mengulurkan tangannya, meletakkan jemarinya yang halus di atas dada bidang Kai—tepat di atas jantung pria itu yang berdetak kencang dan tidak beraturan. "Kamu tetap berdiri di sana dan membiarkanku menyelesaikan permainanku?"

Kai menunduk, menatap jemari Alya yang mendarat di dadanya. Pria itu mengangkat tangannya yang besar dan hangat, menggenggam jemari Alya dengan sangat erat, lalu membawanya ke bibirnya untuk mengecup punggung tangan wanita itu dengan sangat dalam.

"Karena saya percaya padamu, Alya," bisik Kai, matanya memancarkan rasa hormat dan kepercayaan yang mutlak. "Saya percaya pada kecerdasanmu. Saya percaya pada strategimu. Dan yang paling penting... saya percaya pada hatimu."

Kata-kata Kai menghantam dada Alya dengan kehangatan yang memabukkan. Air mata haru menggenang di pelupuk mata Alya.

Banyak pria di luar sana yang akan bersikap posesif, memaksakan kehendak mereka, atau mengambil alih keputusan atas nama 'melindungi' ketika melihat wanita yang mereka cintai berada dalam situasi seperti ini. Namun Kai Aditya berbeda. Pria ini memiliki kekuatan dan kuasa untuk menghentikan semuanya dalam sekejap mata, tetapi ia memilih untuk menahan diri, mengendalikan egonya, dan menahan rasa cemburunya yang membakar—semata-mata karena ia menghormati keputusan Alya dan percaya sepenuhnya pada kemampuan wanita itu untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

"Kai..." bisik Alya dengan suara yang agak serak oleh rasa haru.

"Saya menahan diri bukan karena saya lemah, Alya," sambung Kai seraya melangkah makin rapat, melingkarkan lengan kekatnya di pinggang Alya secara posesif namun lembut. "Saya menahan diri karena ini adalah panggung kemenanganmu. Kamu yang memulai pertarungan ini, dan kamu yang berhak mengakhirinya. Tugas saya adalah menjadi tempatmu pulang saat kamu lelah bersandiwara di luar sana."

Alya menyandarkan dahi dan wajahnya di dada bidang Kai, membiarkan aroma wangi kayu cendana dan detak jantung pria itu menenangkan seluruh kelelahan jiwanya. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kai, memeluk pria itu dengan segenap rasa cinta yang ia miliki.

"Terima kasih, Kai..." tutur Alya tulus di balik dada Kai. "Terima kasih karena tidak pernah menjadi pria yang mengekspresi atau meragukanku. Terima kasih sudah mempercayaiku sejauh ini."

Kai menundukkan wajahnya, mengecup kening Alya dengan ciuman yang amat panjang dan dalam, menyerap seluruh rasa rindu dan cinta yang mereka simpan di tengah badai sandiwara.

"Tapi ingat janji kamu, Alya," bisik Kai seraya mengusap pelan rambut hitam mewah Alya. "Segera selesaikan permainan ini. Siska sudah mulai memakan umpannya, dan Rendy sudah makin masuk ke dalam jebakanmu. Jangan biarkan mereka mengambil waktumu lebih lama lagi dari saya."

Alya mendongak, menatap wajah tampan Kai dengan senyuman pembalasan yang kini berkilau penuh kepastian di matanya.

"Tidak akan lama lagi, Kai," tegas Alya dengan nada suara yang berbobot. "Siska merasa dia sudah berhasil memanipulasi Rendy. Dalam beberapa hari ke depan, dia pasti akan melakukan tindakan nekad untuk merebut posisi dan dokumen perusahaan. Dan saat itulah... kita akan menutup perangkap ini rapat-rapat."

Kai menyunggingkan senyum tipis yang amat tampan—senyuman seorang penguasa yang siap menyaksikan kehancuran musuh-musuhnya di samping wanita yang dicintainya.

"Bagus," bisik Kai pelan. Ia mendekatkan wajahnya, menatap bibir Alya dengan pandangan yang kian menggelap oleh hasrat dan rasa memiliki yang mendalam. "Karena kalau drama ini berlangsung lebih lama dari minggu ini... saya tidak menjamin bisa menahan diri untuk tidak memenjarakan mereka berdua malam ini juga."

Alya terkekeh renyah—sebuah suara tawa lepas yang hanya bisa keluar saat ia berada di dekat Kai. Sebelum Alya sempat membalas kalimat itu, Kai sudah menundukkan wajahnya dan mengunci bibir Alya dalam sebuah kecupan yang dalam, hangat, dan menuntut.

Kecupan itu tidak lagi menyisa ruang untuk bayang-bayang Rendy, Siska, atau masa lalu yang kelam. Di dalam ruangan beratap kaca itu, di bawah pendar ribuan bintang malam kota Jakarta, hubungan Alya dan Kai Aditya bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar ikatan cinta biasa—sebuah kemitraan jiwa yang dilandasi oleh rasa percaya mutlak, kehormatan, dan takdir yang tak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!