NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Sinar mentari pagi memancarkan sinarnya yang hangat keemasan, menembus tirai jendela kaca besar di kamar Alena.

Jam 04.30 alema sudah mandi dan solat subuh dan sesaat setelah Alena tampak rapih sebelum keluar dari kamarnya.

Ia berdiri di depan cermin walk-in closetnya yang mewah. Hari ini ia harus mulai terbiasa dengan pakaian yang mahal dan tentunya tampak pas di badannya yang ideal. Ia memakai gamis satin warna sage green yang flowy, lembut dan jatuh dengan sangat elegan. Gamis itu tidak menerawang sama sekali, cuttingannya pas di pinggang, membuat siluet tubuh idealnya tetap terlihat anggun meski tertutup syar'i.

Dan Alena juga memadu padankan dengan memakai hijab pashmina voal premium warna cream yang dililit dengan anggun. Pashminanya dililit rapi menutupi dada, dengan peniti bros mutiara kecil di dagu. Wajahnya yang bersih hanya dipoles lip tint tipis dan sedikit blush on. Tidak ada rambut yang terurai, semua tertutup sempurna dengan pashmina itu. Justru karena tertutup itulah, aura mahalnya makin terpancar. Ia terlihat seperti bidadari pagi, anggun, mahal, dan menenangkan.

"Alena, kamu bisa. Kamu istri CEO sekarang, tapi tetap Alena yang berjilbab," bisiknya sambil merapikan pashminanya di cermin.

Ia turun ke lantai bawah dan rupanya dapur masih tampak sepi.

Tanpa menunggu chef dan asisten rumah tangga yang lain, Alena memutuskan untuk masak sendiri ,iya mulai membuka kulkas dua pintu yang besar didalam dapurnya. Ia mengeluarkan bahan-bahan dan mulai memasak.

Jam 06.00, aroma nasi goreng terasi, telur dadar gulung, dan sop ayam bening sudah memenuhi seluruh rumah mewah itu. Aroma yang sangat rumahan.

Sarapan pagi sudah tertata di meja makan marmer yang panjang. Tiga piring keramik putih, teh melati hangat, dan vas kecil berisi mawar putih.Tertata dengan ayu oleh sentuhan tangan Alena.

Ia memanggil Bi Ijah dan semua ART, "Bi, mulai hari ini Saya buat peraturan baru ya dirumah ini,bahwa setiap pagi harus sarapan pagi bersama. Tidak ada yang boleh keluar rumah sebelum sarapan. Ini berlaku untuk semua, termasuk Pak Aditya dan Sean."

Bi Ijah hampir menangis. "Ya Allah Bu Alena... akhirnya... akhirnya meja makan ini dipakai lagi Bu. Selama 5 tahun cuma jadi pajangan pelengkap rumah saja Bu."

Jam 06.30, Aditya turun dengan setelan jas hitam arang yang sempurna. Ia sudah memegang laptop, siap pergi tanpa sarapan seperti biasanya.

Langkahnya terhenti.

Meja makan itu tidak lagi dingin dan kosong. Sarapan sudah tertata, mengepul hangat, dan ada Alena yang berdiri dengan gamis sage green dan pashmina creamnya yang anggun menunggu di sana.

"Mas, sarapannya sudah siap. Duduk dulu 10 menit saja ya. Ini peraturan rumah yang baru," kata Alena dengan suara lembut tapi tegas.

Aditya menatap jam tangannya. "Saya ada meeting."

"Cuma 10 menit Mas. Kalau Mas tidak makan, Sean juga tidak akan mau makan," jawab Alena berani.

Aditya menatap Alena. Pashmina cream yang dikenakan Alena membuat wajah Alena semakin teduh dan anggun di pagi hari. Akhirnya ia menghela napas dan duduk di kursi utama namun wajahnya tetap terlihat kaku dan dingin.

Tidak lama, Sean turun dengan seragam yang kusut dan wajah ngantuk. Ia mau langsung kabur lewat garasi.

"Sean, sini sarapan dulu nak," panggil Alena.

Sean berhenti. Ia melihat pemandangan asing. Papanya duduk di meja makan. Meja makan yang selama ini hanya ia kenal sebagai pajangan pelengkap rumah yang sepi dan dingin, kini tampak hidup.

Ada makanan hangat, ada teh, ada bunga, dan ada Alena dengan pashmina creamnya yang terlihat seperti seorang ibu seutuhnya.

Sean akhirnya duduk dengan ragu di ujung meja.

Suasana hening, hanya suara sendok. Namun bagi Sean, suasana itu adalah kehangatan yang sudah lama hilang. Setelah sekian lama sejak Mamanya meninggal, baru pertama kali meja makan tampak hidup. Tidak sepi lagi. Ada rasa rumah pagi ini.

Sean mulai merasakan kehangatan itu. Nasi goreng yang ia makan rasanya persis seperti masakan Mamanya dulu.

Namun hati Sean tetap belum bisa menerima sepenuhnya. Gengsi anak berandalnya masih tebal. Ia cepat-cepat menutup perasaan haru itu.

"Ah, ini hanya kebetulan saja. Palingan cuma hari ini doang biar pencitraan di depan Papa. Besok juga pasti sepi lagi. Gue gak akan tertipu sama drama ibu tiri." gumamnya dalam hati, lalu ia berdiri dan pergi ke sekolah dengan cepat, meski dalam hatinya ia sangat bersyukur.

Sore harinya, jam 16.00, di lapangan futsal dekat SMA Harapan Bangsa, Sean membuat ulah lagi.

Ia berkelahi dengan temannya, Dito. Gara-gara ejekan soal ibu tirinya. Rupanya kabar kejadian balap liar cepat menyebar di sekolahnya bahkan sampai ketelinga Dito musuh bebuyutan Sean sejak mereka duduk dibangku sekolah dasar.

"Lo ngomong apa lo?!" Sean mendorong Dito sampai jatuh dan dito yang tidak terima menarik tangan Sean dan terjadilah baku hant di atas rumput sintetis lapangan futsal.

Teman-teman hanya menonton tak ada yang berani melerai.

Kebetulan, Alena yang baru pulang fitting baju dari butik bersama Rendra, lewat di depan lapangan itu. Ia melihat kerumunan dan seragam Sean.

"Rendra, berhenti! Itu Sean!"

Alena turun dengan cepat dan berlarian menghampiri Sean dan berusaha melerainya.

"SEAN!! BERHENTI! ASTAGHFIRULLAH!"

Karena keduanya tidak ada yang mau mundur akhirnya Alena berlari ke tengah lapangan, melepas flat shoes mahalnya dan meminjam sepatu futsal teman Sean di pinggir lapangan. Gamisnya sedikit ia gulung di bagian bawah agar tidak terinjak, tapi tetap menutupi kaki.

Ia berdiri di antara dua anak yang berkelahi itu.

"Kalau punya tenaga buat berantem, pakai buat cetak gol! Cowok keren itu nyelesain masalah di lapangan, bukan pakai tinju!" ucapnya membuat Sean dan dito berhenti dan beralih menatap Alena.

Alena menoleh ke kanan dan kekiri matanya terlihat tengah mencari sesuatu,lantas pandangannya tertuju pada benda bulat yang tak jauh darinya,iya mengambil bola futsal itu.

"Huufftt dia lagi,apa sih maunya!" gerutu Sean.

Dito tertawa terbahak melihat alena.

" Haai anak mami,Lo liat setelah berhasil mengalahkan rival rupanya dia mau ngajak gue tanding,hahahah dia belum tau siapa gue.Okke dia jago naik motor,tapi ini lapangan broo,mana bisa dia yang kemayu dengan gamis itu bisa nendang bola." ejekan Dito sukses membuat wajah Sean merah padam.

Alena tersenyum sinis,detik berikutnya ia mendekati Dito.

" Kamu tidak akan tau kalau belum mencoba,kita taruhan kalau kamu menang saya akan kasih kamu uang jajan 3 juta tapi kalau kamu kalah kamu harus janji tidak akan menganggu Sean lagi." ucapnya dengan enteng membuat Sean membulat bola matanya.

" Deal!" ucap Dito dengan semangat membara,ia begitu yakin bisa dengan mudah mengalahkan Alena.

" Sean kamu ikut tim saya dan pilih beberapa temanmu untuk masuk tim kita!" ucapnya tanpa menghiraukan tatapan mata Sean yang tampak marah dan kesal.

Permainan dimulai,Alena awalnya tampak biasa saja karna dia tengah melihat lawannya dan mengatur strateginya,namun di menit ke 5 Alena mulai menunjukkan aksinya.

Dengan gamis dan pashminanya Alena tetap santai dan elegant dalam bermain.Kendati iya memakai gamis ia tak terlihat kesulitan atau terganggu. Alena justru bermain dengan sangat lincah! Dribblingnya cepat, umpannya akurat, dan tendangannya keras! Hijab pashminanya tetap kokoh terpasang meski ia berlari kencang.

Ia bahkan melakukan tendangan salto kecil dan mencetak gol!

"GILA BUNDA SEAN JAGO FUTSAL!" teriak semua anak.

Lagi-lagi membuat Sean dan yang lainnya takjub. Sean yang tadinya marah, kini malah tertawa dan tos dengan temannya setelah mendapat assist cantik dari Alena. Ibu tirinya yang berjilbab itu ternyata tidak hanya jago motor sport, tapi juga jago futsal!

Sementara itu, di Pradana Tower, Aditya yang menerima laporan video dari Rendra hanya terdiam menatap layar laptopnya.

Di video itu, Alena dengan gamis peach dan pashminanya sedang berlari di lapangan futsal, melerai perkelahian dengan cara yang sangat keren.

Aditya yang menerima laporan tersebut hanya merasa semakin kagum atas apa yang ia lihat dan tiba-tiba dadanya berdesir aneh.

Ia merasa sudah mengenal Alena. Selama 5 tahun, Alena adalah adik iparnya, gadis pendiam berjilbab sederhana di kontrakan yang menjaga ibunya yang sakit.

Namun belakangan ini, ia menjadi merasa belum begitu mengenal dengan baik siapa adik iparnya yang kini menjadi istrinya itu. Ternyata Alena yang berjilbab itu bisa balap liar, bisa main futsal, bisa membuat meja makan yang mati menjadi hidup kembali.

Siapa kamu sebenarnya, Alena? Pikir Aditya, dan untuk pertama kalinya, CEO dingin itu tersenyum tipis menatap video istrinya yang berjilbab itu.

*Bersambung*

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!