Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diabaikan
Aroma cairan pembersih lantai yang tajam menyengat hidung Vivian begitu dia melangkahkan kakinya melewati pintu kaca rumah sakit.
Pagi itu, sinar matahari baru saja membiaskan cahaya di balik dedaunan, namun dinginnya udara seolah mampu menembus hingga ke dalam tulang-tulang Vivian yang kian merapuh.
Dengan gaun lusuh dan mantel tipis yang membalut tubuh ringkihnya, Vivian berjalan terseret-seret di sepanjang koridor. Luka di telapak kakinya bekas goresan pecahan piring keramik semalam masih berdenyut nyeri setiap kali menginjak ubin marmer yang dingin. Namun, rasa perih di kakinya sama sekali tidak sebanding dengan benturan hampa di dalam dadanya.
Setiap kali Vivian menghembuskan napas, kata-kata kasar Radhit semalam seolah kembali membakar indra pendengarannya.
"Rasa sakit kamu itu nggak ada apa-apanya dibanding rasa mual saya setiap kali lihat muka kamu di rumah ini!"
Vivian meremas pinggiran tas kainnya, menunduk begitu dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang pucat pasi.
Lingkaran hitam berkumpul pekat di bawah matanya, menandakan malam panjang yang dilewatkannya tanpa memejamkan mata sedetik pun.
Dia menghabiskan seluruh sisa tenaganya semalam untuk merangkak, memungut pecahan piring, dan mengelap ceceran darah serta kuah sup hingga marmer dapur kembali bersih mengilap hanya agar Radhit tidak melemparkannya keluar dari rumah.
Di sekelilingnya, koridor rumah sakit mulai dipadati oleh pasien yang berlalu-lalang. Di sudut ruang tunggu, pandangan Vivian tak sengaja menangkap sepasang suami istri. Pria di sana tampak memeluk bahu istrinya yang sedang hamil tua dengan begitu protektif, mengusap usap jemarinya dengan lembut, dan membisikkan kata-kata penenang penuh kasih sayang.
Dada Vivian mendadak tersengal. Ada rasa sesak yang menusuk tajam, merayap dari ulu hati hingga membakar matanya.
Kenapa? Kenapa hanya untuk didengar saja rasanya begitu mustahil bagiku? Apa dosa anak di dalam perutku ini sampai ayahnya sendiri tidak mau mengakui kehidupannya?
"Ibu Vivian Valerie?"
Suara panggilan dari suster memutus lamunan pilunya. Vivian tersentak, menyapu sudut matanya yang basah dengan ujung jarinya yang dingin, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis dan melangkah masuk ke ruang pemeriksaan.
Dokter spesialis kandungan di balik meja kayu besar itu menyambut Vivian dengan tatapan ramah. Namun, begitu matanya menatap kondisi fisik Vivian yang mengenaskan, kening dokter wanita itu langsung berkerut dalam.
"Ibu Vivian... kondisinya terlihat sangat lelah," ujar dokter itu dengan intonasi penuh keprihatinan saat meminta Vivian berbaring di atas ranjang periksa. "Suaminya tidak mendampingi lagi?"
Pertanyaan sederhana itu terasa bagaikan belati yang di tancapkan tepat di luka yang paling berdarah.
Vivian menelan salivanya yang terasa sangat pahit, memalingkan wajah ke arah langit-langit ruangan.
"Suami saya... sedang banyak urusan di luar, Dok," sahut Vivian lirih, suaranya parau dan nyaris habis.
Dokter itu menghela napas pendek, lalu mengoleskan gel dingin di atas perut Vivian yang masih tampak datar. Alat USG mulai digerakkan di atas kulit perutnya. Layar monitor di samping ranjang menyala, menampilkan bayangan hitam-putih yang buram.
Namun, tidak ada senyum kepuasan di wajah sang dokter. Raut wajahnya justru berubah semakin serius.
"Ibu Vivian, perhatikan layar ini," penjelasannya terdengar begitu pelan namun menusuk. "Ini janin Ibu. Usianya baru masuk tiga bulan.
Tapi lihat detak jantungnya..." Dokter menunjuk sebuah titik kecil yang berdenyut sangat lemah. "Detak jantungnya sangat lambat untuk usia kehamilan tiga bulan. Tekanan darah Ibu juga drop parah."
Tubuh Vivian seketika membeku di atas ranjang. "M-maksud Dokter... bagaimana?"
"Kondisi psikis Ibu sangat memengaruhi janin ini," tegurnya tegas. "Stres berat, kelelahan fisik, dan tekanan emosional yang Ibu alami saat ini berdampak langsung pada pasokan nutrisi ke dalam rahim.
Kalau Ibu terus-terusan seperti ini, janin ini bisa tidak bertahan. Tolong, Ibu harus istirahat total dan sebisa mungkin cari ketenangan. Suami Ibu harus tahu kondisi ini agar bisa membantu menjaga emosi Ibu di rumah."
Kata-kata dokter itu berputar liar di kepala Vivian saat dia melangkah keluar dari ruang pemeriksaan. Jemari kurusnya meremas kertas resep obat dengan begitu erat hingga meremukkan lembarannya.
Janin ini bisa tidak bertahan...
Rasa takut mendadak merayapi seluruh dinding dadanya. Vivian boleh saja diabaikan, dihina, dan diinjak-injak statusnya sebagai manusia, tetapi anak ini tidak berdosa. Anak ini adalah satu-satunya alasan mengapa Vivian masih bertahan bernapas di dalam neraka yang diciptakan Radhit.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Vivian merogoh ponsel murahnya dari dalam tas. Dia membuka kontak telepon, menatap satu nama yang terukir di sana: Mas Radhit.
Vivian menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa keberaniannya, lalu menekan tombol panggil.
Panggilan tersambung...
Satu dering... Dua dering... Tiga dering...
Jantung Vivian berdegup begitu kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Setiap detik menunggu respon dari seberang sana terasa seperti siksaan tanpa akhir.
Tut... tut... tut...
Panggilan diputus. Radhit menolaknya.
Air mata Vivian mulai menggenang di pelupuk mata. Namun, rasa cemas akan keselamatan anaknya mengalahkan rasa takutnya. Vivian memejamkan mata rapat-rapat, mengusap perutnya, lalu menekan tombol panggil sekali lagi.
Kali ini, di dering keempat, sambungan telepon diangkat.
"Saya sedang ada rapat, Vivian."
Suara itu terdengar. Begitu berat, dalam, sangat tenang, dan teratur. Tidak ada nada teriakan, namun intonasinya begitu dingin, berjarak, dan penuh dengan aura keangkuhan seorang pria berkuasa yang merasa terganggu.
Vivian menahan napas, berusaha menekan getaran di tenggorokannya. "Mas... Mas Radhit, maaf kalau mengganggu waktu Mas... tapi aku baru saja dari rumah sakit"
"Saya membiayai semua kebutuhan medis kamu bukan untuk mendengarkan laporan tidak penting seperti ini setiap jam," potong Radhit tanpa keraguan.
Suaranya di seberang sana sangat jernih, diiringi denting halus sendok dan gelas kristal yang menandakan dia sedang berada di sebuah tempat eksklusif. "Kalau cuma masalah mual atau pusing biasa, selesaikan sendiri. Jangan seperti anak kecil."
"Bukan, Mas... Ini soal anak kita..." tangis Vivian akhirnya pecah, suaranya memelas di tengah bisingnya koridor rumah sakit. "Dokter bilang detak jantung janin di dalam perut aku lemah banget... Dia butuh kamu, Mas. Aku cuma minta Mas pulang sebentar"
"Cukup, Vivian."
Satu patah kata dari Radhit memotong ucapan Vivian dengan begitu mutlak. Nada suaranya mendadak berubah dingin dan menajam, memutus harapan Vivian tanpa sisa.
"Jangan pernah pakai alasan kehamilan untuk memanipulasi perhatian saya. Saya tidak suka gaya murahan seperti itu,"ucap Radhit datar, namun setiap kata yang terucap rasanya bagaikan belati yang menguliti harga diri Vivian. "Kamu tahu batas kamu di rumah itu. Tugas kamu cuma duduk tenang dan jangan bikin saya pusing. Jangan hubungi nomor ini lagi kalau bukan urusan mendesak."
"Mas Radhit, tolong... dengarkan aku dulu"
Klik.
Sambungan telepon mati secara sepihak. Radhit memutuskannya tanpa keraguan sedikit pun.
Vivian berdiri membeku di tengah lorong rumah sakit. Ponsel di tangannya terasa begitu dingin dan berat. Suara riuh manusia di sekitarnya mendadak lenyap, berganti dengan suara berdengung hebat di dalam kepalanya.
Rasa hancur, terhina, dan kesepian yang tak tertahankan meremas jantungnya hingga dia sulit untuk menghirup udara.
Air matanya menetes deras, membasahi layar ponsel yang kini kembali gelap. Dia memegang perutnya dengan kedua tangan, meratapi nasib calon buah hatinya yang bahkan belum lahir namun sudah ditolak keberadaannya oleh sang ayah.
Sementara itu, di sebuah restoran fine dining mewah yang terletak di lantai atas gedung pencakar langit pusat kota, Radhit Gezha Revandhana meletakkan ponsel mewahnya di atas meja kaca dengan gerakan yang sangat tenang dan presisi.
Wajahnya yang tampan sama sekali tidak menunjukkan raut penyesalan. Pria itu merapikan kancing lengan kemeja lamanya yang terbuat dari sutra terbaik, lalu kembali menatap wanita cantik di hadapannya.
Clarissa Olivia tersenyum manis dari balik cangkir porselen mewahnya. Gaun merah yang melekat di tubuhnya tampak begitu kontras dengan ketenangan Radhit.
"Siapa yang telepon, Radhit? Kelihatannya mengganggu banget," tanya Clarissa dengan nada suara yang dibuat sangat lembut dan penuh perhatian.
Radhit menghembuskan napas pelan. Raut wajahnya yang tadinya dingin seketika mereda, digantikan oleh tatapan tenang yang memanjakan saat menatap Clarissa.
"Bukan siapa-siapa. Cuma orang rumah yang tidak tahu aturan," sahut Radhit singkat, membuang keberadaan Vivian dari pikirannya seolah istrinya itu tak lebih dari sekadar debu yang mengganggu.
Radhit mengulurkan tangannya, meraih jemari Clarissa yang dihiasi cincin berlian mahal, lalu mengusapnya perlahan dengan sikap seorang gentleman yang begitu memesona.
"Tidak usah memikirkan hal tidak penting. Kita fokus pada makan siang kita saja. Jadi, perhiasan mana yang mau kamu lihat setelah ini?"
Clarissa tertawa anggun, menyandarkan jemarinya pada genggaman tangan Radhit. "Kamu selalu tahu cara membahagiakan aku, Radhit..."
Radhit hanya memberikan senyuman tipis yang sangat menawan. Dia sama sekali tidak peduli bahwa di sudut kota yang lain, istrinya yang sedang mengandung anaknya sedang berjalan sendirian di bawah terik matahari sambil memeluk perutnya yang terasa amat nyeri, menangisi takdir mereka yang begitu kelam.
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian