NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Pesta Kemenangan dan Berita Buruk di Pintu Rumah

Di ruang tamu kediaman mewah bergaya klasik milik keluarga Nugroho, suasana hangat terpancar dari pendar lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit. Aroma teh herbal hangat berpadu dengan wangi kue-kue tradisional yang disajikan di atas meja kaca berukir. Kakek Nugroho, pria sepuh berambut putih yang mengenakan batik sutra berwarna cokelat keemasan, duduk tersenyum lebar di sofa utama. Di hadapannya, Ayah Bimo, Pak Wira, dan Ibu Bimo duduk saling berdampingan dengan raut wajah yang memancarkan rasa lega luar biasa.

"Saya benar-benar tidak menyangka, Pak Wira," ujar Kakek Nugroho seraya terkekeh pelan, suaranya yang agak serak menyimpan kebahagiaan yang membuncah. "Nadia tadi menelepon saya langsung dari mobilnya. Dia bilang, Bimo sangat kooperatif dan mereka berdua sudah sepakat untuk melangkah ke jenjang pernikahan."

Pak Wira tertawa lebar, menepuk paha pribadinya dengan gembira. "Alhamdulillah, Kakek Nugroho! Jujur saja, waktu Bimo pamit tadi sore, saya sempat was-was dia bakal bertingkah konyol atau bikin Nadia risih. Tapi syukurlah, ternyata anak itu bisa bersikap dewasa!"

"Iya, Kakek," timpal Ibu Bimo dengan senyum mengembang manis. "Bimo itu sebenarnya anak yang bertanggung jawab, cuma kadang sifat humorisnya suka kelewatan. Kami sangat bersyukur Nadia mau menerima Bimo apa adanya."

Kakek Nugroho menyeruput teh hangatnya perlahan, lalu meletakkan cangkir porselen itu kembali ke tatakannya. Matanya yang renta tampak berkaca-kaca oleh rasa haru yang mendalam.

"Nadia itu anak yang sangat mandiri sejak orang tuanya meninggal, Bu Wira. Dia selalu fokus pada urusan pekerjaan dan mengabaikan kehidupan pribadinya. Melihat dia akhirnya membuka hati dan mau menikah dengan Bimo... ini adalah hadiah terbesar bagi sisa umur saya," tutur Kakek Nugroho dengan nada lembut.

"Kami sangat memahami hal itu, Kakek," sahut Pak Wira mantap. "Nugroho Group dan Wira Perkasa Group sudah seperti keluarga sejak dulu. Pernikahan anak-anak kita ini bukan cuma menyatukan dua insan, tapi juga mempererat tali silaturahmi dua keluarga besar."

"Benar sekali, Pak Wira!" tegak Kakek Nugroho dengan mata berbinar-binar penuh semangat. "Karena Nadia dan Bimo sama-sama sudah setuju tanpa ada keraguan, buat apa kita menunda-nunda lagi? Saya ingin acara akad dan resepsi dipercepat!"

Ibu Bimo agak terkejut, namun matanya tetap memancarkan keceriaan. "Lho, dipercepat bagaimana maksud Kakek? Bukankah rencana awalnya bulan depan?"

"Ah, bulan depan terlalu lama untuk ukuran pria tua yang sering sakit-sakitan seperti saya ini," kekeh Kakek Nugroho. "Saya sudah minta asisten pribadi saya untuk menyiapkan segalanya. Pekan depan! Minggu depan mereka harus resmi menikah!"

Pak Wira mengangguk-angguk setuju tanpa ragu sedikit pun. "Setuju seratus persen, Kakek! Lebih cepat lebih baik. Biar Wira Perkasa Group dan Nugroho Group bisa makin fokus menggarap proyek manufaktur kita dengan tenang setelah acara selesai."

"Haha! Bagus! Kita satu pemikiran, Pak Wira!" puji Kakek Nugroho gembira. "Nanti malam saya sendiri yang akan mengawasi persiapan berkas-berkasnya. Kita bikin pernikahan ini megah dan berkesan untuk mereka berdua!"

Sementara perayaan kecil dan kesepakatan sepihak itu berlangsung meriah di kediaman keluarga Nugroho, sebuah mobil sedan hitam milik Bimo baru saja membelok masuk ke halaman rumah kediaman keluarga Wira yang asri. Bimo, pemuda bertubuh agak bongsor dengan gaya santainya, melangkah keluar dari mobil. Ia mengenakan kaus polos dan celana pendek jins, sangat santai seolah tidak ada beban apa pun di pundaknya.

Bimo bersiul kecil seraya memutar-mutar kunci mobil di jarinya. Dalam pikirannya, misi penyamaran yang dijalankan oleh Dewa sore tadi pasti sudah berjalan sesuai rencana konyol mereka, Dewa bertingkah norak, Nadia ilfil berat, lalu rencana perjodohan batal secara alami tanpa merusak nama baik keluarganya.

"Hehehe, mantap banget si Dewa. Pasti si CEO dingin itu langsung mual-mual lihat kemeja bunga-bunga sama akting playboy-nya Dewa," gumam Bimo percaya diri sambil terkekeh pelan.

Bimo melangkah masuk menyusuri teras rumahnya yang luas, lalu mendorong pintu utama rumahnya yang terbuat dari kayu jati tebal.

"Pagi Papa, Mama! Bimo pulang nih!" seru Bimo santai seraya melepas sandal mahalnya di dekat rak sepatu.

Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah ruang keluarga. Pak Wira dan Ibu Bimo, yang baru saja kembali dari rumah Kakek Nugroho beberapa menit sebelumnya, muncul dengan raut wajah yang sangat berseri-seri, membuat Bimo agak heran.

"Eh, Papa sama Mama kok senyum-senyum gitu? Ada proyek besar yang tembus ya?" tanya Bimo polos sambil berjalan menuju meja makan untuk mengambil segelas air dingin.

Pak Wira berjalan mendekati Bimo, lalu menepuk-nepuk bahu putranya itu dengan sangat bangga dan keras, sampai Bimo hampir tersedak air yang baru diminumnya.

"Papa bangga sama kamu, Bimo! Luar biasa kamu hari ini!" puji Pak Wira dengan suara menggelegar gembira.

Bimo mengusap dagunya yang terkena cipratan air, dahinya berkerut makin dalam. "Bangga gimana maksudnya, Pa? Bimo kan cuma seharian nongkrong... eh maksudnya ketemu sama Nadia sesuai suruhan Papa."

Ibu Bimo ikut mendekat dan merangkul lengan Bimo dengan penuh rasa kasih sayang. "Aduh, anak Mama yang pintar! Kenapa kamu tadi pura-pura ogah-ogahan pas dijodohkan, padahal pas ketemu Nadia kamu bisa bikin dia langsung kelemer-kelemer?"

Bimo membelalakkan matanya. Gelas kaca di tangannya hampir saja merosot jatuh. "Hah? Kelemer-kelemer gimana maksud Mama? Nadia... suka gitu sama Bimo?"

"Bukan cuma suka, Bimo!" sahut Pak Wira seraya tertawa lepas. "Baru saja Papa sama Mama pulang dari kediaman Kakek Nugroho. Nadia sendiri yang telepon kakeknya langsung dari mobil, bilang kalau kamu itu pria yang sangat kooperatif dan kalian berdua sudah sepakat untuk menikah!"

Jleg!

Bagaikan disambar petir di siang bolong, seluruh sendi di tubuh Bimo seketika terasa lemas. Wajahnya yang tadinya segar mendadak pucat pasi seperti kertas hvs.

"M-menikah... S-sepakat?" gagap Bimo, matanya melotot menatap babak demi babak keanehan yang diucapkan orang tuanya. "Tunggu, tunggu dulu, Pa! Ini bercanda kan? Maksudnya sepakat gimana? Orang tadi si Dewa, maksud Bimo, orang Bimo tadi kelakuannya norak banget di depan dia!"

Ibu Bimo menepuk lengan Bimo pelan sambil tertawa. "Halah, kamu ini sok malu-malu kucing. Nadia itu bilang sendiri sama kakeknya kalau dia sangat terkesan sama kejujuran dan komitmen kamu. Kakek Nugroho sampai terharu banget tadi!"

"Gak mungkin! Ini pasti ada salah paham!" seru Bimo panik setengah mati, memegangi kepalanya yang mulai berdenyut parah. "Bimo itu tadi... Bimo itu enggak mau nikah, Ma! Bimo masih mau bebas, belum mau terikat pernikahan!"

Pak Wira mengibaskan tangannya, mengabaikan protes panik putranya dengan anggapan itu hanyalah kepanikan wajar seorang calon pengantin pria.

"Sudah, tidak usah panik begitu! Soal waktu dan persiapan, kamu tenang saja. Papa sama Kakek Nugroho sudah ambil keputusan terbaik," kata Pak Wira penuh kemenangan.

"Keputusan apa, Pa?" tanya Bimo dengan nada suara yang bergetar hebat karena firasat buruk yang teramat sangat.

Pak Wira tersenyum lebar, menatap mata Bimo dengan rasa bangga yang meluap-luap.

"Rencana pernikahan bulan depan resmi dibatalkan!" tegas Pak Wira.

Bimo menghembuskan napas lega yang sangat panjang, dadanya yang tegang mendadak agak rileks. "Hah... Syukurlah! Batal kan? Berarti Bimo bebas dong—"

"Bukan batal perusahaannya, Bimo!" potong Pak Wira cepat seraya menepuk dada. "Tapi dipercepat! Pernikahan kamu sama Nadia bakal dilaksanakan minggu depan!"

"APA?! MINGGU DEPAN?!" jerit Bimo melengking tinggi, suaranya sampai bergema di seluruh sudut ruangan rumah mewah itu.

"Iya, minggu depan!" sahut Ibu Bimo gembira. "Kakek Nugroho yang minta sendiri biar cepat dapat cicit. Besok pagi tim perancang busana sama pengurus katering bakal datang ke sini buat ukur baju kamu. Selamat ya, anakku!"

Bimo berdiri mematung di tengah ruangan seperti patung batu. Bola matanya bergerak-gerak liar, pikirannya kacau balau bayangan kehancuran masa mudanya. Pertanyaan besar bertubi-tubi menghantam dadanya, Apa yang sebenarnya dilakukan si Dewa di kafe tadi? Kenapa bukannya bikin ilfil, malah bikin acara nikahan dipercepat minggu depan?!

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!