Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.
Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.
Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.
Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.
Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stella Lingga 09.
Gema peluit panjang wasit langsung disambut gemuruh dari tribun barat gedung olahraga. Bau keringat, minyak telon, dan lantai parset yang pengap khas turnamen antar-SMA menyergap indra penciuman.
Di tepi lapangan, Gibran bertumpu pada kedua lututnya. Napasnya memburu. Jersey futsal nomor punggung 10 miliknya sudah basah kuyup.
Ini babak semifinal yang kacau. Skor masih bertahan 2-2, dan sisa waktu di papan skor digital cuma tinggal lima menit.
"Gibran! Fokus, Bran! Jangan kasih ruang!"
Suara itu bukan dari pelatih. Bukan juga dari anak-anak cadangan di bench.
Gibran memejamkan mata sesaat, menahan erangan frustrasi. Dia tahu persis pemilik suara cempreng berfrekuensi tinggi yang baru saja menembus barikade sorak-sorai ratusan penonton itu.
Stella.
Gibran menoleh sekilas ke arah tribun penonton paling depan. Benar saja. Di sana, Stella berdiri di atas kursi plastik—mengabaikan teguran guru piket—sambil mengacung-ngacungkan botol air mineral kosong yang dipukul-pukul ke telapak tangannya sendiri. Rambut kuncir kudanya sudah berantakan, pipinya merah padam karena terlalu banyak berteriak.
"Gibran, awas kanan lu! Potong, Bran! Tembak aja langsung!" pekik Stella lagi, corong tangannya diarahkan ke lapangan seolah dia adalah manajer taktis bersertifikat FIFA.
Padahal, Stella bahkan tidak tahu apa itu aturan power-play.
Tepat di bawah tribun tempat Stella berdiri, di pinggir lapangan yang lebih steril, Clara sedang memimpin anak-anak pemandu sorak. Sebagai kapten cheerleader, gerakan Clara sangat presisi. Seragam biru-putihnya tampak kontras dan bersih, senyumnya tidak luntur meski udara GOR sangat gerah. Setiap kali Gibran memegang bola, Clara akan mengangkat pom-pomnya, memandu yel-yel yang terstruktur dan rapi bersama timnya.
"Gibran, Gibran, go fight, win!"
Suara Clara dan timnya terdengar ritmis, terlatih, dan "aman" di telinga. Tapi masalahnya, suara tertata milik Clara itu langsung tenggelam begitu Stella kembali menjerit, "Gibran, itu si nomor 4 curang banget dari tadi! Sikut balik aja, Bran! Gue yang tanggung jawab!"
Beberapa anak SMA lawan di lapangan mulai melirik Gibran sambil nyengir mengejek. Gibran merasa telinganya mulai panas. Fokusnya yang sudah tipis karena kelelahan makin buyar. Pola serangan yang sudah dia susun di kepalanya mendadak mentah setiap kali suara melengking Stella masuk ke gendang telinganya.
Peluit kembali berbunyi. Bola out. Gibran berjalan ke tepi lapangan untuk mengambil posisi kick-in. Kebetulan, areanya persis di depan Stella dan Clara.
Clara langsung mengambil kesempatan itu untuk melangkah mendekat, tersenyum manis sambil menyeka keringat imajiner di dahinya. "Semangat ya, Gibran. Kamu pasti bisa kok. Jangan kecapekan," ucap Clara lembut, tipe penyemangat yang biasa didengar di drama-drama remaja.
Gibran cuma mengangguk tipis, matanya masih memindai posisi lawan di area penalti.
"Gibran! Minum dulu nih! Muka lu udah kayak udang rebus!" Stella berteriak dari atas kursi, tangannya menjulurkan botol minum baru yang dia beli entah kapan. "Jangan kalah sama tim sebelah, mukanya songong banget!"
Beberapa penonton di sekitar Stella mulai tertawa, sementara Clara melirik Stella dengan tatapan dingin, terganggu karena koreografi yel-yelnya terus-terusan ditabrak oleh teriakan tanpa rem itu.
Gibran mengembuskan napas berat. Dia tidak mengambil minum dari Stella. Dia bahkan tidak membalas senyuman Clara. Detik itu, tekanan di pundaknya terasa terlalu besar. Kepalanya berdenyut, dan suara Stella adalah pemicu instan yang membuat konsentrasinya pecah berkeping-keping.
Gibran berbalik, mendongak lurus ke arah Stella. Matanya menatap tajam, dingin, tanpa ada sisa keramahan ramah-tamah khas cowok populer.
"Stel, bisa diam enggak?"
Suara Gibran tidak berteriak, tapi intonasinya yang berat dan tegas justru terdengar sangat jelas di antara jeda kebisingan GOR.
Stella yang baru saja mau membuka mulut lagi untuk berteriak, langsung membeku. Botol minum di tangannya perlahan turun.
"Lu berisik banget dari tadi. Sadar enggak sih, teriakan lu itu ganggu konsentrasi gue?" Gibran melanjutkan, setiap kata keluar dengan penekanan yang jujur sekaligus menusuk. "Gue butuh fokus di lapangan, bukan dengerin lu ngoceh enggak jelas. Kalau mau nonton, nonton aja yang tenang. Jangan bikin gue makin pusing."
Keheningan janggal sempat tercipta selama beberapa detik di area tribun depan. Clara di sebelah bawah tampak menahan senyum puas, perlahan mundur untuk kembali ke barisan timnya dengan dagu terangkat.
Sementara Stella, dia masih berdiri di atas kursi. Pipinya yang tadinya merah karena semangat, perlahan berubah warna karena rasa malu yang mendadak menyerang. Tangan yang memegang botol minum itu agak gemetar. Dia melihat sekeliling yang beberapa pasang mata anak-anak kelas lain sedang berbisik-bisik sambil melihat ke arahnya.
Stella membasahi bibirnya yang kering. Dia menatap Gibran, mencari celah kalau-kalau cowok itu cuma bercanda atau sekadar meluapkan emosi sesaat karena stres pertandingan.
Tapi mata elang Gibran yang menuntut kepatuhan tidak menunjukkan tanda-tanda itu. Gibran serius. Dia benar-benar merasa terganggu.
"Oh... oke," gumam Stella, suaranya mendadak menciut drastis, nyaris kehilangan seluruh tenaganya yang meledak-ledak tadi.
Stella perlahan turun dari atas kursi plastik. Dia duduk, menaruh botol minumnya di lantai, lalu melipat tangannya di depan dada.
Pandangannya lurus ke lantai parset yang mengilat, tidak lagi berani menatap ke arah lapangan. Rasa antusias yang tadi membakar dadanya mendadak padam, digantikan rasa sesak yang asing dan tidak nyaman.
Gibran tidak melihat proses itu sampai selesai. Dia langsung berbalik begitu mendengar peluit wasit yang menandakan pertandingan harus dilanjutkan.
Dia mendapatkan apa yang dia mau, keheningan dari arah Stella.
Tapi anehnya, begitu pertandingan dimulai kembali, lapangan terasa berbeda bagi Gibran.
Suara sepatu yang berdecit, teriakan instruksi kapten lawan, hingga yel-yel berirama dari Clara dan tim cheerleader-nya kembali memenuhi udara. Semuanya ada di sana. Tapi entah kenapa, atmosfer lapangan justru terasa kosong. Sudut mata Gibran sempat melirik ke arah tribun barat. Stella masih duduk di sana, diam, menekuk lututnya, menjadi penonton paling sunyi di antara ratusan orang yang berteriak.
Gibran mencoba menggelengkan kepala, mengusir rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap di antara ambisinya untuk menang. Dia harus fokus pada bola. Tapi entah mengapa, suara melengking yang tadi sangat mengganggunya, kini justru menjadi satu-satunya suara yang paling dia cari di kepala.
......................
...****************...
Tbc,