NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Garis yang Menyatu di Kertas

Rani berdiri canggung di lobi RS Prawira Husada. Matanya menjelajahi langit-langit tinggi dan lampu kristal yang jauh berbeda dari toko jahitnya yang sederhana, tangannya menggenggam tas kain lusuh yang sudah menemaninya sejak remaja, terlihat begitu asing di antara lantai marmer yang berkilau.

"Ini rumah sakit apa istana?" gumamnya, cukup keras untuk didengar Alya yang berjalan di sampingnya. Membawa map berisi surat pengantar untuk tes DNA yang akan mereka lakukan pagi itu.

"Punya Raze," Alya menjawab, tersenyum geli melihat reaksi kakaknya. "Nanti juga biasa, Mbak."

"Nggak akan pernah biasa buat orang kayak aku," Rani mendengus, meski matanya masih penuh kekaguman yang dia coba sembunyikan di balik nada sinisnya yang khas. "Tempat kayak gini bukan buat orang macam aku."

Di ruang ganti perawat, Wulan dan Tia sudah menunggu penasaran, dan begitu melihat Rani, mereka berdua langsung terdiam. Mata membeliak menatap dua wajah yang begitu identik berdiri berdampingan.

"Anjir," Tia berbisik, tidak sanggup menahan reaksinya. "Ini kayak liat kembar dari drama Korea beneran."

"Aku Rani," katanya, mengulurkan tangan dengan gaya yang lebih blak-blakan dibanding adiknya. "Adiknya yang hilang, katanya."

"Wulan," Wulan menjawab, menjabat tangannya, memperhatikan dengan seksama. "Kalian beda cara ngomong, tapi wajahnya sama persis. Aneh banget rasanya."

"Aku dibesarin di kampung nelayan, Mbak. Bahasa halus bukan bidang aku," Rani nyengir, dan tawa yang keluar dari mulutnya. Meski nadanya berbeda, punya ritme yang sama persis dengan tawa Alya. Detail kecil yang membuat Tia langsung menyenggol Wulan penuh takjub.

"Kalian harus difoto bareng," Tia berkata bersemangat, sudah mengeluarkan ponselnya. "Ini kesempatan langka banget!"

"Nanti aja, Ti," Alya tertawa, mendorong pelan ponsel Tia menjauh. "Kita masih ada janji ke lab."

Ruang laboratorium tempat mereka mengambil sampel terasa steril dan dingin. Alya duduk di kursi periksa, lengan bajunya digulung untuk diambil darahnya. Sementara Rani duduk di sebelahnya, wajahnya pucat menahan gugup yang tidak biasa untuk seseorang yang mengaku sudah kebal terhadap apa pun.

"Kamu takut jarum?" Alya bertanya, geli, memperhatikan tangan Rani yang mengepal erat.

"Bukan jarumnya," Rani berbisik. "Aku takut hasilnya. Gimana kalau ini semua salah? Gimana kalau kita cuma... kebetulan mirip banget?"

"Kita punya tahi lalat yang sama, Mbak. Ingatanan sama tentang mobil dan lampu terang. Aku yakin ini bukan kebetulan," Alya berkata, menggenggam tangannya erat, memberi kekuatan seperti yang biasa diberikan Raze padanya.

"Kalau ini beneran nyata," Rani berbisik, matanya berkaca-kaca, "berarti dua puluh tahun aku ngerasa ada yang kosong dalam hidupku, akhirnya ada jawabannya."

"Aku juga," Alya membalas, meremas tangannya lebih erat. "Aku pikir itu cuma perasaan biasa. Ternyata itu kamu, Mbak. Selama ini itu kamu."

Petugas lab mengambil sampel darah mereka satu per satu. Begitu jarum menembus kulit Rani, dia meringis, menggenggam tangan Alya lebih erat. Untuk sesaat, keduanya tertawa bersamaan menertawakan diri sendiri yang sama-sama tidak sekuat yang mereka kira.

Menunggu hasil membutuhkan waktu dua hari, dan sepanjang itu, Raze mengatur agar Rani tinggal di salah satu unit apartemen miliknya. Cukup dekat dari rumah sakit agar mudah diawasi timnya, meski Rani sendiri sempat protes keras soal itu.

"Aku bukan barang yang perlu diawasi," katanya, tegas, menatap Raze dengan mata yang sama tajamnya dengan Alya ketika sedang marah. "Aku udah hidup sendirian bertahun-tahun. Aku bisa jaga diri."

"Ini bukan soal meragukan kemampuanmu," Raze menjawab, tenang seperti biasa. "Ini soal orang yang mengejarmu di kota pelabuhan itu punya jaringan yang lebih luas dari yang kau duga. Aku hanya ingin memastikan keamananmu sampai semuanya benar-benar selesai."

"Kamu selalu ngomong kayak orang yang biasa diturutin semua orang," Rani berkata, setengah menyindir, setengah penasaran.

"Karena biasanya memang begitu," Raze menjawab, jujur, tanpa nada sombong. "Tapi kau punya hak menolak. Aku hanya berharap kau tidak menolak demi harga diri yang berujung membahayakan dirimu sendiri."

Rani terdiam, mempertimbangkan, sebelum akhirnya mengalah dengan gerutuan kecil. "Awas aja kalau apartemennya jelek," katanya, mencoba menyelamatkan sedikit harga dirinya, dan Alya, yang menyaksikan pertukaran itu dari sudut ruangan. Tidak bisa menahan senyum melihat betapa miripnya cara mereka berdua berdebat. Keras kepala melawan keras kepala, dua kekuatan yang entah bagaimana saling menghormati di baliknya.

Malam pertamanya di apartemen baru, Rani bersikeras memasak untuk mereka bertiga, menolak tawaran katering mewah yang ditawarkan staf Raze. "Aku nggak butuh makanan restoran bintang lima," katanya, sudah menggulung lengan baju di dapur yang jauh lebih besar dari yang pernah dia miliki. "Aku mau masak ikan bakar ala kampungku sendiri. Anggap aja ini caraku bilang makasih."

Alya duduk di meja dapur, memperhatikan kakaknya bekerja dengan gerakan yang begitu familiar. Cara memotong bawang, cara mencicipi bumbu dengan ujung jari, semuanya mengingatkannya pada dirinya sendiri saat memasak di kos dulu.

"Kamu nggak bantu?" Rani menyindir, melirik ke arah Raze yang duduk kaku di ujung meja, jelas tidak terbiasa berada di dapur orang lain.

"Aku ahli makan, bukan ahli masak," Raze menjawab, dan Rani tertawa keras, geleng-geleng kepala.

"Sama aja kayak Bapak angkatku dulu," katanya, nostalgia sesaat menyelinap di wajahnya. "Duduk aja, nanti juga ketauan gunanya buat apa."

Makan malam itu berlangsung hangat, penuh tawa dan cerita. Rani bercerita tentang kehidupannya di kota pelabuhan, tentang pelanggan-pelanggan tetap yang sudah dia anggap keluarga sendiri, tentang mimpinya yang tertunda untuk suatu hari punya toko yang lebih besar. Alya bercerita tentang kekonyolan di rumah sakit, tentang Tia yang selalu heboh dan Wulan yang diam-diam paling perhatian di antara semua orang. Raze, meski lebih banyak diam, sesekali menambahkan komentar kering yang membuat kedua bersaudara itu tertawa lebih keras. Untuk beberapa saat, ancaman yang mengintai di luar sana terasa jauh, digantikan oleh kehangatan sederhana sebuah keluarga yang baru saja terbentuk.

"Kalau kalian nikah nanti," Rani berkata di sela tawa, menunjuk keduanya bergantian dengan sumpit, "aku yang jadi pengiring pengantin, ya. Sekalian balas dendam ke semua orang di kampung yang dulu ngeledekin aku jadi perawan tua."

Alya tersedak mendengarnya, wajahnya memerah, dan Raze, alih-alih menyangkal seperti yang diharapkan Alya, hanya tersenyum tipis. Matanya bertemu dengan mata Alya sejenak sebelum menjawab, "Itu ide yang bagus, Rani. Aku akan mengingatnya."

Malam itu, Damar datang membawa kabar yang membuat wajah Raze mengeras.

"'Bos' yang mengejar Rani," Damar melaporkan, suaranya hati-hati, "ternyata cuma perantara kecil. Jaringan sebenarnya jauh lebih besar. Koneksi rentenir itu terhubung ke keluarga bisnis yang selama ini bersaing dengan Aldevar Group di sektor pelabuhan. Mereka mungkin tidak tahu soal hubungan Rani dengan Anda sebelumnya, tapi begitu nama Anda disebut kemarin, saya yakin mereka akan mulai menggali lebih dalam."

"Keluarga bisnis yang mana, Damar?" Raze bertanya, suaranya tajam.

"Keluarga Wijayanto, Pak. Mereka mengendalikan sebagian besar jalur distribusi di pelabuhan barat," Damar menjawab. "Selama ini kita cuma bersaing soal tender dan izin usaha. Kalau mereka sampai tahu ada hubungan personal seperti ini, saya khawatir mereka akan mencoba memanfaatkannya sebagai leverage negosiasi."

"Seberapa besar risikonya?" Raze bertanya lagi, rahangnya mengeras.

"Cukup besar untuk membuat saya khawatir, Pak," Damar menjawab jujur. "Kalau mereka tahu Rani adalah saudara kembar Alya, dan Anda begitu terikat pada keduanya, itu bisa jadi celah yang mereka manfaatkan."

Raze berdiri, menatap keluar jendela. Kota yang berkelip di bawahnya tiba-tiba terasa penuh ancaman yang tidak terlihat. "Perketat pengamanan di sekitar Alya dan Rani," katanya, akhirnya, suaranya dingin dan terukur. "Aku tidak peduli berapa biayanya."

"Baik, Pak," Damar mengangguk, lalu ragu sejenak sebelum menambahkan, "Kalau boleh saran, Pak mungkin sudah waktunya mempertimbangkan langkah yang lebih permanen untuk melindungi Suster Alya. Sesuatu yang membuat statusnya jelas di mata siapa pun yang mencoba mendekat."

Raze tidak menjawab, tapi rahangnya mengeras lebih dalam, seolah kalimat itu menyentuh sesuatu yang sudah lama dia pertimbangkan sendiri.

Alya menemukannya masih berdiri di jendela larut malam itu, bahunya tegang. Dia melangkah mendekat, memeluknya dari belakang seperti yang biasa dia lakukan padanya.

"Kamu khawatir," Alya berbisik, wajahnya menempel ke punggungnya.

"Selalu," Raze menjawab, membalikkan badan, menangkupnya ke dalam pelukan yang lebih erat. "Tapi kali ini, aku khawatir untuk dua orang, bukan cuma satu. Itu ketakutan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku."

"Kita bakal lewatin ini bareng-bareng," Alya berbisik, mendongak menatapnya, tangannya naik mengusap rahangnya yang tegang. "Kamu nggak sendirian ngadepin ini, Raze. Sama kayak kamu bilang ke aku waktu di depan toko Mbak Rani."

"Damar bilang sesuatu tadi," Raze berkata, pelan, matanya menatap dalam-dalam. "Sesuatu yang sudah lama kupikirkan sendiri, tapi belum berani kuucapkan keras-keras."

"Apa itu?"

"Belum saatnya," Raze berbisik, mengecup dahinya. "Tapi ketika saatnya tiba, aku ingin kau tahu, itu bukan keputusan yang kubuat karena takut, melainkan karena aku akhirnya cukup berani untuk menginginkan sesuatu secara terbuka, bukan lagi diam-diam."

Alya menatapnya bingung, tapi memilih untuk tidak mendesak malam itu. Membiarkan misteri itu menggantung di antara mereka sementara dia mencium bibirnya dengan lembut. Mencoba menyalurkan sedikit ketenangan yang dia sendiri tidak sepenuhnya rasakan, dan Raze membalasnya dengan kelembutan yang sama. Tangannya mengusap punggungnya naik turun, sampai akhirnya mereka berdiri berpelukan dalam diam, membiarkan kehangatan itu menjadi jawaban sementara atas ketakutan yang belum bisa mereka selesaikan malam itu.

Keesokan siangnya, hasil tes DNA itu sudah keluar. Tangan Alya gemetar membuka amplop putih itu di ruang tunggu laboratorium. Rani duduk kaku di sampingnya, dan Raze berdiri di belakang mereka berdua, tangannya di bahu Alya sebagai penopang.

Angka probabilitas di kertas itu, ditulis dalam bahasa medis yang dingin dan pasti, menyatakan dengan jelas melebihi sembilan puluh sembilan koma sembilan persen kemungkinan hubungan saudara kembar identik.

Rani menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya jatuh deras, dan Alya menariknya ke dalam pelukan. Keduanya menangis bersama di ruang tunggu yang dingin itu, tidak peduli pada beberapa pasang mata yang melirik penasaran.

"Kita beneran kembar, Mbak," Alya berbisik di antara isak tangisnya.

"Aku punya keluarga," Rani berbisik balik, suaranya pecah oleh dua puluh tahun kesepian yang akhirnya menemukan jawabannya. "Aku akhirnya punya keluarga."

Raze berdiri di belakang mereka, menyaksikan momen itu dengan mata yang juga berkaca-kaca. Sesuatu yang jarang sekali terlihat dari sosok yang biasanya begitu terkendali. Ketika Alya akhirnya menoleh ke arahnya, dia mengulurkan tangan, menariknya untuk bergabung dalam pelukan itu. Tiga orang yang dipertemukan oleh takdir yang begitu rumit berdiri berpelukan di ruang tunggu laboratorium, tidak peduli pada tatapan orang-orang di sekitar mereka.

"Makasih," Rani berbisik kepada Raze, suaranya masih serak oleh tangis. "Buat semuanya. Buat nggak nyerah nyari aku."

"Aku yang harusnya berterima kasih," Raze menjawab, jujur. "Kalian berdua mengajariku sesuatu yang tidak pernah kupelajari dari sepuluh perusahaan yang kubangun bahwa hal paling berharga dalam hidup tidak pernah bisa dibeli, hanya bisa diperjuangkan."

Di lantai dua puluh dua, malam itu, buku bersampul kulit hitam itu terbuka dengan tulisan yang lebih ringan dari biasanya, meski kekhawatiran tetap tersembunyi di antara barisnya.

Hasilnya keluar. Alia dan Rani resmi menjadi saudara kembar Alya di atas kertas, meski hatiku sudah lama meyakini itu sejak pertama kali melihat wajahnya di toko jahit itu.

Damar membawa kabar buruk tentang jaringan di balik utang Rani. Ini lebih besar dari yang kuduga. Aku perlu bergerak cepat, memastikan tidak ada celah yang bisa mereka manfaatkan untuk menyerang mereka.

Damar menyarankan sesuatu malam ini yang sudah lama kupikirkan sendiri diam-diam. Aku belum siap menuliskannya di sini, bahkan pada diriku sendiri. Tapi aku tahu, cepat atau lambat, aku akan sampai pada keputusan itu. Dan begitu aku sampai, tidak akan ada yang bisa menghalangiku lagi.

Untuk pertama kalinya, aku merasa memiliki sesuatu yang benar-benar layak kuperjuangkan sampai titik terakhir. Dua wajah yang identik, yang kini sama-sama bergantung pada kemampuanku menjaga mereka tetap aman.

❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!