NovelToon NovelToon
Anak Genius: Ayahku Seorang Superstar

Anak Genius: Ayahku Seorang Superstar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: Dini ratna

Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.

Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.

Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?

subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rambut Haesung

"Min-Ho!"

"Min-Ho dengarkan Mami. Min-Ho!" sentak Min-Ji.

Langkah Haesung akhirnya berhenti. Amarah Haesung tidak terkendali setelah tamparan keras yang dia terima dari Zahra.

Haesung berbalik menghadap Min-Ji.

"Mami lihat!" Tunjuknya pada bibir kanan. "Anakmu ditampar oleh wanita itu. Dia menamparku, dan menghina diriku. Apa dia minta maaf?"

Min-Ji terlihat tenang. Dia berjalan ke arah Haesung, menyentuh bibirnya yang terluka.

"Tapi jangan emosi. Dia pasti takut karena kamu kasar."

"Bahkan dia tidak meminta maaf padaku," ujar  Haesung. Setelah itu dia pergi ke kamarnya.

Min-ji hanya diam. Dia pun tidak bisa meredam amarah putranya. Sifat Haesung seperti ayahnya, tapi Haesung akan sedikit lebih tenang setelah beberapa jam. Min-ji akan berbicara kembali setelah hati Haesung tenang.

Haesung melemparkan tubuhnya ke atas kasur.

"Sial!" umpatnya. Dia masih dendam pada Zahra.

Wanita yang dikira tenang, tapi brutal. Dia bahkan tidak mengenal Zahra, tapi ketika melihat Zahra bersama Ilham entah kenapa hatinya merasa tidak suka, seolah-olah Zahra itu miliknya.

Haesung memejamkan mata. Tamparan Zahra masih melekat di pipinya. Bayangan seorang wanita tiba-tiba muncul, tapi Haesung tidak bisa melihat wajah itu, dan tidak mengingat di mana tempatnya. Yang Haesung ingat, hanyalah tamparan keras yang sama.

Haesung membuka mata. Dia bangun lalu duduk di kasurnya.

"Kenapa tiba-tiba aku membayangkan itu lagi," ucapnya.

"Apa yang sudah terjadi padaku? Apa ini ada kaitannya dengan Manager Min?"

Haesung berpikir, jika Managernya menyimpan rahasia. Dia tahu sesuatu tentang dirinya yang tidak dia ingat.

Haesung mengambil ponselnya, mencari nama sang manager lalu memanggilnya.

Di tempat lain sang manager sedang pusing memikirkan artisnya yang semakin tidak mau diatur. Jadwal konser semakin dekat, sementara Haesung tidak di tempat.

Manager duduk di sofa, sambil memijat pelipisnya. Tiba-tiba ia mendapat telepon.

Tangan di kening pun diturunkan, Min merogoh ponsel dalam saku jasnya.

"Haesung." Ucapnya terbelalak melihat nama itu. Manager Min langsung menjawab.

"Emm... Haesung, bagaimana apa kau sudah pulang ke Korea?"

"Belum."

Wajah Manager Min tampak kecewa.

"Haesung, sampai kapan kau ada di sana? Menurut lah padaku, kau tahu kan jadwal konsermu semakin dekat."

"Aku tidak ingin membicarakan konser. Aku ingin, membicarakan hal lain denganmu."

Kening Manager Min mengerut. "Hal lain?" tanyanya dengan heran.

Haesung menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata.  "Apa ada yang kau sembunyikan tentang aku?"

"Mwo!" (Mwo—apa)

Manager tampak kaget.

"Haesung apa yang kamu katakan. Apa maksudmu aku menyembunyikan sesuatu tentang dirimu?"

"Kamu adalah Manager ku, kamu pasti tahu apa yang terjadi padaku."

"Ya. Tentu saja. Tapi perkataan mu itu seolah menuduhku menyimpan rahasia besar."

"Mungkin. Itu sebabnya kamu tidak mengatakannya padaku," ucap Haesung.

 Manager Min terdiam.

"Jadi apa yang ingin kamu tahu?"

"Semuanya," jawab Haesung. "Ketika kecelakaan lima tahun lalu."

Manager Min membuang napas berat. Dia terlalu jauh menjalankan sandiwara ini. Seharusnya dulu ... Dia tidak berbohong pada Haesung tentang kecelakaan untuk menutupi aib artisnya.

Setelah membawa Zahra ke apartemennya, Min juga menjalankan rencana lain. Dia meminta Da-Bin membawa Haesung ke rumah sakit, merawatnya seolah-olah Haesung mengalami kecelakaan. Bahkan Min meminta dokter memberikan obat bius supaya Haesung tidak sadarkan diri dalam beberapa jam. Niatnya ... Agar Haesung lupa dengan kejadian di parkiran hotel waktu malam itu.

Dan demi kelancaran sandiwaranya, Manager Min menyembunyikan mobil Haesung waktu itu yang dia ganti dengan yang baru.

"Haloooo ... Manager Min apa kau mendengarkan aku?"

"Ya, aku dengar." Min berkali-kali mengembuskan napas.

"Lalu, apa yang kau sembunyikan dariku? Aku selalu bermimpi tentang seorang wanita, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya. Manager aku tahu ... Kamu tahu semua arti mimpiku kan?"

Manager Min masih diam.

"Jika kau ingin tahu. Kembalilah."

Haesung tersenyum simpul. "Aku tahu kamu menggertak ku. Aku tidak akan pulang, dan aku akan pulang minggu depan."

"Minggu depan adalah jadwal konser. Tidak mungkin."

Manager Min sepertinya memang harus melakukan cara agar Haesung kembali.

"Tidak hanya aku ... Da-Bin juga tahu sesuatu. Jika kamu ingin tahu semuanya maka ... Pulanglah. Aku tunggu 24 jam dari jam sekarang."

Sambungan telepon ditutup langsung oleh Manager Min. Haesung, mencoba kembali tapi Min sengaja mematikan ponselnya.

"Sial!"

Waktu Haesung tinggal 23 jam 7 menit lagi. Haesung harus berpikir keras antara pergi atau tidak.

***

Sementara di kediaman Zahra, semua orang tengah berkumpul di ruang tengah termasuk Semi, karena gadis kecil itulah yang harus menjelaskan kronologinya.

"Abi tidak tahu apa masalahnya." Adam memulai pembicaraan. "Abi hanya melihat, kamu pergi dengan marah kepada putranya Nyonya Min-Ji.

"Apa benar kamu menamparnya Zahra?" tanya Abi Adam yang menatap Zahra.

Zahra menunduk takut.

"Iya, Abi," jawabnya demikian. "Tapi dia sudah melecehkan Semi Abi. Zahra tidak terimalah Abi," protes Zahra dengan emosi.

"Melecehkan seperti apa? Ilham, apa kamu melihatnya?" tanya Abi Adam melirik pada Ilham.

Ilham bingung, dia memang tidak tahu kejadiannya. Yang dia tahu Zahra, sudah teriak dan lari ke arah Haesung dan Semi.

"Nggak Pak Kiai." Ilham menggeleng.

Zahra melirik Ilham tajam, karena tidak mau membelanya.

"Semi ...." Akhirnya Abi Adam menyebut nama cucunya. Semi mendongak, menatap sang kakek yang baru saja memanggilnya.

"Semi, Aki mau tanya. Kamu mau kan jujur sama Aki, sama Ummi dan sama semua orang. Kamu bisa katakan pada Aki kenapa Mama bisa menampar Uncle Haesung?"

Sebelum menjawab bocah kecil itu melirik ibunya. Dia tahu yang dilakukan Zahra karena sayang padanya. Tapi tetap saja Semi harus menjelaskan biar tidak ada kesalahpahaman.

"Mama ...." Semi menghadap Zahra. "Adek  tahu yang Mama lakukan itu karena sayang... sama Adek. Tapi, Semi tidak mau ada kesalahpahaman."

Semi mulai menghadap kakeknya.

"Begini Aki ... tadi itu, Adek mau menolong Uncle Haesung, karena rambutnya dijambak oleh Abang."

Sontak semua mata terlonjak. Adam dan Hawa semakin kaget.Ternyata tidak hanya ibunya, anaknya pun berulah.

"Kapan? Mama gak lihat ada Abang," ungkap Zahra. Namun Abi Adam tetap meminta Semi untuk melanjutkan perkataannya.

"Lanjutkan Semi," titah Abi Adam.

"Terus Adek teriak sama Abang, tapi Abangnya malah lari keluar. Pas Abang turun dari mobil Abang nabrak Adek sampai jatuh. Abang gak merasa bersalah yang lari terus ... lalu Uncle Haesung turun tolong Adek. Terus ... Bantu Adek bersihin pinggul karena kotor."

Abi Adam langsung menatap Zahra yang diam. Lantas menghela napas panjang. Setelah mendengar penjelasan Semi semua orang mengerti kenapa Zahra bersikap demikian. Intinya ini kesalahpahaman.

"Ummi, bisa panggilkan Arsyad?" tanya Abi Adam. Ummi mengangguk lalu pergi ke kamar Arsyad.

Sementara Arsyad, bocah itu masih menggenggam rambut Haesung dari hasil jambak kan nya. Arsyad memasukkan rambut itu ke dalam plastik, lalu ia sembunyikan di dalam tempat pensilnya.

"Rambut udah dapat, tapi gimana ya, cara tes DNA nya?"

Arsyad bingung cara dia pergi ke rumah sakit, karena tidak mungkin dokter atau perawat mengizinkan seorang anak kecil  yang datang langsung meminta untuk tes DNA.

Saat sedang berpikir, tiba-tiba pintu diketuk dari luar.

TBC ...

Pagi reader jangan lupa dukung selalu karya Dini Ratna ya. Sambil nunggu up bis mampir di karya aku yang lain 🙏

1
Dini_Ra
Teruntuk kalian yang baca karya ini. Author mau jelaskan jika karya ini sebenarnya sudah pernah publish sebelumnya dengan cover yang berbeda. Mungkin dari kalian ada yang sudah pernah baca, lalu kenapa sih Thor? kok yang ini covernya beda, terus babnya juga udah banyak tapi yang ini kembali dari awal.

Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.

jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!