Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjual Istri
Rayzan memasuki rumah dan menutup pintu di belakangnya. Dia mencari Nadira karena tidak ingin wanita itu merasa diabaikan. Tak lama kemudian, dia melihat istrinya keluar dari kamar dengan penampilan rapi dan sebuah tas di tangan.
“Kamu mau ke mana?”
Nadira terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun. Dia sengaja mengabaikan Rayzan seolah-olah lelaki itu tidak ada di sana.
“Jawab aku, Nadira. Kamu mau ke mana?”
Nadira tetap bungkam. Dia terus berjalan menuju pintu, sementara Rayzan mengikutinya dari belakang. Lelaki itu lebih dulu meraih gagang pintu dan menahannya agar Nadira tidak bisa keluar.
“Buka pintunya!”
Rayzan menggelengkan kepala, menolak permintaan istrinya.
“Aku bilang buka!”
“Aku nggak mau.”
“Aku benci kamu! Kamu mau mengobrol sama Meidra, kan? Silakan! Aku nggak peduli. Kalau perlu, kamu berhubungan badan saja dengannya di kamarku!”
“Nadira!”
Nadira memejamkan mata sejenak saat Rayzan membentaknya.
“Kamu jangan kurang ajar sama aku, ya! Aku ini suamimu!”
“Kamu bukan suamiku!”
Nadira berusaha membuka pintu, tetapi Rayzan tiba-tiba menghempaskannya hingga suara benturannya menggema ke seluruh ruangan.
**Brak!**
“Ra-Rayzan...” Nadira tergagap saat melihat tatapan tajam lelaki itu. “Ka-kamu nggak akan kasar sama aku, kan?”
“Kenapa? Memangnya kenapa kalau aku kasar?”
Rayzan tersenyum tipis, lalu melangkah mendekatinya. Nadira perlahan mundur, berusaha menjaga jarak dari lelaki yang kini terlihat begitu menakutkan.
“Nggak ada orang di sini. Aku bisa saja membunuhmu dan merekayasa semuanya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Kamu benar-benar keterlaluan. Kamu sama sekali nggak menghargai aku sebagai laki-laki.”
“Jangan dekat-dekat!”
“Kenapa, hm?” tanya Rayzan sambil menatapnya tajam.
“Apa yang sebenarnya kamu mau, Nadira?” lanjutnya. “Mau membalas dendam kepada Daulat melalui aku? Itu yang kamu inginkan?”
“Mundur, Rayzan. Ja-jangan dekat-dekat!”
“Kenapa?”
Rayzan semakin mendekat, lalu mencengkeram kedua bahu istrinya. Nadira langsung membeku. Dia begitu ketakutan melihat kemarahan yang terpancar dari wajah lelaki itu.
“Kamu tahu? Kamu itu wanita murahan. Aku sebenarnya bisa saja meninggalkanmu dan mempermalukan keluargamu dengan latar belakangmu itu. Tapi aku nggak melakukan hal seperti itu, Nadira,” ujar Rayzan dengan nada dingin.
Dia terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
“Setelah kupikir-pikir, dengan semua perlakuanmu terhadapku, sepertinya aku memang harus melakukannya.”
“Nggak! Mana mungkin kamu melakukan itu? Kamu nggak sejahat itu, kan?”
“Oh, ya? Kamu bahkan nggak mengenal siapa aku sebenarnya. Aku bisa melakukan apa pun di luar pemikiran orang normal.”
“Lepaskan! Tanganku sakit!”
Rayzan menatap wajah Nadira lekat-lekat, kemudian menyunggingkan senyum sinis.
“Kamu cantik. Meskipun sudah nggak perawan, tubuhmu pasti masih bisa menghasilkan banyak uang.”
“Maksud kamu apa?” tanya Nadira dengan suara bergetar.
“Aku berencana menjual tubuhmu supaya bisa mendapatkan uang. Sayang sekali kalau kita bercerai begitu saja. Aku bisa rugi besar.”
“Jahat kamu, Rayzan! Bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu!”
“Aku sudah bilang, kan? Kamu nggak mengenal siapa aku!”
Rayzan menatapnya tajam sebelum memberikan perintah.
“Masuk kamar atau kamu akan menyesal!”
“Aku mau keluar!”
“Masuk!”
Nadira mendorong tubuh Rayzan sekuat tenaga, kemudian berlari menuju kamar. Dia benar-benar ketakutan mendengar ancaman yang baru saja dilontarkan suaminya.
Setelah melihat Nadira menghilang di balik pintu kamar, ekspresi Rayzan perlahan berubah. Dia mengembuskan napas panjang, lalu menundukkan kepala.
“Maafkan aku, Nadira...” gumamnya pelan. “Caraku bersikap tegas kepadamu mungkin terlihat berbeda dari orang lain. Tapi kamu harus tahu, aku melakukan semua ini untuk melindungi sikap istriku di luar sana.”
Rayzan mengangkat wajahnya dan menatap pintu kamar yang tertutup.
“Aku nggak mau kamu dipandang buruk oleh orang-orang.”
[] [] []
Daulat dan Resya berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Keduanya tak henti-hentinya melemparkan senyum bahagia. Setelah menjalani pemeriksaan, mereka akhirnya mengetahui bahwa Resya sedang hamil muda.
“Alhamdulillah, Sayang. Mas akan memberi tahu Nadira supaya hatinya nggak tenang,” ujar Daulat dengan senyum jahil.
“Nggak boleh begitu, Mas. Kalau Nadira tahu dari Mas, bagaimana kalau dia marah? Nanti yang kena imbasnya Rayzan lagi.”
“Dia memang harus tahu, Sayang. Biar dia nggak menganggap ucapannya kemarin benar-benar terjadi.”
“Aku sih nggak setuju, Mas. Sebenarnya, aku berharap Mas bisa berdamai dengan Nadira. Lupakan saja masalah masa lalu kalian.”
“Mas sebenarnya mau saja. Tapi, bagaimana dengan perempuan itu? Kalau dia nggak macam-macam dengan Rayzan, Mas pasti nggak akan mau ikut campur dalam urusannya,” jawab Daulat. “Kamu lihat sendiri kejadian kemarin. Rayzan hampir mati gara-gara perempuan itu.”
“Sudahlah, Mas. Mas tahu nggak, kalau Mas terus-menerus bermasalah dengan Nadira, itu sama saja Mas membahayakan Rayzan. Coba saja Mas biarkan dulu apa pun yang dilakukan Nadira. Siapa tahu lama-kelamaan dia akan lelah sendiri.”
“Sampai kapan?” Daulat menatap istrinya. “Dia nggak akan berhenti sebelum hatinya puas. Dan Mas akan terus membuatnya sakit hati.”
“Aku bukannya takut Mas bertengkar dengan Nadira. Aku hanya khawatir dengan hubungan Mas dan Rayzan,” ujar Resya perlahan. “Aku masih ingat bagaimana marahnya Rayzan kepada Mas ketika Mas menghina Nadira.”
“Kamu nggak perlu memikirkan itu. Yang terpenting sekarang, kita fokus pada kandunganmu.”
“Iya, Mas.”
Resya mengusap perutnya dengan lembut. Kebahagiaan atas kehamilannya masih terasa begitu besar, tetapi dia juga berharap kabar baik itu tidak menjadi alasan bagi Daulat untuk kembali menyakiti Nadira.
[] [] []
Sudah cukup lama Nadira mengurung diri di kamar. Rayzan mulai kebingungan karena istrinya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan keluar. Sementara itu, perutnya sudah keroncongan meminta diisi.
Tok! Tok! Tok!
“Nadira.”
“Aku benci kamu! Bisa-bisanya kamu berniat menjualku. Kamu jahat! Aku akan menceritakan semua kelakuanmu hari ini kepada orang tuaku!”
“Maafkan aku, Sayang. Aku salah.”
“Kamu memang salah! Kamu sudah melakukan kesalahan besar dengan masuk ke dalam kehidupanku!”
“Nadira, aku lapar.”
“Pergi kamu! Jangan meminta makanan kepadaku. Aku bukan pembantumu!”
“Nadira—”
“Aku bilang pergi!”
Rayzan mengembuskan napas panjang. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghadapi istrinya.
Akhirnya, dia memutuskan pergi ke dapur untuk mencari makanan sendiri. Namun, sebelum sempat sampai di sana, pintu depan tiba-tiba terbuka.
“Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam!”
“Sultan!” seru Rayzan begitu melihat adik iparnya datang. Dia segera menghampiri pemuda itu.
“Abang apa kabar?” tanya Sultan setelah bersalaman dengan kakak iparnya.
Mereka berjalan menuju ruang tamu. Sultan menarik koper yang dibawanya, lalu meletakkannya di dekat sofa sebelum duduk bersama Rayzan.
“Baik. Mama dan Papa belum pulang?” tanya Sultan.
“Belum, Bang. Mereka masih ada pekerjaan.”
“Alhamdulillah, berarti rezekinya lagi banyak.”
Sultan menoleh ke kanan dan kiri, seolah mencari seseorang.
“Kakak di mana?”
“Kami sedang bertengkar. Lebih tepatnya, Nadira sedang marah sama Abang.”
“Memangnya kenapa, Bang?”
“Abang bilang kalau dia keluar tanpa sepengetahuan suaminya, sekalian saja Abang menjualnya supaya dia bebas melakukan apa pun bersama laki-laki lain.”
Sultan langsung tertawa terbahak-bahak.
“Abang ada-ada saja! Kok, sampai mengancam Kakak seperti itu?”
Rayzan tersenyum tipis.
“Ya, mau bagaimana lagi? Ternyata kakakmu itu bisa takut juga.”
“Pusing, ya, selama kami nggak ada di rumah?”
Rayzan mengembuskan napas kasar.
“Kamu tahu sendiri bagaimana sifat Nadira.”
“Oke, oke! Tapi, bagaimana ini? Di rumah sedang nggak ada orang...” Sultan menggantung ucapannya sambil menaikkan alis.
“Apa?” tanya Rayzan, bingung.
“Ya ampun, Bang! Masa nggak mengerti juga? Rumah sedang sepi. Abang dan Kakak bisa—”
“Ah, kamu ini malah berpikir ke arah sana!” potong Rayzan. “Lebih baik kamu panggil Nadira dan suruh dia memasak.”
“Sultan sudah makan, Bang.”
“Abang lapar. Abang nggak tahu harus makan apa. Abang juga nggak bisa memasak. Tolong, ya.”
Sultan langsung berdiri dengan sikap tegap, seolah menerima perintah penting.
“Siap, Ketua! Segera dilaksanakan!” serunya. Namun, sesaat kemudian dia mengangkat telunjuk. “Tapi, ada syaratnya.”
“Apa?”
“Nanti malam kita main futsal, ya. Bareng teman-teman Sultan.”
“Iya, iya. Sana, panggil kakakmu.”