Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 - KECURIGAAN VALERIA
Valeria menuruni tangga pualam melengkung itu dengan langkah pelan dan anggun, seolah-olah dia baru saja selesai memperbaiki riasannya, bukan habis melihat anak buahnya mencekik penyusup sampai pingsan.
Alunan musik orkestra kembali menyambut telinganya saat dia memasuki *ballroom*. Valeria berjalan melewati kerumunan tamu undangan yang mulai mabuk, mengabaikan tatapan memuja dari beberapa bos mafia gempal di sekitarnya. Dia kembali duduk di meja VIP-nya, menyilangkan kaki, dan mengangkat gelas sampanye yang tadi dia tinggalkan.
Matanya menatap lurus ke arah panggung lelang, tapi pikirannya sama sekali nggak ada di sana. Pikirannya tertinggal di ruang VIP nomor tiga. Tertinggal pada sosok raksasa berjas hitam yang selama sepuluh tahun ini dia pikir dia kenal luar dalam.
Sepuluh detik.
Valeria mengulang kembali adegan pertarungan tadi di dalam kepalanya. Gerakan Kael terlalu mulus. Nggak ada tenaga yang terbuang percuma. Saat pisau *karambit* itu menyambar, orang normal pasti bakal menghindar mundur karena panik. *Bodyguard* jalanan yang biasa tawuran pasti bakal menangkis pakai lengan secara refleks, yang berujung pada luka sayatan parah.
Tapi Kael? Pria itu malah melangkah maju, memotong jarak, merusak titik keseimbangan lawan, dan mematahkan pergelangan tangan si penyusup dengan presisi bedah. Dan cekikan enam detik itu... Valeria tahu betul itu bukan cekikan preman biasa. Itu adalah *blood choke*, teknik menghentikan aliran darah ke otak yang biasanya diajarkan di pasukan khusus militer.
Dan yang bikin Valeria makin gila adalah fakta bahwa Kael ngelakuin semua itu dengan kondisi bahu kanan yang baru aja bolong kena peluru *sniper* belasan jam yang lalu.
"Siapa kamu sebenarnya, Kael?" gumam Valeria sangat pelan di balik tepi gelas sampanyenya.
Sepuluh tahun yang lalu, ayah Valeria memungut Kael dari sebuah arena pertarungan liar bawah tanah. Saat itu Kael masih remaja berandalan yang babak belur, hidup dari uang taruhan judi. Kael liar, brutal, dan nggak punya aturan. Valeria kecil yang saat itu ikut ayahnya, merasa kasihan dan meminta ayahnya untuk menjadikan Kael sebagai penjaga pribadinya. Sejak saat itu, Kael diubah menjadi mesin pembunuh yang rapi dan taat aturan.
Setidaknya, begitulah cerita yang selama ini Valeria tahu. Tapi melihat kejadian di ruang VIP barusan, cerita itu rasanya penuh lubang.
Tepat dua menit sejak Valeria duduk, sebuah bayangan tinggi besar menutupi cahaya lampu dari belakangnya. Aroma maskulin yang familiar—campuran *musk* dan sedikit aroma antiseptik dari perban—langsung tercium.
"Ruangan sudah bersih, Val," bisik Kael pelan dari belakang telinga Valeria.
Valeria nggak menoleh. Dia menyesap sampanyenya dengan tenang. "Bagus. Tikusnya udah kamu masukin ke kabinet?"
"Sudah. Saya melumpuhkan pita suaranya sementara. Kalaupun dia sadar sebelum acara ini selesai, dia tidak akan bisa berteriak minta tolong," lapor Kael dengan nada datar nan profesional, seolah melumpuhkan pita suara orang adalah hal yang biasa dia lakuin sebelum sarapan.
Valeria tersenyum miring. Dia meletakkan gelasnya ke atas meja. Tiba-tiba saja, acara lelang barang antik ini terasa sangat membosankan baginya. Firasatnya mengatakan bahwa rahasia terbesar malam ini bukan ada di atas panggung, melainkan berdiri tepat di belakang kursinya.
"Anton! Aku pulang duluan!" seru Valeria pelan tapi cukup keras buat didengar oleh sang tuan rumah yang kebetulan lewat di dekat mejanya.
Tuan Anton langsung menoleh dan buru-buru menghampiri. "Oh? Nyonya Valeria sudah mau pulang? Acaranya belum selesai, kami masih punya—"
"Aku agak pusing. AC di ruanganmu ini terlalu dingin, bikin *mood*-ku hancur," potong Valeria seenaknya, memakai alasan klise yang nggak bisa dibantah. Wanita itu berdiri, merapikan gaun merahnya dengan elegan.
"B-baik, Nyonya. Mari saya antar ke depan," tawar Anton gugup, takut menyinggung sang ratu mafia.
"Nggak perlu repot-repot. Urus aja tamumu yang lain," tolak Valeria mengibaskan tangannya pelan.
Valeria berbalik dan mulai berjalan menuju pintu keluar utama. Kael langsung mengekor di belakangnya, membuka jalan dengan tatapan tajamnya yang bikin orang-orang otomatis minggir memberi ruang.
Begitu mereka keluar dari *mansion* dan menghirup udara malam yang segar, Valeria sedikit merapatkan blazer yang Kael pakaikan ke bahunya. Angin malam di tebing ini lumayan kencang. Maybach hitam mereka sudah bersiap di depan lobi.
Kael membukakan pintu belakang, menunggu Valeria masuk dengan anggun, lalu menutupnya perlahan. Pria itu segera memutar ke kursi kemudi, menyalakan mesin, dan membawa mobil mewah itu melesat meninggalkan kompleks *mansion*.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasananya kembali hening. Hanya ada alunan musik *jazz* pelan dari radio mobil. Kael menyetir dengan tenang, matanya fokus ke jalanan yang mulai sepi.
Valeria duduk di belakang, menatap punggung tegap Kael dari balik kursi. Cahaya lampu jalanan yang berkelebat masuk ke dalam mobil sesekali menyoroti wajah pria itu dari kaca spion tengah.
"Berhenti di pinggir jalan depan sana, Kael," perintah Valeria tiba-tiba.
Kael melirik dari kaca spion. "Ada yang tertinggal, Val? Atau Anda ingin mampir membeli sesuatu?"
"Turuti aja," balas Valeria singkat.
Tanpa banyak tanya, Kael menyalakan lampu sein dan menepikan Maybach itu di sebuah ruas jalan tol yang sepi, jauh dari lampu penerangan jalan. Mesin tetap menyala, tapi mobil berhenti total. Kael memutar tubuhnya ke belakang, menatap Valeria dengan kening sedikit berkerut.
"Kenapa kita berhenti, Val? Area ini agak rawan kalau Klan Viper masih mengintai," ucap Kael waspada, insting pelindungnya langsung menyala.
"Turunkan kaca pemisahnya," suruh Valeria, mengabaikan kekhawatiran Kael.
Kael menekan tombol di dasbor. Kaca partisi kedap suara yang memisahkan kursi depan dan belakang perlahan turun, membuat kabin mobil itu kini terasa lebih luas dan menyatu.
Valeria mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua lengannya di atas sandaran kursi Kael. Wajah cantiknya kini berjarak sangat dekat dengan Kael yang terpaksa memiringkan duduknya agar bisa menghadap sang bos.
"Sekarang, nggak ada Tuan Anton, nggak ada tetua bangka, nggak ada siapa-siapa," mulai Valeria dengan nada pelan yang mengintimidasi. "Jawab pertanyaanku dengan jujur, Kael. Dan ingat, aku paling benci dibohongi."
Kael menelan ludah. Dia udah tahu arah pembicaraan ini ke mana. "Saya tidak pernah membohongi Anda, Val."
"Oh ya?" senyum Valeria sinis. Jari telunjuknya perlahan menelusuri jahitan di kerah jas Kael. "Arena pertarungan bawah tanah sepuluh tahun lalu... ayahku nemuin kamu di sana, lagi babak belur dipukuli preman bayaran. Waktu itu usiamu baru awal dua puluhan. Anak jalanan yang nggak punya masa depan. Benar begitu ceritanya?"
"Benar, Val," jawab Kael tanpa ragu. Wajahnya datar, nggak ada ekspresi panik sama sekali.
"Anak jalanan nggak diajarin cara motong jalur napas orang dalam enam detik tanpa ngerusak pita suaranya secara permanen," potong Valeria cepat, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Kael. "Dan anak jalanan nggak mungkin tahu cara menetralisir pembunuh bayaran pemegang *karambit* tanpa buang-buang tenaga ekstra. Gerakanmu tadi di ruang VIP terlalu klinis. Terlalu terprogram."
Kael diam. Pria itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela sekilas sebelum menatap Valeria lagi.
"Saya banyak belajar selama sepuluh tahun bekerja untuk klan ini, Val. Ayah Anda menyewa banyak pelatih bela diri untuk saya," elak Kael dengan alasan yang cukup masuk akal.
"Jangan ngeles, Kael," dengus Valeria kesal. "Pelatih bela diri klan kita itu preman-preman berotot yang bisanya cuma tinju bebas dan baku hantam. Gaya bertarungmu beda level sama mereka. Kamu bergerak kayak mesin."
Valeria semakin mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa jengkal. Aroma *Baccarat* menguar kuat, membuat Kael harus menahan napas agar pikirannya nggak kacau.
"Siapa kamu sebelum ayahku nemuin kamu di arena itu?" selidik Valeria, suaranya kini melembut tapi mendesak. "Apakah kamu tentara desersi? Agen lepas? Atau pembunuh bayaran yang sengaja disusupin ke keluargaku?"
Mata Kael sedikit membelalak mendengar tuduhan terakhir. Rahangnya mengeras. Pria itu refleks mengangkat tangannya, seolah ingin meraih bahu Valeria untuk meyakinkannya, tapi urung di detik terakhir dan menjatuhkan tangannya kembali ke pangkuan.
"Valeria, dengar saya," ucap Kael dengan suara serak yang ditekan dalam-dalam. "Saya mungkin menyembunyikan seberapa kotor dan berbahayanya masa lalu saya, tapi satu hal yang harus Anda tahu: saya tidak pernah disusupkan untuk menyakiti keluarga Anda. Terutama Anda."
Valeria bisa merasakan getaran ketulusan dari ucapan Kael. Tatapan mata pria itu kembali memancarkan emosi putus asa yang sama seperti saat Kael mencekik Tetua Haris di lorong. Kael seperti anjing yang takut dibuang oleh majikannya.
"Lalu kenapa kamu menyembunyikan kekuatan aslimu dariku?" tanya Valeria, nadanya tidak lagi marah, melainkan penuh rasa ingin tahu yang menggebu-gebu.
"Karena kalau Anda tahu monster seperti apa saya di masa lalu..." Kael terdiam sejenak, membuang mukanya ke arah setir mobil. Tangannya meremas setir kulit itu dengan kuat. "...Anda mungkin tidak akan pernah mau tertidur di pangkuan saya seperti tadi pagi. Anda akan melihat saya sebagai senjata buas, bukan Kael pengawal Anda."
Kalimat jujur yang diucapkan dengan nada begitu rapuh itu sukses menghantam telak pertahanan Valeria. Jantung sang ratu mafia berdegup kencang. Kael tidak takut kekuatannya terbongkar karena alasan taktis; pria ini menyembunyikan kekuatannya semata-mata karena takut Valeria akan menjauhinya dan menatapnya dengan rasa takut.
Valeria terdiam cukup lama. Matanya menatap profil samping Kael yang terlihat tegang. Wanita itu akhirnya sadar, menggali masa lalu Kael dengan cara memaksa seperti ini tidak akan membuahkan hasil. Dinding trauma dan rahasia pria ini terlalu tebal.
Namun, alih-alih mundur, Valeria malah tersenyum kecil. Senyum yang tulus, bukan senyum sinis andalannya.
Tangan Valeria perlahan terulur ke depan. Dia menyentuh pipi Kael yang agak kasar dengan punggung jarinya, membuat pria itu terkesiap pelan dan menoleh kembali kepadanya.
"Monster atau bukan, kamu tetap bayanganku, Kael," bisik Valeria lembut, matanya menatap tepat ke dalam pusaran kelam di mata Kael. "Aku ratu mafia. Tanganku berlumuran darah. Aku nggak butuh pangeran berkuda putih yang suci bersih. Aku butuh monster yang bersedia melahap siapa saja yang berani nyentuh ujung gaunku."
Napas Kael tersendat. Kalimat Valeria terdengar seperti mantra pemujaan paling indah yang pernah dia dengar seumur hidupnya. Sentuhan hangat jari Valeria di pipinya membuat seluruh akal sehat Kael meluap ke udara.
"Sekarang, jalankan mobilnya. Kita pulang," perintah Valeria menarik tangannya kembali, lalu duduk bersandar nyaman di kursi belakang, seolah konfrontasi intim barusan nggak pernah terjadi.
Kael masih mematung selama beberapa detik, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya terasa panas dingin. Dengan tangan yang sedikit kaku, dia kembali menghadap ke depan, menaikkan kaca pemisah, lalu menginjak pedal gas.
Di kursi belakang, Valeria menatap punggung Kael lewat kaca pemisah yang kini tertutup. Senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya. Dia belum tahu dari mana asal kekuatan gila Kael, tapi satu hal yang pasti: ikatan di antara mereka malam ini sudah bergeser terlalu jauh.
Sang ratu mafia tahu, cepat atau lambat, dia sendiri yang akan menguliti seluruh rahasia pria itu. Dan mungkin, bukan cuma rahasianya yang akan dia kuliti.