NovelToon NovelToon
Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Penjaga Jurang Iblis Yang Di Khianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: edwin setiawan

Xiao Chen bukan jenius kultivasi. Di Klan Xiao, dia adalah "Sampah Abadi" - ranah kultivasinya stuck di Pemurnian Qi level 3 selama 1000 tahun. Karena itu, dia dibuang untuk menjaga Jurang Iblis, tempat paling hina di klan. Tidak ada yang tahu, Jurang Iblis itu adalah segel dunia, dan selama 1000 tahun Xiao Chen bertarung sendirian setiap malam melawan gelombang iblis yang tak berujung. Para iblis tidak takut pada Tetua Klan, mereka hanya takut pada satu nama: Xiao Chen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Balas Dendam

---

Jam 5 pagi. Kota Batu Hitam belum bangun. Tidak ada suara sapu. Untuk pertama kalinya dalam 36 hari, tidak ada yang menyapu.

Kedai Teh tutup. Pintu papan pengumumannya disobek, bukan oleh warga, tapi oleh Xiao Chen sendiri. Di atasnya dia tulis dengan darah hitam keemasan yang menetes dari sisik di tangannya:

_KEDAI TUTUP SELAMANYA. YANG MAU TEH, DATANG KE JURANG BESAR._

Warga yang melihat tulisan itu pagi-pagi, tidak berani mendekat. Dari dalam kedai, tercium bukan wangi teh, tapi bau besi panas dan tanah basah setelah hujan.

Xiao Chen keluar dari kedai. Jubah compang-campingnya sudah tidak ada. Yang ada jubah baru, hitam keemasan, tumbuh dari sisiknya sendiri. Mata kanannya emas hitam, mata kirinya masih hitam manusia, tapi sudah retak. Di tangannya bukan pedang kayu pengaduk teh, tapi setengah sapu yang dia patahkan semalam - kini ujungnya mengeras menjadi taring naga sepanjang lengan.

Di lehernya, dot sendok teh kayu Bos Kecil 1 masih tergantung, tapi sudah gosong.

Dia tidak terbang. Dia berjalan kaki ke arah timur kota, ke arah Kompleks Klan Xiao, tempat dia dibuang 10 tahun lalu sebagai sampah.

Di gerbang Klan Xiao, 2 penjaga Pembentukan Fondasi yang dulu pernah meludahi Xiao Chen saat dia diseret keluar, masih berjaga. Mereka melihat Xiao Chen berjalan mendekat, dengan mata naga.

"Sampah Xiao Chen? Kau... kau mau apa? Klan sudah tidak punya hubungan denganmu! Kepala Klan bilang kau sudah mati di jurang!" teriak salah satu penjaga, tapi suaranya gemetar, karena tanah di bawah kaki Xiao Chen setiap dia melangkah... menjadi hitam dan tidak bisa ditumbuhi rumput lagi.

Xiao Chen tidak menjawab. Dia hanya mengangkat tangan kirinya yang masih manusia, dan menempelkan ke dada penjaga itu.

Tidak ada ledakan.

Penjaga itu hanya diam, lalu matanya membelalak. Dari mulutnya, hidungnya, telinganya, keluar uap hitam keemasan yang wangi teh. Darahnya mendidih pelan-pelan di dalam tubuhnya, tidak meledak, tapi menguap menjadi teh.

"Rasanya... hangat..." bisik penjaga itu sebelum jatuh, tubuhnya kering seperti daun teh yang sudah diseduh 3 kali.

Penjaga kedua ingin lari, tapi taring sapu di tangan kanan Xiao Chen sudah menancap di bayangannya, bukan di tubuhnya. Bayangannya yang tertancap, membuat tubuh aslinya tidak bisa bergerak, darahnya ditarik keluar lewat bayangan, menetes ke tanah, menjadi pupuk hitam.

2 penjaga mati, bukan dengan tebasan, tapi dengan cara yang sama seperti ibunya mati: darah dikuras hangat pelan-pelan.

Xiao Chen masuk ke dalam kompleks Klan Xiao.

Di aula utama, 12 Tetua Klan Xiao yang dulu menandatangani surat pengusiran Xiao Chen sebagai sampah, sedang rapat. Mereka sudah dengar Xiao Potian bangkit, dan mereka bersorak karena Leluhur kembali.

"Kita akan kembali jadi Klan nomor 1 kalau Leluhur Potian jadi Naga!" kata Kepala Klan Xiao Shan, paman Xiao Chen sendiri.

Pintu aula terbuka sendiri.

Xiao Chen masuk, menyeret taring sapu yang meneteskan darah teh.

"Chen... Chen-er?" Xiao Shan berdiri, kaget, lalu tertawa lega, "Kau masih hidup? Bagus! Cepat berlutut, Leluhur Potian butuh wadah, kau..."

Xiao Shan tidak selesai bicara.

Xiao Chen sudah ada di depannya. Tangan bersisiknya memegang kepala Xiao Shan, tidak meremas, hanya menempelkan dahi ke dahi.

Detak jantung naga di dalam dantian Xiao Chen berdetak keras. _DUM... DUM..._

Setiap detakan, darah di tubuh Xiao Shan ditarik keluar dari pori-porinya, bukan dalam bentuk darah merah, tapi dalam bentuk daun teh merah yang masih basah, jatuh satu per satu ke lantai.

Xiao Shan ingin berteriak, tapi tidak bisa, karena tenggorokannya sudah penuh daun teh darahnya sendiri.

"10 tahun lalu, ibu bilang dia sakit perut," bisik Xiao Chen dengan dua suara, manusia dan naga, di telinga pamannya, "Tapi dia tidak sakit. Kalian bawa dia ke ruang segel, kalian kuras darahnya pelan-pelan selama 3 hari untuk rantai Leluhurmu itu, kan? Kalian bilang ke aku dia sakit biar aku tidak berisik saat menyapu makamnya."

11 Tetua lain di aula ingin lari, ingin serang, tapi mereka tidak bisa. Bayangan mereka semua sudah tertancap taring sapu Xiao Chen yang dia tancapkan ke lantai saat masuk tadi.

Satu per satu, mereka merasakan hal yang sama: darah mereka menjadi teh.

Xiao Chen tidak membunuh mereka cepat. Dia membuat mereka duduk kembali di kursi rapat, dengan tubuh yang masih hidup, tapi darahnya terus menetes menjadi daun teh, selama... 3 jam. Sama persis 3 hari yang ibunya rasakan, tapi dipercepat jadi 3 jam.

Di jam kedua, Xiao Shan yang sudah menjadi seperti daun kering, berbisik dengan sisa tenaga, "A... ampun... kami... kami hanya takut... Leluhur..."

Xiao Chen menatapnya dengan mata naga emas hitamnya.

"Aku tidak mau ampunmu. Aku mau kau rasa hangatnya. Ibu bilang hangat, kan, saat darahnya keluar?"

Di akhir jam ketiga, 12 Tetua Klan Xiao mati kering, tubuh mereka bukan mayat, tapi tumpukan daun teh merah hitam yang harum.

Xiao Chen mengumpulkan daun-daun teh itu, memasukkannya ke dalam karung goni bekas Ling'er, karung yang tulisannya "TEH 1 KOIN".

Dia memikul karung itu, keluar dari kompleks Klan Xiao yang kini kosong dan hitam, dan berjalan kembali ke Kota Batu Hitam.

Di alun-alun, warga sudah berkumpul, menatapnya takut, karena mereka melihat mata naganya.

Xiao Chen membuka karung, menaburkan daun teh merah hitam itu ke tanah alun-alun yang kemarin nilainya 7.

"Ini pupuk," katanya pelan, tapi semua dengar, "Pupuk dari orang yang membuat ibuku mati mengenaskan. Mulai hari ini, siapa yang menyapu alun-alun ini, kakinya akan wangi teh darah mereka selama 7 hari. Biar mereka tetap di sini, diinjak, bukan dikubur."

Dia menatap ke arah barat, ke arah Jurang Besar Pegunungan Tujuh Pedang, tempat Xiao Potian membawa semua pengikutnya dan 7 telur naga.

Di langit barat, awan sudah membentuk pusaran hitam keemasan, tanda tubuh utama Naga Iblis Hei Yan Long akan bangkit.

Sisik di tangan Xiao Chen menjalar sampai ke leher.

"Besok, aku ke jurang. Kalian semua, jangan ikut. Kalau kalian ikut, kalian akan jadi pupuk juga. Karena naga tidak punya pengikut, naga hanya punya makanan."

Dia berbalik, berjalan ke jurang, sendirian, dengan karung kosong dan taring sapu berdarah teh.

Di belakangnya, di tanah alun-alun, daun teh merah hitam dari 12 Tetua Klan Xiao perlahan meresap ke tanah, dan dari tanah itu tumbuh... tunas teh kecil berwarna merah, yang berbisik jika didekati, berbisik dengan suara ibunya: "Chen-er, jangan jadi naga..."

Tapi Xiao Chen sudah tidak mendengar. Detak jantung naga kedua di dalam tubuhnya sudah lebih keras dari suara ibunya.

.

1
Abil Amar
alur ceritanya kmn ko g jlas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!