WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******
Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya
Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya
Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRUISER.
Krinnggg… krinnggg…
Bunyi bel istirahat tanda untuk mengisi perut mereka berbunyi. Semua siswa berhamburan menuju kantin setelah melewati jam pelajaran yang membuat kepala terasa pusing.
"Lo mau ke kantin bareng?" tanya Alluna.
"Emmm… gue…" ucapan Lisa terpotong saat seorang siswi di kelas itu tiba-tiba mendatangi mereka.
"Woi, miskin! Kerjain tugas lo!" celetuk gadis itu. Namanya Naumi Faesya Abraham — anak dari salah satu pengusaha terkaya, dijuluki Ratu Perundung di sekolah ini karena tak ada yang berani melawannya. Tak lupa pula anak buahnya, Melly dan Siska.
Alluna hanya menatap datar ketiga gadis di hadapannya, sambil menahan tangan Lisa yang hendak pergi menuruti perintah Naumi — untuk mengipasi mereka, membersihkan meja, dan memesan makanan seolah Lisa adalah pelayan.
Naumi tertawa mengejek. Di kelas itu masih ada beberapa siswa, termasuk para cowok Most Wanted yang ikut menatap ke arah mereka.
"Hai, gue Naumi. Sepertinya lo belum tahu siapa gue. Tanya aja sama si miskin ini kalau gue siapa, biar lo gak salah langkah. Dari gaya lo juga kelihatan bukan dari kalangan atas. Mending temenan sama gue, sama Melly dan Siska," ujar Naumi angkuh.
Alluna melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka. Tatapannya tetap tenang dan dingin.
"Sebagai informasi, gue orang yang malas mengulang perkataan. Jadi dengar baik-baik, Naumi. Pertama, gue gak peduli siapa lo. Kedua, gue gak berminat jadi kacung kayak teman-teman lo. Dan ketiga — gunakan tangan dan kaki lo sendiri selama masih ada," ujar Alluna tegas.
Seluruh kelas melongo tak percaya mendengar jawaban gadis baru itu. Melly dan Siska pun tersinggung.
"LO BERANI SAMA GUE HA?! GUE BISA BUAT LO DIUSIR DARI SEKOLAH INI!" teriak Naumi sambil menunjuk wajah Alluna.
"Gue bahkan bisa mematahkan jari lo sekarang," ancam Alluna sambil tersenyum miring, lalu menurunkan tangan Naumi dengan kasar namun tenang.
Alluna menarik tangan Lisa. "Ayo ke kantin. Gue sudah lapar, tolong jangan bikin gue makin kesal — atau gue akan menghancurkan siapa pun yang mengganggu ketenangan gue."
"Menarik," gumam seorang cowok yang sedari tadi memperhatikan Alluna sambil tersenyum miring.
"Cabut," titah cowok itu.
Di perjalanan menuju kantin, banyak siswa berbisik-bisik melihat Alluna yang memilih berjalan bersama Lisa yang dianggap miskin.
"Sudah, gak usah dengar mereka," Alluna menarik langkah Lisa lebih cepat.
"Lun, lo cari tempat duduk aja dulu, biar gue yang pesan. Lo mau makan apa?" tanya Lisa.
"Nasi goreng dan air mineral. Pesan juga untuk lo, biar gue yang bayar. Tanda pertemanan — dan gue gak mau dengar penolakan, Lis," tegas Alluna.
Mereka memilih meja di sudut paling ujung agar tidak terlalu berisik. Lisa menghela napas pelan. Ia merasa akhirnya punya teman, walau takut Alluna kecewa setelah tahu siapa dirinya.
"Lun, lo gak malu berteman sama gue?" tanya Lisa pelan.
"Malu kenapa?" Alluna balik bertanya.
"Gue cuma cewek miskin yang beruntung bisa masuk sini pakai beasiswa. Rumah gue sempit, gue kerja paruh waktu, bahkan ibu gue cuma pembantu di rumah mewah Naumi… Ayah gue sudah tiada," Lisa menunduk, jujur agar Alluna tidak menyesal nanti.
"Gue gak peduli. Lo tetap teman gue," jawab Alluna tenang.
Lisa tersenyum haru. Setidaknya ada orang baik yang menerima apa adanya.
"Diumumkan kepada seluruh warga HIGH INTERNASIONAL SCHOOL, seluruh guru akan mengadakan rapat. Diharapkan tidak ada yang meninggalkan lingkungan sekolah sebelum jam pulang. Terima kasih."
Suara pengeras suara membuat kantin heboh — siswa senang karena tak ada pelajaran lagi.
Namun suasana hening seketika saat tiga laki-laki tampan berbadan tegap masuk ke kantin. Seragam mereka sedikit berantakan, kancing terbuka memperlihatkan kaos hitam di dalamnya. Tangan tersembunyi di saku celana, membuat para gadis tak berani memalingkan wajah.
"Mereka siapa?" tanya Alluna pelan.
"Itu para Most Wanted sekolah. Anggota inti BRUISER — geng motor yang ditakuti bahkan dari sekolah lain. Mereka hanya menindak orang yang mengganggu ketenangan. Jarang berurusan dengan perempuan," bisik Lisa.
"Yang paling depan itu Langit — anak donatur terbesar, ketua BRUISER. Sikapnya dingin, cuek, tapi diam-diam baik. Di sebelahnya Arga Dhirgantara — anak pengusaha kaya, agak kaku. Yang terakhir David Erlion — anak pengacara, dia paling ramah," jelas Lisa panjang lebar.
"Lo tahu dari mana semua itu?" tanya Alluna.
"Mereka memang terkenal, Lun. Dianggap pelindung sekolah ini," jawab Lisa kagum.
Langit duduk di meja tak jauh dari mereka, menatap tajam ke arah Alluna. Ia tak terlihat takut sedikit pun.
"Hai cantik," sapa seseorang. Bukan dari Langit, tapi dari arah meja mereka. Seorang cowok mendekat — Aldo, dari kelas IPS 2.
Alluna hanya menatap datar.
"Gue Aldo," ulurkan tangan. Alluna tak menyambut. Aldo tersinggung.
"Semakin lo menolak, semakin gue tertarik mendekati cewek sombong kayak lo," bisiknya mendekat.
"Tapi sayang, gue gak tertarik sama cowok murahan kayak lo," jawab Alluna tersenyum sinis. Aldo terpaku — belum pernah ada yang berani menolaknya.
"Kita akan bertemu lagi, Sayang," ucap Aldo sebelum pergi.
Langit melihat semuanya. Sudut bibirnya sedikit terangkat melihat penolakan tegas Alluna.