NovelToon NovelToon
TERTUKAR DI RS ELISABETH SEMARANG

TERTUKAR DI RS ELISABETH SEMARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum di Balik Topeng Kaca

Matahari Rabu pagi baru separuh naik ketika mobil Alphard hitam keluarga Clarissa meluncur masuk ke gerbang SMA Loyola. Wajah Clarissa tak lagi menyisakan jejak isak tangis semalam di kamar sejuk Graha Candi Golf. Matanya memang masih sedikit sembab, namun lapisan tipis bedak dan lip tint berwarna lembut menyembunyikannya rapi. Rambut yang biasanya tergerai kini diikat kuda dengan kencang memberi kesan tegas, dingin, tak mudah digoyahkan.

Di saku roknya, tersimpan rapi di balik lipatan tisu, benda kecil itu terasa hangat, karet gelang hitam milik Aurel, yang masih menyisakan bau sisa lem Fox. Benda itu bukan sekadar tertinggal atau terambil bagi Clarissa, ini adalah bukti, sekaligus awal dari sesuatu yang tak lagi sekadar kecewa tapi juga sakit dan kebencanaan.

Di kelas XI IPA 1, begitu bel masuk berbunyi, Jessica dan Felicia langsung menghampiri mejanya.

"Sa, kamu tenang banget ya hari ini? Kemarin bukannya marah sampai ke Gang Mangga?" bisik Felicia sambil melirik ke sekeliling.

Clarissa merapikan buku catatannya tanpa menoleh. "Marah-marah cuma buang tenaga. Orang yang punya kelas nggak akan teriak-teriak di jalanan."

Jessica mengangguk setuju. "Terus, rencanamu gimana? Anak-anak seangkatan sudah mulai berbisik-bisik soal dia yang katanya sengaja mendekati Tristan."

"Biarkan mereka berbisik dulu," jawab Clarissa pelan, sudut bibirnya terangkat sebelah. "Kita tunggu waktu yang tepat."

Sementara itu, di kelas XI IPS 2 suasananya tak kalah riuh, tapi suasananya terasa lebih sesak. Sejak pagi, pandangan dan bisikan tertuju ke meja paling belakang dekat jendela. Beberapa siswi dari kelas lain sengaja lewat di depan pintu, menatap Aurel dengan senyum miring dan tatapan sinis.

"Rel, kamu dengar apa yang mereka bilang?" bisik Sinta sambil meletakkan tas di bangku, wajahnya merah padam menahan kesal. "Katamu sengaja mendekati Tristan padahal tahu itu orang yang disukai Clarissa. Ih, kesal sekali seakan mereka yang punya sekolah ini."

Aurel yang sedang menata lembar kerja hanya diam. Di kakinya, sepatu yang diperbaiki ayahnya, kini diikat karet baru pemberian Tristan, menapak tenang di lantai keramik. Tak berbunyi lagi, tapi udara di sekelilingnya terasa berat.

"Biarkan saja, Sin," jawab Aurel pelan, meski tenggorokannya terasa kering. "Aku tidak pernah mencari perhatian siapa-siapa. Biarkan mereka bicara apa pun."

"Tapi mereka keterlaluan, Rel! Kalau makin parah, aku yang akan menegur mereka!" Sinta gemas.

Percakapan itu terhenti ketika suara langkah sepatu menggema di koridor. Pak Joko, guru piket sekaligus pembina OSIS, masuk sambil memegang selembar kertas pengumuman. Kelas seketika hening.

"Perhatian semua. Bulan depan SMA Loyola menjadi tuan rumah Pameran Budaya dan Bazar Kewirausahaan Antar Sekolah se-Jawa Tengah. Pihak sekolah telah menunjuk perwakilan untuk masuk Panitia Inti Bagian Sponsor dan Kurasi Stan," suaranya tegas memecah keheningan.

Aurel menunduk. Urusan begini biasanya jatuh kepada siswa kelas unggulan atau anak-anak keluarga besar sekolah bukan kepadanya.

"Untuk penanggung jawab kurasi produk lokal, perizinan, dan dokumentasi, ditunjuk: Clarissa Putri Daniswara dari XI IPA 1… dan Aurel Arum Ningtyas dari XI IPS 2."

Satu kelas serentak menoleh. Sinta membelalak tak percaya, sementara Aurel sendiri terpaku di tempatnya. Namanya disebut. Bersama Clarissa.

Dari lorong penghubung gedung, Clarissa berdiri tegak, menatap tajam ke arah jendela kelas itu. Sebuah senyum tipis tersungging. Panggung sudah disiapkan dan ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Kepada yang ditunjuk, diharapkan menjaga nama baik sekolah. Rapat perdana akan dilaksanakan sepulang sekolah di Ruang Multimedia lantai dua. Tepat waktu ya," pesan Pak Joko sebelum keluar. Begitu pintu tertutup, bisikan langsung meledak.

Sinta menyenggol lengan Aurel. "Rel! Kamu satu panitia sama Clarissa! Ini bagaimana bisa?"

Aurel menatap nama yang tertulis di papan pengumuman, matanya masih kabur. Mengapa dirinya?

Di koridor seberang, Clarissa melipat tangan di dada. "Kita lihat seberapa kuat dia bertahan," bisiknya pelan kepada dua temannya. "Ruangan itu tempat kita. Banyak yang mengenal kita, menghormati keluarga kita. Kalau dia mau tampil, biarkan semua orang melihat siapa sebenarnya dia."

Felicia tersenyum lebar. "Akan menarik sekali, Sa."

Saat istirahat, suasana di kantin terasa makin menindih. Setiap Aurel melintas, bisikan mengikuti.

"Itu dia yang masuk panitia bersama Clarissa?"

"Entah bagaimana caranya… katanya dekat dengan Tristan, makin diperhatikan."

Aurel duduk di meja paling ujung, sendirian di keramaian. Sinta duduk berhadapan, wajahnya masih cemberut.

"Sudah, Rel. Jangan didengarkan. Mereka bicara tanpa tahu apa-apa," katanya tegas.

Aurel tersenyum tipis. "Aku tahu aku tidak berbuat salah. Cukup itu yang aku pegang."

"Tapi di ruang rapat nanti… Clarissa tidak akan diam saja, Rel. Kamu tahu dia bagaimana," Sinta cemas.

Aurel menarik napas panjang. "Kalau benar aku tidak salah, mengapa harus takut? Sekolah punya aturan. Dia bukan penguasa di sini."

Meski berkata demikian, ia tak lupa sorot mata Clarissa pagi tadi tajam, dingin, penuh niat yang tak terucap.

Sore pukul tiga, bel berbunyi. Langit di luar mendung, udara lembap menempel di kulit. Ruang Multimedia sejuk, dingin ber-AC. Meja kayu panjang sudah dikelilingi pengurus OSIS dan perwakilan kelas. Clarissa duduk di sisi kanan, tepat di sebelah ketua OSIS, berkas rapi di samping laptopnya. Penampilannya sempurna, tak sehelai rambut pun berantakan.

Pintu terbuka. Aurel masuk sendirian. Seragamnya bersih dan rapi, sepatunya digosok bersih meski sambungan jahitan masih terlihat jelas. Ia berjalan tenang di antara tatapan yang beragam: heran, meremehkan, penasaran.

Hanya satu kursi kosong tersisa tepat di seberang Clarissa.

Sebelum Aurel sempat menariknya, suara Clarissa terdengar lembut namun menusuk.

"Tunggu dulu, Aurel," ucapnya tenang, menatap dari balik layar. "Sebelum duduk, sebaiknya kamu pahami di panitia ini kita bekerja dengan standar tinggi. Jangan sampai kebiasaan dan cara pandang yang belum terbiasa dengan urusan resmi terbawa ke sini. Kurasi butuh ketelitian dan pengalaman yang tak semua orang miliki."

Ruangan hening seketika. Felicia menahan senyum. Beberapa orang saling pandang.

Aurel berhenti. Ia menatap lurus ke mata gadis di seberang meja tahu persis di saku rok itu tersimpan karet gelangnya, dijadikan bukti kelemahannya.

Namun Aurel tidak menunduk. Ia justru tersenyum tenang, mantap, tak goyah sedikit pun.

"Terima kasih sudah mengingatkan, Clarissa," jawabnya dengan suara jernih yang terdengar di seluruh ruangan. "Saya di sini memang untuk belajar bagaimana bekerja dengan baik, dengan jujur… tanpa harus menjatuhkan orang lain supaya terlihat lebih tinggi."

Senyum di wajah Clarissa membeku. Napasnya tertahan sejenak.

Pertemuan pertama baru saja dimulai dan pertarungan yang sesungguhnya baru saja terbuka di antara mereka.

1
Siti Gemini 75
Ok kak 👍
Siti Gemini 75
Ok siap
Gabutz
lanjuttt ceritanya bagusss...
kalau bisa double up
Putri Sajak
Semngat nulis kak💪, yok singgah di karya aku komen komen n like kk🤭
ANGGA
🗿
ANGGA
kapan update lagi
Siti Gemini 75: ini udah aplod lagi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!