NovelToon NovelToon
Wanita Hamil Di Rumah Mertuaku

Wanita Hamil Di Rumah Mertuaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Balas Dendam
Popularitas:105.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.

Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.

Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.

Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zemima 3

Aroma kopi hitam hangat dan harum pendingin ruangan menyambut Zemima begitu langkah kakinya melintasi pintu kaca tebal lantai paling atas gedung PT Vans Altamas. Gaun formal berwarna biru gelap dipadu blazer putih tegas yang dikenakannya menegaskan posisinya. Tidak ada lagi raut wajah ragu atau lelah dari rumah; di sini, Zemima adalah sang CEO.

Maya, asisten pribadinya, langsung menyambut di lorong depan lift dengan sabak digital di tangan. Langkah kaki keduanya berderap cepat menuju ruang rapat utama.

"Pagi, Bu Zemima. Bahan presentasi evaluasi investasi sudah saya pindahkan ke proyektor," ujar Maya cepat setengah berbisik sambil menyesuaikan langkah.

"Pak Yudi dan jajaran komisaris sudah berkumpul di dalam. Pak Yudi tadi sempat bertanya soal draf akhir yang Ibu kirim jam satu malam."

"Pagi, May. Pak Yudi bilang apa soal draf itu?" tanya Zemima tanpa menghentikan langkah.

"Beliau terkesan, Bu. Pengalihan alokasi dana ke proyek cabang Surabaya sangat tajam," jawab Maya mantap.

"Tapi, rapat hari ini kelihatannya bakal alot di bagian pemangkasan anggaran operasional. Pak Komisaris Utama sepertinya agak keberatan."

"Biar saya yang atasi. Rapat harus selesai sebelum jam sebelas tiga puluh," tegas Zemima seraya menarik napas panjang.

"Saya ada urusan keluarga yang sangat mendesak siang ini."

"Baik, Bu Zemima."

Zemima mendorong pintu kayu jati tebal ruang rapat. Suara riuh perbincangan dari sepuluh pria dan wanita berbusana formal seketika reda. Mereka berdiri memberi penghormatan saat Zemima berjalan menuju kursi utama di ujung meja panjang.

"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih sudah hadir tepat waktu. Mari kita mulai," sapa Zemima dengan suara tenang namun berwibawa, memancarkan aura kepemimpinan yang membuat seluruh ruangan terdiam penuh hormat.

Baru saja Zemima hendak membuka slid pertama, ponsel di balik kantong blazernya bergetar panjang. Zemima melirik sekilas layarnya sebelum membaliknya di atas meja.

Pesan dari Arsyad:

'Dek, kamu sudah sampai mana? Mbak Mirna bilang Ibu tadi sempat muntah sedikit pas disuapin. Kamu jam berapa pulang?'

Dada Zemima terasa berdenyut menahan cemas, namun ekspresi wajahnya tetap datar. Ia mendeham pelan, memfokuskan pandangan pada layar proyektor besar di depannya.

"Seperti yang Anda semua lihat pada slide pertama, efisiensi investasi triwulan ini menjadi kunci ekspansi kita," Zemima memulai presentasinya dengan lugas.

Namun, baru lima belas menit diskusi berjalan, perdebatan sengit pecah. Pak Hendra, salah satu komisaris senior, mengetukkan jarinya ke meja dengan raut tidak setuju.

"Bu Zemima, saya rasa pemangkasan anggaran lima belas persen untuk sektor operasional ini terlalu berisiko!" sanggah Pak Hendra dengan suara berat.

"Kita bisa kehilangan ritme kerja di lapangan."

"Saya mengerti kekhawatiran Anda, Pak Hendra," sahut Zemima tenang, menatap lurus sang komisaris.

"Tapi jika kita tidak memangkasnya sekarang, cash flow untuk akuisisi lahan di Jawa Timur akan terganggu. Kita butuh dana segar itu dalam dua minggu ke depan."

Di tengah argumen Zemima, ponselnya di meja kembali bergetar dua kali berturut-turut.

Pesan dari Arsyad:

'Dek, tolong balas pesan Mas! Ibu nanyain kamu terus. Mas di kantor lagi ketat banget enggak bisa ditinggal. Kamu jangan lama-lama di kantor, cuma urusan laporan kan bisa dioper ke yang lain!'

Zemima mengepalkan jemarinya di bawah meja. Rasa bersalah dan desakan profesionalisme bertabrakan hebat di dadanya. Cuma urusan laporan... jika saja Arsyad tahu apa yang sedang dipertaruhkannya saat ini.

"Bu Zemima? Bagaimana tanggapan Ibu?" suara Pak Yudi memotong lamunannya.

Zemima menyipitkan mata, kembali menguasai kendali penuh atas dirinya. "Pak Hendra, Pak Yudi, mari kita lihat proyeksi risiko di slide empat. Jika efisiensi ini dijalankan, margin keuntungan kita justru naik delapan persen di akhir tahun. Maya, tampilkan simulasi finansialnya."

"Baik, Bu," jemari Maya bergerak lincah di laptopnya.

Diskusi berlangsung makin memanas. Setiap kali persetujuan hampir dicapai, detail teknis baru dipertanyakan. Jam dinding di ruang rapat sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB.

Ponsel Zemima bergetar lagi, kali ini panggilan telepon masuk dari Arsyad. Zemima dengan cepat menolak panggilan tersebut dan mengetikkan balasan singkat di bawah meja dengan sebelah tangan tanpa mengalihkan pandangan dari peserta rapat.

"Mas, aku masih rapat penting. Mbak Mirna kan ada di sana. Jam 12 pas aku langsung meluncur pulang. Tolong mengerti sebentar ya, Mas."

Tak sampai satu menit, balasan Arsyad masuk dengan nada menyindir:

'Atasan kamu jahat banget ya enggak ngertiin kondisi karyawan yang lagi ada musibah. Ya sudah, Mas tunggu jam satu kamu harus sudah sampai rumah. Kasihan Ibu.'

Zemima mendesah halus, menyimpan kembali ponselnya. Ia berdiri dari kursinya, membuat seluruh anggota rapat menatapnya serentak.

"Bapak dan Ibu sekalian, poin-poin keberatan sudah kita catat," potong Zemima tegas, memotong perdebatan Pak Hendra yang mulai berputar-putar.

"Saya putuskan, opsi pemangkasan anggaran sepuluh persen diambil sebagai kompromi, dan sisa efisiensi dialokasikan dari dana cadangan. Draf perubahannya akan difinalisasi oleh tim keuangan siang ini. Rapat saya nyatakan selesai."

Keputusan yang diambil dengan cepat dan tanpa ragu itu membuat ruang rapat mendadak hening. Pak Hendra akhirnya mengangguk pelan, menyetujui otoritas mutlak sang CEO.

"Baik, Bu Zemima. Keputusan yang bijak," ucap Pak Yudi seraya mengemas berkasnya.

"Terima kasih atas kerja samanya," Zemima mengangguk singkat, lalu berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruang rapat, diikuti Maya yang berusaha sejajar dengannya.

"May, rapihkan notulensi dan kirim ke email saya. Saya harus pergi sekarang," perintah Zemima cepat seraya melepas blazernya dan menggantinya dengan tas tangan.

"Baik, Bu Zemima. Hati-hati di jalan. Biar Pak Marno yang antar Ibu pakai mobil dinas?" tanya Maya sigap.

DRRRRTTTT

DRRRRTTTT

Ponsel Zemima berdering, Arsyad benar-benar tidak sabar untuk meminta Zemima pulang dan menemani ibunya, bahkan dia tidak mau tahu. Karena bagi Arsyad ibunya adalah segalanya. Padahal Asyad juga punya adik perempuan dan juga kakak laki-laki. Tapi kenapa harus mereka yang sibuk berdua?

Layar ponsel di genggaman Zemima kembali menyala terang, menampilkan nama Mas Arsyad untuk kesekian kalinya. Zemima menghentikan langkah tepat di depan pintu lift eksekutif, menarik napas panjang sebelum mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Mas?" panggil Zemima dengan suara ditahan pelan.

"Zemima! Kamu di mana sih?!" suara Arsyad langsung meledak dari seberang telepon, bahkan terdengar sedikit berdengung hingga Maya yang berdiri di sebelah Zemima sempat menoleh kaget.

"Mas kan udah bilang dari tadi, Ibu muntah lagi! Ini Mbak Mirna kelabakan sendirian!"

"Mas, ini baru jam sebelas lewat dua puluh," Zemima mencoba tetap tenang, memijat pelipisnya seraya memberi isyarat tangan pada Maya agar membiarkannya sendiri.

"Rapatku baru aja selesai. Ini aku lagi jalan ke parkiran mau meluncur pulang."

"Baru selesai?!" Arsyad tertawa sinis dari seberang telepon.

"Tega ya kamu, Zem. Demi ngerjain laporan dari atasan kamu yang semena-mena itu, kamu membiarkan Ibu terlantar di rumah! Kamu kan bisa minta izin keluar lebih awal!"

Rasa panas mendadak menyengat dada Zemima. Tangan kirinya mengepal erat di samping gaun mewahnya.

1
Oma Gavin
good mima tegas jgn mau dijadikan tempat pertolonganmu saat kejepit ngga punya uang dan masalah urus sendiri saat seling juga seneng sendiri kok
Ilfa Yarni
kasian skali mima ga mau Bantu ya pastilah ibunya aja ga peduli Utah biarkan ankmu pergi Dr dunia ini kasian JG dia menanggung dosa kalian
Lee Mba Young
gendeng, ngemis ke mantan istri untuk anak hasil selingkuh.
iuhhh Aku kl jd zemima juga gk akn mau lah.
ngemis lah ke Dina, dia ibu kandung e. mlh ngemis ke mantan istri.
Ilfa Yarni
apakah zemima mau menolong ank hasil perzinahan arsyad
Oma Gavin
kenapa harus selalu zemima yg kamu repotin masih kurang sadar atau memang edan itu enak perselingkuhan mu ada muka kamu minta tolong
Ambu Rinddiany Thea
ya Allah maak udh dong dendam sma s arysad na maak . ambu ga tega kasian liat anaknya, anaknya mah ga punya dosa maak .. 😭😩
Ambu Rinddiany Thea
😭😭😭 maaaak
nely_48
sok lah der,, janda n duda premium nikah mh beda
nely_48
berbahagialah zemima
Noor hidayati
namanya berubah
Ilfa Yarni
di tunggu undangannya ya zemima
nely_48
sok banyak rezeki nya buat bayi n arsyad family
nely_48
semoga bayi pembawa rezeki ya de,,, /Sob//Sob/
Muft Smoker
semangat syad ,, mungkin km bukan suami yg baik buat zemima dlu ,, tp km harus menjadi ayah yg baik buat zayyan
Ilfa Yarni
sangat puas ya karmanya sayang skali didunia nyata ga ada karma yg seperti ini bagi tukang selingkuh dan pezina
Ilfa Yarni
udah ga udah disesali semua udah terjadi mending kalian tobat yg sungguh2 semoga aja Tuhan members kalian Jln yg lbh baik setelah kalisn bertobat
nely_48
klau udh kya gini mh ga tega k arsyad family, Siska km kerja ath msh muda coba cari kerja d resto atau cafe² kan lumayan ada penghasilan tambahan, dr pada ngajedog d imah
nely_48
apakah tdk ada gono gini buat arsyad ❓kasian loh itu arsyad, klau mengeluarkan 100jt untuk membantu tempat tinggal layak n modal usaha buat arsyad ga akan rugi buat mu zemima
nely_48
sok pendekatan pelan² dl ya Rey, klau udh saling membutuhkan kalian lgsg nikah az
nely_48
fokus kerja n bertahan hidup untuk diri mu sendiri arsyad
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!