Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkunci
Malam telah tiba. Suasana rumah tidak seramai biasanya. Nadira celingak-celinguk memperhatikan sekeliling ketika ia dan kedua orang tuanya sedang makan malam.
"Suami kamu mana? Dia nggak makan?" tanya Eros.
"Dia nggak ada di rumah ini, Pa. Mungkin lagi jalan sama pacarnya."
"Nggak boleh nuduh suami sembarangan. Rayzan lagi keluar sama Sultan."
"Keluar ke mana?" tanya Eros.
"Main futsal. Mereka, kan, sudah janjian tadi."
Nadira menggelengkan kepalanya.
"Aku heran sama Sultan. Kenapa sih dia bisa dekat banget sama Rayzan? Padahal mereka baru ketemu."
"Tanya sendiri sama adik kamu," sambung Merry.
Ketiganya kembali mengunyah makanan. Sesekali Nadira memandangi kedua orang tuanya. Ia sangat bingung melihat semua orang di rumah begitu baik kepada Rayzan, sedangkan semua orang tahu bahwa saudara suaminya sudah membuatnya sakit hati.
Setelah beberapa menit berlalu, ketiganya duduk bersama di ruang tamu. Nadira sedang fokus pada layar laptopnya. Sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan, ia masih memiliki beberapa tugas yang belum selesai karena tertunda akibat acara pernikahannya.
"Sultan ke mana sih? Jam segini belum pulang," batin Nadira.
Sesekali wanita itu menatap jam dinding. Ia tidak tahu bahwa tingkahnya diperhatikan oleh kedua orang tuanya.
"Nggak usah khawatir, Dira. Suami kamu nggak akan lari seperti Daulat."
"Mama apaan sih. Aku khawatir sama Sultan. Dia, kan, paling jarang keluar malam."
"Dia sama Rayzan. Nggak mungkin mereka macam-macam di luar sana."
"Aku nggak peduli, ya, sama Rayzan. Aku cuma khawatir sama Sultan."
"Lagi bersembunyi di balik nama adiknya," lirih Eros.
"Mama, Papa! Aku serius, ya. Aku nggak akan pernah menerima Rayzan. Dia harus membayar semua sakit hati yang abangnya berikan kepada ku."
"Assalamu'alaikum..."
Tepat pukul setengah sepuluh malam, Rayzan dan Sultan pulang. Mereka berdua disambut hangat oleh orang-orang di rumah.
Cup!
Nadira membulatkan matanya ketika Rayzan tiba-tiba mengecup pucuk kepalanya. Hal itu membuat kedua orang tuanya dan juga Sultan senyum-senyum sendiri melihat adegan romantis yang dilakukan Rayzan.
"Kalian dari mana aja? Dira khawatir sama kamu," ujar Merry.
"Mama! Aku, kan, sudah bilang, Aku nggak suka diginiin."
Nadira beranjak dari tempat duduknya. Sambil berjalan, ia menghentakkan kakinya. Kali ini bukan karena orang tuanya selalu menggoda dirinya di hadapan Rayzan, tetapi karena laki-laki itu sudah berani menyentuhnya.
"Sebelum tidur, kalian makan dulu."
"Aku langsung ke kamar, ya, Ma," ucapnya sebelum berlalu pergi.
Sultan duduk di dekat ibunya. Sambil membuka sepatu, ia berkata,
"Mama sama Papa tahu, Bang Rayzan benar-benar beda dari Bang Daulat ... Kayaknya Kakak nggak bakal nyesel nikah sama Bang Rayzan."
"Kami juga berharap begitu, Sultan," timpal Eros. "Tapi kamu tahu sendiri, kan, Kakak kamu itu bagaimana."
[] [] []
Setelah Rayzan menutup pintu kamar mereka, ia tersenyum ketika Nadira menghampirinya.
Plak!
Rayzan mengusap wajahnya setelah ditampar oleh gadis itu.
"Itu balasan karena kamu sudah berani mencium aku."
"Apa salahnya aku melakukan itu? Kamu istriku."
"Istri! Kamu harus ingat, Rayzan. Aku benci kamu dan keluarga kalian ... Setelah aku berhasil menghancurkan kamu dan Daulat, aku akan cerai sama kamu."
Rayzan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Jangan kamu sebut itu di depanku. Kita nggak akan cerai."
"Nggak akan? Kamu bilang?" tanya Nadira.
"Iya. Aku nggak akan pernah menceraikan kamu."
Plak!
Rayzan kembali mendapatkan tamparan di wajah.
"Jangan pernah kamu lakukan itu lagi. Aku merasa kotor karena sudah dicium sama kamu."
Rayzan menatap Nadira dengan rahang mengeras. Ia benar-benar tidak terima karena wanita itu sudah menamparnya dua kali.
Dengan cepat, Rayzan memegang kedua bahu Nadira dan mendorongnya ke belakang hingga mereka berdua terjatuh di atas kasur.
"Ra-Rayzan ... Kamu jangan macam-macam."
Napas Rayzan memburu. Tatapannya yang tajam membuat Nadira semakin panik.
"Ka-kalau kamu kurang ajar, A-aku akan teriak."
"Teriak! Teriak sepuasnya! Kamu pikir aku takut?" tanya Rayzan dengan nada suara cukup tinggi.
"Kamu istriku! Teriak aja! Aku punya alasan sendiri kalau Papa sama Mama mempertanyakan keributan kita."
"Ka-kamu mau apa?" tanya Nadira ketika wajah Rayzan mulai mendekat.
"Rayzan, aku mohon. Aku nggak mau. Jangan! Jangan sentuh aku."
"Takut?" bentak Rayzan.
Namun, Rayzan segera menghindar dari tubuh wanita itu.
"Jangan sekali-kali kamu jadi jagoan di depanku. Malam ini juga aku bisa mengambil kehormatanmu."
Rayzan melepaskan sepatu futsalnya, lalu berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Nadira berusaha menahan emosinya. Napasnya memburu melihat kelakuan Rayzan malam ini.
Wanita itu menoleh ke arah pintu kamar mandi.
"Kamu main-main sama aku, ya? Kita lihat siapa yang akan sengsara dalam pernikahan ini."
Nadira mendekati kamar mandi. Beberapa detik kemudian, ia mengunci pintu dari luar agar Rayzan tidak bisa keluar.
Baru saja hendak berbalik badan, gagang pintu sudah bergerak.
"Dira!"
Nadira tertawa puas.
"Rasain kamu. Makanya jangan main-main sama aku."
"Buka, Dira!"
"Buka aja sendiri. Kamu akan mati kelaparan di kamar mandi ini."
"Buka!"
"Enggak. Kamu harus ingat, aku perempuan yang penuh dendam kepada keluarga kamu."
"Dira, buka!!!"
Rayzan terus-menerus menggedor pintu kamar mandi.
"Selamat malam, Rayzan. Aku mau tidur."
"Jangan sampai aku emosi, Dira! Kalau aku keluar, kamu akan menyesal."
"Berisik!!!"
Nadira mengambil earphone dan memasang musik sekeras mungkin agar tidak mendengar teriakan suaminya dari dalam kamar mandi.
[] [] []
Jam menunjukkan pukul setengah tujuh lewat. Nadira sedang sarapan pagi bersama keluarganya. Terlihat Merry sudah sibuk menyiapkan makanan untuk keluarga kecilnya.
"Dira, suami kamu mana?" tanya Eros.
"Istirahat, Pa. Kayaknya kecapekan."
Merry menatap putrinya sambil tersenyum. "Memangnya kalian ngapain kok sampai kecapekan?"
"Ya ... Tadi malam, kan, Rayzan main futsal sama Sultan. Ya pasti kecapekan, lah."
"Kak ... Kakak tahu, Bang Rayzan beda banget sama Bang Daulat."
Nadira mengunyah makanannya sambil mendengarkan perkataan adik laki-lakinya.
"Kakak harus bersyukur punya Bang Rayzan ... Kemarin di tempat futsal ada yang minta kenalan sama Bang Rayzan, tapi dia malah menunjukkan cincin pernikahannya."
Seketika Nadira menghentikan aktivitas makannya. Ia menunduk dan melihat jari manisnya yang terpasang cincin pernikahan.
"Kamu harus bersyukur, Dira. Mama juga bisa lihat, Rayzan memang beda dari Daulat."
"Betul ... Dari cara ngomongnya saja kelihatan. Beda sama Bang Daulat. Dia selalu membanggakan dirinya."
"Udah, ah ... Masih pagi malah bahas laki-laki nggak guna itu. Nanti dibilang lagi aku yang nggak bisa melupakan dia. Padahal kalian yang membahas sendiri."
"Pas banget, Ma ... Kakak emosian, Bang Rayzan pendiam dan penyabar."
"Pendiam apaan? Kasar gitu," lirih Nadira.
Ketiganya menatap Nadira sambil memperlihatkan senyum tipis.
Nadira menggelengkan kepalanya. Ia yakin orang-orang yang sedang bersamanya saat ini sudah salah memahami ucapannya tadi.