NovelToon NovelToon
Cuma Kamu

Cuma Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:751
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Sosok Papi Telah Kembali

Mobil sedan hitam Damian akhirnya berhenti di depan sebuah rumah bergaya modern minimalis yang megah. Cahaya lampu taman menyinari teras, menghangatkan malam yang mulai larut.

Saat pintu mobil terbuka, napas Zahira terasa sedikit berat. Ada rasa canggung dan trauma tersisa yang menggelayuti dadanya, mengingat berbagai kenangan pahit yang pernah ia lalui di balik pintu rumah tersebut.

Namun, saat jemari Damian menepuk lembut bahunya dengan penuh penyesalan, Zahira mencoba menguatkan hati.

Langkah kaki mereka di teras rumah disambut oleh suara langkah tergesa-gesa dari dalam. Pintu depan terbuka lebar, menampilkan sosok pemuda tampan yang memakai kacamata minus dengan dandanan rapi. Itu Vidi, adik kandung Zahira.

"Kak Zira!" pekik Vidi girang. Wajahnya yang semula tampak lelah langsung berbinar cerah.

Tanpa aba-aba, ia berlari mendekat dan langsung memeluk kakak sulungnya erat-erat. "Akhirnya Kakak kembali juga! Vidi kangen banget sama Kakak."

Zahira terkekeh pelan, melepaskan kerinduan yang membuncah sembari membalas pelukan hangat adiknya. "Kakak juga kangen sama kamu, Vidi. Gimana sekolahnya? Aman?"

"Aman dong, apalagi kalau Kak Zira udah di rumah lagi," ucap Vidi sumringah. Ia lalu menatap papinya dengan tatapan penuh rasa bangga dan lega.

Dalam hati, Vidi merasa sangat bersyukur. Ia yakin kali ini papinya benar-benar bertindak tegas dan siap menjadi pelindung utama di keluarga ini.

Vidi tahu betul bagaimana mami tirinya, Karlina, dan kakaknya, Bianka, kerap memperlakukan Zahira bak seorang pelayan saat Damian sedang bekerja. Kini, ada secercah harapan besar akan lahirnya keadilan di dalam rumah ini.

"Yuk masuk, Kak. Tas Kakak biar Vidi yang dibawain ke kamar," tawar Vidi semangat sembari merebut tas jinjing di tangan Zahira.

.

.

Di ruang makan, suasana tampak sedikit berbeda malam itu. Di atas meja kayu jati yang panjang, tersaji berbagai hidangan lezat yang aroma gurihnya menggugah selera.

Asap tipis masih membumbung dari salah satu mangkuk besar berisi opor ayam kecap makanan favorit Zahira sejak kecil yang sengaja Damian minta Mbok Jumi untuk memasaknya

Tak lama kemudian, langkah kaki berirama santai terdengar dari arah tangga. Karlina turun dengan gaun rumahan berbahan sutra yang tampak elegan, diikuti Bianka yang sibuk mengoleskan lip gloss di bibirnya sembari memegang ponsel keluaran terbaru.

Gaya hidup Bianka yang selalu ingin terlihat mewah dan glamor memang sangat kontras dengan kepribadian Zahira yang sederhana.

"Wah, wangi banget malam ini. Mbok Jumi masak apa sih kok kelihatannya banyak ba—" Langkah Karlina terhenti seketika di ambang ruang makan. Matanya melebar penuh rasa terkejut.

Di sudut meja, tepat di kursi yang biasa ia tempati dulu, Zahira sedang duduk tenang sembari menuangkan air putih ke dalam gelas Damian.

"Zahira?!" seru Karlina dengan nada suara yang sedikit melengking. Pandangannya langsung menyapu ke arah Damian dengan tatapan tak percaya. "Papi... kok dia ada di sini? Kenapa tiba-tiba pulang tanpa ngasih tahu Mami?"

Bianka yang berdiri di samping maminya ikut mendelik sinis. Tatapan matanya memancarkan rasa tidak suka yang amat sangat. Bibirnya mencebik.

"Iya nih, Papi. Kok nggak bilang-bilang sih kalau Kak Zira mau balik? Terus ini makanan sebanyak ini... opor ayam kecap segala... Cuma buat menyambut dia?"

Vidi yang duduk di sebelah Zahira langsung menyela dengan wajah datar. "Emangnya kenapa kalau Kak Zira pulang? Ini kan rumah Kak Zira juga, Rumah Papi. Lagian makanan ini Papi yang minta khusus buat Kak Zira."

"Kamu diam ya, Vidi! Mami nggak bicara sama kamu!" potong Karlina cepat dengan nada tinggi.

Ia kemudian melangkah mendekati meja makan, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap Zahira tajam. "Kamu sadar diri nggak sih, Ra? Kemarin pegi dan sekarang tiba-tiba balik berasa kayak ratu disambut pake pesta makan malam?"

"Cukup, Karlina!"

Suara Damian membahana, memotong kalimat pedas yang keluar dari mulut istrinya. Suasana ruang makan seketika hening mencekam.

Ini pertama kalinya Damian membentak Karlina di depan anak-anak dengan nada sedingin itu. Damian meletakkan sendoknya agak keras, lalu menatap Karlina dan Bianka bergantian dengan raut wajah tegas.

"Zahira ini anak sulung saya. Dia berhak ada di rumah ini kapan pun dia mau, dan tidak ada satu orang pun di rumah ini yang boleh mempertanyakan keberadaannya lagi!" tegas Damian tanpa ragu."Kamu sebagai ibu sabung seharunya bisa menerima dari dulu, bukan bersikap seperti ini."

Karlina terpaku, bibirnya terkunci rapat karena terkejut melihat perubahan sikap suaminya yang biasanya cenderung pasif dan menyerahkan urusan rumah tangga padanya.

Sementara itu, Bianka hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal, memilih duduk di kursi berseberangan dengan Zahira sembari menghentakkan kakinya.

Damian berdehem pelan, mencoba menetralkan suasana sebelum melanjutkan bicaranya. Matanya menatap Zahira dengan senyuman hangat.

"Oh ya, karena Zahira sudah lulus sarjana ekonomi dan punya pengalaman yang cukup, mulai besok Papi sudah memutuskan. Zahira akan mulai bekerja di perusahaan Papi. Papi menempatkan kamu di posisi Manajer Keuangan untuk proyek perumahan baru kita."

Brak!

Bianka meletakkan sendoknya hingga menimbulkan suara nyaring di atas piring porselen.

"Apa?! Manajer Keuangan?! Papi bercanda ya?!" protes Bianka histeris. "Papi, aku aja yang dari dulu pengen magang di perusahaan papi gak ditawarin posisi semenarik itu! Kenapa Kak Zira tiba-tiba dapet posisi enak banget? Langsung jadi Manajer?!"

Karlina pun tak mau kalah. Ia langsung menimpali dengan raut wajah penuh ketidaksetujuan.

"Betul kata Bianka, Papi! Ini nggak adil! Zahira itu baru lulus, belum ada pengalaman memimpin di perusahaan besar kita. Gimana kalau nanti laporan keuangannya berantakan? Apa kata relasi-relasi bisnis Papi kalau tahu anak Papi langsung dikasih posisi empuk tanpa merangkak dari bawah?"

Mendengar cecaran dari mami tiri dan adiknya, Zahira menghela napas panjang. Ia menatap Damian dengan lembut, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Papi... terima kasih banyak atas kepercayaan yang Papi berikan buat Zira," ucap Zahira dengan suara tenang namun terdengar sangat dewasa. "Tapi, Zira tidak menginginkan tawaran posisi Manajer itu."

Pernyataan Zahira seketika membuat semua orang di meja makan menoleh ke arahnya. Damian mengerutkan dahi heran. "Kenapa, Ra? Papi tahu kapasitas kamu. Kamu lulusan terbaik dan Papi yakin kamu mampu."

"Bukan masalah mampu atau nggaknya, Pi," jawab Zahira jujur. "Zira cuma mau bekerja sebagai karyawan biasa. Tempatkan Zira di posisi staf sesuai dengan latar belakang akademis Zira sebagai sarjana ekonomi. Zira mau mulai semuanya dari bawah, belajar tentang sistem perusahaan Papi secara bertahap."

Zahira jeda sejenak, melirik halus ke arah Karlina dan Bianka sebelum kembali menatap papinya. "Dan satu lagi permintaan Zira... Zira nggak ingin orang-orang di kantor tahu kalau Zira adalah putri dari Papi. Zira cuma mau dikenal sebagai orang biasa, staf biasa yang bekerja profesional tanpa ada embel-embel anak pemilik perusahaan."

Karlina terkekeh sinis, menyunggingkan senyum meremehkan mendengar ucapan Zahira.

"Baguslah kalau kamu sadar diri, Ra. Berpikir realistis itu memang penting daripada memaksakan diri di posisi tinggi tapi ujung-ujungnya cuma bikin malu Papi."

"Iya, lagian cocok kok," cibir Bianka penuh nada ejekan. "Muka dan gaya Kak Zira emang lebih cocok jadi staf biasa yang desak-desakan naik angkutan umum ketimbang jadi manajer. Ya... setidaknya Kak Zira tahu diri di mana posisinya yang sebenarnya di keluarga dan di kantor nanti."

Kalimat sinis dari Bianka membuat dada Vidi memanas. Namun, sebelum Vidi sempat membalas ucapan adiknya itu, Damian sudah lebih dulu mengetukkan tangannya ke meja dengan raut wajah yang membeku marah.

"Jagalah ucapan kalian, Karlina, Bianka!" tegur Damian dingin dan menekan. Matanya memancarkan ketegasan yang tak tertahankan.

"Sikap rendah hati Zahira itu adalah bukti kebesaran jiwanya, bukan alasan untuk kalian rendahkan! Jangan pernah saya dengar lagi kata-kata sinis seperti itu keluar dari mulut kalian berdua!"

Damian lalu beralih menatap Zahira dengan rasa bangga sekaligus haru yang membuncah di dadanya. Pemikiran putri sulungnya begitu matang dan dewasa, sangat jauh berbeda dengan Bianka yang hanya mementingkan gengsi dan kemewahan.

"Baiklah, Ra," ujar Damian akhirnya melunak dan menyetujui keputusan putrinya. "Kalau itu memang permintaan kamu agar kamu merasa nyaman bekerja, Papi hargai dan Papi setujui. Kamu akan mulai besok sebagai Staf Keuangan. Tapi ingat, kalau ada siapapun di kantor atau di rumah ini yang bersikap tidak adil padamu, kamu harus bicara sama Papi."

Zahira tersenyum tulus, merasa sangat dihargai dan dilindungi. "Terima kasih banyak, Papi."

Di sampingnya, Vidi tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Senyum lebar mengembang sempurna di wajah pemuda itu.

Melihat papinya kini berdiri pasang badan membela Zahira dan menindak tegas sikap mami serta adiknya yang semena-mena, ada kehangatan luar biasa yang merayapi hatinya.

Malam itu, di bawah pendar lampu ruang makan yang hangat, Vidi tahu bahwa roda kehidupan di rumah mereka mulai berputar ke arah yang benar.

Masa-masa di mana Zahira selalu dipojokkan dan mengalah dalam diam kini telah berakhir. Kepulangan Zahira bukan lagi awal dari penderitaan baru, melainkan awal dari keadilan yang akhirnya berpihak padanya.

1
sunaryati jarum
Semoga lulus dengan nilai sempurna dengan predikat Cumlaude, Zahira
fazry_fazriyah: aamiin....

terima kasih doakan selalu Zahira ya
total 1 replies
Best
apa sih si Imelda ini, jahat
Best
Mampir lagi Thor. semangat up ceritanya...✨
Best
lanjut Thor... semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!