Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Pukul enam pagi. Udara dingin perbukitan masih menyelimuti kompleks markas utama klan Argantara ketika Aria melangkah masuk ke dalam ruang latihan fisik yang luas di sayap timur bangunan. Ruangan bernuansa maskulin itu didominasi lantai matras busa tebal berserat karbon, jajaran samsak gantung, serta ring pertarungan tanpa pagar.
Aria mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna hitam polos—celana legging kompresi dan atasan lengan panjang berteknologi serap keringat—dengan rambut hitamnya yang diikat tinggi menjadi ekor kuda yang rapi. Meski fokus utamanya adalah peretasan dan manipulasi siber, Aria tidak pernah mengabaikan pertahanan fisiknya. Di dunia bawah yang kejam, tubuh yang tangkas adalah benteng pertahanan terakhir ketika teknologi gagal.
Aria melangkah ke sudut ruangan, melilitkan kain perban pelindung pada kedua buku-buku jarinya. Namun, suara langkah kaki yang berat dan teratur di atas matras membuat gerakan tangannya terhenti sejenak.
Devan Argantara melangkah masuk. Pria itu mengenakan kaus olahraga hitam tanpa lengan yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang tegap, kokoh, dan dihiasi beberapa luka parut tipis bekas pertempuran masa lalu. Keringat tipis sudah membasahi lehernya, menandakan ia baru saja menyelesaikan sesi latihan beban di ruangan sebelah.
"Latihan sepagi ini, Little Bird?" suara Devan berat dan rendah, memecah kesunyian ruangan.
Aria melanjutkan lilitan kain perbannya tanpa berpaling. "Tubuh yang kaku cuma bakal bikin aku jadi sasaran empuk saat timmu beraksi di Kasino Royale. Aku tidak suka jadi beban."
Devan menyunggingkan senyum tipis. Ia berjalan mendekati ring matras utama, menyambar sepasang sarung tinju latihan, lalu melemparnya tepat ke arah kaki Aria.
"Kalau begitu, mari kita lihat seberapa tangguh dirimu dalam pertarungan jarak dekat," tantang Devan sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. "Seseorang yang berani menancapkan pena titanium ke meja hanya sejarak satu milimeter dari jari bawasanku harus punya kemampuan bertarung yang sepadan."
Aria melirik sarung tinju di dekat kakinya, lalu menatap Devan dengan alis terangkat. "Kamu mau bertarung denganku?"
"Cuma uji ketangkasan refleks," balas Devan santai, melangkah naik ke atas matras. "Kecuali kalau kamu takut babak belur di tangan bos mafiamu sendiri."
Aria menyergitkan dahi. Nada meremehkan yang tersirat halus dalam suara Devan berhasil menyenggol harga diri wanita itu. Tanpa membuang waktu untuk memakai sarung tinju, Aria menyimpulkan ikatan perbannya, melompati pembatas matras, dan berdiri tepat di tengah ring dalam posisi siaga.
"Jangan menangis kalau wajah tampanmu tergores, Devan," desis Aria dingin, menurunkan pusat gravitasi tubuhnya.
Devan terkekeh rendah. "Coba saja kalau bisa."
SZZZT!
Tanpa memberi aba-aba tambahan, Aria meluncur maju dengan kecepatan yang mengagumkan. Tubuhnya yang fleksibel bergerak lincah, melancarkan serangan kombinasi dua pukulan lurus yang mengincar rahang Devan.
TAP! TAP!
Devan menangkis kedua pukulan itu dengan telapak tangannya dengan mudah, memanfaatkan perbedaan jangkauan lengan dan bobot tubuh mereka. Namun, Aria tidak mengincar rahang sejak awal. Saat Devan mengangkat tangannya untuk menangkis, Aria merendahkan tubuhnya secara drastis, menyapu kaki kanan Devan dengan tendangan memutar yang kuat!
Devan tersentak kaget. Refleks bertarungnya yang teruji dalam ribuan pertempuran membuat pria itu melompat kecil menghindari sapuan kaki Aria, lalu bergerak mundur satu langkah.
"Tidak buruk," puji Devan, mata kelamnya kini memancarkan kilatan ketertarikan yang nyata. "Kecepatanmu luar biasa."
"Aku belum selesai," balas Aria.
Aria kembali menerjang maju. Kali ini ia memadukan seni bela diri jarak dekat dan gaya pertarungan jalanan yang tidak terprediksi. Ia melancarkan sikutnya ke arah dada Devan, disusul tendangan lutut yang mengincar rusuk. Devan dipaksa bergerak mundur seraya terus menangkis setiap serangan lincah wanita itu.
Suara benturan antara kain olahraga dan telapak tangan bergema berulang kali di ruangan yang sunyi. Kulit mereka yang sesekali bergesekan memancarkan hawa panas. Gesekan fisik yang intens itu memicu aliran adrenalin yang menderu deras di dalam darah keduanya.
Jengkel karena semua serangannya berhasil ditahan oleh benteng pertahanan Devan yang terlalu kokoh, Aria nekat mengambil risiko. Ia melompat, memanfaatkan bahu Devan sebagai tumpuan untuk mengunci leher pria itu dengan kedua kakinya dari samping—sebuah gerakan prap-down taktis untuk menjatuhkan lawan yang jauh lebih besar.
Namun, Devan sudah mengantisipasi gerakan nekat itu.
Sebelum Aria sempat menyempurnakan jepitan kakinya di leher Devan, lengan kekar pria itu bergerak secepat kilat. Devan mencengkeram pinggang Aria dengan kedua tangannya, menahan bobot tubuh wanita itu di udara, lalu memutarkan tubuh mereka dan menghempaskan Aria secara terkontrol ke atas matras tebal!
DUB!
Matras empuk itu menahan dampak benturan, namun hempasan tersebut cukup membuat napas Aria tertahan sejenak. Sebelum Aria sempat berguling untuk bangkit, Devan sudah bergerak cepat menguncinya.
Devan menindih tubuh Aria dari atas, mengunci kedua pergelangan tangan wanita itu rapat-rapt di atas kepalanya dengan satu genggaman tangannya yang besar. Kaki Devan yang panjang mengapit paha Aria, mematikan seluruh ruang gerak tubuh bawah wanita itu secara mutlak.
"Selesai, Little Bird," bisik Devan, suaranya terengah-engah lembut tepat di atas wajah Aria.
Aria mencoba menghentakkan tubuhnya untuk lepas, namun cengkeraman Devan bagaikan rantai besi yang mustahil digoyahkan. Napas mereka berdua memburu, naik turun secara intens dalam jarak yang teramat dekat.
Hanya ada jarak beberapa sentimeter di antara wajah mereka. Aria bisa merasakan embusan napas hangat Devan yang beraroma mint dan campuran keringat maskulin menyapu kulit pipinya. Mata kelam Devan mengunci pandangan Aria dengan intensitas yang mendalam dan protektif, sementara mata Aria memancarkan keteguhan yang pantang menyerah meski terdesak.
Suhu di sekitar mereka terasa melonjak drastis. Gesekan fisik, kelelahan otot, dan posisi tubuh mereka yang terikat dalam penguncian ketat menciptakan ketegangan magnetis yang aneh—sebuah chemistry yang liar dan tidak tertahankan yang timbul dari akumulasi kejengkelan serta rasa saling menghargai kemampuan masing-masing.
Dada Devan yang tegap menempel erat pada dada Aria yang naik turun menata napas. Tatapan mata Devan perlahan turun, menatap bibir Aria yang sedikit terbuka dan memerah akibat napas yang memburu, sebelum kembali mengunci matanya.
"Lepaskan aku, Devan," desis Aria pelan, suaranya sedikit serak namun tetap tajam.
"Kenapa?" bisik Devan dengan suara rendah yang begitu dalam, jari-jarinya di pergelangan tangan Aria mengusap kulit halus wanita itu tanpa sadar. "Kamu belum menyerah, kan?"
"Aku tidak pernah menyerah," balas Aria, menyipitkan matanya rapat-rapt. "Tapi posisi ini tidak ada dalam skenario latihan."
Ukiran senyum tipis yang memikat muncul di bibir Devan. Pria itu mencondongkan wajahnya sedikit lebih dekat, hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Aura dominasinya yang hangat mengurung kesadaran Aria sepenuhnya, membuat jantung wanita itu berdegup kencang secara tak terkendali di dalam dadanya.
"Mungkin kita harus sering melakukan latihan seperti ini," ujar Devan pelan, nada suaranya sarat akan godaan yang berbahaya. "Supaya kamu tahu rasanya berada di bawah kendaliku."
Aria menyunggingkan senyum sinis. Tanpa diperkirakan Devan, Aria memanfaatkan fokus pria itu yang terbagi untuk menggerakkan kepalanya ke depan secara mendadak—menanduk dahi Devan dengan cukup keras!
THUD!
"Ugh!" Devan meringis kaget, pegangan tangannya di pergelangan Aria mengendur seketika saat ia menarik kepalanya ke belakang secara refleks.
Tak membuang kesempatan emas itu satu milidetik pun, Aria menggunakan kakinya untuk mengait pinggul Devan, membalikkan posisi mereka dalam satu gerakan berguling yang cepat!
FLIP!
Kini giliran Aria yang berada di atas tubuh Devan. Aria menduduki perut tegap Devan, mencengkeram kerah kaus pria itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengepal siap melayangkan pukulan ke rahang sang bos mafia.
Napas Aria terengah-engah, rambut hitamnya yang lepas dari ikatan terurai berantakan menutupi sebagian wajah cantiknya. Mata gelapnya berkilat-kilat penuh kemenangan dan kejengkelan yang membara.
Devan berbaring di atas matras, menyandarkan kepalanya sembari mengelus dahinya yang sedikit memerah. Namun, alih-alih marah karena ditanduk dan dibalikkan posisinya, Devan justru meledakkan tawa rendah yang renyah—sebuah tawa jujur yang sangat jarang terdengar dari bibir pria dingin tersebut.
"Taktik yang kotor, Aria," kata Devan sembari menatap wanita yang menduduki tubuhnya itu dengan binar kagum yang tak tertutup lagi.
"Di dunia nyata tidak ada aturan bersih, Devan," pungkasi Aria datar, menahan napasnya untuk menguasai kembali detak jantungnya yang masih tidak beraturan akibat posisi mereka yang tetap teramat dekat. "Aku menang."
"Kamu cuma menang karena aku tidak tega mematahkan lehermu," goda Devan dengan kilatan mata yang jahil.
Aria mendengus jengkel, melepaskan kerah kaus Devan lalu berdiri anggun di atas matras. Ia merapikan pakaian olahraganya yang agak kusut dan menyapu rambutnya ke belakang dengan jemarinya.
"Sesi latihan selesai," kata Aria kaku, berbalik dan melangkah menuju pembatas ring. "Aku mau mandi dan melanjutkan analisis simulasi."
Devan perlahan bangkit menduduki matras, menumpukan kedua tangannya di atas lutut sembari memperhatikan punggung Aria yang melangkah menjauh. Ketegangan yang terjadi di antara mereka di atas matras tadi meninggalkan jejak yang membekas kuat di dalam benaknya.
"Aria," panggil Devan sebelum wanita itu menyentuh gagang pintu keluar.
Aria menghentikan langkahnya, menoleh sedikit tanpa membalikkan badan penuh. "Apa lagi?"
Devan berdiri, menatap wanita itu dengan ketenangan mutlak yang kembali membungkus dirinya. "Tim lapangan siap untuk simulasi gabungan pertama malam ini. Pastikan otakmu sesiap tubuhmu."
Aria menyunggingkan senyum tipis yang sarat tantangan. "Khawatirkan saja anak buahmu, Devan. Otakku tidak pernah meleset."
Pintu ruang latihan tertutup rapat di belakang Aria.
Aria menyandarkan punggungnya di dinding koridor luar yang dingin, memegang dadanya yang masih berdetak liar. Gesekan fisik di atas matras tadi bukan sekadar pertarungan ketangkasan, melainkan sebuah percikan bahaya yang membuktikan bahwa benteng pertahanan emosional yang ia bangun dengan susah payah perlahan mulai goyah di hadapan Devan Argantara.