Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PENGAKUAN YANG TAK TERDUGA
Pagi harinya, sinar matahari hangat bertahap menerobos masuk melalui celah gorden tebal di kamar utama vila perbukitan. Kamilah terbangun perlahan saat terdengar dering nyaring yang berulang-ulang dari ponselnya yang tergeletak tepat di samping bantal. Dengan mata yang masih terasa berat dan tubuh yang lelah, ia mengulurkan tangan meraih ponsel tersebut, lalu melihat nama Kakek Ye tertera jelas di layarnya.
Kamilah segera mengubah posisinya menjadi duduk di tepi tempat tidur, menepuk-nepuk pipinya sebentar demi menetralkan suaranya agar tidak terdengar seperti baru terbangun dari tidur. Ia mengusap layar untuk menerima panggilan itu.
"Halo... Sudah bangun, Kamilah?" suara serak dan berat khas Kakek Ye terdengar dari seberang sambungan telepon.
"Aku sudah bangun, Kakek," jawab Kamilah berusaha terdengar segar. "Bagaimana kondisi kesehatan Kakek pagi ini di rumah sakit? Apa dadanya masih terasa sesak?"
"Kakek sudah jauh lebih baik dari kemarin," jawab Kakek Ye dengan nada lembut yang menenangkan. Pria tua itu kemudian melanjutkan maksud utamanya menelpon. "Oh iya, kemarin kamu lupa menambahkan kontak Ikram Pratama ke ponselmu, ya? Anak itu tadi pagi-pagi sekali menelepon Kakek. Dia bilang ingin mengajakmu jalan-jalan menonton konser musik akhir pekan ini dan bahkan dia sudah membelikan dua tiket untuk kalian berdua. Nanti Kakek minta asisten untuk mengirimkan nomor kontaknya kepadamu lewat pesan, ya?"
Kamilah menghela napas pelan, mengusap dahinya yang terasa agak pening. "Baik, aku mengerti, Kakek."
"Baguslah kalau begitu. Ingat, jaga dirimu baik-baik selama menginap di rumah Elisa," pesan Kakek Ye memperingatkan sebelum akhirnya menyudahi panggilan tersebut.
TUT... TUT... TUT...
Panggilan terputus. Kamilah mematikan layar ponselnya yang perlahan meredup. Ia terduduk terpaku di tepi kasur busa yang empuk itu, pikirannya berkecamuk membayangkan rencana perjodohan formal dengan Ikram Pratama yang kian dekat.
Meskipun kalau dilihat dari sekilas gaya bicara dan pembawaannya, Ikram Pratama itu memang terasa cukup mirip dengan Ayah... tapi aku tidak boleh menghakimi seseorang secara sepihak, batin Kamilah berusaha bersikap rasional dan adil. Tidak semua pria berpenampilan manis di dunia ini bisa disamakan begitu saja. Belum tentu Ikram akan tega berselingkuh dan mengkhianati keluarganya seperti yang dilakukan oleh Ayah dulu. Lagi pula, dia adalah pria pilihan yang sangat disukai dan dipercayai oleh Kakek. Tidak ada salahnya kalau aku mencoba untuk membuka diri dan mengenalnya lebih jauh terlebih dahulu.
Setelah memantapkan keputusannya, Kamilah segera bangkit dan bersiap-siap di dalam kamar mandi. Begitu merapikan pakaian dan penampilannya seadanya, ia memberanikan diri memutar gagang pintu kamar, melangkah keluar menyusuri lorong dan turun menuju lantai dasar vila yang sunyi.
Langkah kaki Kamilah terhenti seketika saat aroma harum masakan sarapan pagi menyengat penciumannya dari arah ruang makan terbuka. Di sana, tampak Rizky Syah yang sudah tampil sangat rapi dan maskulin dengan kemeja kasual warna gelap, sedang duduk tenang menikmati secangkir kopi hitam dan sarapan paginya.
Rizky menoleh saat mendengar bunyi ketukan langkah kaki Kamilah di atas lantai marmer, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang teramat menawan. "Ayo duduk, kita makan bersama dulu."
Kamilah merasa sedikit canggung dan enggan, namun bunyi ketukan dari perutnya yang kosong sejak semalam membuat tubuhnya bertindak sendiri. "Baik," sahut Kamilah pelan. Ia menarik salah satu kursi kayu berukir tepat di seberang Rizky, lalu duduk dengan canggung.
Atmosfer di meja makan yang mewah itu mendadak terasa begitu hening dan sarat akan ketegangan yang tersembunyi. Kamilah menggenggam sendoknya erat-erat, matanya berulang kali mencuri pandang ke arah wajah tegas pria perkasa di hadapannya yang tampak sangat tenang.
"Soal... kejadian yang terjadi kemarin malam..." Kamilah akhirnya memberanikan diri membuka suara, memecah keheningan di antara mereka. "Bisakah kamu menganggap hal itu tidak pernah terjadi sama sekali di antara kita?"
Rizky mengunyah makanannya dengan sangat tenang tanpa menghentikan gerakannya sedikit pun. "Malam yang mana yang kamu maksud?"
Kamilah memutar bola matanya kesal, rasa jengkelnya langsung memuncak. "Jangan pura-pura lupa dan bertingkah amnesia, Rizky Syah!"
Mari kita selesaikan masalah salah kamar ini sekaligus hari ini juga, biar ke depannya tidak ada lagi masalah atau kesalahpahaman yang mengganggu kehidupanku, tegas Kamilah di dalam hatinya yang berkobar.
Kamilah berdehem pelan, mencoba menekan nada suaranya agar tetap terdengar sehalus dan sesopan mungkin. "Waktu malam itu... aku ini benar-benar salah mengenali orang. Maafkan aku atas kecerobohanku, ya?" cecar Kamilah bertubi-tubi. "Kita berdua ini kan sudah sama-sama dewasa dan bijaksana... jadi anggap saja malam itu tidak pernah ada apa-apa yang terjadi di antara kita. Bisa, kan?"
Rizky meletakkan sendok dan garpunya secara perlahan di atas piring porselen, mengusap bibirnya dengan tisu dengan gerakan yang sangat elegan, lalu mendongak menatap langsung ke dalam manik mata Kamilah. "Anggap tidak pernah terjadi apa-apa?"
Kamilah mengangguk antusias dengan mata berbinar penuh harapan, menyunggingkan senyum manis yang sengaja ia paksakan.
"Jawabannya adalah tidak bisa," ujar Rizky dengan nada dingin, santai, dan tanpa beban.
Senyuman manis yang sempat terukir di wajah Kamilah seketika membeku kaku. "Kenapa tidak bisa?! Kenapa kamu harus sesulit ini?!"
"Aku memang merasa tidak punya banyak kelebihan sebagai seorang pria..." ujar Rizky dengan raut wajah polos yang sengaja dibuat-buat, "...hanya saja, daya ingatku ini sangat bagus. Aku masih ingat betul malam itu kamu dengan sangat percaya diri bilang kalau otot dadaku sangat besar. Meskipun apa yang kamu katakan itu memang fakta yang tak terbantahkan... tapi jujur saja, aku merasa sangat malu."
Kamilah membelalakkan matanya lebar-lebar, pipinya langsung memerah padam sampai ke ujung telinga akibat perkataan blak-blakan yang keluar dari mulut pria itu.
"Tuan Rizky Syah yang sangat terhormat!" seru Kamilah sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan gerakan memohon yang amat sangat. "Aku tahu kamu ini pria yang sangat berpengaruh, kaya raya, dan berkuasa di Kota Jakarta! Kamu bisa mendapatkan ratusan wanita cantik mana pun yang kamu inginkan hanya dengan melambaikan tanganmu saja! Tapi aku... aku ini benar-benar punya jalan hidup dan urusanku sendiri. Anggap saja aku ini wanita yang tidak tahu diri dan tidak pantas untukmu, bisa kan?"
Mendengar permohonan pasrah dari mulut Kamilah, raut santai dan godaan di wajah Rizky mendadak lenyap tanpa bekas. Wajah tampannya berganti dengan sorot mata yang teramat tajam, dalam, dan dipenuhi aura intimidasi yang pekat.
"Pertama, aku tidak pernah mempermainkan perasaan wanita mana pun," tegur Rizky dengan suara beratnya yang bergetar menekan udara di ruangan itu. "Kedua... aku menyukaimu bukan karena menganggapmu sekadar menarik lalu memberimu perhatian tanpa alasan. Lagi pula, di antara kita berdua, posisi kita ini setara. Kamu tidak perlu berbicara merendah atau memohon seperti itu di hadapanku."
Kamilah mengelus dadanya yang terasa makin sesak, merasa pusing dan frustrasi menghadapi keras kepalanya pria di hadapannya ini.
Aduh, kenapa sih sulit sekali berbicara logis dengan orang ini?! Kenapa dia bisa sekeras kepala ini?! ngedumel Kamilah frustrasi di dalam benaknya sendiri.
Mencari celah lain yang sekiranya sanggup menyadarkan pria itu dari obsesinya, Kamilah mendadak teringat pada sebuah berita wawancara eksklusif beberapa bulan lalu yang sempat menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan pengusaha.
"Aku ingat dalam sebuah wawancara eksklusif di televisi nasional sebelumnya..." kata Kamilah sambil menatap Rizky dengan pandangan menuduh, "...kamu pernah secara terbuka menjawab pertanyaan wartawan bahwa ada seorang wanita bermarga Ye yang sangat kamu cintai sejak lama, tetapi wanita itu tidak bisa kamu dapatkan!"
Kamilah menyilangkan kedua tangannya di dada dengan senyum kemenangan yang mengembang di bibirnya. "Jadi stop berpura-pura menyukaiku, Tuan Rizky! Karena sudah sangat jelas bahwa ada wanita lain bermarga Ye yang bertengsem di dalam hatimu selama ini!"
Mendengar penuturan polos namun penuh percaya diri dari Kamilah yang malah salah paham mengenai sosok wanita tersebut, Rizky Syah mendadak terpaku diam di tempat duduknya. Pria perkasa itu tertegun, sorot matanya bergetar hebat untuk sepersekian detik.
Kapan dia akhirnya akan menyadari... bahwa perasaan yang kubicarakan di wawancara itu sebenarnya adalah tentang dirinya sendiri sejak awal? batin Rizky Syah tertegun, menatap Kamilah dengan tatapan yang sulit diartikan.