Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Kontrak Penenun Darah
Tubuh Mo Xie telah berubah menjadi medan pertarungan dua kekuatan buas.
Di lengan kirinya, sisa kehendak Iblis Harimau Kegelapan mengaum dengan Qi hitam yang haus akan dominasi. Sementara itu, Tulang Ular Naga Bumi di sepanjang punggungnya melepaskan kekuatan liar yang menolak tunduk.
Kedua kekuatan itu bertabrakan di bahu kirinya.
Boom!
Gelombang Qi Yin meledak dari dalam tubuh Mo Xie. Otot dan meridiannya terkoyak satu demi satu.
Kulitnya retak. Cahaya merah gelap dan ungu memancar dari celah-celah luka. Pembuluh darah di leher dan pelipisnya menonjol, lalu pecah. Kabut darah bercampur Racun Yin menyelimuti tubuhnya.
Mo Xie menggeliat di atas lumpur. Tangan kanannya mencengkeram batu hingga kuku-kukunya patah. Cakar obsidian di tangan kirinya menancap ke tanah, membuat permukaan jurang bergetar.
Ia memuntahkan darah hitam bercampur serpihan organ dalam.
Dantian-nya yang telah retak berada di ambang kehancuran.
Seni Penempaan Tulang Surgawi memang memberinya cara untuk menempa tubuh dengan tulang makhluk kuat. Namun, seni itu tidak pernah mengatakan bagaimana tubuh fana mampu menahan dua kekuatan buas sekaligus.
Kematian yang sempat ia tinggalkan kini kembali datang.
Kali ini, kematian itu berasal dari dalam tubuhnya sendiri.
Ketika pandangan Mo Xie mulai menggelap, aroma aneh tiba-tiba menyusup ke udara.
Harum bunga teratai.
Namun di balik keharuman itu terdapat bau darah yang samar.
Dari kegelapan tebing, seorang wanita berjubah merah turun perlahan. Kakinya yang telanjang menginjak udara seolah ada tangga tak kasatmata di bawahnya.
Xue Ling'er.
Ia mendarat di atas lumpur tanpa setitik kotoran pun menyentuh jubahnya.
Matanya yang jernih dan dingin menatap Mo Xie.
"Sungguh berani."
Suaranya lembut, tetapi terdengar tajam di tengah kesunyian jurang.
"Atau mungkin kau hanya putus asa."
Xue Ling'er melangkah mendekat.
"Kau merobek tubuhmu sendiri lalu memasukkan tulang makhluk buas ke dalamnya. Menentang kehendak langit memang menarik, tetapi caramu terlalu kasar."
Mo Xie memutar kepalanya dengan susah payah.
Ia tidak mampu menjawab. Rahangnya terkunci menahan rasa sakit yang menembus hingga sumsum. Namun sorot matanya tetap tajam.
Ia tidak akan meminta belas kasihan.
Xue Ling'er berhenti di hadapannya. Ujung jubah merahnya menyapu bangkai Ular Naga Bumi.
Ia mengangkat tangannya.
Sepuluh benang merah muncul dari ujung jarinya. Benang itu terbentuk dari esensi darah dan menari di udara seperti ular kecil.
"Kerangkamu cukup kuat untuk menentang langit," katanya. "Sayangnya, kau tidak tahu cara merajutnya."
Senyum tipis muncul di bibirnya.
"Aku memiliki benang darah yang mampu menyatukan tubuh dan menundukkan Qi yang mengamuk. Tetapi tubuhku sendiri tidak cukup kuat untuk menanggungnya."
Tatapan Xue Ling'er jatuh pada Mo Xie.
"Sedangkan tubuhmu terus menempa dirinya sendiri."
Mo Xie memuntahkan darah.
"Apa... maumu?"
"Aku akan membantumu mengendalikan dua kekuatan di dalam tubuhmu dan menyatukan kembali Dantian-mu."
Xue Ling'er mengulurkan satu jari.
"Sebagai gantinya, tubuhmu akan menjadi tempat bernaung bagi benang darahku."
Ia tersenyum.
"Jika aku mati, benang itu akan menghancurkan jantungmu."
Mata Mo Xie menyipit.
"Maksudmu... Kontrak darah?"
"Benar."
Xue Ling'er menatapnya lurus.
"Jika kau ingin hidup dan kembali ke Surga Sembilan Lapis, terimalah."
Bagi seorang kultivator, menyerahkan sebagian nyawa kepada wanita iblis yang tidak dikenal sama saja dengan menyerahkan leher sendiri.
Namun Mo Xie tidak peduli.
Selama ia masih memiliki kesempatan untuk kembali dan meremukkan leher Ketua Tertinggi, bahkan menyerahkan nyawa kepada iblis pun bukan harga yang terlalu mahal.
"Lakukan." Suaranya serak. "Jahit tubuhku."
Senyum Xue Ling'er melebar. "Kalau begitu, tahan rasa sakitnya."
Ia mengibaskan tangannya.
Sepuluh benang darah melesat seperti kilat.
Benang itu menembus pori-pori Mo Xie dan masuk jauh ke dalam tubuhnya.
Tubuh Mo Xie langsung melengkung.
Rasa sakit yang datang hampir menyamai saat Tulang Dao Bawaan dicabut dari tubuhnya.
Benang darah bergerak menembus meridian, mencari titik tempat Qi Harimau Kegelapan dan kekuatan Naga Bumi saling bertabrakan.
"Jangan melawanku!" Suara Xue Ling'er terdengar lebih tegas.
Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Ini bukan ilmu penyembuhan biasa. Ia menggunakan kekuatan Yin murni untuk menundukkan dua Qi buas secara paksa.
Di dalam tubuh Mo Xie, benang darah mengikat kedua kekuatan itu seperti rantai.
Satu demi satu otot yang robek disatukan.
Meridian yang putus dirajut kembali.
Xue Ling'er mengarahkan Qi Harimau Kegelapan dan kekuatan Naga Bumi ke dua jalur berbeda. Keduanya mengitari Dantian yang hancur tanpa saling bertabrakan.
Setiap kali salah satu kekuatan mencoba menerobos batas, benang darah langsung mengikatnya kembali.
Mo Xie menggigit bibir hingga darah mengalir.
Ia dapat merasakan setiap tarikan benang di dalam tubuhnya.
Sakit.
Namun ia tidak berteriak.
Ia hanya bertahan.
Perlahan, cahaya merah dan ungu yang menyala di bawah kulitnya mulai meredup.
Tubuhnya berhenti bergetar.
Qi yang sebelumnya mengamuk kini bergerak dengan ritme berat dan stabil.
Dantian yang hampir hancur juga perlahan kembali tenang.
Xue Ling'er menarik tangannya.
Sepuluh benang darah terputus dari jemarinya dan menghilang ke dalam tubuh Mo Xie.
Ia mundur setengah langkah.
Wajahnya tampak pucat karena kehilangan banyak esensi darah.
Namun kepuasan terpancar jelas dari matanya.
Mo Xie berlutut dengan satu kaki. Cakar obsidian kirinya menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki Jurang Sembilan Kegelapan, Racun Yin tidak lagi terasa seperti racun yang menggerogoti tubuhnya.
Tubuhnya telah berubah.
Lebih kuat, lebih keras, dan jauh lebih mengerikan.
Ia juga dapat merasakan benang darah Xue Ling'er berdenyut di dalam tubuhnya, selaras dengan detak jantung wanita itu.
"Mulai sekarang," kata Xue Ling'er, "nyawa kamu dan aku terikat."
Ia menyeka keringat di dagunya.
"Namaku Xue Ling'er. Jangan mati sebelum aku mengizinkannya."
Mo Xie perlahan mengangkat kepalanya. Aura kematian yang pekat menyelimuti tubuhnya.
Di dalam mata hitamnya muncul lingkaran merah samar.
Tanda kontrak darah.
Ia mengepalkan tangan kirinya.
Cakar obsidian itu bergetar pelan. Kekuatan Harimau Kegelapan dan Naga Bumi kini tidak lagi saling menghancurkan.
Keduanya telah menemukan keseimbangan.
Namun sebelum Mo Xie sempat berkata apa-apa...
Shua!
Desingan tajam membelah kesunyian Jurang Sembilan Kegelapan.
Langit gelap di atas mereka tiba-tiba terbelah.
Lapisan Racun Yin yang tebal tersibak. Tiga cahaya pedang keemasan menembus kabut dan melesat turun seperti meteor.
Aura Yang murni memenuhi jurang. Niat pedang yang arogan menekan dari atas.
Xue Ling'er mengangkat kepalanya.
Jubah merahnya berkibar diterpa tekanan Qi pedang.
"Anjing pemburu sekte lurus, kenapa mereka berani memasuki Jurang Sembilan Kegelapan." Tatapannya menjadi dingin.
"Mereka pasti merasakan gejolak Qi yang aneh dari tubuhmu."
Tiga cahaya pedang menancap di tebing tak jauh dari mereka.
Tiga sosok berjubah putih muncul.
Di dada mereka terukir lambang awan emas milik Istana Dao Surgawi.
Mo Xie perlahan berdiri.
Tulang Naga Bumi di punggungnya membuat tubuhnya tegak seperti pemangsa yang siap menerkam.
Cakar obsidian di tangan kirinya bergesekan.
Krakk!
Bunga api hitam berpercik di antara cakarnya.
Ia menatap ketiga kultivator itu, lalu tersenyum.
Senyum yang dipenuhi haus darah.
"Sempurna." Suara Mo Xie rendah dan serak. "Aku baru saja mencari tulang yang cukup kuat untuk menempa tubuhku."
Tatapannya tertuju pada ketiga kultivator dari Istana Dao Surgawi.
"Tak kusangka kalian datang sendiri." Ia mengangkat cakar kirinya. "Sepertinya langit memang ingin membantuku."