Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Kekacauan Klan Siluman
Bab 13 — Kekacauan Klan Siluman
Sejak perintah dari Yin Shuang diturunkan, pasukan Serigala Perak langsung bergerak cepat. Mereka menyebar luas, menyusup hampir ke seluruh pelosok wilayah siluman tanpa terkecuali.
Mulai dari lebatnya hutan, terjalnya pegunungan, dalamnya lembah, hingga menyisir wilayah perbatasan yang berbatasan langsung dengan klan-klan lain.
Mereka bergerak dengan satu tujuan pasti: mencari seorang wanita.
Sosok asing yang wajahnya hanya mereka kenali lewat selembar lukisan.
Namun, semakin jauh dan luas pencarian itu dilakukan, klan-klan siluman lain mulai mencium kejanggalan.
Pasukan Serigala Perak bukanlah jenis klan yang biasa mengerahkan armada sebesar ini hanya demi memburu satu orang.
"Kenapa orang-orang Serigala Perak sampai masuk ke wilayah kita?" bisik salah satu siluman di tengah kegelapan hutan.
"Entahlah."
"Kabar burungnya, mereka sedang berburu siluman baru."
"Siluman baru?"
"Begitu desas-desusnya."
Kabar itu berembus cepat, menggelinding dari satu wilayah ke wilayah lain.
Dan seperti yang selalu terjadi di dunia siluman, sesuatu yang berbau misterius selalu menyebar jauh lebih cepat dan liar ketimbang kebenaran yang sesungguhnya
Klan Beruang Hitam
Di wilayah pegunungan batu yang luas dan gersang, Klan Beruang Hitam biasanya hidup dalam ketenangan yang mutlak. Mereka adalah kawanan yang dikenal kuat, arogan, dan paling malas mencampuri urusan domestik klan lain.
Selama batas wilayah mereka tidak diusik, mereka tidak akan peduli dengan apa pun yang terjadi di luar sana.
Namun, hari ini suasananya berbeda.
Seorang siluman beruang tampak berlari tergesa-gesa, menerobos masuk ke dalam sebuah ruangan besar di kedalaman gua batu. Di ujung ruangan, seorang pria bertubuh raksasa sedang duduk santai di atas singgasana batu alami. Pria itu adalah Xiong Yan, sang pemimpin tertinggi Klan Beruang Hitam.
"Pemimpin," lapor anak buahnya dengan napas terengah-engah.
Xiong Yan perlahan membuka sebelah matanya yang tajam. "Ada apa?"
"Pasukan Serigala Perak terpantau sudah bergerak masuk, posisinya sangat dekat dengan garis perbatasan kita."
Kening Xiong Yan seketika berkerut dalam. "Untuk apa mereka ke mari?"
"Mereka sedang melacak seseorang."
"Siapa?"
"Katanya... seorang siluman baru."
Xiong Yan terdiam untuk beberapa detik. Detik berikutnya, sebuah tawa kecil lolos dari belahan bibirnya yang tebal. "Siluman baru?" Ia menyandarkan punggung besarnya ke dinding batu.
"Sejak kapan Serigala Perak sudi repot-repot mengerahkan tenaga hanya untuk mencari siluman kemarin sore?"
"Kami belum tahu pasti, Pemimpin."
"Berapa banyak jumlah mereka?"
"Cukup banyak. Mereka bergerak dalam formasi pasukan."
Senyum meremehkan di wajah Xiong Yan perlahan-lahan luntur.
Jika Yin Shuang hanya mengirim satu atau dua mata-mata, ia mungkin tidak akan ambil pusing. Namun, jika sampai mengerahkan pasukan dalam skala besar dan menyisir wilayah sejauh ini, artinya target yang mereka cari jelas bukan siluman sembarangan.
"Cari tahu," perintah Xiong Yan, suaranya memberat.
"Sekarang, Pemimpin?"
"Ya." Xiong Yan menatap tajam anak buahnya. "Aku ingin tahu siapa sebenarnya wanita di lukisan itu."
Siluman beruang itu segera membungkuk hormat.
"Baik, Pemimpin."
Begitu langkah kaki anak buahnya menjauh dan menghilang di lorong gua, Xiong Yan kembali bersandar. Matanya menyipit lurus menatap langit-langit gua yang gelap.
"Siluman baru, ya...?" desisnya pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian belas tahun, rasa penasaran yang pekat mendadak terusik di wajah sang pemimpin beruang.
Klan Rubah Api
Berbeda dengan Klan Beruang Hitam yang memilih untuk duduk tenang dan mengamati dari jauh, Klan Rubah Api memiliki harga diri yang jauh lebih Tinggi. Mereka paling tidak suka jika ada kaki klan lain yang berani menginjak tanah mereka tanpa izin.
Di sebuah bukit terisolasi yang dipenuhi oleh jajaran pepohonan berdaun merah darah, seorang wanita tampak sedang duduk santai di atas bongkahan batu besar.
Rambut panjangnya hitam legam, tergerai indah tertiup angin bukit. Wajahnya teramat cantik, memancarkan keanggunan yang memikat.
Namun, senyuman tipis yang senantiasa tersungging di bibirnya sama sekali tidak menyiratkan kelembutan.
Dialah Mei Ruyan, sang penguasa tertinggi Klan Rubah Api. Sosok siluman rubah yang kejelitaannya termasyhur di seantero negeri bersanding lurus dengan reputasinya yang terkenal kejam tanpa ampun.
Sore itu, salah satu mata-matanya melompat turun dari dahan pohon, membawa kabar segar.
"Pemimpin."
Mei Ruyan membuka perlahan matanya yang sipit dan jeli. "Hmm?"
"Pasukan Serigala Perak terpantau sudah melewati batas luar perbatasan timur kita."
Mei Ruyan menarik sudut bibirnya lebih tinggi. "Serigala Perak?"
"Benar."
"Apa yang sedang dicari oleh anjing-anjing piaraan Yin Shuang itu?"
"Seorang wanita."
Mei Ruyan mengangkat sebelah alisnya, tampak tertarik. "Seorang wanita?"
"Desas-desusnya, dia adalah siluman baru."
Mei Ruyan tertawa renyah, suara tawanya terdengar merdu namun berlendir dingin. "Menarik sekali." Ia menurunkan kakinya dari atas batu, melangkah anggun di atas hamparan rumput kering.
"Kalau tujuannya cuma mencari siluman baru yang tidak punya pengaruh, kenapa mereka harus sekonyol itu dengan membawa pasukan sebanyak ini?"
Anak buahnya hanya bisa menunduk dalam. "Kami juga belum mendapatkan jawaban untuk itu."
Belum sempat Mei Ruyan membalas kalimat bawahannya
DUARRR!
Sebuah ledakan bola api tiba-tiba mengguncang keheningan hutan di kaki bukit. Beberapa prajurit Serigala Perak yang kebetulan sedang melintas di jalur setapak spontan melompat mundur demi menghindari sambaran hawa panas.
"Serangan mendadak! Bersiap!" teriak pemimpin regu serigala.
Kobaran api merah menjalar cepat, melalap dedaunan dari balik pepohonan. Bersamaan dengan itu, beberapa siluman rubah bermata merah muncul dari atas tebing batu, mengepung jalur.
Pemimpin pasukan Serigala Perak langsung menghunus pedangnya, menatap siaga ke sekeliling. "Kami tidak berniat menyerang! Kami hanya sedang menjalankan tugas untuk mencari seseorang!"
Mei Ruyan berjalan keluar dengan santai dari balik rimbunnya pohon berdaun merah. Senyum manisnya masih terpasang sempurna di wajah, bertolak belakang dengan sorot matanya yang sedingin es.
"Kalau begitu, cari saja di tempat lain," sahut Mei Ruyan tenang.
"Kami membawa perintah langsung dari pemimpin kami, Yin Shuang!" tegas sang serigala, mencoba menekan menggunakan nama besarnya.
Mei Ruyan menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan barisan pedang. "Perintah siapa pun itu, sama sekali tidak ada harganya di mataku." Wanita itu tersenyum simpul. "Ini adalah tanah kekuasaan Klan Rubah Api."
Wuss!
Letupan api magis mulai menyala dan menari-nari di sekitar ujung jemari serta pundak Mei Ruyan. "Dan aku benci setengah mati pada tamu tak diundang yang masuk tanpa mengetuk pintu."
Melihat gelagat itu, pasukan Serigala Perak serentak mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi. Atmosfer di area hutan tersebut seketika berubah mencekam, siap meledak kapan saja.
Salah satu prajurit serigala paling depan mencoba menurunkan ketegangan. "Kami benar-benar tidak berniat mencari perkara di sini, Nyonya."
"Sayang sekali..." Mei Ruyan memiringkan kepalanya sedikit, menatap mereka dengan pandangan merendahkan. "...perkara itu yang justru datang sendiri mengetuk pintuku."
Api di belakang punggung Mei Ruyan mendadak membesar, berkobar-kobar siap melalap mangsa.
Namun, tepat sebelum bentrokan berdarah itu pecah, Mei Ruyan tiba-tiba mengibaskan tangannya dan tertawa kecil. Kobaran api di sekelilingnya padam dalam sekejap.
"Pergilah," usir Mei Ruyan tiba-tiba.
Pemimpin regu serigala sempat melongo, tampak terkejut dengan perubahan sikap yang begitu mendadak.
Mei Ruyan menatap mereka dengan sisa senyum tipis di wajahnya. "Aku juga jadi penasaran, siapa wanita hebat yang sanggup membuat seluruh armada Serigala Perak kalang kabut seperti ini." Ia berbalik badan, memunggungi musuh-musuhnya. "Cari tahu wanita itu untukku."
Para siluman rubah di atas tebing mengangguk paham, lalu menghilang di balik bayangan pohon.
Pasukan Serigala Perak yang merasa mendapat kesempatan langsung merapikan barisan dan melanjutkan langkah kaki mereka dengan terburu-buru.
Namun, mereka sama sekali tidak menyadari satu hal. Sejak detik itu, perburuan ini bukan lagi menjadi milik Serigala Perak seorang.
Klan Beruang Hitam mulai bergerak mengendus informasi dari balik bayang-bayang.
Klan Rubah Api pun mulai menyebarkan jaringan mata-mata mereka karena penasaran.
Kabar mengenai keberadaan seorang siluman wanita misterius kini berdengung semakin jauh, memicu riak kecil yang siap mengacaukan ketenangan dunia siluman.
Di Tempat Lain...
Jauh dari segala hiruk-pikuk dan ketegangan klan-klan besar tersebut...
Feng Yao sedang duduk dengan posisi luar biasa santai di atas puncak sebuah bukit tinggi.
Angin gunung berembus sepoi-sepoi, mempermainkan ujung rambut panjangnya yang halus. Da mencuat membelah langit.
Feng Yao hanya mengamati pemandangan kontras itu dengan raut muka tenang. Ia sudah hidup terlalu lama melintasi zaman. Perubahan bentuk dunia fisik bukan lagi sesuatu yang sanggup menerbitkan rasa takjub di hatinya.
Sesekali, guratan senyum geli muncul di wajahnya saat melihat tingkah laku manusia yang menurutnya jenaka.
Namun, perhatian Feng Yao mendadak teralih ketika indra pendengarannya menangkap riak energi yang familier dari arah wilayah terdalam siluman. Dari jarak sejauh ini, ia bisa merasakan adanya sisa-sisa energi pertarungan yang bergejolak.
Feng Yao memiringkan kepalanya, mempertajam pandangan matanya ke lembah di bawah sana. Tampak beberapa siluman dari klan berbeda sedang terlibat baku hantam yang cukup sengit.
Aura magis mereka saling bertubrukan kasar di udara. Letupan api tepercik ke mana-mana, bahkan beberapa batang pohon besar tumbang akibat hantaman energi fisik yang meleset.
Feng Yao memperhatikan tontonan gratis itu selama beberapa saat. Seulas senyum geli kembali terbit di wajah cantiknya.
"Ah." Wanita itu menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Mereka bertengkar lagi ternyata."
Tidak ada satu pun gurat kecemasan atau ketakutan yang terpatri di wajah Feng Yao. Sejak zaman kuno dahulu kala, tabiat para siluman memang tidak pernah berubah.
Ada masalah sekecil apa pun, terjadi kesalahpahaman sekecil apa pun, ujung-ujungnya pasti akan diselesaikan dengan adu kekuatan.
Kadang mereka meributkan batas wilayah berburu, kadang meributkan masalah harga diri yang tersenggol, dan kadang... Feng Yao sendiri sampai kebingungan karena mereka bertarung tanpa alasan yang jelas.
Melihat salah satu siluman bertubuh kekar di bawah sana terpental cukup jauh hingga menabrak tebing batu akibat terkena telak pukulan lawannya, Feng Yao spontan tertawa kecil.
"Bodoh sekali," gumamnya pelan sembari menutup mulutnya dengan jemari, menahan agar suara tawanya tidak lepas terlalu keras.
Setelahnya, ia kembali memanjakan mata, menikmati jalannya perkelahian di bawah sana seolah sedang menonton pertunjukan sirkus.
Bagi Feng Yao, segala bentuk pertikaian dan perebutan kekuasaan antar klan siluman sama sekali bukan urusannya. Selama mereka tidak datang membawa keributan ke hadapannya dan mengganggu waktu santainya, ia akan membiarkan mereka saling menghabisi satu sama lain.
Puas menonton, Feng Yao kembali membuang pandangannya ke arah cakrawala dunia manusia, menikmati embusan angin sore yang sejuk.
Ia benar-benar tidak pernah menduga... bahwa di saat dirinya sedang duduk manis menikmati pemandangan alam sambil menertawakan kebodohan para siluman di bawah sana, beberapa klan besar justru sedang sibuk setengah mati mengerahkan seluruh sumber daya demi melacak jejaknya.
Seorang wanita misterius yang wajahnya hanya mereka ketahui dari coretan tinta di atas selembar lukisan.
Seorang wanita yang keberadaannya sanggup membuat Yin Shuang menggerakkan seluruh garda Serigala Perak.
Dan wanita yang dicari-cari itu... saat ini sedang duduk bersila dengan santai di atas bukit batu. Menjadikan para pencarinya sebagai bahan tontonan sore hari, bahkan sesekali menertawakan mereka dengan raut wajah tanpa dosa.
Feng Yao sama sekali tidak menyadari bahwa siluman-siluman yang sedang ia cap sebagai makhluk bodoh di bawah sana, sebenarnya sedang bertaruh nyawa demi menemukan dirinya sendiri.