NovelToon NovelToon
Mertua Pilih Kasih

Mertua Pilih Kasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.

Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.

Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah ponsel

"Maya kan cuma memasak bahan yang pagi tadi dibeli, Bu," sahut Maya pelan, berusaha mempertahankan nada suaranya agar tetap datar.

Bu Rika tersenyum sinis, menatap Maya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Dasar menantu tidak tahu diri! Kerjanya di rumah doang, tapi habis-habisin uang!" gumam Bu Rika cukup keras seraya memutar badan dan berjalan meninggalkan dapur.

Maya hanya menatap kosong punggung mertuanya yang menjauh. Tanpa kata, ia melanjutkan sisa pekerjaannya. Usai gulai matang, Maya mengambil piring, menyendok sedikit nasi dan lauk, lalu makan sendirian di meja dapur yang dingin. Usai mengisi perutnya yang sempat sakit, Maya melangkah ke lantai atas, masuk ke kamar untuk menunaikan shalat Ashar.

Baru saja Maya selesai melipat mukena dan merapikan sejadahnya, pintu kamar terbuka kasar. Arya masuk dengan wajah yang tertekuk masam. Tanpa menyapa, pria itu langsung melontarkan tuduhan.

"Maya, apa benar yang Ibu bilang? Kamu malas-malasan di rumah hari ini?" tanya Arya dengan nada menghakimi.

Maya yang sedang merapikan seprai tempat tidur menghentikan tangannya sejenak. "Malas-malasan bagaimana maksudnya, Mas?" tanya Maya pelan, menatap suaminya.

"Kata Ibu, kamu kerjanya cuma tiduran seharian!" cecar Arya, melangkah mendekat dengan raut wajah kesal. "Aku malu sama Mas Mansur dan Mbak Santi, May! Nanti mereka kira aku tidak bisa mendidik istri sendiri!"

Maya menarik napas panjang. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Arya, pria yang di atas kertas memiliki simpanan ratusan juta, namun membiarkan istrinya hidup terlunta-lunta.

"Mas, aku bangun dari pagi buta. Saat kalian semua belum ada yang bangun, aku sudah mengerjakan semua tugas rumah," ujar Maya tenang namun tegas. "Terus aku ke pasar jalan kaki. Tadi siang kepalaku pusing sekali, Mas, makanya aku istirahat sebentar. Aku juga sudah selesai memasak untuk makan malam kalian."

Arya sedikit kaget mendengarnya. Dahinya berkerut tipis. Biasanya Maya hanya akan menunduk, mengangguk pasrah, dan meminta maaf. Namun kali ini, wanita di depannya menyahut dan membela dirinya sendiri dengan alasan yang sangat masuk akal.

"O-oh... kamu lagi tidak enak badan ya, May?" tanya Arya agak gagap, mencoba mengubah nada suaranya menjadi sok perhatian. "Kok kamu tidak bilang sama Mas?"

"Bilang bagaimana? Aku saja tidak punya ponsel buat menghubungi kamu," jawab Maya sedikit ketus, melemparkan pandangan dingin.

Maya menarik napas sejenak, lalu menatap suaminya lekat-lekat. "Belikan aku ponsel dong, Mas. Biar aku bisa hubungi kerabat di kampung... Aku kangen sama orang tuaku."

Mendengar kata 'ponsel', raut wajah Arya seketika berubah. Pria itu sedikit gelagapan. Meski memiliki saldo rekening yang melimpah dan gaji dua digit sebagai manajer, Arya merasa sangat tidak rela jika harus mengeluarkan uang berlebih hanya untuk membelikan Maya barang elektronik. Bagi Arya, kebutuhan Maya sebagai istri cukup di batas minimal, cukup makan dan ada tempat berteduh.

"Nanti ya, May..." kelit Arya cepat. Wajahnya mendadak diubah menjadi memelas, penuh kebohongan yang kini terasa sangat kentara di mata Maya. "Gaji Mas bulan ini lagi pas-pasan banget. Bonus dari kantor juga tidak masuk."

Maya menatap suaminya tanpa ekspresi. Tidak ada rasa kecewa, tidak ada derai air mata. Maya sudah tahu persis isi tabungan pria itu, sehingga alasan "gaji pas-pasan" kini hanya terdengar seperti lelucon murahan.

Maya tak berniat menanggapi lagi. Ia berbalik, melangkah menuju tepi ranjang, lalu duduk di sana dan membuka sebuah buku bacaan tua, memilih menenggelamkan diri dalam lembaran kertas ketimbang melihat wajah penuh kebohongan suaminya.

Melihat respons dingin dan ketidakpedulian istrinya, Arya merasa serba salah dan canggung. Karena tak tahu harus merespons apa lagi, pria itu akhirnya berbalik dan bergegas masuk ke kamar mandi.

Maya melirik pintu kamar mandi yang tertutup. Di dalam hatinya, rasa muak itu kian membatu. Jika Arya tak mau membelikannya ponsel dan tak berniat membawanya pulang, maka Maya sendiri yang akan mengumpulkan uangnya, lembar demi lembar, rupiah demi rupiah, sampai ia bisa melangkah pergi dari rumah ini tanpa perlu meminta izin pada siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!