Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Pengecualian Bernama Alisha
Alisha berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit. Jam istirahatnya hampir berakhir, dan ia masih harus kembali ke kantor.
Suara pengumuman rumah sakit yang berulang kali terdengar samar di telinganya, bercampur dengan derap langkah dan obrolan orang-orang yang lalu-lalang.
Ia menyesuaikan volume alat bantu dengarnya sedikit lebih rendah. Terlalu banyak suara sekaligus membuat kepalanya pusing.
Beberapa langkah kemudian, ia tiba-tiba teringat sesuatu. “Hp-ku... Astaga!”
Ia berhenti mendadak dan langsung berbalik. Karena volume alat bantu dengarnya masih rendah, ia tidak menyadari ada seseorang yang tengah melintas tepat di belakangnya.
Bruk!
Tubuhnya menabrak seseorang.
“Ah!”
Alisha kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh. Tangannya spontan meraih lengan pria di depannya hingga tubuhnya kembali tegak. Begitu menyadari apa yang baru saja dilakukannya, ia segera melepaskan pegangannya dan mundur satu langkah.
“Maaf. Saya gak sengaja.”
Pria di depannya tidak menjawab.
Alisha mendongak dan baru menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang pria tinggi berjas hitam yang menatapnya dengan wajah sulit dibaca.
Ia menelan ludah kecil, lalu menatap wajah pria itu lebih saksama, kebiasaan lamanya setiap kali tidak yakin apakah lawan bicaranya sudah menjawab atau belum. Namun bibir pria itu tetap terkatup rapat.
“Sekali lagi maaf. Saya tadi buru-buru dan gak lihat ada orang di belakang saya.”
Beberapa langkah dari sana, Reki ikut terpaku. Jantungnya seperti baru saja mendapat peringatan darurat.
Wanita itu menabrak Tuan Ares. Bukan sekadar lewat terlalu dekat.
Menabrak. Bahkan sempat memegang lengan pria itu.
Reki menahan napas sambil diam-diam mempersiapkan diri. Kalau Ares tiba-tiba meminta seluruh lantai rumah sakit dikosongkan, setidaknya dia sudah tahu harus mulai dari mana.
Namun, lima detik berlalu, Ares tetap diam. Sepuluh detik kemudian masih tidak ada reaksi.
Reki mulai curiga. "Jangan-jangan Tuan Ares lagi nahan amarah? Atau lebih buruk... lagi nyusun kalimat yang bakal bikin perempuan itu nangis?"
Sementara Reki sibuk menerka-nerka, Alisha justru menunduk dan matanya tertumbuk pada sesuatu di kemeja pria itu. Wajahnya langsung berubah. Ada noda lipstik merah di antara dasi dan jas pria tersebut.
“Oh, tidak...”
Tangannya refleks menyentuh bibirnya sendiri. Ia baru ingat tadi sempat memakai lipstik sebelum berangkat.
“Lipstik saya nempel di kemeja Anda.”
Alisha tampak semakin tidak enak. Ia buru-buru membuka tasnya untuk mencari tisu.
“Maaf, akan saya bersihin. Kalo gak bisa, saya bakal tanggung jawab buat biaya laundry-nya.”
Ares masih belum menjawab. Bukan karena tidak mendengar. Ia justru sedang memerhatikan perempuan di hadapannya dengan pikiran yang belum berhasil mencerna apa yang terjadi.
Jarak mereka begitu dekat. Bahkan aroma tubuh perempuan itu masih jelas tertangkap inderanya. Namun, tak ada rasa tidak nyaman yang biasanya muncul.
Ares menarik napas perlahan, seolah ingin memastikan dirinya tidak salah menilai. Tetap tidak ada apa-apa.
Sorot matanya berubah. Perempuan yang baru saja menabraknya ini berdiri tepat di depannya, dan untuk alasan yang tidak dapat ia pahami, Ares tidak merasa terganggu sedikit pun.
Mungkin hanya kebetulan. Mungkin karena kondisi rumah sakit. Atau mungkin pikirannya memang sedang terlalu lelah.
Ares masih mencoba mencari penjelasan yang masuk akal ketika suara Reki terdengar pelan dari belakang.
“Tuan...”
Ares tidak merespon.
Reki memerhatikannya dengan cemas. Kalau Ares diam selama ini karena sedang marah, berarti sebentar lagi dia mungkin akan meledak.
Tetapi kalau bukan karena marah... Reki justru tidak tahu mana yang lebih mengkhawatirkan.
Sementara itu, Alisha akhirnya menemukan tisu dari dalam tasnya. “Pak, izinin saya bersihin, ya. Saya benar-benar minta maaf.”
Ia mengulurkan tangan.
Ares justru menatap wajahnya beberapa detik sebelum akhirnya bertanya,
“Siapa namamu?”
Alisha sedikit condong, matanya sekilas turun ke bibir Ares sebelum kembali menatap matanya. Sudah jadi kebiasaan, memastikan dulu, baru menjawab.
“Alisha. Alisha Prameswari.”
Nama itu membuat sorot mata Ares berubah tipis.
Alisha tidak menyadarinya. Ia justru kembali melirik noda lipstik di kemeja pria tersebut. “Sekali lagi, saya minta maaf. Saya benar-benar gak sengaja.”
Ares masih diam beberapa detik, lalu berkata dengan nada suara datar, “Alisha Prameswari.”
Reki yang berdiri di belakangnya langsung menegang. "Tuan Ares mengulangi nama perempuan itu? Ini gak biasa. Sama sekali gak biasa."
Biasanya setelah seorang perempuan berada terlalu dekat, Ares akan langsung meminta Reki mengurus apa pun yang dianggap mengganggunya. Namun sekarang, setelah ditabrak, disentuh, bahkan diberi noda lipstik, Ares justru berdiri seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Reki menatap punggung atasannya dengan kening berkerut, lalu beralih pada Alisha.
Kenapa sikap Ares begitu tenang?
Dan entah kenapa, justru ketenangan Ares kali ini membuat Reki lebih waspada daripada ketika atasannya sedang marah.
Namun sebelum semua kemungkinan itu berkembang semakin jauh, Ares justru sedikit menepi. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia melangkah meninggalkan Alisha.
Reki melongo. “Hah?”
Alisha juga hanya berdiri sambil memegang tisu, menatap punggung pria itu yang semakin menjauh.
“Eh, sudah?”
Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Bukankah seharusnya pria itu marah? Alisha akhirnya mengangkat bahu kecil.
“Mungkin emang orangnya baik.”
Ia tidak punya waktu untuk memikirkannya lebih jauh. Alisha segera berjalan cepat menuju kamar adiknya.
Tadi saat istirahat kantor hampir tiba, ia pergi ke rumah sakit karena mendapat kabar bahwa kondisi adiknya tiba-tiba menurun.
Setelah memastikan kondisi adiknya kembali stabil, Alisha berniat langsung kembali bekerja.
Masalahnya, ia baru sadar ponselnya tertinggal. Tanpa ponsel, ia bahkan tidak bisa memesan ojek daring.
“Kenapa harus sekarang, sih?” gumamnya sambil mempercepat langkah, bahkan hampir berlari.
Sementara itu, Reki akhirnya tersadar dan buru-buru mengejar Ares. “Tuan!”
Ares tetap berjalan.
Reki mempercepat langkah hingga berhasil menyusul. “Tuan, mengenai wanita tadi...”
Tidak ada jawaban.
Reki menatap wajah atasannya dari samping. Ares terlihat datar seperti biasa. Justru itu yang membuat Reki semakin gelisah.
"Mungkinkah Tuan Ares tertarik?" Ia menggeleng cepat. "Gak. Mustahil..."
Reki hampir memukul kepalanya sendiri. Tidak mungkin sesederhana itu.
“Tuan, apakah Anda ingin saya mencari tahu siapa Alisha Prameswari?”
Langkah Ares mendadak terhenti. Reki refleks ikut berhenti.
.
...✨“Terkadang, orang yang mampu mengubah hidup kita bukanlah seseorang yang kita cari, melainkan seseorang yang datang tanpa rencana dan membuat kita mempertanyakan kembali semua hal yang selama ini kita yakini.”...
...“Jangan biarkan luka masa lalu membuatmu percaya bahwa semua orang akan mengulang kesalahan yang sama. Tidak semua yang datang membawa luka baru; sebagian justru datang untuk menunjukkan bahwa hidup masih memiliki kemungkinan lain.”✨...
.
To be continued
Ares tidak kuat melangkah, pandangannya berkunang-kunang. Keinginannya menghajar pria itu tak kesampaian.
Reki menolong Alisha dengan mengambil taplak meja di dekatnya. Tidak peduli apa yang ada di atas meja itu berjatuhan. Berantakan.
Reki segera membentangkan taplak untuk menutupi tubuh Alisha. Reki berusaha menyelamatkan Alisha dari tatapan orang-orang.
Amarah Alisha sedikit mereda saat menyadari Reki sedang berusaha melindunginya dari tatapan orang-orang.
Reki berbalik menghadap pria yang menghina Alisha dan menatap tajam, pria itu keder tentunya.
Masih juga mengeluarkan kata-kata yang sangat menghina Alisha.
Kapuoook kau pria hidung belang, tamparan dari tangan Alisha mendarat dengan keras di pipinya.
Malu juga tuh pria, dilihat para tamu yang berada di sekitar mereka.
Alisha tidak terima dihina sedemikian rupa. Pria itu pun nggak terima ditampar pipinya, padahal jelas kalimatnya penuh hinaan, pelecehan juga tuh.
Alisha nggak takut sedikitpun sama pria yang nggak tahu diri itu. Dia lawan pria itu .
Alisha dan Ares sama-sama saling mengkhawatirkan kondisi mereka.
Alisha mengkuatirkan Ares yang terlihat sakit, Ares juga mengkuatirkan keadaan Alisha yang pasti malu dengan gaun basah tampak garis tubuhnya.
Reki berjalan menuju Alisha. Ares hanya bisa memandang Alisha.
Arga kecewa tidak sesuai yang diharapkan. Ares tidak menghampiri Alisha sendiri, tapi menyuruh Reki untuk melindungi.
Arga melihat kondisi Ares yang tampak buruk, namun perhatiannya tetap tertuju kepada Alisha.
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak... Ceritanya makin seru Kak 😁😁😁🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Merasa dirinya nggak apa-apa, Ares menolak untuk duduk. Dia mencoba melangkah, tapi kepalanya berdenyut.
Ares terlalu memaksakan diri dengan kondisi yang parah begitu.
Akhirnya Reki yang akan menjemput Alisha.
Alisha seperti tak tega melihat Ares dalam kondisi seperti itu. Ingin menghampiri Ares.
Naas bagi Alisha yang belum sempat melangkah, seorang pelayan yang mau jatuh menumpahkan minuman merah tepat ke bagian depan gaun Alisha.
Gaun Alisha yang basah melekat pada kulit, terlihat jelas garis tubuhnya. Alisha merasa malu dan tidak nyaman dilihat beberapa pria di dekatnya.
Dasar Arga playboy cap kadal buntung, itu idenya. Ia ingin melihat reaksi Ares ketika melihat Alisha menjadi pusat perhatian.
Ares mengalami siksaan di seluruh tubuhnya seperti yang sudah-sudah kalau mencium aroma parfum dari seorang perempuan.
Reki menyuruh perempuan itu untuk menjaga jarak. Dia jelaskan pada perempuan itu kenapa harus menjaga jarak.
Ares yang alergi perempuan jadi bahan bisik-bisik dari beberapa tamu.
Ares berpapasan dengan Alisha tidak melirik sedikitpun. Seolah tidak mengenal Alisha.
Sama-sama mengenalinya, namun tak ada tegur sapa.
Reki tahu Tuannya cemburu.
Reki melihat tatapan Alisha yang terluka ketika Ares melewatinya begitu saja.
Arga sudah merencanakan sesuatu bersama seseorang.
Alisha yang lugu jangan bodoh ya. Waspada terhadap Arga yang licik.
Arga sengaja bikin panas nih, mengajak Alisha ke arah jalur yang berlawanan dengan arah kedatangan Ares.
Alisha mengenali suara langkah kaki yang tertangkap di pendengarannya. Suara langkah itu begitu dia hafal.
Alisha belum pernah melihat wajah suaminya secara langsung. Namun dia yakin, pemilik langkah yang sudah familiar terdengar baginya itu - suaminya.
Arga merencanakan apa nih.
Pusing mikirin Alisha yang kemungkinan besar berdiri berdampingan dengan Arga di acara gala.
Salahnya sendiri belum mau buka topeng, istrinya belum boleh lihat mukanya.
masih mau bikin Ares seperti orang yg bersalah?
Ares sudah mengatakan hal yg paling jujur dr hatinya...
masih belom maukah kamu menerimanya kembali?
maafkanlah? kamu takut terluka tapi Ares punya luka yg lebih lama dan dalam yg dia sembunyikan selama ini...