NovelToon NovelToon
Jodohku Mas Bule

Jodohku Mas Bule

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mitha

Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.

Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.

Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.

Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Pulang Kampung Halaman Mas Bule

Bab 27 — Keluarga yang Menerimanya

Beberapa hari setelah Retna menerima ajakan Nathan untuk menjalani hubungan mereka dengan serius, kehidupan keduanya terasa sedikit berbeda.

Tidak ada perubahan besar.

Nathan masih bekerja dari rumah seperti biasa.

Retna masih memasak, membersihkan rumah, dan membantu mengurus berbagai keperluan Nathan.

Namun ada sesuatu yang perlahan tumbuh di antara mereka.

Sebuah keyakinan.

Bahwa hubungan ini bukan lagi sekadar hubungan antara seorang pria dan perempuan yang saling menyukai.

Nathan benar-benar ingin membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih serius.

Suatu sore, ketika Retna sedang menyiapkan makan malam, Nathan tiba-tiba menghampirinya.

"Retna."

Retna menoleh.

"Ada apa, Mas?"

Nathan berdiri di dekat meja dapur sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Aku ingin membicarakan sesuatu."

Retna langsung menghentikan pekerjaannya.

"Hal apa?"

Nathan menarik napas.

"Minggu depan aku ingin mengajakmu pergi."

"Pergi?"

Nathan mengangguk.

"Ke kampung halamanku."

Tangan Retna yang sedang memegang sendok langsung berhenti.

"Ke kampung halaman Mas?"

"Benar."

Retna menatap Nathan dengan wajah bingung.

"Untuk apa?"

Nathan tersenyum kecil.

"Menemui keluargaku."

Retna terdiam.

Jantungnya langsung berdebar.

"Menemui keluarga Mas?"

"Ya."

Nathan menarik kursi lalu duduk.

"Aku sudah bicara dengan mereka."

Retna semakin gugup.

"Mas sudah bilang tentang aku?"

Nathan mengangguk.

"Sudah."

Retna meletakkan sendok di atas meja.

"Lalu... mereka bilang apa?"

"Mereka ingin bertemu denganmu."

Retna menunduk.

Tiba-tiba berbagai kekhawatiran memenuhi pikirannya.

Selama ini Nathan memang selalu memperlakukannya dengan baik.

Namun keluarga Nathan adalah hal yang berbeda.

Retna tidak tahu seperti apa keluarga pria itu.

Ia juga tidak tahu apakah mereka akan menerima seorang perempuan Indonesia dengan latar belakang sederhana seperti dirinya.

Apalagi dirinya seorang janda.

Masa lalunya bersama Arman memang sudah ia tinggalkan.

Tetapi status itu tetap melekat pada dirinya.

Retna menarik napas panjang.

"Mas..."

Nathan menatapnya penuh perhatian.

"Kalau keluargamu tidak menerima saya bagaimana?"

Nathan mengerutkan kening.

"Kenapa kamu berpikir begitu?"

Retna tersenyum hambar.

"Karena saya bukan siapa-siapa."

Nathan langsung menggeleng.

"Jangan pernah mengatakan seperti itu."

"Tapi memang begitu."

Retna menunduk.

"Saya cuma perempuan biasa. Keluarga saya juga sederhana. Saya tidak punya pendidikan tinggi atau kehidupan yang hebat."

Nathan diam mendengarkan.

"Dan saya..."

Retna berhenti sebentar.

"Juga seorang janda."

Nathan bangkit dari kursinya.

Ia berjalan mendekati Retna.

"Retna."

Retna mengangkat wajah.

"Menurutmu, keluargaku akan menilaimu hanya dari status itu?"

Retna tidak menjawab.

Nathan tersenyum.

"Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka sebelum bertemu denganmu."

Ia kemudian berkata pelan.

"Tapi aku tahu satu hal."

Retna menunggu dengan cemas.

"Aku sudah menceritakan tentangmu."

Retna terdiam.

"Aku menceritakan bagaimana kamu memperlakukanku ketika aku sedang sakit. Bagaimana kamu membuat rumah ini terasa seperti rumah. Bagaimana kamu selalu memperhatikan hal-hal kecil."

Nathan tersenyum.

"Dan aku juga mengatakan bahwa aku serius kepadamu."

Retna menggigit bibir.

"Tapi kalau mereka tetap tidak setuju?"

Nathan menatapnya dengan yakin.

"Aku akan tetap memilihmu."

Retna terdiam.

Kalimat itu membuat dadanya terasa hangat.

Namun Nathan tidak ingin Retna merasa harus melawan keluarganya.

"Aku ingin kamu datang bukan untuk membuat mereka terpaksa menerima kita."

"Lalu?"

"Karena aku ingin mereka mengenal perempuan yang aku cintai."

Retna membeku.

Perempuan yang aku cintai.

Nathan jarang mengucapkan kalimat seperti itu secara langsung.

Wajah Retna perlahan memerah.

Nathan tersenyum melihat reaksinya.

"Jadi, mau ikut?"

Retna menghela napas.

"Saya takut."

"Aku tahu."

"Tapi..."

Retna akhirnya tersenyum.

"Saya mau mencoba."

Seminggu kemudian, mereka berangkat.

Perjalanan menuju kampung halaman Nathan di Selandia Baru terasa cukup panjang bagi Retna.

Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak diam.

Sesekali Nathan menggenggam tangannya.

"Kamu masih gugup?"

Retna mengangguk.

"Banget."

Nathan tertawa kecil.

"Jangan takut."

"Mas gampang bilang begitu."

"Karena aku tahu keluargaku."

Retna menatapnya.

"Mereka baik?"

"Baik."

"Mereka tidak akan bertanya macam-macam?"

Nathan tersenyum.

"Mungkin akan banyak bertanya."

Retna langsung panik.

"Mas!"

Nathan tertawa.

"Tapi bukan untuk menghakimimu."

Retna menghela napas.

"Saya tetap takut."

Nathan menggenggam tangannya.

"Kalau kamu merasa tidak nyaman, kita pulang."

Retna menatap Nathan.

"Mas serius?"

"Serius."

Nathan tersenyum.

"Aku tidak akan memaksamu menghadapi sesuatu yang membuatmu tidak nyaman."

Retna akhirnya merasa sedikit lebih tenang.

Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang.

Mobil mereka akhirnya berhenti di depan rumah keluarga Nathan di sebuah kota kecil dekat Queenstown, Retna kembali merasa gugup.

Rumah itu tidak terlalu mewah.

Namun terlihat besar, bersih, dan hangat.

Beberapa orang sudah menunggu di depan rumah.

Nathan turun lebih dulu.

Kemudian ia membukakan pintu untuk Retna.

Retna turun dengan langkah pelan.

Ia merapikan rambut dan bajunya.

"Mas..."

Nathan menoleh.

"Kenapa?"

"Penampilan saya tidak apa-apa?"

Nathan tersenyum.

"Kamu cantik."

Retna langsung salah tingkah.

"Jangan bercanda."

"Aku serius."

Nathan kemudian menggenggam tangannya.

"Mari."

Mereka berjalan mendekati keluarga Nathan.

Seorang wanita paruh baya langsung tersenyum ketika melihat Retna.

Ia adalah ibu Nathan.

"Ini Retna?"

Nathan mengangguk.

"Iya, Ma."

Ibu Nathan tersenyum lebih lebar.

Kemudian ia menghampiri Retna.

"Welcome, dear."

Retna sedikit terkejut.

"Thank you."

Ibu Nathan memegang tangannya dengan hangat.

"You must be tired after such a long journey."

Retna tersenyum gugup.

"Sedikit, Tante."

Nathan segera menyela dengan lembut.

"Ma, Retna tidak begitu lancar berbicara bahasa Inggris. Tolong bicara pelan-pelan."

"Oh, I’m sorry," kata ibu Nathan cepat. "I didn’t mean to make you uncomfortable."

Retna menggeleng.

"It's okay."

Ibu Nathan tersenyum.

"You can call me Mom if you want."

Retna terdiam.

Nathan tersenyum melihatnya.

"Sudah kubilang keluargaku baik."

Ibu Nathan menatap Nathan.

"Did you make Retna nervous?"

Nathan tertawa.

"No, Mom."

Ibu Nathan kembali menatap Retna.

"Please don’t worry. We are very happy to meet you."

Retna hanya tersenyum, lalu mengangguk pelan.

Salah satu anggota keluarga Nathan kemudian ikut mendekat.

"We’ve heard so many stories about you."

Retna semakin gugup.

Nathan kembali mengingatkan mereka.

"Please remember, she understands English, but she is not very fluent when speaking."

Ibu Nathan mengangguk.

"Of course. We will speak slowly and give her time."

Retna tersenyum lega.

"Semoga ceritanya yang baik-baik."

Nathan menerjemahkan kalimat itu kepada keluarganya.

"She hopes you have only heard good things about her."

Semua orang tertawa kecil.

Suasana yang tadinya membuat Retna tegang perlahan menjadi lebih santai.

Mereka mengajaknya masuk.

Ibu Nathan beberapa kali berbicara dalam bahasa Inggris dengan kalimat-kalimat sederhana, sementara Nathan membantu menerjemahkan jika Retna terlihat kesulitan.

"Would you like some tea?" tanya ibu Nathan.

Retna menoleh kepada Nathan.

Nathan tersenyum.

"Ibu bertanya apakah kamu mau teh."

"Oh, yes. Thank you."

"Do you like the house?" tanya ibu Nathan lagi.

Retna berpikir sebentar sebelum menjawab.

"Yes. It is very beautiful."

Ibu Nathan tersenyum senang.

"Thank you, dear."

Tidak ada tatapan merendahkan.

Tidak ada pertanyaan yang membuatnya merasa rendah diri.

Tidak ada pembicaraan tentang statusnya sebagai janda.

Bahkan ketika akhirnya Retna memberanikan diri untuk menceritakan masa lalunya, keluarga Nathan hanya mendengarkan.

"Aku pernah menikah sebelumnya," ujar Retna pelan.

Nathan menerjemahkan kalimat itu dengan hati-hati.

"She was married before."

Ruangan menjadi hening.

Retna menunduk.

"Saya tahu mungkin itu bukan sesuatu yang mudah diterima."

Nathan kembali menerjemahkan.

"She is worried that it may be difficult for you to accept."

Ibu Nathan justru menggenggam tangannya.

"Retna."

Retna mengangkat wajah.

"Everyone has a past."

Retna terdiam.

"What matters is how you live your life now."

Mata Retna mulai berkaca-kaca.

Ibu Nathan tersenyum.

"If Nathan is happy with you, why should we judge what happened before?"

Retna tidak mampu menjawab.

Ayah Nathan yang sejak tadi duduk tidak jauh dari mereka ikut berbicara.

"There is only one thing we want to know."

Retna menatapnya.

"Do you respect each other?"

Nathan menjawab lebih dulu.

"We respect each other."

Retna mengangguk.

"Benar."

Nathan menerjemahkan jawabannya.

"She says it’s true."

Ayah Nathan tersenyum.

"Then that is enough."

Retna menunduk sambil menahan air mata.

Selama ini ia selalu takut seseorang akan melihat statusnya sebagai janda sebagai sebuah kekurangan.

Namun keluarga Nathan justru tidak melihatnya seperti itu.

Mereka melihatnya sebagai seorang perempuan.

Seorang manusia yang pernah terluka, tetapi tetap berusaha menjalani hidup.

Malam harinya, Retna duduk di teras bersama ibu Nathan.

Nathan sedang berbicara dengan ayahnya di dalam rumah.

Ibu Nathan tersenyum sambil memberikan secangkir teh.

"Are you still afraid?"

Retna tertawa kecil.

"Sedikit."

Nathan yang baru keluar ke teras mendengar percakapan itu dan segera mendekat.

"Ma, pelan-pelan saja. Retna tidak begitu lancar berbicara bahasa Inggris."

Ibu Nathan mengangguk.

"Of course. I’m sorry."

Retna tersenyum.

"It's okay."

Ibu Nathan kembali menatap Retna.

"Why are you afraid?"

Retna menoleh kepada Nathan.

"Saya takut keluarga Mas Nathan tidak menerima saya."

Nathan menerjemahkan kalimat itu.

"She was afraid that our family would not accept her."

Ibu Nathan menggeleng.

"Since Nathan first told us about you, we wanted to meet you."

Retna menatapnya.

"Kenapa?"

Nathan menerjemahkan pertanyaannya.

"She wants to know why."

"Because we saw a change in Nathan."

Retna terdiam.

"He looks happier now."

Ibu Nathan tersenyum.

"And we believe you have something to do with that happiness."

Retna menunduk.

"Saya cuma ingin membuat Mas Nathan bahagia."

Nathan menerjemahkan.

"She only wants to make me happy."

"It’s good that you care about him," kata ibu Nathan. "But don’t only think about Nathan’s happiness."

Retna mengangkat wajah.

"You must be happy too."

Kalimat sederhana itu membuat Retna terdiam cukup lama.

Selama hidupnya, ia sering memikirkan orang lain.

Keluarga.

Mantan suami.

Bahkan orang-orang di sekitarnya.

Namun baru kali ini seseorang mengatakan kepadanya bahwa kebahagiaannya sendiri juga penting.

Ibu Nathan menggenggam tangannya.

"If you are serious about each other, take care of this relationship."

Retna mengangguk.

"Kami akan berusaha."

Nathan menerjemahkan jawabannya.

"She says they will try."

"That’s all we ask."

Ibu Nathan kemudian tersenyum lembut.

"And don’t be afraid of your past."

Retna tersenyum sambil mengusap sudut matanya.

"Terima kasih, Ma."

Nathan menerjemahkan.

"She says thank you, Mom."

Ibu Nathan tersenyum.

"You are already like a daughter to us."

Retna menunduk.

Air mata akhirnya jatuh.

Namun kali ini bukan karena terluka.

Melainkan karena merasa diterima.

Malam semakin larut.

Nathan menemukan Retna sedang berdiri di halaman.

Ia menghampirinya.

"Kamu menangis?"

Retna segera menggeleng.

"Tidak."

Nathan tersenyum.

"Matamu merah."

Retna tertawa kecil.

"Sedikit."

Nathan berdiri di sampingnya.

"Bagaimana?"

Retna menatap rumah keluarganya.

"Keluarga Mas baik sekali."

Nathan tersenyum.

"Aku sudah bilang."

"Saya kira mereka akan mempertanyakan banyak hal."

"Misalnya?"

Retna tersenyum malu.

"Status saya."

Nathan menggeleng.

"Mereka tidak peduli."

Retna menatap Nathan.

"Kenapa?"

"Karena mereka tahu aku tidak mencari perempuan dengan masa lalu sempurna."

Nathan menggenggam tangan Retna.

"Aku mencari perempuan yang ingin menjalani masa depan bersamaku."

Retna menatap jemari mereka yang bertaut.

Dulu ia mengira pernikahan hanya akan membawa luka.

Kini ia mulai memahami bahwa mungkin yang salah bukan keinginannya untuk mencintai.

Mungkin ia hanya pernah memberikan hatinya kepada orang yang salah.

Dan kali ini...

Ia menemukan seseorang yang tidak memintanya melupakan masa lalu.

Nathan hanya memintanya berjalan bersamanya menuju masa depan.

Retna tersenyum.

"Mas."

Nathan menoleh kepadanya.

"Ya?"

"Terima kasih sudah membawa saya ke sini."

Nathan mengusap kepalanya dengan lembut.

"Ini baru permulaan."

Retna menatapnya.

"Permulaan?"

Nathan mengangguk.

"Karena setelah ini, aku ingin keluargamu juga mengenalku."

Retna terdiam.

Kemudian tersenyum.

Untuk pertama kalinya, kata keluarga tidak lagi terdengar menakutkan baginya.

Justru terasa seperti sesuatu yang ingin ia miliki kembali.

Sebuah keluarga yang menerima dirinya.

Sebuah rumah yang tidak menilai masa lalunya.

Dan seorang pria yang memilihnya bukan karena kesempurnaan.

Melainkan karena dirinya apa adanya.

Retna akhirnya sadar.

Masa depan yang selama ini ia takutkan...

Mungkin justru menjadi tempat di mana kebahagiaannya menunggu.

1
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!