Namaku sari, umur 19 tahun menikah dengan suami yang aku cintai. tapi baru 6 bulan menikah , tetangga janda kaya sebelah rumah terus menggoda suamiku dengan uang. apakah rumah tanggaku akan hancur? Kisah nyata dari mamuju yang bikin menangis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 pindah ke Rumh mewah
Keesokan paginya, matahari bersinar sangat cerah setelah semalaman hujan badai yang sangat deras. Namun di kampung kontrakan Una yang kumuh dan sempit, suasana masih sangat heboh seperti pasar malam. Semua warga masih membicarakan kejadian lamaran romantis yang terjadi semalam.
Berita tentang seorang pengacara kaya raya, terkenal, dan tampan bernama Pak Arya Mahendra, melamar seorang janda miskin hamil 2 bulan di tengah hujan sambil berlutut di genangan lumpur kotor menyebar dengan sangat cepat ke seluruh kampung. Video rekaman tetangga yang merekam dengan HP sudah viral di grup WhatsApp RT, RW, bahkan sampai ke kampung sebelah.
Di warung kopi pojok gang, Bu Ratna pemilik kontrakan yang kemarin sore dengan kejam mengusir Una tertawa sinis sambil menggosok piring kotor dengan kasar.
"Ah, paling juga settingan drama. Mana mungkin ada pengacara kaya raya, ganteng, mobil Alphard, mau menikahi janda kere, miskin, hamil anak orang lain, tinggal di kontrakan bocor. Paling cuma dikasih uang lima puluh ribu terus ditinggal lagi. Paling cuma mau main-main saja. Kita lihat saja besok juga sudah dibuang lagi," kata Bu Ratna dengan sangat julid kepada ibu-ibu lain yang sedang gosip.
Ibu-ibu lain mengangguk-angguk, ada yang wajahnya terlihat iri, ada yang kasihan melihat nasib Una, ada juga yang tidak percaya dan ikut menghina.
Sementara itu, Una masih tertidur pulas di kasur tipis kontrakan bocornya yang lembab. Di jari manisnya yang kurus, cincin berlian asli dari Pak Arya masih berkilau sangat indah terkena sinar matahari pagi yang masuk dari lubang atap. Semalam ia menangis bahagia sampai ketiduran karena tidak percaya akhirnya ada yang melamarnya dengan tulus.
Jam 7 pagi tepat, suara klakson mobil mewah yang sangat nyaring terdengar lagi di depan gang sempit yang becek. Kali ini bukan hanya satu mobil, tapi dua mobil Alphard hitam berderet dengan plat nomor cantik. Warga langsung berhamburan keluar dari rumah dengan daster dan celana pendek ingin melihat dengan mata kepala sendiri.
Pak Arya turun dengan setelan jas putih yang sangat rapi, wangi parfum mahal, dan terlihat sangat tampan seperti pangeran di film-film. Di belakangnya, ada dua orang asisten wanita cantik yang rapi membawa banyak sekali kantong belanjaan mewah bermerek Louis Vuitton, Gucci, dan Zara.
"Selamat pagi, calon istriku Una," sapa Pak Arya dengan suara lembut sambil mengetuk pintu kontrakan Una yang sudah miring dan hampir roboh.
Una terbangun kaget, rambutnya berantakan, matanya masih bengkak bekas menangis. Ia sangat malu melihat Pak Arya sudah sangat rapi dan wangi pagi-pagi.
"Pak Arya? Ya ampun, kok pagi-pagi sekali kesini? Saya belum mandi, kontrakan saya berantakan," kata Una dengan gugup sambil merapikan rambutnya.
Pak Arya hanya tersenyum tulus. "Saya tidak bisa tidur semalam memikirkan calon istri saya kedinginan dan kelaparan di kontrakan bocor ini. Mulai hari ini kamu tidak boleh tinggal di sini lagi satu detik pun."
Asisten wanita itu masuk dengan sopan dan langsung membereskan koper lusuh Una yang sudah sobek. Mereka mengeluarkan koper baru yang sangat besar, mewah, dan mahal dari merek Louis Vuitton asli.
"Ini apa, Pak? Saya tidak butuh barang semahal ini, saya malu," kata Una menolak halus karena tidak enak hati.
"Itu hadiah pertama saya untuk kamu. Dan ini," Pak Arya mengeluarkan kunci mobil dan kunci rumah besar dari saku jasnya. "Mulai hari ini kamu pindah ke rumah saya di Pondok Indah. Rumah besar yang akan menjadi rumah kita berdua dan calon bayi kita."
Una terkejut setengah mati, mulutnya terbuka lebar. "Rumah Bapak? Yang seperti istana itu? Yang ada kolam renangnya?"
"Iya sayang. Di sana ada kamar hangat dengan AC, ada makanan enak bergizi setiap hari, ada dokter pribadi untuk memeriksa kandunganmu setiap minggu. Kamu dan calon bayi kita harus sehat dan bahagia," kata Pak Arya sambil dengan lembut mengelus perut Una yang masih rata.
Air mata Una mengalir deras lagi, tapi kali ini bukan air mata sedih, melainkan air mata haru yang sangat bahagia. Ia tidak pernah diperlakukan semulia dan sehormat ini seumur hidupnya. Mantan suaminya Rizal bahkan tidak pernah membelikan baju baru selama 2 tahun menikah.
Tepat saat itu, Bu Ratna datang dengan wajah masam, tangan di pinggang, dengan gaya galak. "Eh, Una, kamu belum bayar kontrakan 3 bulan, total 1,5 juta, mau kabur begitu saja? Enak saja! Bayar dulu!"
Sebelum Una sempat menjawab dengan ketakutan, Pak Arya maju selangkah ke depan. Tatapannya yang biasanya lembut dan hangat berubah menjadi sangat tajam, dingin, dan berwibawa seperti pengacara top di pengadilan.
"Berapa total utang istri saya? Saya bayar 10 kali lipat sekarang juga, jadi 15 juta. Tapi ingat baik-baik, Bu, mulai hari ini jangan pernah berani menginjakkan kaki di dekat istri saya lagi. Saya bisa tuntut Anda atas pengusiran tidak manusiawi dan penghinaan. Saya punya bukti videonya," kata Pak Arya dengan suara tegas menggelegar yang membuat semua warga diam ketakutan.
Bu Ratna langsung pucat pasi, gemetar, lututnya lemas, dan mundur ketakutan melihat aura Pak Arya yang sangat berwibawa dan menakutkan.
Una hanya bisa tersenyum kecil melihat Pak Arya membelanya dengan gagah berani. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seorang pria yang berdiri di depan untuk melindunginya dari kejahatan orang lain.
Siang itu, dengan disaksikan seluruh warga kampung yang melongo penuh iri dan kagum, Una keluar dari gang kumuh itu. Ia tidak lagi memakai baju daster lusuh sobek, tapi memakai dress cantik berwarna putih bersih pemberian Pak Arya yang membuatnya terlihat seperti bidadari turun dari langit. Ia masuk ke dalam mobil Alphard mewah dengan harum.
Mobil itu perlahan meninggalkan kontrakan bocor, meninggalkan masa lalu yang penuh air mata dan penderitaan. Di dalam mobil yang dingin dan wangi, Una memegang erat cincin berlian di jarinya dan mengelus perutnya dengan bahagia.
"Nak, kita akan punya rumah baru yang hangat. Kita akan bahagia selamanya ya," bisik Una sambil tersenyum menatap Pak Arya yang menyetir di sampingnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Perjalanan baru seorang ratu baru saja dimulai dari gang sempit itu.