Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi itu, Jingga datang lebih awal dari biasanya. Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa kejadian beberapa hari lalu tidak akan terus menghalanginya menjalankan pekerjaan. Meski masih ada rasa takut setiap kali melewati ruang rawat anak, ia berusaha menghadapinya perlahan. Ia tidak ingin menyerah pada rasa bersalah yang selama ini membuatnya merasa gagal menjadi seorang ibu sekaligus perawat.
Setelah menyimpan tas di loker, Jingga memeriksa jadwal tugas yang ditempel di papan ruang perawat. Hari itu, ia kembali mendapat giliran membantu pemeriksaan pasien anak. Jantungnya sempat berdegup lebih cepat ketika membaca bagian tersebut, tetapi ia menarik napas perlahan dan berusaha menenangkan diri.
“Kalau kamu merasa belum sanggup, jangan dipaksakan,” ujar Maya yang baru datang sambil merapikan rambutnya.
Jingga menoleh dan tersenyum tipis. “Aku mau mencoba, May. Aku nggak bisa terus menghindari ruangan itu.”
Maya mengangguk, meskipun sorot matanya masih menyimpan kekhawatiran. “Baiklah. Tapi ingat, mencoba bukan berarti kamu harus memaksakan diri sampai sakit.”
“Aku tahu.”
Jingga mulai menjalankan tugasnya. Ia memeriksa catatan pasien, menyiapkan perlengkapan, dan membantu seorang ibu memberikan obat kepada putrinya. Anak perempuan itu berusia sekitar tiga tahun dan tampak takut ketika Jingga mendekat. Jingga berusaha tersenyum, lalu menjelaskan dengan lembut bahwa obat tersebut akan membantu tubuhnya kembali sehat.
Ketika anak itu akhirnya menurut, Jingga merasakan sedikit kelegaan. Untuk beberapa saat, ia bisa menjalankan pekerjaannya tanpa dihantui bayangan masa lalu.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Saat sedang mencatat hasil pemeriksaan, Jingga mendengar suara seorang anak menangis keras dari kamar sebelah. Tangannya langsung berhenti bergerak. Dadanya terasa sesak, dan bayangan putranya kembali memenuhi pikirannya.
Jingga mencengkeram pena di tangannya. Ia berusaha mengalihkan perhatian pada catatan di hadapan, tetapi tulisan di kertas mulai tampak kabur.
Tidak! Aku nggak boleh kembali seperti ini!
Ia segera meletakkan pena dan berjalan ke ruang istirahat. Namun, baru beberapa langkah, napasnya mulai tidak teratur. Telapak tangannya dingin, jantungnya berdebar cepat, dan lututnya terasa lemas.
“Jingga?”
Suara yang dikenalnya membuatnya menoleh.
Samudera berdiri beberapa langkah darinya. Dokter itu baru saja keluar dari ruang pemeriksaan dan langsung menyadari perubahan pada wajah Jingga.
“Kamu merasa tidak nyaman lagi?” tanyanya.
Jingga mengangguk kecil. Ia mencoba berbicara, tetapi tenggorokannya terasa tercekat.
Samudera tidak mendesaknya. Ia mengajaknya menuju ruang yang lebih tenang, kemudian memastikan Jingga bisa duduk dengan nyaman. Setelah beberapa saat, napas perempuan itu mulai kembali teratur.
“Maaf, Dok,” ucap Jingga lirih. “Saya kira saya sudah lebih baik.”
“Kamu tidak perlu meminta maaf karena mengalami kesulitan.” Samudera menatap wanita itu dengan wajah tenang. “Pemulihan tidak selalu berjalan lurus. Ada hari ketika kamu merasa lebih baik, lalu ada hari ketika kenangan itu kembali terasa berat.”
Jingga menunduk. “Saya takut tidak bisa kembali seperti dulu.”
“Untuk sekarang, kamu tidak perlu memikirkan bagaimana caranya kembali menjadi dirimu yang dulu. Cukup pikirkan apa yang bisa kamu lakukan hari ini tanpa menyakiti dirimu sendiri.”
Perkataan Samudera membuat Jingga terharu. Ia terbiasa mendengar Rangga dan semua orang di rumah menyuruhnya melupakan kesedihan, berhenti menangis, dan kembali menjalani hidup seperti biasa. Namun, Samudera tidak memintanya melakukan semua itu, pria itu justru memberinya izin untuk pulih sesuai kemampuannya.
“Dokter pernah mengalami kehilangan?” tanya Jingga tiba-tiba.
Samudera terdiam sejenak, pertanyaan Jingga sebenarnya sederhana tetapi membawa pikirannya pada mendiang istrinya.
“Pernah. Istri saya meninggal dua tahun lalu, saat melahirkan anak kami.”
Jingga perlahan mengangkat wajahnya, ia tidak pernah mengetahui hal tersebut. Selama ini, Samudera selalu terlihat tenang dan profesional. Sulit membayangkan bahwa lelaki di hadapannya pernah mengalami kehilangan yang begitu besar.
“Maaf, Dok. Saya tidak tahu.”
“Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu meminta maaf.” Samudera tersenyum tipis. “Anak saya sekarang berusia dua tahun. Laki-laki, namanya Arka.”
“Dokter membesarkannya sendiri?”
“Sebagian besar waktu, iya. Saya dibantu keluarga dan pengasuhnya, terutama ketika pekerjaan sedang padat.”
Jingga memandang Samudera dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada kesedihan dalam cara lelaki itu berbicara tentang istrinya, tetapi pria itu tidak berusaha menutupi kenyataan bahwa hidupnya tetap berjalan setelah kehilangan tersebut.
“Bagaimana Dokter bisa melewati semuanya?” tanyanya pelan.
Samudera menarik napas sebelum menjawab. “Saya tidak benar-benar tahu apakah saya sudah melewatinya. Saya hanya belajar menjalani hari tanpa kehadirannya. Ada hal-hal yang tetap saya rindukan, tetapi saya juga punya anak yang membutuhkan saya.”
Jingga merasakan dadanya menghangat sekaligus perih. Ia memahami bahwa kehilangan tidak selalu berakhir dengan seseorang melupakan orang yang telah pergi. Terkadang, seseorang hanya belajar hidup sambil membawa kenangan itu.
“Kalau kamu bersedia, saya bisa membantu mengarahkanmu untuk mendapatkan pendampingan yang sesuai. Kita juga bisa membicarakan penyesuaian tugasmu sementara waktu agar kamu tidak harus menghadapi semua pemicu itu sekaligus.” Ujar Samudera.
Jingga mengangguk. “Saya bersedia, Dok. Saya ingin sembuh, meskipun saya belum tahu harus mulai dari mana.”
“Kita mulai dari langkah kecil.”
Percakapan mereka terhenti ketika seorang perawat mengetuk pintu dan memberitahukan bahwa Samudera ditunggu di ruang pemeriksaan. Dokter itu berdiri, tetapi sebelum pergi, ia memastikan Jingga sudah merasa cukup baik untuk kembali ke ruang perawat.
“Jangan terburu-buru, kamu bisa meminta bantuan kalau membutuhkannya.”
“Baik, Dokter.”
Setelah Samudera pergi, Jingga duduk beberapa menit lagi. Ia merasa lega karena akhirnya bisa membicarakan kehilangan putranya tanpa harus menyembunyikan air mata.
Meski begitu, ia belum ingin menganggap perhatian dokter itu sebagai sesuatu yang istimewa. Samudera telah kehilangan seseorang yang dicintainya, dan Jingga menghormati luka yang juga masih menjadi bagian hidup lelaki itu.
Menjelang sore, Jingga menerima pesan dari Maya yang menanyakan apakah ia ingin makan bersama setelah bekerja. Jingga menyetujuinya. Ia merasa membutuhkan waktu bersama sahabatnya, sekaligus ingin belajar menikmati hal-hal sederhana tanpa selalu merasa bersalah karena masih bisa tertawa setelah kehilangan anaknya.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Jingga sempat melihat Samudera berjalan melewati lorong sambil berbicara melalui telepon. Dokter itu tampak berbeda ketika menyebut nama Arka. Wajahnya yang biasanya serius berubah lebih lembut, bahkan senyumnya terlihat jelas ketika mendengar suara putranya dari seberang telepon.
Tanpa sadar, Jingga ikut tersenyum.
Ada kehangatan dalam cara Samudera berbicara kepada anaknya. Kehangatan yang mengingatkannya pada masa ketika ia masih bisa menggendong putranya sendiri, mencium pipinya, dan mendengar tawa kecil yang memenuhi rumah.
Senyum Jingga perlahan memudar, tetapi kali ini ia tidak langsung menangis. Ia membiarkan kenangan itu hadir, lalu menarik napas panjang sebelum melanjutkan langkahnya.
Tak apa jika hari ini hancur, tapi jangan biarkan luka membuatmu menyerah. Sebab, sekeras apa pun badai menerjang... ia tak akan menetap selamanya.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu