Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Sementara itu, beratus-ratus kilometer jauhnya dari ketenangan mistis rumah kolonial di Yogyakarta, atmosfer di sebuah kamar perawatan kelas tiga di salah satu rumah sakit di Jakarta Selatan terasa begitu mencekam dan menjemukan.
Bau menyengat cairan antiseptik, karbol, dan lamat-lamat aroma obat-obatan kimia memenuhi udara yang pengap. Bunyi statis yang ritmis dari alat patient monitor bip... bip... bip... menjadi satu-satunya melodi yang menemani keheningan malam yang larut.
Mahen duduk terkulai di sebuah kursi plastik bersandar di samping ranjang besi tempat ibunya terbaring lemah dengan selang infus menancap di punggung tangan. Kedua matanya terpejam rapat, guratan kelelahan tercetak jelas di wajahnya yang kusam. Pria itu baru saja terlelap karena kantuk yang luar biasa setelah seharian penuh menjaga sang ibu sendirian tanpa bergantian.
Wussshhh...
Suhu di dalam ruangan mendadak anjlok drastis dalam hitungan detik. Udara yang semula hangat karena pendingin ruangan yang diatur standar, tiba-tiba berubah menjadi sedingin es yang menusuk tulang.
"Hah! Uhuk... uhuk!"
Mahen tersentak bangun dari tidurnya. Tubuhnya menegak kaku di atas kursi. Napasnya memburu cepat, pendek-pendek, dan berat laksana orang yang baru saja lolos dari tenggelam. Keringat dingin mengucur deras dari pelipis dan membasahi kerah kaus oblong yang digunakannya, membuat tubuhnya merinding hebat. Dada Mahen bergemuruh, ada rasa kegelisahan dan kecemasan yang mendadak menghantam ulu hatinya tanpa alasan yang jelas, sebuah efek psikologis dari racun pikiran yang dikirimkan oleh Ki Renggo.
"Astagfirullah... mimpi apa gue tadi..." bisik Mahen parau, menyeka keringat di dahinya dengan tangan yang gemetar.
Ia menoleh ke arah ranjang ibunya. Sang ibu masih tertidur pulas dengan dada yang kembang kempis teratur. Mahen mengembuskan napas lega yang dipaksakan. Ia meraih ponselnya di atas meja nakas, berniat memeriksa jam kerja atau sekadar mencari pengalih perhatian. Layar ponselnya menyala, menampilkan ruang obrolan WhatsApp dengan Cindy yang masih menyisakan rentetan pesan centang satu miliknya.
Namun, tepat saat jemarinya menyentuh layar, ponsel itu mendadak mati total. Layarnya hitam pekat.
Bersamaan dengan matinya ponsel itu, bunyi bip dari alat monitor jantung ibunya melambat secara janggal. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, begitu sunyi hingga Mahen bisa mendengar suara aliran darahnya sendiri yang berdesir kencang di dalam telinga.
Insting manusianya merasakan bahaya. Perlahan, Mahen mendongakkan kepala, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang hanya diterangi oleh lampu toilet yang berpendar temaram dari celah pintu yang terbuka sedikit.
Tepat di sudut ruangan yang paling gelap, di samping lemari pakaian besi yang berkarat, Mahen menangkap sesuatu yang tidak beres. Kegelapan di sudut itu seolah bergerak, memadat, dan membentuk sebuah siluet.
Jantung Mahen serasa berhenti berdetak.
Di sana, berdiri sesosok hitam yang sangat tinggi dan besar. Tingginya hampir menyentuh langit-langit kamar rumah sakit. Mahluk itu tidak memiliki wajah yang jelas, hanya berupa manifestasi energi hitam pekat berbulu kasar laksana asap yang memadat, dengan sepasang mata tersembunyi yang memancarkan pendaran merah redup yang penuh dengan aura intimidasi dan permusuhan mutlak.
"S-Siapa... siapa di sana?!" suara Mahen tercekat di tenggorokan, bergetar hebat karena rasa takut yang teramat sangat. Tubuhnya mendadak kaku, terkunci di atas kursi, tidak mampu digerakkan bahkan hanya untuk sekadar berteriak meminta bantuan perawat di luar.
Mahluk hitam itu tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan suara desisan rendah yang terdengar seperti ratusan bisikan gaib yang memekakkan isi kepala Mahen.
“Pergi... jangan kembali... lupakan... pergilah...“
"Nggghhh... k-kamu... pergi!" Mahen mencoba mencengkeram pinggiran ranjang besi ibunya, berusaha mengumpulkan tenaga.
Namun, belum sempat Mahen menyelesaikan kalimatnya atau mengedipkan mata, sosok hitam tinggi besar itu menerjang maju secepat kilat. Gerakannya membelah ruangan dalam sebaris detik, menciptakan tekanan angin dingin yang menghantam wajah Mahen secara brutal.
Sebelum Mahen sempat berteriak, telapak tangan gaib yang besar dan bermassa asap hitam itu menghantam tepat di dadanya, menyerap seluruh sisa kesadaran dan pasokan oksigen di paru-parunya. Rasa sakit yang teramat pekat menjalar di kepalanya, seolah seluruh memori dan obsesinya tentang Yogyakarta dipelintir dan dikoyak paksa dari otaknya.
Brakk!
Kursi plastik yang diduduki Mahen sedikit bergeser. Kepala Mahen terkulai lemas ke samping, matanya berputar ke atas sebelum akhirnya terpejam sepenuhnya. Pria itu pingsan seketika, jatuh terkapar di lantai rumah sakit yang dingin dengan napas yang tersengal-sengal di dalam ketidaksadaran, sementara sosok hitam di sudut ruangan perlahan melenyap menguap ke udara, meninggalkan Mahen dengan takdir baru yang telah dikunci oleh sebuah ketakutan dan delusi hebat yang akan menjauhkannya dari Cindy untuk selama-lamanya.
Di dimensi lain yang terputus dari jagat manusia maupun rawa Yogyakarta, sebuah hamparan kegelapan abadi membentang tanpa ujung. Di tengah-tengah ruang hampa itu, berdiri sebuah singgasana yang terbuat dari tumpukan tulang belulang mahluk purba yang telah membatu.
Sosok hitam bertubuh raksasa dengan tanduk melingkar besar duduk di atasnya. Setiap kali hidungnya mengendus, asap putih pekat menyembur keluar dengan tekanan tinggi, persis seperti banteng yang sedang naik pitam.
“Waktunya untuk persembahan, dan KEMANA DAMIAAANN???“ Suara gelegar itu mengguncang fondasi dimensi, membuat jiwa-jiwa tersesat di sekitarnya memekik ketakutan.
Mahluk itu adalah Sang Penguasa Pangilon, entitas kuno yang kekuatannya berada jauh di atas tingkat iblis Damian.
Beberapa waktu lalu, saat Damian frustrasi mencari cara agar jiwa manusia Cindy tidak terkikis dan mati oleh hawa kematian mutlak dari tubuh iblisnya, ia sengaja menjelajahi dimensi terlarang ini selama seminggu penuh. Di sinilah Damian bertemu dengan Sang Penguasa Pangilon demi mendapatkan Batu Giok Sukma, sebuah artefak gaib yang mampu mengunci dan melindungi raga fana Cindy dari pembusukan energi es. Damian berhasil membawa batu itu pulang, namun dengan satu perjanjian darah: ia harus menyerahkan persembahan berupa ratusan energi suci mahluk halus tepat pada waktu yang ditentukan. Dan waktu itu adalah sekarang.
“Dia terlalu asyik dengan urusan ranjang dwngan manusianya... hingga berani menunda janjinya sendiri,” geram mahluk itu lagi, cakar-cakar hitamnya menggores lengan singgasana hingga memercikkan api.
Sementara itu, di dimensi manusia, tepatnya di teras belakang rumah kolonial yang hangat oleh sinar matahari pagi.
Damian, yang saat itu masih memeluk pinggang Cindy dengan mesra di sofa, mendadak menghentikan gerakannya. Seluruh tubuhnya menegang kaku laksana batu. Sepasang mata birunya berkilat tajam, lalu dengan gerakan patah-patah yang cepat, ia langsung menolehkan kepalanya ke belakang, menatap lurus ke arah langit kosong di balik pohon beringin tua.
Hawa sedingin es yang masif mendadak meledak keluar dari tubuhnya, membuat rumput di sekitar teras seketika membeku menjadi kristal. Damian tahu, getaran di jiwanya adalah alarm mutlak bahwa Sang Penguasa Pangilon sedang menagih janjinya.
Cindy yang merasakan perubahan drastis dari tubuh suaminya langsung mendongak, matanya memancarkan rasa khawatir. "Damian? Ada apa? Tubuhmu mendadak dingin sekali... lebih dingin dari biasanya."
Damian perlahan memalingkan kembali wajahnya menatap Cindy. Seringai tipisnya kali ini tampak sedikit dipaksakan, walau tatapan matanya tetap memuja seutuhnya.
"Tidak ada apa-apa, mijn liefde," bisik Damian dengan suara parau yang sedikit ditekan, mencoba menyembunyikan getaran energi gaib yang bergejolak di dalam dadanya. Ia mengusap pipi Cindy dengan lembut. "Hanya ada urusan kecil dari masa lalu yang memanggil saya untuk segera diselesaikan."
Cindy mengernyit bingung, insting manusianya menangkap ada sesuatu yang disembunyikan. "Urusan apa? Terkait dengan keselamatan kita? Wajahmu tegang sekali, Damian."
Damian mengecup bibir Cindy sekilas, sebuah kecupan penenang yang sarat akan janji perlindungan. "Urusan yang justru menjamin agar kamu dan Helena bisa tetap bernapas di samping saya selamanya. Duduklah di sini, jaga putri kita. Saya harus pergi sejenak ke pekarangan belakang."
Dengan satu gerakan halus, Damian menurunkan Cindy dari pangkuannya. Begitu kakinya melangkah menjauh dari sofa mendekati area rawa yang gelap di belakang rumah, wujud manusianya meluruh instan. Jubah hitamnya kembali berkibar, sepasang sayap raksasanya menyeruak lebar mengeluarkan asap hitam pekat, dan sebilah pedang bara apinya muncul di genggaman.
Ia harus segera mengumpulkan sisa-sisa energi dari ratusan mahluk rawa yang ia bantai malam Satu Suro kemarin untuk dibawa sebagai persembahan, sebelum Sang Penguasa Pangilon murka dan menghancurkan kedamaian yang baru saja ia bangun untuk istri dan anaknya.