Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 15
"Terimakasih semuanya."
Rinda mengakhiri rapatnya dengan cepat. Tak banyak yang disampaikan olehnya. Hanya dua hal saja.
Pertama, dia akan kembali memimpin TBBA. Dan yang kedua, Rinda tidak akan menutup cabang TBBA yang ada di Pekalongan.
Semua terlihat lega atas keputusan Rinda. Mereka juga sangat senang saat melihat Rinda kembali menduduki kurs pimpinan.
Berada di bawah kepemimpinan Teani yang lebih kurang dua bulan, sudah banyak sekali keluhan yang terdengar.. Dan itu cukup mengganggu proses mereka dalam bekerja.
Saat Teani memimpin, mereka baru sepenuhnya tahu bahwa Teani adalah tipe pemimpin diktator. Wanita itu hanya suka memerintah, namun tak mau mendengarkan. Teani juga egois, dia lebih mengutamakan kepentingan pribadi ketimbang pekerjaan.
Kembalinya Rinda juga menimbulkan pembicaraan hangat. Semua orang yang bekerja di TBBA bersyukur. Toko-toko cabang pun juga sangat senang.
"Kalau TBBA di pimpin oleh Teani, entah apa yang akan terjadi nanti kedepannya."
"Aku rasa dalam kurun waktu satu tahun, TBBA bahkan bisa bangkrut."
"Dia sama sekali tidak kompeten. Haah, aku sungguh bersyukur Bu Rinda selamat."
"Iya ya, benar. Dan kalian merasa aneh tidak sih, kok kayaknya keluarga Bu Rinda malah yang kaget begitu ya pas Bu Rinda muncul. Ekspresi mereka seperti ketakutan gitu semalam. Lalu sekarang, Teani juga tidak muncul kan."
Ucapan satu orang tersebut membuat semua berspekulasi. Banyak sekali dugaan yang muncul. Namun mereka tak mengemukakannya.
Saat ini yang paling penting Rinda kembali. Pimpinan mereka sudah seperti sebelumnya.
Meski mereka merasa janggal dengan kecelakaan yang dialami oleh Rinda, akan tetapi saat ini memilih diam dan tidak kut berbicara adalah cara yang benar.
Urusan para atasan, bukan lah urusan mereka. Salah-salah kata, nanti malah bisa jad yang tertuduh.
Akan tetapi sikap keluarga Rinda yang seolah tak menyambut kembalinya Rinda memang sangat aneh. Dan ternyata itu menyebar ke seluruh karyawan dan juga kenalan mereka. Apalagi Teani hingga rapat selesai dan bahkan hari sudah berjalan setengahnya pun, Teani tak kunjung datang.
"Mbak, ah maksud saya Bu Rinda. Ap~"
"Kalau sedang tidak dalam situasi formal, panggil Mbak saja Jex."
Jexen menganggukkan kepala saat mendengar perintah Rinda. Dia memang lebih suka memanggil Rinda dengan panggilan 'mbak' ketimbang 'bu'. Setidaknya Jexen merasa bahwa jarak mereka tidak terlalu jauh.
"Ada apa, Jex? tadi kamu mau tanya apa hmm?"
"Oh anu Mbak. Soal Teani, apa yang bakalan Mbak lakukan ke dia. Sampai sekarang juga dia tidak muncul Mbak. Seharunya dia kan datang ke kantor untuk menjelaskan apa yang dikerjakannya sebelumnya."
Jexen sebenarnya enggan bertanya soal Teani. Hanya saja dia merasa bahwa sudah seharunya Teani datang dan menemu Rinda.
Bahkan dari semalam, Teani sama sekali tidak berbicara dengan Rinda. Jangankan pelukan selamat datang untuk sang adik yang kembali dari kematian, sekadar untuk bertanya apakah Rinda baik-baik saja pun tidak.
"Itu bukan masalah penting sekarang. Aku tidak peduli dengan dia. Mau dia ke kantor atau tidak, itu tak jadi soal Jex. Sekarang selesaikan proposalnya biar besok kita langsung ke SJ grup tanpa kendala."
Jexen mengangguk cepat. Dia tak lagi bertanya tentang hal tersebut.
Keduanya kembali bekerja dalam keheningan. Jexen fokus dengan pembuatan proposalnya, sedangkan Rinda fokus dengan memeriksa semua laporan yang selama hampir tiga bulan ini diabaikan oleh Teani.
"Sebenarnya apa yang dlakukan oleh dia?"
Rinda mengusap wajahnya kasar. Ia juga mengucek matanya yang tampak lelah. Hembusan nafas panjang selalu meluncur disetiap ia membalik lembaran kertas yang berisi laporan-laporan. Ketika melirik ke atas meja, masih ada setidaknya empat tumpukan kertas yang menggunung.
"Mbak, kalau lelah dilanjutkan nanti lagi. Kondisi kamu masih belum baik. Kamu seharusnya masih harus banyak istrahat. Nanti takutnya kamu pusing dan kembali merasa nyeri di bagian dada."
Ucapan Jexen ada benarnya. Kecelakaan yang menimpanya bukan lah kecelakaan biasa. Lewat 10 hari dia baru ditemukan. Kondisi tubuhnya sangat buruk waktu itu. Ada beberapa tulang yang patah dan retak. Rinda juga sempat mengalami hilang ingatan sejenak.
"Kamu benar Jex, aku akan ke ruang istirahat ku. Tapi Jex, kok sepertinya kamu paham betul tentang kondisiku?"
Rinda mengerutkan alisnya. Asisten pribadinya itu baru ditemuinya sekitar tiga minggu yang lalu, sebelum kemunculannya di pesta pernikahan suami dan kakaknya. Namun perkataan Jexen seolah paham betul dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Rinda merasa aneh dengan hal tersebut.
"Oh itu anu, ya kan kalau orang baru saja kecelakaan masa pemulihannya tidak mungkin cepat. Pasti ada proses yang harus dilalui. Apalagi kata Mbak, Mbak sampai pernah kehilangan ingatan kan meski sejenak. Dan itu bisa membuat kepala Mbak sakit kalau terlalu diforsir untuk berpikir."
Jexen mengangguk-anggukkan kepala. Mencoba meyakinkan Rinda atas argumennya.
"Yeah, kamu benar. Ya sudah aku istrahat dulu. Aku juga sudah minum obat. Tolong bangunkan aku kalau ada hal yang penting ya," sahut Rinda. Dia lalu melenggang masuk ke ruang istirahat yang ada di balik rak buku besar belakang meja kerjanya.
Jexen hanya mengangkat ibu jarinya sebagai sebuah jawaban.
Setelah Rinda masuk, tangan Jexen kembali menari indah di atas tuts keyboard. Dia menatap layar dengan sangat fokus.
Meski investasi yang akan diberikan SJ Grup akan mudah saja didapat, tapi Jexen tak ingin mengecewakan Rinda.
Tok tok tok
Setelah beberapa saat semenjak Rinda masuk ke ruang istirahat, pintu ruangan milik pimpinan itu diketuk pelan. Jexen langsung mengerutkan alisnya. Jika ada yang akan datang, pasti lebih dulu akan mengabarinya.
Ia meletakkan laptopnya di atas meja untuk berjalan ke arah pintu dan melihat siapa yang ada di balik pintu
Ceklek
Klaaak
Jexen menaikkan satu sudut bibirnya, sebuah seringai terbentuk di sana.
"Mau apa?" tanyanya dingin. Pintu itu tak dibuka lebar oleh nya dan ditahan sekuat mungkin.
"Aku mencari istriku, dimana Rinda," jawab Gani. Dia menekan pintu, hendak membuka dengan mendorong paksa. Namun kekuatan Jexen lebuh besar darinya sehingga pintu itu sama sekali tidak goyah atau bergeser barang satu senti pun.
"Heh istri kamu bilang. Istri yang mana hmmm? Istri yang tak pernah kamu cari? Istri yang tak kamu pastikan tentang hidup atau tidaknya dia? Atau istri yang bahkan belum genap 40 hari sejak kamu bilang hilang tapi kamu sudah merencanakan pernikahan dengan kakaknya. Dia sudah bukan istrimu, dan bukankah istrimu ada di rumah sekarang?"
Wajah penuh hinaan jelas tergambar dari ekspresi Jexen. Pemuda itu seolah melihat benda menjijikan ketika berhadapan dengan Gani.
"Jaga mulutmu, kamu bocah yang hanya seroang asisten, beraninya berkata demikian kepada suami atasanmu?" ujar Gani. Rahangnya mengeras, amarahnya terpancing melalu perkataan Jexen.
"Hahaha teruslah bermimpi Gani. Teruslah merasa bahwa kau adalah suami Rinda, nikmati lah posisi yang hanya tinggal nama itu. Karena tak lama lagi, status itu akan lenyap dari mu."
TBC