Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
BAB 27
MALAM TAHUN BARU
Rey menunggu di bawah lampu jalan dengan sebatang rokok yang tidak pernah dinyalakan.
Jaket hitam menutup lehernya. Udara Jakarta tidak benar-benar dingin, tetapi angin malam membawa sisa hujan dan bunyi klakson dari jalan besar. Di kejauhan, orang-orang sudah mencoba kembang api meski tengah malam masih dua jam lagi.
Lani turun dari taksi online sambil memeluk tas.
"Katanya selesai jam sembilan," protes Rey.
"Kelas bunganya selesai jam sembilan. Jalan macet."
"Bisa kasih kabar."
"Aku sudah kirim pesan dari mobil."
"Setelah aku telepon tujuh kali."
Lani berhenti di depannya. "Kamu mau marah atau mau dapat hadiah?"
Rokok di bibir Rey langsung turun. "Hadiah apa?"
Lani mengeluarkan sebuah benda kecil dari tas. Apel rajut merah itu dibuat dengan benang yang tidak sama tebal. Daunnya sedikit miring, dan tangkainya terlalu panjang.
"Aku baru belajar," katanya. "Jangan tertawa."
Rey mengambilnya dengan hati-hati. "Siapa yang suka mainan bocah begini?"
Namun apel itu sudah masuk ke saku dalam jaket sebelum Lani sempat merebut kembali.
"Kalau nggak suka, kembalikan."
"Nggak bisa. Sekarang ini punya gue."
Senyumnya begitu jelas hingga semua keluhan soal keterlambatan lenyap.
"Tunggu," kata Rey.
Ia mengeluarkan kotak beludru dari kantong lain dan menekannya ke telapak Lani. Di dalamnya ada sepasang anting kecil berbentuk tetes air. Batu beningnya memantulkan lampu jalan tanpa terlihat berlebihan.
"Rey, ini pasti mahal."
"Jangan cek harga."
"Aku nggak bisa menerima barang semahal ini."
"Kamu menerima dua sepatu. Masa anting satu pasang nggak boleh?"
"Logikamu aneh."
"Pakai besok. Kalau nggak suka, kita tukar bareng."
Ia tidak memaksa Lani langsung mengenakannya. Itu cukup membuat penolakan Lani melemah.
Di dalam lift, tangan mereka bertemu. Rey meraba saku jaket dua kali, memastikan apel rajut masih ada. Lani melihat gerakan itu dari pantulan pintu logam dan tersenyum.
Saat angka lantai naik, kembang api pertama pecah di balik kaca lorong.
***
Lampu kristal di ballroom hotel membuat semua orang terlihat lebih mahal daripada biasanya.
Wulan berdiri di sisi meja bundar bersama pasangan karyawan lain. Ia mengenakan gamis biru tua miliknya sendiri dan kerudung abu-abu. Dimas sempat mengerutkan dahi karena bajunya dianggap terlalu sederhana, lalu meninggalkannya untuk bergabung dengan rekan satu tim.
"Istrimu pendiam sekali, Mas," kata seorang kolega perempuan.
Dimas tertawa. "Dia cuma ibu rumah tangga. Nggak ngerti kalau kami bicara soal gim."
Wulan mendengar dari jarak dua langkah.
"Padahal konsep level awal Mas Dimas katanya dari cerita anak-anak," ujar kolega lain.
"Saya yang kembangkan. Dia paling cuma dengar dari Dika."
Dulu, Wulan yang menemani Dimas membuat sketsa gim pertama di meja makan. Ia yang mengusulkan permainan mencari jalan pulang karena Dika takut tersesat di pasar. Malam-malam itu kini diceritakan Dimas seolah ia bekerja sendirian.
Wulan tidak membantah di depan koleganya. Bukan karena setuju, melainkan karena tidak ingin menyediakan lebih banyak bahan untuk ditertawakan.
Dari panggung, Bram membuka acara dengan pidato singkat. Tatapannya menyapu ruangan, berhenti satu detik pada Wulan, lalu beralih tanpa tanda khusus.
Ia menepati batas bahkan di tengah ratusan orang.
Undian hadiah dimulai mendekati pukul sebelas. Nama Dimas terpilih untuk hadiah konsol genggam, model yang berbulan-bulan ditunjuk Dika setiap kali mereka melewati toko elektronik.
Wulan ikut tersenyum. Akhirnya ada sesuatu yang bisa dibawa pulang untuk anak mereka.
Namun seorang kolega perempuan merapatkan kedua tangan.
"Mas Dimas, aku mau banget itu. Tukar sama voucher makanku, ya?"
"Ambil saja," jawab Dimas sambil tertawa. "Di rumah juga paling dimainkan anak kecil."
Ia menyerahkan kotak itu tanpa melihat Wulan.
"Dika menginginkannya," kata Wulan ketika Dimas kembali ke meja.
"Jangan pelit. Aku bisa beli nanti."
"Kapan?"
"Jangan mulai di acara kantor."
Dimas berbalik dan kembali bercanda dengan timnya.
Sesuatu di dalam Wulan terasa padam. Ia mengambil ponsel, tetapi lupa tas dan mantel tipisnya masih berada di sandaran kursi. Ballroom mendadak terlalu penuh untuk bernapas.
Ia berjalan keluar.
Angin di area depan hotel menyusup melalui lengan gamis. Wulan memeluk tubuh sendiri. Hitungan mundur baru akan dimulai empat puluh menit lagi, tetapi jalan sudah riuh.
Kain hangat menyentuh bahunya.
Wulan menoleh, sempat berharap Dimas akhirnya menyusul.
Bram berdiri di belakangnya.
"Maaf," katanya. "Boleh saya pakaikan?"
Wulan melihat jas yang setengah menggantung di bahu, lalu mengangguk. Bram membenarkannya tanpa menyentuh kulit.
"Ibu kedinginan. Pak Anto ada di parkiran. Boleh duduk di mobil sampai lebih hangat?"
"Kalau ada yang lihat?"
"Mobil berhenti di area umum. Ibu boleh duduk sendiri. Saya bisa kembali ke ballroom."
Wulan memandang pintu hotel. Dimas tidak muncul.
"Temani saya sebentar," katanya. "Boleh?"
Wajah Bram melunak. "Boleh."
***
Pak Anto menyalakan pemanas ringan, lalu mengemudikan mobil keluar dari kepadatan hotel. Wulan duduk di kursi belakang bersama Bram, masih mengenakan jasnya. Ia menceritakan hadiah Dika tanpa menangis. Suaranya justru datar, seperti luka itu sudah terlalu sering dibuka.
"Mau saya antar pulang?" tanya Bram.
"Jangan dulu."
"Ke tempat ramai atau sepi?"
Wulan menatap antrean kendaraan dan kilatan kembang api. "Sepi. Saya cuma mau dengar pikiran sendiri."
Bram meminta Pak Anto berhenti di sebuah gang lebar dekat perumahan Wulan, masih cukup terang oleh warung yang buka sampai malam. Pak Anto turun membeli kopi dan menunggu di ujung jalan agar mereka punya ruang tanpa meninggalkan mobil jauh.
"Saya nggak seharusnya ada di sini," bisik Wulan.
"Saya bisa panggil Pak Anto sekarang."
"Jangan."
Wulan menatap wajah Bram dalam cahaya papan warung. "Kemarin saya bilang kita jangan bertemu lagi."
"Iya."
"Hari ini saya yang minta ditemani."
"Iya."
"Pak Bram nggak mau bilang saya munafik?"
"Tidak. Saya pikir Ibu sedang sedih dan membuat pilihan yang mungkin besok akan Ibu nilai lagi."
"Kalau saya menyesal?"
"Saya tidak akan memakai malam ini untuk menahan Ibu."
Wulan meraih tangan Bram lebih dulu.
"Boleh saya dekat?" tanya Bram.
"Boleh."
Ia bergeser sampai lutut mereka bersentuhan. Bram menunggu lagi.
"Boleh saya cium?"
Di luar mobil, suara orang menghitung dari sebuah televisi warung terdengar jauh. Wulan tahu persis siapa laki-laki di depannya. Ia juga tahu Dimas masih menjadi suaminya. Tidak ada kegelapan atau salah nama untuk membagi tanggung jawab.
"Boleh," jawabnya.
Ciuman itu pelan, lalu menjadi lebih dalam ketika Wulan menarik kerah Bram. Setiap kali napasnya berubah, Bram berhenti seolah memberi pintu keluar. Setiap kali, Wulan memilih mendekat lagi.
Mereka tidak melangkah lebih jauh dari pelukan, ciuman, dan tangan yang tetap di tempat yang telah diizinkan. Namun bagi Wulan, batas yang dilanggar malam itu jauh lebih nyata daripada ciuman pertama.
Kali ini ia sadar dan memilih.
Pukul dua belas, kembang api memutihkan kaca mobil. Bram menempelkan dahi ke dahinya.
"Selamat Tahun Baru, Bu Wulan."
Wulan tersenyum tipis. "Selamat Tahun Baru, Pak Bram."
Sebelum Pak Anto kembali, Bram mengeluarkan sebuah kartu tambahan berwarna hitam.
"Ini bukan bayaran dan tidak ada kewajiban memakainya," katanya. "Simpan untuk keadaan darurat. PIN-nya enam nol. Kalau Ibu tidak mau, kembalikan sekarang."
Wulan menatap kartu itu. "Kenapa memberi saya akses uang?"
"Karena saya tahu Ibu sering tidak punya pilihan saat kebutuhan Dika datang mendadak. Tapi keputusan tetap milik Ibu. Penggunaan kartu tidak berarti Ibu berutang pertemuan apa pun."
"Saya nggak janji akan pakai."
"Nggak apa-apa."
Wulan menerimanya dan menyelipkan ke bagian terdalam dompet.
"Setiap Jumat malam, Pak Anto bisa menunggu di gang ini selama setengah jam," lanjut Bram. "Kalau Ibu mau bertemu, naik. Kalau tidak, mobil pergi dan saya tidak bertanya."
"Pak Bram membuat perselingkuhan terdengar seperti jadwal rapat."
"Saya membuat ruang yang bisa Ibu tolak."
Ketika mobil berhenti, Bram bertanya, "Ibu akan bercerai dari Mas Dimas?"
Wulan mencengkeram dompetnya. "Nggak."
Kesedihan melintas di mata Bram, tetapi ia mengangguk. "Baik. Saya mengerti."
Ia tidak mencoba mengubah jawaban itu.
***
Di apartemennya, Wiwid mendengar bel tepat pukul sebelas lima puluh.
Nama Raka muncul di layar kamera pintu. Wiwid telah mengganti kode dan menghapus akses sidik jarinya dua hari lalu. Ia tahu Raka datang karena pemuda itu mengirim satu pesan sejak sore.
`Aku mau antar sesuatu. Kalau Teteh nggak mau buka, aku taruh di depan.`
Wiwid tidak menjawab.
Raka menekan bel satu kali lagi, lalu duduk di lantai koridor dengan tas di pelukan. Ia tidak mencoba kode lama dan tidak memaksa gagang pintu.
Lewat layar, Wiwid melihatnya menunggu.
"Pulang," bisiknya dari balik pintu, terlalu pelan untuk terdengar.
Ketika hitungan mundur bergema dari apartemen tetangga, Raka berdiri. Ia mengeluarkan sebuah apel merah yang dibungkus kertas bening dan pita hijau, lalu meletakkannya di atas keset.
Ponsel Wiwid berbunyi.
`Selamat Tahun Baru, Teh. Aku nggak akan masuk tanpa izin.`
Raka memanggul tas dan pergi menuju lift.
Wiwid baru membuka pintu setelah angka lift turun. Apel itu dingin saat diangkat, tetapi pitanya diikat dengan teliti.
Di tiga tempat berbeda, tahun baru dimulai dengan tiga buah apel.
Apel rajut di saku Rey menjadi tanda seseorang memilih tinggal. Apel di tangan Wiwid menjadi janji yang ditolak tetapi belum dibuang.
Dan di dalam dompet Wulan, kartu hitam menggantikan apel sebagai buah terlarang yang kini memiliki jadwal setiap Jumat.