Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 03
PERNIKAHAN DI ATAS JANJI
Di sisi lain halaman, tersembunyi di balik deretan pilar besar, Alessandra mengamati gadis itu dari kejauhan. Tatapannya angkuh, bibirnya menyeringai tipis, penuh kepuasan yang kelam dengan kedua tangannya terlipat ke perut.
"Salah satu musuh akan tinggal bersama kita," ucapnya pelan, namun jelas terdengar oleh putranya yang berdiri di sampingnya.
Muchus menyeringai seraya menatap sosok Laura yang masih berdiri kaku di samping Eleanor sembari membawa gelas kristal berisi beer. "Dan ini pertama kalinya kita melihat putri sulung bajingan McManaman itu. Menarik."
Sandra menoleh padanya dengan tatapan sinis, memperingatkan tanpa kata.
Sementara Muchus terdiam, namun senyum liciknya tak hilang. Di sisi lain Sandra berdiri seorang wanita berambut keemasan kemerahan, cantik namun dingin — Zoey, istri Muchus. Ia menatap Laura dengan pandangan tajam dan curiga, seakan gadis itu telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan, padahal Laura sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya telah menjadi sasaran pandangan penuh kebencian dari mereka.
Tak lama, mereka melangkah maju, bergabung dengan barisan keluarga. Laura ikut bergerak, langkahnya ragu-ragu, membawanya semakin dekat ke arah pria yang berdiri diam menunggu.
Semakin ia mendekat, semakin jelas ia melihat wajah itu — tegas, tajam, tak berkerut sedikit pun. Dan tiba-tiba, aroma yang kuat namun halus tercium jelas: wangi kayu cendana bercampur sesuatu yang sejuk dan tajam, melekat di pakaiannya, mengelilinginya seakan ia sendiri adalah hutan yang gelap dan tak tersentuh. Laura menahan napas tanpa sadar.
Killian mengerutkan kening sekilas, seakan menyadari tatapan tajam yang tertuju padanya. Ia menatap lurus ke mata Laura, tanpa senyum, tanpa ramah, seakan sedang menilai apakah gadis itu layak berdiri di hadapannya.
“Baik, kita mulai upacara pernikahan ini.” kata sang pendeta.
Upacara berlangsung cepat, tertutup, dan sunyi. Hanya orang-orang kepercayaan yang hadir.
Ketika pendeta mempersilahkan pertukaran cincin hingga, sebuah benda diletakkan di antara mereka — bukan sekadar kertas, melainkan selembar surat perjanjian yang tebal, dan di sampingnya tergeletak sebilah pisau kecil bermata tajam, gagangnya berlapis perak.
Laura menatap benda itu bingung. "Untuk apa itu?" tanyanya pelan, tak ditujukan pada siapa pun.
Killian tidak menjawab. Ia langsung meraih pisau itu, lalu dengan satu gerakan tangan yang kuat, mencengkeram pergelangan tangan kanan Laura sebelum gadis itu sempat menarik diri. Ia meronta, kaget, berusaha melepaskan tangannya, namun kekuatan pria itu jauh lebih besar. Ia tak bergerak sedikit pun.
“Tunggu. Apa yang kau lakukan— ”
Srepp!
Ujung pisau tadi menyentuh kulit ibu jari Laura. Ia meringis nyeri saat goresan itu tercipta, darah segar menetes perlahan. Killian menekan jari yang berdarah itu ke bagian bawah surat perjanjian, meninggalkan jejak merah yang jelas di atas kertas putih.
Lalu tanpa ragu, ia menggoreskan pisau itu pada ibu jarinya sendiri, menempelkan darahnya tepat di samping jejak Laura — menyatu, tak terpisahkan.
“Crazy! (Gila)!” Laura menarik tangannya secepatnya setelah dilepaskan.
Ia menatap noda darah yang mengotori bagian bawah gaun putihnya. Jemarinya meremas kain itu erat-erat, menahan rasa sakit yang bercampur amarah dan ketakutan.
Pendeta menatap ke arah Killian. "Kau boleh mencium pengantin wanita Anda, Tuan."
Pria itu menatap Laura tajam, menunggu gadis itu seolah dia tahu bahwa Laura marah. Dan benar saja, Laura mundur selangkah, tanpa berpikir panjang ia bersuara, suaranya bergetar namun tegas.
"Aku tidak bisa melakukannya."
Keheningan menyergap tempat itu seketika. Kieran dan Eleanor menatapnya tajam, mata mereka menyiratkan ancaman yang nyata. Sandra menyeringai kecil begitu juga Muchus.
"Kalau begitu, pernikahan ini batal," ucapnya sinis. "Tampaknya putri McManaman sendiri tidak menginginkannya." kata Sandra.
Laura menarik napas dalam-dalam, menatap mereka satu per satu, lalu menatap lurus ke arah Killian. Ia tahu ia tidak punya kuasa, namun ia tak sanggup berpura-pura.
"Bukan begitu," ucapnya pelan namun jelas. "Aku... aku malu."
Alasan itu terdengar konyol di telinga mereka — gadis yang sudah dikirim jauh-jauh untuk dinikahkan kini menolak ciuman karena malu. Sandra dan Muchus tersenyum mengejek. Kieran tampak menahan amarah, siap meledak. Eleanor menatapnya tajam seakan ingin menghancurkannya di tempat.
Killian tetap diam, menatapnya lekat-lekat, seakan mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik wajah pucat itu. Lalu ia berbicara, suaranya berat, dalam, terdengar mantap tanpa keraguan sedikit pun. Dan saat itulah Laura pertama kalinya mendengar suara pria itu.
"Aku berjanji akan menciumnya di kamar," ucapnya kepada pendeta, tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Laura.
Laura terdiam. Kata-kata itu membuatnya bungkam seketika, jantungnya berdegup kencang, wajahnya memerah bukan karena malu semata, melainkan karena ketakutan akan apa yang akan terjadi nanti. Ia tak tahu bagaimana harus bersikap, tak tahu apa yang menantinya di balik pintu kamar pria itu.
Killian tidak menunggu jawabannya. Ia membalikkan badan, memberi isyarat bahwa upacara telah selesai.
Sementara itu, di luar gerbang utama yang berat, sebuah mobil hitam berhenti sejenak di tempat yang agak tersembunyi. Di dalamnya, seorang pria menatap ke arah kerumunan yang mulai bubar. Matanya tertuju pada sosok Killian yang melangkah pergi lebih dulu.
Pria itu menyeringai, senyum yang licik dan penuh rencana tersembunyi.
"Dia menikah rupanya," gumamnya pelan.
Pria yang duduk di kursi pengemudi menoleh ke belakang. "Tuan, apakah Anda mau turun?"
Pria itu menggeleng, senyumnya melebar menjadi sesuatu yang mengerikan. "Tidak. Kita pergi saja. Melihat pemandangan itu sudah cukup bagiku hari ini."
Mobil itu melaju perlahan, menjauh, menghilang di balik kabut yang mulai turun. Namun bayangan pria itu tetap tertinggal — satu ancaman lain yang belum diketahui siapa pun, sedang menunggu saat yang tepat untuk muncul.