Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Amukan di Rumah Kontrakan dan Pengakuan Polos
Malam makin larut, tetapi udara panas kota seolah membakar emosi Bimo yang sudah berada di puncak kepala. Tanpa memikirkan hal lain, Bimo langsung menancap gas mobilnya menuju kawasan pemukiman padat di pinggiran kota. Di sanalah, tak jauh dari panti asuhan tempatnya tumbuh besar, Dewa tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil beratap seng. Mobil sedan hitam milik Bimo berhenti mendadak di gang sempit dengan suara decitan ban yang melengking kencang.
Bimo keluar dari mobil dengan napas memburu. Tanpa mengetuk pintu kayu yang sudah mulai memudar warnanya itu, Bimo langsung menggedornya secara brutal memakai kepalan tangannya.
Brak! Brak! Brak!
"Dewa! Buka pintunya! Keluar lu, Dewa!" teriak Bimo melengking, memecahkan keheningan malam gang sempit tersebut.
Di dalam kontrakan berukuran empat kali enam meter itu, Dewa baru saja selesai merebus mi instan. Ia hanya mengenakan celana pendek dan kaus oblong putih polos yang sedikit kusam. Mendengar gedoran tidak beradab dan teriakan yang sangat ia kenal, Dewa menghela napas panjang lalu melangkah menuju pintu.
Begitu engsel pintu berdecit terbuka, Bimo langsung mendorong tubuh Dewa hingga melangkah mundur beberapa tindak ke dalam ruangan. Bimo masuk, lalu menghempaskan pintu belakangnya hingga tertutup rapat.
"Lu gila ya, Wa?! Lu bener-bener gila!" amuk Bimo dengan mata melotot merah, napasnya naik turun menahan rasa panik dan murka yang bercampur aduk.
Dewa memegang dadanya yang agak sakit akibat dorongan Bimo, lalu menatap sahabatnya itu dengan raut wajah polos tanpa dosa.
"Biasa aja kali, Bim. Datang-datang main dorong, gedor pintu kaya penagih utang. Ada apa sih? Santai dulu, ini gue lagi masak mi," sahut Dewa tenang sambil berjalan kembali ke kompor gas kecilnya.
"Gimana gue bisa santai, Dewa?!" jerit Bimo frustrasi seraya menjambak rambutnya sendiri. "Lu tahu enggak apa yang baru aja terjadi di rumah gue?! Orang tua gue sama kakeknya Nadia baru aja merayakan keberhasilan perjodohan kita! Malah acara nikahannya dipercepat minggu depan! Minggu depan, Dewa!"
Dewa yang sedang mematikan kompor mendadak menghentikan tangannya. Ia menoleh pelan menatap Bimo dengan alis berkerut tebal.
"Hah? Minggu depan? Kok bisa cepat banget?" tanya Dewa keheranan.
"Ya mana gue tahu! Makanya gue ke sini mau minta tanggung jawab sama lu!" Bimo melangkah maju, menunjuk dada Dewa dengan telunjuknya yang gemetar. "Lu sebenarnya tadi di kafe ngapain aja, hah?! Skenario kita kan lu datang menyamar jadi gue, kelakuan norak, sok tahu, playboy, biar si CEO dingin itu jijik terus batalin perjodohan! Tapi kenapa hasilnya malah begini?!"
Dewa mematikan kompor sepenuhnya, lalu berbalik menghadap Bimo secara utuh. Wajahnya yang tampan tampak begitu polos dan tanpa beban, membuat Bimo makin gemas ingin meninjunya.
"Ya gue udah jalanin semua skenario konyol lu itu, Bim," jawab Dewa santai. "Gue pakai kemeja bunga-bunga kuning paling norak yang lu beliin, kancingnya gue buka tiga biji, gue pakai kacamata hitam, terus gaya jalan gue bikin sok ngangkang kaya preman pasar."
"Terus?! Kenapa dia enggak ilfil?!" cecar Bimo dengan nada memekik.
"Gue juga enggak tahu!" belas Dewa sambil mengibaskan kedua tangannya. "Pas gue duduk, gue sengaja seruput kopi berisik banget, srrrruuuupppp! begitu. Terus gue ngomong sok tahu soal racikan kopi, gue bilang gue suka keluar malam sama cewek-cewek lain, gue bilang gue bakal sering kritik masakan dia. Kurang norak dan minus apa lagi coba?"
Bimo menatap Dewa dengan raut wajah tidak percaya. "Terus reasksi Nadia gimana waktu lu ngomong gitu?"
"Dia diam aja. Muka dia datar banget kaya tembok semen belum diaci," beber Dewa jujur. "Enggak ada marah-marahnya, enggak ada jijiknya. Dia cuma ngeteh santai sambil ngeliatin gue kaya lagi ngeliat topeng monyet."
"Amsyong! Terus kenapa bisa sampai ada kesepakatan nikah minggu depan?!" amuk Bimo lagi, suaranya makin tinggi. "Ortu gue bilang, Nadia sendiri yang telepon kakeknya, bilang kalau gue, yang sebenarnya lu, sangat kooperatif dan setuju buat nikah!"
Dewa mendesah pelan, meraup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia melangkah menuju tempat tidur kasur lipatnya lalu duduk di pinggirannya.
"Lagian lu aneh banget minta tanggung jawab sama gue," cetus Dewa pelan. "Kan tugas gue cuma datang bersikap norak di depan dia. Pokoknya gue udah coba semaksimal mungkin bikin dia ilfil biar dia yang nolak lu. Menurut gue, tugas gue sebagai sahabat yang baik udah selesai pas gue keluar dari kafe itu."
"Selesai gundulmu!" semprot Bimo makin emosi. "Tugas lu itu bikin perjodohan ini batal! Kalau ujung-ujungnya malah mau ditingkatin jadi pernikahan minggu depan, ya artinya lu gagal total, Dewa! Masa lu merasa tugas lu udah selesai begitu aja?!"
"Ya lagian hasilnya gue juga bingung, Bim!" sahut Dewa tidak mau kalah, nadanya mulai agak meninggi karena terus-terusan dipojokkan. "Lu kira gue enggak kaget apa pas duduk di sana?"
Bimo bersedekap dada, menatap Dewa dengan pandangan menuntut penjelasan lebih. "Bingung gimana maksud lu? Ceritain yang jelas dari awal sampai akhir! Jangan ada yang disembunyiin!"
Dewa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menyandarkan siku di lututnya. Tatapannya berubah menjadi sangat serius dan agak cemas.
"Gue bingung soalnya cewek itu beda banget sama gambaran lu, Bim. Dia itu bukan cuma dingin, tapi otaknya pinter banget dan kelakuannya nekat. Pas gue lagi asyik-asyiknya akting norak dan sok tahu, dia bukannya ngamuk, tapi malah ngeluarin map biru dari tasnya."
Dewa menatap Bimo lurus-lurus, mengingat kembali detik-detik menegangkan di Kafe Merah beberapa jam yang lalu.
"Dia nyodorin dokumen tebal ke meja. Isinya Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak satu tahun. Dia bilang dia enggak peduli mau gue norak, playboy, atau kelakuan minus kaya gimana pun. Yang penting bagi dia, gue, maksudnya sosok Bimo, mau nikah sama dia selama setahun demi kakeknya yang sakit-sakitan."
Bimo melotot makin lebar, mulutnya ternganga. "Pernikahan... kontrak? Satu tahun?!"
"Iya! Gue langsung tolak dong saat itu juga! Gue bilang pernikahan itu sakral, enggak bisa dijadiin kontrak main-main kaya gitu. Gue udah berusaha keras menolak dan minta dia cari cowok lain," tegas Dewa membela diri.
"Terus kenapa akhirnya dia bisa lapor ke kakeknya kalau lu setuju?! Lu tanda tangan?!" tanya Bimo panik.
Dewa menundukkan kepalanya sejenak, lalu menatap Bimo dengan sorot mata penuh rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam.
"Gue terpaksa, Bim... Soalnya dia ngancam!" ungkap Dewa jujur.