NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singgasana Sang Ratu yang Terbuang

Ruang rapat utama di lantai empat PT Sinar Surya pagi itu menjelma menjadi sebuah kuil kecemasan. Dinding-dinding kaca tebal yang biasanya memantulkan panorama kesibukan ibu kota kini terasa seperti jeruji tak kasat mata yang mengurung napas para eksekutif di dalamnya. Meja rapat oval dari kayu mahoni yang dipernis mengilat memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang dingin, seolah bersiap merekam sebuah pengadilan tak tertulis.

Reza Adijaya berdiri di dekat barisan kursi tengah. Tangannya yang dingin sesekali merapikan ujung kemeja birunya yang kini tak lagi dihiasi jam tangan mewah. Di sampingnya, Rian berdiri dengan lutut yang nyaris gemetar, beberapa kali menyeka keringat yang terbit di dahinya menggunakan saputangan yang lecek.

"Za," bisik Rian dengan suara yang begitu lirih, nyaris teredam oleh dengung pendingin ruangan. "Semua laporan keuangan kuartal ini sudah kusiapkan. Tapi... aku merasa ada yang tidak beres. Atmosfer dari orang-orang pusat terlalu dingin."

Reza tidak menoleh. Ia hanya menatap pintu ganda jati berukir di ujung ruangan yang masih tertutup rapat. "Tenang, Rian. Di bawah kepemimpinanku, divisi logistik selalu melampaui target. Siapa pun pewaris Atmadja yang datang hari ini, dia adalah seorang pebisnis. Dan seorang pebisnis sejati tidak akan membuang aset terbaiknya hanya karena rumor."

Reza mencoba menegakkan kepalanya, membusungkan dada yang sebenarnya terasa kosong dan rapuh. Di dalam kepalanya, ia masih membayangkan bagaimana ia akan menjabat tangan sang CEO baru, memberikan senyuman terbaiknya, dan perlahan-lahan menyisipkan permohonan halus untuk memulihkan rekeningnya yang membeku. Ia yakin, keahlian bicaranya yang selama ini mampu memikat klien-klien besar akan mampu melunakkan hati pewaris Atmadja Group tersebut.

Tepat pukul sembilan lewat lima belas menit, keheningan di dalam ruangan itu pecah.

Pintu ganda jati di ujung ruangan terbuka perlahan. Dua orang ajudan berbadan tegap dengan setelan jas hitam pekat melangkah masuk terlebih dahulu, berdiri tegak di sisi kiri dan kanan pintu bagai sepasang pilar batu yang kokoh. Udara di dalam ruangan mendadak menjadi sangat tipis. Semua pasang mata tertuju pada satu titik yang sama.

Lalu, terdengar ketukan langkah kaki.

Tuk. Tuk. Tuk.

Itu bukan langkah kaki yang terburu-buru, melainkan ketukan yang berirama konstan, anggun, dan sarat akan kekuasaan yang mutlak. Setiap ketukan sepatu hak tinggi itu seolah bergaung langsung di dalam dada Reza, memicu detak jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Sesosok wanita melangkah masuk ke dalam ruang rapat.

Wanita itu mengenakan setelan blazer satin sutra berwarna hitam pekat dengan potongan bahu yang tegas, dipadukan dengan celana panjang senada yang jatuh dengan sempurna di atas sepatu hak tinggi berbahan beludru hitam. Rambut hitamnya yang legam disanggul modern dengan sangat rapi, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih bersih. Di telinganya, sepasang anting mutiara hitam berkilau lembut di bawah cahaya lampu.

Wajahnya dirias dengan sangat natural namun tegas. Bibirnya diulas gincu merah bata yang matang, menyembunyikan bekas luka kecil di sudut bibirnya yang kini telah tertutup sempurna oleh riasan mahal.

Reza menatap sosok itu. Detik pertama, dahi Reza berkerut. Matanya menyipit, mencoba menembus ilusi visual yang mendadak menyerang retinanya.

Siluet itu... struktur wajah itu...

Otak Reza menolak untuk bekerja. Seluruh sinapsis di kepalanya seolah mengalami korsleting masal. Jantungnya yang semula berdegup kencang mendadak seperti berhenti berdetak, meninggalkan rasa hampa yang membekukan seluruh aliran darahnya.

Wanita itu melangkah mendekati ujung meja oval—tempat kursi utama CEO yang selama ini dibiarkan kosong berada. Baskara, kepala pelayan keluarga Atmadja, berjalan setengah langkah di belakangnya dengan sikap takzim yang luar biasa, membawa sebuah map kulit hitam yang sangat akrab di mata Reza.

"Selamat pagi, rekan-rekan direksi PT Sinar Surya," suara wanita itu mengalun rendah, jernih, dan begitu berkelas. Suara itu tidak keras, namun getarannya sanggup membungkam seluruh ruangan hingga tak ada satu pun yang berani menghela napas.

Saat wanita itu mendongak dan menyapu pandangannya ke seluruh ruangan, matanya yang sedingin es utara berhenti tepat di wajah Reza. Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara namun penuh dengan racun yang mematikan, tersungging di bibir merahnya.

"N-Naya...?"

Bisikan itu lolos begitu saja dari tenggorokan Reza yang mendadak sekering gurun pasir. Suaranya begitu parau, nyaris tak terdengar. Lututnya terasa lemas, seolah seluruh tulang di tubuhnya baru saja dicairkan menjadi air.

"Za? Kamu bicara apa?" bisik Rian dengan wajah bingung, melirik Reza yang kini tampak pucat pasi bagai mayat yang baru saja ditarik dari dalam es.

"Tidak... tidak mungkin..." gumam Reza lagi, tubuhnya limbung setengah langkah ke belakang, hingga ia harus berpegangan pada tepi meja mahoni agar tidak jatuh tersungkur di lantai marmer.

Wanita yang berdiri di hadapannya—wanita yang kini dihormati oleh seluruh jajaran direksi tertinggi dari pusat, wanita yang memegang kendali atas hidup dan mati kariernya—adalah Naya.

Naya yang dua malam lalu ia tampar hingga sudut bibirnya berdarah. Naya yang dituduh ibunya sebagai pencuri berdarah miskin. Naya yang ia buang di bahu jalan tol KM 26 dengan daster katun usang dan sepasang sandal jepit murah di tengah kegelapan malam yang dingin.

Namun kini, wanita itu berdiri di sana, dikelilingi oleh aura kemewahan dan kekuasaan yang begitu pekat, menatapnya dari puncak menara gading yang tak akan pernah bisa ia gapai seumur hidupnya.

Baskara melangkah maju, membuka map kulit hitam di atas meja, lalu bersuara dengan lantang dan tegas ke seluruh penjuru ruangan.

"Perkenalkan, jajaran direksi PT Sinar Surya. Ini adalah pemimpin baru kita, pewaris tunggal dari dinasti Atmadja Group yang baru saja menyelesaikan masa penyamarannya di tingkat bawah untuk memahami struktur sosial korporasi kita. Nona Muda Anindya Naya Atmadja."

Anindya Naya Atmadja.

Nama itu menghantam kepala Reza bagai gada besi raksasa yang dijatuhkan dari langit. Surat gugatan cerai dengan kertas linen mahal kemarin pagi... nama penggugat yang ia tertawakan habis-habisan bersama Rian... semuanya bukanlah sebuah lelucon dari pengacara gadungan. Itu adalah kebenaran mutlak yang tertulis dengan tinta emas takdir.

Seluruh ruangan membungkuk hormat, menyambut sang ratu yang baru saja kembali ke takhtanya. Hanya Reza yang berdiri kaku bagai patung lilin yang mulai meleleh di bawah teriknya kebenaran.

Naya mendudukkan dirinya di kursi kulit utama yang tinggi. Ia melipat tangannya di atas meja, menatap Reza yang masih gemetar di tempatnya berdiri dengan pandangan yang biasa ia gunakan untuk menatap debu di bawah sepatunya.

"Pak Reza Adijaya," Naya menyebut nama suaminya dengan nada yang begitu formal, seolah pria itu tak lebih dari sebutir kerikil yang tak sengaja tersangkut di jalannya. "Anda terlihat sangat tidak sehat pagi ini. Apakah AC di ruangan ini terlalu dingin untuk Anda?"

Pertanyaan itu terdengar begitu ramah, namun di telinga Reza, itu adalah kalimat eksekusi yang paling kejam. Kehancuran sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, tidak ada jalan tol yang bisa ia gunakan untuk melarikan diri dari murka sang permaisuri.

1
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!