Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Panggilan Wali Kelas, Batik Sogan, dan Sabotase Bel Sekolah
Pagi itu di Bogor, cuaca cerah dengan sisa-sisa embun yang menempel di dedaunan mangga depan rumah. Di ruang keluarga kediaman Hapsburg, televisi menyala menampilkan berita internasional di saluran Breaking News:
"...sebuah objek tak dikenal yang diduga satelit usang berukuran masif dilaporkan jatuh di pegunungan Alpen, Swiss. Tidak ada korban jiwa, namun fenomena ini memicu anomali magnetik..."
Xander von Hapsburg, sang Dominus Umbrae yang ditakuti separuh populasi dunia bawah, duduk santai di meja makan. Ia mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek selutut, tangannya memegang secangkir kopi tubruk hitam legam. Sesekali ia meniup permukaan kopinya dengan gaya yang masih elegan, meski kini ia sedang mengunyah pisang goreng kepok buatan istrinya.
Dunia aman. Olympus telah runtuh. Tidak ada lagi dewa-dewa ekonomi yang mengatur hidup manusia. Yang ada hanyalah aroma tumis kangkung terasi yang menguar dari arah dapur.
"Dirga! Jangan lupa burung perkututnya Bapak dikasih makan! Freya, tolong jemurannya diangkat, kayaknya mau mendung!" Suara Tania menggelegar dari arah dapur, diiringi bunyi desis minyak goreng.
"Siap, Nyonya!" sahut Dirga dari halaman depan, yang saat ini sedang memakai kaus partai lungsuran sambil bersiul memanggil burung. Freya, sang pembunuh bayaran berdarah dingin, hanya mengangguk patuh sambil membawa sekeranjang pakaian basah menuju halaman belakang.
Xander tersenyum tipis. Kedamaian ini terasa asing, namun ia menyukainya. Ia baru saja hendak menyeruput kopinya lagi ketika Dea, putri angkatnya yang jenius itu, berjalan menuruni tangga dengan langkah gontai. Wajah gadis itu tertunduk, tidak berani menatap mata ayahnya maupun ibunya.
Dea berhenti di depan meja makan, menghela napas panjang, lalu meletakkan selembar kertas putih yang lecek di samping piring pisang goreng Xander.
"Apa ini, Sayang? Rencana cetak biru markas baru?" tanya Xander dengan nada kebapakan yang hangat. Ia meletakkan cangkirnya dan mengambil kertas itu.
Mata Xander menyapu deretan kalimat yang diketik rapi di atas kertas berlogo Tut Wuri Handayani tersebut. Alisnya yang tebal perlahan bertaut. Aura membunuh yang sudah ia kubur dalam-dalam mendadak merembes keluar, membuat suhu di ruang makan seolah turun lima derajat.
"Tania," panggil Xander, suaranya berat dan dingin, seolah ia baru saja menerima deklarasi perang dari kartel Kolombia. "Kita punya masalah."
Tania muncul dari dapur sambil membawa piring berisi telur dadar. Ia masih memakai daster batik andalannya, lengkap dengan rambut yang dijepit seadanya. "Masalah apa? Gas elpiji tiga kilonya habis lagi? Kan aku udah bilang ke Dirga suruh langganan—"
"Bukan," potong Xander. Ia mengangkat kertas itu dengan dua jari seolah itu adalah benda beracun. "Ini. Surat panggilan dari Bimbingan Konseling SMA Negeri 7. Seseorang bernama 'Pak Budi' berani-beraninya memanggil kita. Ia menuduh putriku melakukan kejahatan siber di sekolah. Ini penghinaan. Dirga! Freya! Siapkan persenjataan! Kita ratakan sekolah ini dalam lima belas menit!"
"SIAP, KOMANDAN!" Dirga mendadak muncul dari pintu depan sambil menenteng senapan serbu assault rifle, sementara Freya sudah mengokang pistol glock di tangannya, siap membunuh siapa pun yang menyakiti nona muda mereka.
TAK!
Sebuah spatula kayu mendarat telak di kepala Xander.
"Aduh!" Xander mengaduh, mengusap kepalanya dan menatap istrinya dengan tatapan bingung. Dirga dan Freya langsung menyembunyikan senjata mereka ke belakang punggung, ciut melihat Nyonya Besar beraksi.
"Ratakan-ratakan gundulmu!" omel Tania sambil berkacak pinggang. "Ini Bogor, Mas! Bukan markas Yakuza! Ini panggilan wali kelas. P-A-N-G-G-I-L-A-N O-R-A-N-G T-U-A! Berarti anak kita bikin masalah di sekolah!"
Tania merebut surat itu dari tangan suaminya, lalu menatap Dea dengan mata menyipit tajam bak elang yang mengincar mangsa. Dea menelan ludah, refleks mundur selangkah. Menghadapi ratusan prajurit Sentinels Olympus terasa jauh lebih mudah daripada menghadapi ibunya yang sedang mode Emak-Emak Murka.
"Dea Amalia Hapsburg," panggil Tania dengan nada rendah yang mengancam. "Apa yang kamu lakukan di sekolah sampai kita dipanggil Pak Budi?"
"A-aku nggak ngapa-ngapain, Bu..." cicit Dea. "Cuma... server ujian e-learning sekolah lemot banget. Guru-guru pada marah karena website-nya down. Jadi, aku iseng... membobol masuk ke server Kominfo, mengalihkan bandwidth satelit Palapa langsung ke ruang guru, dan merombak sistem keamanan web sekolah pakai arsitektur kuantum sisa-sisa program Olympus kemarin."
Xander tersenyum bangga, menepuk meja. "Luar biasa! Analisis masalah yang brilian dan eksekusi yang sempurna. Kau benar-benar putriku. Seharusnya Pak Budi itu memberimu penghargaan, bukan surat panggilan!"
"MAS XANDER, DIAM!" bentak Tania, membuat Xander kembali kicep. Tania kembali menatap Dea. "Terus? Kalau cuma benerin website, kenapa dipanggil BK?"
"Soalnya..." Dea menggaruk pipinya yang tidak gatal, "...karena aku bosan, aku sekalian meretas sistem audio sekolah. Jadi pas jam istirahat, bel sekolahnya nggak bunyi teng-teng-teng lagi. Aku ganti pakai lagu Kalinka yang versi bass boost, Bu. Satu sekolah joget Rusia."
Dirga terbatuk keras untuk menahan tawanya, sementara bahu Freya bergetar halus menahan senyum.
Tania memijat pelipisnya. Sakit kepalanya kumat. Ia membuang napas panjang, lalu menatap tajam ke arah suaminya. "Ganti bajumu. Pakai kemeja batik yang kemarin kubelikan di Pasar Anyar. Kita ke sekolah Dea sekarang. Dan Dirga, simpan senjatamu, atau aku jadikan kau umpan lele di empang belakang!"
Empat puluh lima menit kemudian, sebuah mobil MPV keluarga berwarna hitam yang terlihat sangat normal meluncur memasuki gerbang SMA. Namun, penumpang di dalamnya jauh dari kata normal.
Xander turun dari kursi penumpang. Pria bule bertubuh kekar setinggi 190 cm itu mengenakan kemeja batik lengan panjang bermotif Parang Sogan. Sayangnya, karena otot dadanya yang terlalu besar, kemeja batik itu terlihat sangat ketat, seolah kancing-kancingnya menjerit minta tolong setiap kali Xander bernapas. Ditambah kacamata hitam aviator yang menutupi matanya, Xander lebih terlihat seperti Debt Collector internasional ketimbang wali murid.
Tania menyusul turun, tampil anggun namun tegas dengan setelan blus dan celana bahan, menenteng sebuah kotak kardus kuning khas Bogor.
"Ingat," desis Tania ke telinga suaminya saat mereka berjalan menuju ruang BK. "Jangan senyum sinis. Jangan tatap matanya terlalu lama. Dan demi Tuhan, Xander, JANGAN tawarkan uang suap apalagi mengancam akan memotong jari gurunya!"
"Aku tahu cara bersosialisasi dengan warga sipil, Tania," balas Xander kaku, mencoba merapikan kerah batiknya.
Di dalam ruang BK yang sempit dan berbau kapur barus, Pak Budi—seorang guru honorer paruh baya dengan kacamata tebal—sedang duduk menyeka keringat di dahinya. Di depannya, Dea duduk tertunduk lesu.
Pintu terbuka. Masuklah Xander, membuat seluruh cahaya di ruangan itu seolah terserap oleh auranya yang kelam. Pak Budi menelan ludah keras-keras saat melihat bahu lebar dan wajah bule Xander yang mengintimidasi.
"S-selamat pagi, Bapak, Ibu..." sapa Pak Budi, suaranya sedikit bergetar.
Sebelum Xander sempat membuka mulutnya yang mungkin akan mengucapkan 'Aku bisa membeli hidupmu', Tania langsung maju dan menyodorkan kotak kuning di tangannya.
"Pagi, Pak Budi! Aduh, maaf banget ya Pak merepotkan. Ini ada sedikit Bolu Talas Sangkuriang buat Bapak sama guru-guru di kantor," ucap Tania dengan senyum semanis madu, khas ibu-ibu arisan yang sedang melobi. Ia lalu mendaratkan cubitan kecil namun mematikan di paha Dea, membuat gadis itu meringis menahan sakit. "Ini lho Pak, anak saya emang tangannya suka iseng. Kebanyakan main komputer di rumah."
Xander berdiri kaku di belakang Tania, mencoba tersenyum, namun yang keluar justru ringisan yang terlihat seperti orang yang sedang merencanakan pembunuhan berantai.
"I-iya, Bu," Pak Budi mengelap keringat dengan saputangan. "Bukan apa-apa... Dea ini anak yang luar biasa jenius. Server kami sekarang jadi yang paling cepat se-Jawa Barat. Hanya saja... lagu Rusia yang diputar di speaker sekolah saat upacara bendera kemarin membuat Bapak Kepala Sekolah jantungan."
"Saya bisa membeli sekolah ini dan memecat Kepala Sekolah Anda jika dia tidak tahan mendengar seni musik," potong Xander tiba-tiba dengan suara berat.
Tania dengan cepat menginjak sepatu kulit Xander kuat-kuat dengan pantofelnya. Xander mengertakkan gigi, berusaha tidak menjerit.
"Hahaha! Bapaknya Dea ini memang suka bercanda, Pak Budi. Orang bule, selera humornya agak ekstrem," kilah Tania sambil tertawa renyah, meski tangannya diam-diam mencubit pinggang Xander dari belakang. "Terus gimana Pak? Dea dihukum apa? Kami sebagai orang tua mendukung penuh disiplin sekolah!"
Pak Budi tampak ragu-ragu. "Eh, berhubung Dea tidak merusak, malah memperbaiki fasilitas... hukumannya ringan saja. Dea harus membersihkan Laboratorium Komputer sepulang sekolah selama satu minggu penuh."
Xander membelalakkan matanya. Hukuman fisik? Putri dari Dominus Umbrae disuruh menyapu dan mengepel debu?! Ia baru saja membuka mulut untuk memanggil Dirga dan mengerahkan pasukan pembersih elit dari Eropa.
Namun, Tania lebih dulu menjewer telinga Dea dengan lembut namun bertenaga. "Bagus, Pak! Bagus banget! Sekalian biar dia tahu rasanya pegang sapu. Di rumah main keyboard terus. Dea, minta maaf sama Pak Budi."
"Maaf, Pak Budi. Saya nggak akan meretas sistem sekolah lagi," ucap Dea sungguh-sungguh, meratapi nasibnya yang harus jadi cleaning service dadakan.
Sepuluh menit kemudian, urusan selesai. Xander dan Tania berjalan keluar dari koridor sekolah, meninggalkan Dea yang sedang pasrah berjalan menuju ruang Lab Komputer sambil membawa ember pel dan kain kanebo.
Xander menatap punggung putrinya dengan tatapan iba. "Tania, tidak bisakah kita membayar orang saja untuk menggantikannya menyapu? Tangannya diciptakan untuk menulis kode, bukan memegang gagang pel kotor."
Tania mendesah pelan, lalu menggandeng lengan suaminya dengan lembut. "Xander... Dea butuh ini. Dia butuh kehidupan normal. Dia sudah terlalu sering melihat senjata, peretasan tingkat tinggi, dan orang jahat. Biarkan dia merasakan masalah anak SMA biasa. Merasa takut pada guru BK, dihukum nyapu, lalu ngomel-ngomel sama temannya. Itu yang membentuk karakter, bukan sekadar uang atau kekuasaan."
Xander menatap istrinya, lalu tersenyum lembut. Aura mafianya memudar, digantikan oleh kehangatan seorang ayah. Ia mencium puncak kepala Tania.
"Kau memang ibu yang luar biasa," puji Xander. "Bahkan Valerius saja tidak bisa menundukkanku, tapi kau hanya butuh satu spatula untuk membuatku diam."
Tania tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu bidang suaminya. "Tentu saja. Dan sekarang, Bos Mafia, kau yang harus menyetir pulang. Aku mau mampir ke Pasar Anyar beli kangkung. Dirga bilang kangkungnya kurang."
Dunia bawah tanah mungkin menakutkan, namun bagi Xander von Hapsburg, menjalani kehidupan normal sebagai suami dari emak-emak Indonesia ternyata jauh lebih menantang—sekaligus paling membahagiakan dalam hidupnya.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor