Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.
Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.
Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?
subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas Ilham
"Zahra!" Panggil Hawa yang terlihat buru-buru ketika mengambil dompet di dalam tasnya. Zahra yang dipanggil langsung menghadap ibunya di kamar.
"Ummi panggil Zahra?" tanyanya demikian. "Ada apa Ummi?"
"Sini, Nak." Ummi Hawa duduk di bibir ranjang, diikuti Zahra yang duduk di sampingnya. "Begini ... hari ini kan akan ada tamu murid Abi yang dari Mesir itu. Kemarin Ummi pesen kue sama Bu Halimah, kamu bisa tolong ambilkan, Nak?"
"Cuman ngambil kue doang kan Ummi. Zahra, bisa ... Jam berapa Ummi? Soalnya Zahra mau ngisi kelas dulu. Ada jadwal mengaji di rumah Pak HJ Thoriq." Ucap Zahra sambil melirik jam di tangannya.
"Kalau bisa pagi-pagi, ya. Takutnya nanti tamunya keburu datang," ujar Ummi.
"Zahra, mengajar ngaji paling sampai jam 09.00 Ummi. Kalau pulang dari rumah Pak Haji gimana Ummi?"
"Bolehlah, tidak apa-apa. Lagi pula kata Abi tamunya datang jam sepuluhan. Masih keburu." Ummi Hawa dengan senyumnya. "Ini uangnya, ya." Ummi Hawa memberikan selembar uang 100 ribu kepada Zahra.
"Zahra terima, ya Ummi." Ucapnya sambil memasukkan uang itu ke dalam tas. "Kalau begitu Zahra, berangkat dulu Ummi." Zahra salam ke Ummi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mama!" Baru saja Zahra keluar dari kamar Ummi Hawa, si kembar Arsyad dan Semi sedang menuruni tangga. Mereka langsung berlari ke arah Zahra.
"Mama mau kemana? Abang ikut ya," ujar Arsyad.
"Adek juga." Semi menimpali.
"Abang sama Adek di rumah saja, jangan ikut, ya."
"Abang kan bosen Mama. Di rumah terus, sekalian pengen jalan-jalan juga Mama. Abang janji gak nakal." Arsyad mengacungkan dua jarinya.
"Semi juga." Semi memasang wajah imutnya.
Zahra menghela napas sesaat. Lalu mengangguk. "Ya sudah, tapi jangan nakal, ya."
"Siap bos!" Hormat Arsyad dan Semi. Mereka pun berangkat bersama keluar dari pondok.
Selain kegiatan menulis, Zahra juga mengajar mengaji. Setiap Minggu di rumah Pak Haji selalu mengadakan pengajian untuk anak-anak yatim, dan Zahra diminta untuk membantu—mengajari anak-anak.
Jika di hari biasa, Zahra hanya mengisi kelas di pondok. Zahra mengajar anak pondok yang masih berumur 3-6 tahun, kebanyakan itu anak-anak kampung yang mengaji sekaligus sekolah madrasah di sana.
Seperti biasa Zahra akan melewati jalanan gang perkampungan untuk menuju rumah pak Haji. Perjalanan kali ini terbilang adem tidak ada warga yang berbisik lagi membicarakan dirinya. Arsyad dan Semi berjalan di depannya, mereka bersenandung sholawat selama melangkah.
"Permisi," ucap si kembar dengan sopan saat melewati tongkrongan ibu-ibu di depan warung. Punggungnya membungkuk ketika lewat.
"Eh, Neng Zahra. Mau kemana? Sama si kembar lagi," ujar si Ibu warung waktu itu. Orangnya ramah murah senyum, tapi entah itu tulus atau tidak.
"Punten Bu, Zahra mau ke rumah pak Haji Thoriq untuk ngajar ngaji. Anak-anak mau ikut katanya di rumah bosan," jawab Zahra dengan biasa saja.
"Emang ada yang mau diajarin ngaji sama wanita yang tidak jelas melahirkan anak siapa." Celetuk seorang ibu. Wajahnya sinis, seperti ucapannya.
Arsyad dan Semi langsung menoleh menatapnya.
"Permisi Bu." Zahra tidak mau berdebat dia memilih untuk pergi. Tapi si Ibu tadi masih saja mengoceh.
"Bingung, ya ... Jawabnya." Sinis Ibu itu. Zahra kembali diam. "Kalau aku sih, ya nggak akan mau anakku diajarin ngaji olehmu. Yang ada bukan dapat pahala tapi malah ikut dosa," celetuknya.
Si Ibu warung menyikut lengannya biar pelanggannya itu diam. Namun, mulut seperti comberan itu tidak akan berhenti sebelum ia mendapat teguran.
"Emang ucapan ibu tadi gak dosa?" ujar Arsyad. Ibu tadi langsung menoleh. "Ibu tahu tidak, barusan ucapan Ibu itu menyakiti Mama kami. Seberapa besar pahala yang Ibu dapatkan jika kelakuan Ibu selalu menyakiti dan menyinggung orang lain maka pahala yang Ibu dapatkan akan musnah. Terhapuuus semua." Arsyad berkata seolah sedang menggurui.
"Eh, anak kecil jangan sok ceramahin saya, ya." Mata Ibu itu melotot. Arsyad hanya melipat tangan di bawah dadanya, sambil melirik sinis wanita itu.
"Seharusnya Ibu itu malu. Saya anak kecil aja tahu. Awas ya Bu, saya kasih tahu ghibah itu sama dengan kita memakan daging orang yang kita bicarakan. Barusan Ibu bicarakan Mama itu artinya Ibu sedang memakan daging Mama."
"Eh, kurang ajar kamu, ya!"
Arsyad tertawa mengejek.
"Abang, sudah. Jangan kayak gitu, itu orang tua gak boleh," tegur Zahra.
"Tapi orang tuanya nyebelin."
"Ssst .... Gak boleh gitu. Kita pergi saja." Zahra langsung mengajak anak-anaknya pergi meninggalkan warung Bu Rita. Ibu berdaster tadi terlihat marah dan kesal. Tapi Arsyad dan Semi hanya tertawa riang.
****
"Abang, Adek, kita pulangnya jalan depan aja. Mama mau mampir ke rumah Bu Halimah ngambil pesanan Ninik."
"Ok Ma. Abang yang di depan, ya. Biar Abang bisa jagain Mama dari ibu-ibu tadi, mulutnya memekakkan telinga kaya terompet."
"Eh, jangan ngomong gitu," tegur Zahra. Tapi Arsyad dan Semi malah terkekeh.
"Harus dikasih cabe Bang, biar tahu rasa," ujar Semi dengan tawanya. Melihat tingkah si kembar Zahra hanya geleng-geleng.
Setelah pengajian selesai, Zahra pergi ke rumah Bu Halimah melewati jalan depan. Trauma dengan hinaan ibu-ibu tadi membuat Zahra memilih jalan utama daripada jalanan gang.
"Mama, lihat. Itu ada om-om kayaknya mobilnya mogok." Tunjuk Arsyad pada mobil sedan di depannya.
"Kita tolong yuk," ajak Arsyad pada Semi mereka pun berlari. Zahra tercengang karena kedua anaknya tidak pernah terduga.
"Abang, Adek! Kita harus segera pulang, nanti Ninik nungguin kuenya," seru Zahra yang mengikuti dari belakang.
Setibanya di depan mobil itu, mereka menyapa sang pemilik mobil yang sedang mengganti bannya.
"Assalamualaikum Om, mobilnya mogok?" tanya Arsyad. Si pemilik mobil langsung menoleh, dia cukup terkejut karena yang bertanya adalah anak kecil. Jarang sekali ada anak seumuran mereka yang peduli pada orang lain apalagi di pinggir jalan seperti itu.
"Eh, adek-adek dari mana? Ini mobil Om cuman kempes, jadi tadi cuman ganti ban saja."
"Om, dari mana kok baru lihat?" tanya Semi. Pria itu tersenyum lalu menjawab. "Om dari jauh ... datang kesini untuk menemui kerabat Om."
"Ouh ...." Semi manggut.
"Kalian sama siapa?"
"Itu ... Sama Mama." Tunjuk Semi ke arah Zahra yang setengah berlari ke arah mereka. Pria itu terpaku, ia termenung menatap Zahra yang semakin mendekat.
"Zahra," ucapnya yang bangkit berdiri. Wajahnya terlihat kagum juga kaget bertemu Zahra.
"Mas, Ilham," ucap Zahra demikian.
"Ouw ... " Mata Semi membola "Abang, dengar tidak pas Mama bilang Mas Ilham, kayaknya om ini membawa Ilham bagi kita hehe ...," bisik Semi pada Arsyad.
"Kamu ini, Dek," tegur Arsyad yang melotot.
"Kenapa Bang, kan bagus namanya terlalu agamis Mas Ilham, cocok kan sama Mama."
Arsyad menepuk jidatnya setelah mendengar ocehan Semi.
"Terus saja kayak gitu. Gak sekalian aja buat sayembara. Dicari jodoh untuk Mama," ujar Arsyad dengan nada jengkel. Tapi ditanggapi oleh Semi.
"Benar juga." Wajah Semi berbinar seolah sedang mendapatkan ide. Arsyad hanya geleng-geleng.
****
Lucunya tingkah si twins 😘 Tapi selucu ini gak ada yang like, komen dan vote. Sedihnya 😭
Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.
jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏