Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Suamiku Anak Mami
Malam perlahan merayap turun menyelimuti kediaman megah keluarga Wiraguna. Angin malam yang dingin berembus menyapu dedaunan di pekarangan luas, namun suasana di dalam kamar tidur utama lantai dua terasa jauh lebih membeku.
Aisyah berdiri kaku di balik pintu kayu mahoni yang tertutup rapat. Gamis biru mudanya telah berganti dengan pakaian tidur panjang berwarna krem yang ia bawa dari koper tuanya.
Di atas meja rias berbingkai ukiran emas, sebuah lampu tidur memancarkan cahaya remang-remang yang temaram, hingga memantulkan bayangan tubuhnya yang agak gemetar.
Di ujung ruangan, Dimas duduk di tepi tempat tidur berukuran King Size. Pria muda itu hanya mengenakan kaus oblong putih tipis dan celana santai hitam.
Rambutnya masih sedikit basah seusai mandi. Wajahnya yang tampan tampak agak memerah, matanya terus bergerak gelisah menatap sprei sutra putih yang membentang rapi di bawahnya.
"Syah..." panggil Dimas lirih, memecah keheningan. Suaranya terdengar canggung dan agak serak.
Aisyah pun tersentak kecil, lalu menundukkan pandangannya. "I-iya, Mas Dimas...?"
Dimas mengusap tengkuknya yang terasa panas. Keberanian yang sempat ia pamerkan di dalam mobil tadi pagi seolah menguap tanpa bekas saat berhadapan langsung dengan kenyataan bahwa malam ini adalah malam pertama mereka sebagai suami istri secara utuh.
Sikap manjanya berserakan, berganti dengan rasa sungkan dan gugup yang membakar dadanya.
"Kamu... kamu kok berdiri di sana terus?" tanya Dimas, seraya mencoba mengukir senyum kecil meski bibirnya terasa kaku. "Sini duduk... Kasurnya empuk kok, gak dingin kayak lantai rumah kamu."
Aisyah menarik napas dan menghembuskannya beberapa kali guna menata gejolak di hatinya.
Nasihat ibunya kembali bergema jernih di dalam benaknya, "Jalankan kewajibanmu sebagai istri dengan ikhlas, Aisyah. Layani suamimu dengan penuh akhlak, karena di situlah letak keberkahan pernikahanmu."
Dengan langkah perlahan dan jemari yang meremas kain bajunya, Aisyah mendekati tempat tidur. Ia lalu mendudukkan dirinya di tepi kasur yang memberi jarak beberapa jengkal dari tempat Dimas duduk.
Dimas kemudian menggeser duduknya perlahan dan memangkas jarak di antara mereka. Bau harum sabun mandi dan aroma alami khas dari tubuh Aisyah menyapa indra penciumannya, dan membuat jantung Dimas berdegup makin kencang.
"Syah," bisik Dimas pelan, lalu memberanikan diri mengulurkan tangannya dan menyentuh jemari Aisyah yang terasa dingin di atas pangkuan pahanya.
Aisyah tidak menarik tangannya. Ia hanya mengangguk pelan, lalu memberikan tatapan mata yang pasrah dan dipenuhi ketulusan.
"Maafin aku ya, Syah..." tutur Dimas dengan raut wajah yang kembali memancarkan sifat polos dan kekanak-kanakannya. "Gara-gara aturan Mami yang ketat tadi siang, kamu jadi harus repot dan kecapean. Aku... aku tadi mau ngelawan Mami lagi, tapi aku beneran gak berani..."
Aisyah menatap suaminya lalu menyentuh punggung tangan Dimas dengan tangannya yang lain.
"Mas Dimas tidak perlu minta maaf," balas Aisyah. "Bu Rosma itu ibu kandung Mas Dimas. Sudah sepantasnya Mas berbakti dan patuh pada beliau. Aisyah ikhlas menerima semua aturan itu selama Aisyah masih bisa mendampingi Mas Dimas sebagai istri."
Mendengar ucapan yang begitu sejuk dari mulut Aisyah, hati Dimas berdesir hebat. Rasa kagum dan rasa bersalah bercampur menjadi satu. Tanpa ragu lagi, Dimas memiringkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Aisyah, lalu merengkuh pinggang istrinya dengan sikap manja.
"Kamu baik banget sih, Syah..." rengek Dimas pelan, lalu menenggelamkan wajahnya di leher Aisyah. "Aku beruntung banget bisa nikah sama kamu... Walaupun Mami galak, tapi ada kamu di kamar ini yang bikin aku ngerasa tenang."
Aisyah membeku sejenak saat merasakan kehangatan napas Dimas di lehernya. Rona merah pun membanjiri seluruh permukaan wajahnya. Namun, menyadari statusnya sebagai seorang istri salehah, Aisyah perlahan mengangkat tangannya dan mengelus rambut Dimas yang masih sedikit basah.
"Mas Dimas... ini sudah malam," bisik Aisyah terengah halus. "Mas tidak mau istirahat?"
Dimas mendongak dengan pelan. Pandangan matanya yang jernih menatap lurus ke dalam iris mata Aisyah yang teduh dari jarak yang sangat dekat.
Tidak ada lagi keraguan di sorot matanya, yang ada hanya kehangatan cinta yang membara dan keinginan luhur untuk menyatukan dua insan yang telah disahkan oleh takdir.
"Syah... boleh aku minta hak aku malam ini?" panggil Dimas dengan suara yang begitu dalam, lembut, dan penuh penghormatan.
Aisyah menatap mata suaminya. Di dalam benaknya, seluruh rasa takut, rasa asing, dan kecemasan akan intrik Bu Rosma luntur sepenuhnya. Ia pun memantapkan hatinya untuk berserah diri pada takdir Ilahi dan menjalankan tugas sucinya.
Aisyah kemudian mengangguk pelan dengan senyuman tulus yang sangat anggun. "Bismillah... Iyya, Mas. Aisyah ridho dan ikhlas melayani Mas Dimas..."
_____
Dimas kemudian merengkuh tubuh Aisyah ke dalam dekapannya dengan penuh kelembutan. Ia membuka jilbab Aisyah dan terpesona dengan kecantikan wanita yang selama ini ia cintai itu, yang kini rambutnya sudah halal untuk di lihat.
"Kamu cantik sekali Syah..."
Dimas membelai rambut Aisyah yang berwarna hitam pekat. Ia lalu membuka ikat rambut Aisyah dan menatap wajah istrinya itu lekat-lekat.
Aisyah yang merasa malu langsung menundukkan pandangannya. Namun, Dimas segera mengangkat wajah Aisyah kembali dan Cup! Dimas mencium bibir Aisyah dengan lembut.
Dimas lalu membimbing Aisyah merebahkan diri di atas hamparan kasur empuk berselimut sutra. Lampu kamar yang remang memancarkan kehangatan di antara dua sejoli tersebut.
Dimas kemudian mendaratkan kecupan hangat di dahi Aisyah, lanjut mencium kedua pipi Aisyah, lalu ke bibir dengan durasi yang lebih lama hingga mereka saling menyecap dalam kegairahan.
"Akhh...." Lenguhan Aisyah terdengar merintih saat Dimas menciumi dan sedikit menggigit leher Aisyah.
Mendengar suara rintihan Aisyah, bira*i Dimas semakin memuncak hingga ia lebih beringas menyusuri lekuk tubuh Aisyah, hingga seluruh pakaian Aisyah tertanggal semuanya begitupun dengan Dimas yang kini sudah nampak polos.
Merasa malu dengan pengalaman pertama kalinya itu, Aisyah lantas menarik selimut dan menutupi tubuh Dimas yang berada di atasnya sambil memainkan benda kenyal kembar miliknya.
"Akh... Mas! Ehmm..."
Aisyah terus merintih ketika Dimas berusaha mencari gua kenikmatan surgawi dengan senjata miliknya. Beberapa kali Dimas tersesat karena itu juga pengalaman pertamanya.
Dalam momen itu, Dimas sempat berkata yang membuat Aisyah merasa bingung. "Syah... Kok susah banget ya, gimana caranya?," bisik Dimas.
"Aisyah juga gak tau, Mas..."
"Apa tanya Mami aja ya?," balas Dimas sambil mendongak dan menatap Aisyah yang sudah pasrah dan seketika membelalakkan matanya.
"Apa! Jangan Mas! Masa tanya Mami sih..." ujar Aisyah sambil menahan malu. "Mas, kalau gitu, berarti malam itu... Mas Dimas gak nyentuh Aisyah?," tanya Aisyah.
"Ya tentu saja enggak, Syah.... Meskipun waktu itu aku pengen sekali milikin kamu, tapi aku pikir melakukannya tanpa izin kamu, berarti aku sudah keterlaluan."
Aisyah tersenyum bahagia mendengar jawaban Dimas dan bersyukur karena laki-laki yang sudah jadi suaminya itu menghargai dan tidak merusak kehormatannya.
Aisyah menatap mata Dimas yang nampak sayu, lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Dimas. Kemudian menarik wajah Dimas hingga ia berhasil mencium bibir Dimas dan langsung di balas dengan penuh gairah.
Dengan bantuan gerakan dari Aisyah, akhirnya Dimas menemukan titik temu dan langsung melancarkan aksinya dengan beberapa kali percobaan dan mencetak GOOOLL!!!
Bersambung...