Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Adrian melanjutkan, "Perusahaan yang usianya belum terlalu lama bisa memenangkan tender sebesar ini dengan persaingan seketat tadi. Itu bukan keberuntungan. Itu kemampuan. Tapi setelah banyak ngobrol dan diskusi dengannya, aku yakin dia memang berbakat dengan bisnis." Ia tersenyum bangga, seolah sedang membicarakan seseorang yang sangat ia hormati. "Aku yakin....beberapa tahun lagi Dira akan menjadi salah satu pengusaha terbesar di negeri ini."
Kalimat itu terasa seperti duri bagi Mayang. Selama ini ia selalu berharap Adrian mengagumi pencapaiannya. Namun kini, kekaguman itu justru tertuju kepada perempuan lain. Mayang berusaha tetap tersenyum. "Begitu ya..." Lalu, seolah teringat sesuatu, ia berkata santai, "Oh ya, Aku dengar Dira juga menjadi donatur di yayasan keluargamu."
Adrian tampak sedikit terkejut. "Oh ya? Yayasan Maulana?"
"Iya. Katanya dia sering membantu kegiatan di sana. Bahkan dulu usaha skincarenya mempekerjakan orang-orang yang tinggal di yayasan."
Adrian mengangguk pelan. "Itu kabar yang bagus."
"Kalau memang benar, aku semakin menghormatinya. Orang yang tidak melupakan kegiatan sosial meski bisnisnya berkembang biasanya tahu dari mana mereka memulai."
Mayang terdiam. Ia berharap informasi itu akan membuat Adrian curiga. Sebaliknya, Adrian justru semakin memberikan penilaian positif kepada Dira. Dalam hati, Mayang mulai merasa cemas sekaligus menyesal sudah menceritakan bagian ini pada Adrian. Kalau tau begini, lebih baik ia tak cerita apapun agar Adrian tak usah tau.
Semakin sering Adrian menyebut nama Dira dengan rasa kagum, semakin kuat firasatnya bahwa hubungan mereka tidak akan berhenti hanya sebagai rekan bisnis. Dan jika itu benar-benar terjadi... Ia bisa kehilangan pria yang selama ini ingin ia pertahankan.
Mayang menarik napas pelan, lalu menghapus kegelisahan di wajahnya dengan sebuah senyum manis. "Sayang..." Ia menggandeng pelan lengan Adrian. "Daripada kita terus membicarakan orang lain... Kenapa kita tidak bersenang-senang saja?"
Adrian menoleh.
Mayang melanjutkan dengan nada yang lebih lembut. "Kita sudah lama tidak pergi berkencan. Bagaimana kalau siang ini kita makan bersama? Aku bisa memesan restoran yang enak, tidak jauh dari sini."
Beberapa detik Adrian terdiam. Kemudian ia melepaskan tangannya secara halus. "Maaf, Mayang. Aku harus kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Senyum Mayang perlahan memudar. "Tapi..." Ia menatap Adrian dengan sorot mata yang menyimpan kekecewaan. "Kamu menjaga jarak dariku, ya?"
Adrian tidak langsung menjawab.
Mayang menarik napas panjang. "Aku tahu. Kamu masih curiga padaku, kan?"
Keheningan menyelimuti di antara mereka. Akhirnya Adrian mengembuskan napas pelan. "Mayang... Aku hanya merasa ada banyak hal yang belum kita bicarakan dengan jujur."
Mayang menelan ludah. "Aku sudah bilang, tidak ada apa-apa."
"Aku ingin mempercayaimu." Suara Adrian tetap tenang. "Tapi kepercayaan itu tidak bisa dipulihkan hanya dengan mengatakan 'tidak ada apa-apa'."
Mayang menundukkan pandangan. Ia tahu ucapan Adrian bukan sekadar dugaan. Sejak beberapa waktu terakhir, Adrian memang merasakan banyak kejanggalan dalam sikapnya, meski belum memiliki bukti yang memastikan apa pun.
"Aku butuh waktu untuk berpikir," lanjut Adrian. "Bukan untuk menghukummu. Tapi untuk memastikan kita masih berjalan ke arah yang sama."
Mata Mayang mulai berkaca-kaca. "Jadi....kamu benar-benar menjauhiku."
Adrian tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis sebagai tanda pamit. "Aku harus pergi." Sebelum berbalik, ia berkata pelan, "Kalau memang tidak ada yang disembunyikan, kita pasti bisa membicarakannya ketika waktunya tepat." Adrian kemudian melangkah menuju mobilnya.
Mayang tetap berdiri mematung. Ia memandangi punggung pria itu hingga menghilang dari pandangan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan bahwa hubungan yang selama ini ia anggap pasti, perlahan mulai terlepas dari genggamannya.
Mayang tetap berdiri di tempatnya. Tatapannya tidak lepas dari mobil Adrian yang perlahan meninggalkan area gedung. Semakin lama... Semakin jauh. Hingga akhirnya menghilang di balik tikungan.
Barulah ia mengepalkan kedua tangannya. "Aku benci diperlakukan seperti ini, Adrian..." Suaranya nyaris tak terdengar. "Aku benci."
Dadanya terasa sesak. Selama ini, Adrian tidak pernah bersikap sedingin itu kepadanya. Ia tahu, semua berubah sejak benih kecurigaan mulai tumbuh di hati pria itu.
Mayang memejamkan mata. "Aku memang pernah melakukan kesalahan... Aku memang pernah mencari pelarian. Tapi itu bukan karena aku tidak mencintaimu." Air matanya mulai menggenang. "Aku sudah jauh berubah demi kamu. Aku belajar menjadi pasangan yang lebih baik. Aku berusaha meninggalkan semua kebiasaan burukku. Kamu terlalu naif, Adrian. Kamu selalu melihat dunia seolah semuanya hanya hitam dan putih. Padahal manusia bisa salah... lalu berubah." Ia menggigit bibirnya pelan. "Aku memang mencari sedikit hiburan saat hubungan kita membosankan... Tapi perasaanku kepadamu itu nyata. Aku sangat mencintaimu."
Kalimat-kalimat itu hanya berputar di dalam kepalanya. Tak satu pun sempat ia ucapkan kepada Adrian. Karena ia tahu... Cinta saja tidak selalu cukup untuk mengembalikan kepercayaan yang mulai retak.
Mayang membuka matanya kembali. Jalan di depannya kini telah kosong. Adrian sudah benar-benar pergi. Dan untuk pertama kalinya, muncul ketakutan yang selama ini berusaha ia sangkal. Bagaimana jika suatu hari nanti... Pria yang begitu ia cintai itu benar-benar memilih berjalan menjauh, tanpa pernah menoleh lagi kepadanya?
Mayang masih memandangi jalan yang baru saja dilalui mobil Adrian. Pikirannya dipenuhi rasa kecewa dan cemas. Tiba-tiba... Seseorang merangkul bahunya dari belakang. "Santai saja, Nona." Suara itu langsung dikenali Mayang. Bastian. "Sepertinya ada yang sedang butuh hiburan." Bastian menyeringai. "Kalau begitu, izinkan aku menemanimu."
Mayang sontak menepis tangan pria itu. "Apa yang kamu lakukan?" Wajahnya langsung berubah tegang. "Kamu gila, ya?"
Bastian hanya tertawa kecil, seolah tidak merasa bersalah. "Kenapa? Takut ketahuan?"
Mayang menoleh ke kanan dan kiri. Beberapa orang masih berlalu-lalang di sekitar gedung. Ia segera menjaga jarak dari Bastian. "Kamu ini benar-benar tidak berpikir! Hubunganku dengan Adrian sedang retak. Kalau ada orang yang melihat kita bersama, bagaimana?"
Bastian memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Memangnya seheboh itu?"
Mayang mendekat sambil berbisik dengan nada tajam. "Bisa saja Adrian menyuruh seseorang mengawasiku. Aku tidak tahu sejauh mana dia sudah curiga. Dan kamu malah datang merangkulku di tempat umum. Bisa-bisanya kamu bersikap seperti ini!"
Bastian mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Baik, baik. Aku terlalu ceroboh." Meski meminta maaf, senyum tipis masih terlihat di wajahnya.
Sikap santainya justru membuat Mayang semakin kesal. "Dengarkan aku." Mayang menatap lurus ke matanya. "Mulai sekarang jangan pernah mendatangiku sembarangan. Jangan telepon. Jangan kirim pesan. Kalau ada sesuatu yang penting, kita cari cara yang lebih aman."
Bastian menghela napas. "Kamu benar-benar sedang panik."
"Aku sedang menjaga hubunganku." Mayang menegaskan. "Aku belum menyerah pada Adrian. Aku masih akan mempertahankan hubungan ini."
Bastian memiringkan kepalanya. "Lalu aku ini apa?"