NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Undangan dari Keluarga Kho

Keira.

Nama itu tertinggal di ruang kerja Vila Biru sepanjang malam, sementara perempuan yang memilikinya tidak tahu apa pun.

Tiga hari kemudian, Keira masih menjalani hidupnya seperti biasa. Pagi mengantar Genki, siang bekerja di D.N, sore menjemput anak itu, malam sesekali menerima pesan Rayhan yang tidak panjang tapi selalu tepat waktu.

Ia hampir bisa percaya bahwa hidupnya mulai punya ritme baru.

Sampai Meilan mengirim pesan di grup keluarga Yanto.

Malam ini pulang. Ada undangan penting.

Tidak ada tanda tanya.

Tidak ada pilihan.

Keira membaca pesan itu di pantry kantor D.N. Salma yang sedang menuang air mineral langsung melihat wajahnya berubah.

"Rumah Yanto lagi?"

Keira mengangguk.

"Mau aku sumpahin Wi-Fi mereka mati?"

Keira tertawa kecil meski dadanya sudah terasa berat. "Jangan. Nanti aku yang disuruh panggil teknisi."

"Benar juga." Salma bersandar di meja pantry. "Ada apa?"

"Katanya undangan penting."

Salma mengangkat alis. "Kalau dari nada begitu, biasanya penting untuk Kiara, capeknya untuk kamu."

Keira tidak membantah.

Malam itu, ketika ia tiba di Rumah Yanto, ruang keluarga sudah lebih ramai dari biasanya. Meilan duduk dengan amplop undangan tebal di tangan. Fengky berada di sofa sebelah, membaca detail kartu dengan wajah penuh perhitungan. Kiara duduk paling dekat dengan Meilan, memakai dress rumah yang terlalu rapi untuk disebut santai.

"Akhirnya pulang," kata Meilan.

Keira meletakkan tas di dekat kursi. "Ada apa, Ma?"

Meilan mengangkat kartu undangan.

Kertasnya krem, huruf timbul berwarna emas pucat.

Ulang Tahun ke-27 Ethan Kho.

Rumah Kho, Pondok Indah.

Keira menatap nama itu sedikit lebih lama daripada seharusnya.

Ethan.

Ko Ethan.

Nama masa kecil yang sudah lama tidak ia dengar dari jarak dekat.

"Keluarga Kho mengadakan makan malam ulang tahun," kata Fengky. "Bukan pesta besar, tapi tamunya orang-orang penting."

Kiara tersenyum lembut. "Ko Ethan baru pulang dari luar negeri. Mama Kho mengundang beberapa keluarga dekat."

Keira menatap Kiara. "Kamu sudah tahu?"

"Tentu. Mama Kho yang telepon Mama langsung."

Meilan tersenyum puas. "Mama Kho sangat perhatian pada Kiara. Dia bahkan tanya warna gaun apa yang Kiara pakai."

Keira menangkap pesan di balik kalimat itu. Undangan ini bukan sekadar ulang tahun. Ini panggung. Dan seperti biasa, Kiara akan didorong ke tengah lampu.

"Aku perlu ikut?" tanya Keira.

Meilan menatapnya seolah pertanyaan itu bodoh. "Tentu. Keluarga Yanto datang lengkap. Jangan membuat orang berpikir kita tidak kompak."

"Aku ada jadwal dengan Genki besok pagi."

"Acara malam ini. Jangan pakai alasan itu terus."

Keira menutup mulut.

Fengky melipat undangan. "Kamu datang, berpakaian sopan, jangan menarik perhatian. Fokus malam ini untuk Kiara."

Kiara menunduk pura-pura malu. "Pa, jangan begitu. Kak Keira juga pasti senang ketemu Ko Ethan lagi. Dulu mereka dekat, kan?"

Kalimat itu lembut, tetapi ujungnya tajam.

Meilan melirik Keira.

"Itu masa kecil," kata Keira.

"Bagus kalau kamu tahu," jawab Meilan cepat. "Sekarang Ethan sudah berbeda. Dia penerus Kho Corporation. Mama Kho pasti memikirkan pasangan yang sepadan untuk anaknya."

Kata sepadan membuat Keira teringat Rayhan.

Sepadan bagiku bukan soal harta atau nama keluarga.

Perbedaan dua kalimat itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus perih.

Meilan melanjutkan, "Kiara harus tampil sempurna. Kamu bantu pastikan gaunnya tidak ada masalah. Dan bawa hadiah itu dari ruang kerja Papa."

"Hadiah apa?"

Fengky menunjuk ke arah ruang kerjanya. "Lukisan pemandangan lama. Ethan dulu suka karya guru seni tertentu. Kiara akan memberikannya. Ceritanya harus tepat."

Keira menatap Fengky. "Kiara tahu tentang gurunya?"

Kiara tersenyum. "Kak Keira bisa cerita lagi, kan? Dulu Kakak yang ikut kelas seni dengannya."

Jadi itu sebabnya ia dipanggil.

Keira bukan diundang untuk hadir sebagai keluarga.

Ia dibutuhkan sebagai ingatan yang bisa dipinjam Kiara.

"Aku akan tulis poinnya," kata Keira.

"Jangan cuma tulis," kata Meilan. "Ajari Kiara cara bicara. Jangan sampai di depan Mama Kho dia terlihat tidak tahu apa-apa."

Kiara mendekat, menggandeng lengan Keira dengan manis. "Bantu aku ya, Kak. Aku gugup."

Keira menatap tangan di lengannya.

Gugup.

Kiara selalu memakai kata kecil untuk menutupi hal besar yang ia ambil dari orang lain.

Tetapi Keira tidak ingin ribut malam ini. Ia masih harus menjaga tenaga, menjaga pekerjaan, menjaga hubungan barunya dengan Rayhan agar tidak tercemar emosi dari rumah ini.

"Baik," katanya.

Mata Meilan puas. Fengky sudah kembali melihat ponsel. Kiara tersenyum seperti anak baik.

Satu jam kemudian, mereka berangkat ke Rumah Kho di Pondok Indah.

Rumah itu tidak seberlebihan Vila Biru, tetapi punya kemewahan yang lebih tua dan tenang. Halaman luas, pohon kamboja tertata, lampu taman jatuh lembut di jalur batu. Di dalam, tamu-tamu berpakaian rapi berbicara pelan sambil membawa gelas minuman.

Beberapa perempuan muda datang bersama ibu mereka. Mereka tersenyum sopan, tetapi mata mereka sibuk menilai satu sama lain. Keira langsung memahami maksud "ulang tahun kecil" itu.

Ini bukan hanya ulang tahun.

Ini pasar halus untuk mencari calon menantu.

Meilan merapikan rambut Kiara sebelum masuk ke ruang utama. "Ingat yang Mama ajarkan. Sapa Mama Kho dulu. Jangan terlalu agresif, tapi jangan terlihat pasif."

"Iya, Ma."

"Keira, berdiri di belakang saja. Kalau Mama butuh, baru bicara."

Keira mengangguk.

Di ruang utama, Mama Kho berdiri dekat meja bunga. Lily Kho tampak anggun dengan kebaya modern warna champagne. Wajahnya lembut, senyumnya mudah, tetapi matanya sesekali bergerak ke pintu seperti menunggu seseorang.

Di sampingnya, Papa Kho berbicara dengan beberapa tamu pria. Herman Kho terlihat tenang dan berwibawa.

Meilan segera membawa Kiara mendekat.

"Tante Lily," sapa Kiara manis, suaranya dibuat lembut. "Terima kasih sudah mengundang kami."

Mama Kho tersenyum. "Kiara, kamu makin cantik."

Kiara menunduk malu. "Tante terlalu baik."

Meilan tertawa kecil. "Dia dari tadi gugup ingin bertemu Tante."

Keira berdiri setengah langkah di belakang, memegang kotak lukisan. Mama Kho baru melihatnya setelah beberapa detik.

"Keira?" Senyum Mama Kho berubah lebih hangat. "Kamu juga datang."

Keira menunduk sopan. "Selamat malam, Tante Lily."

"Sudah lama tidak bertemu. Kamu makin dewasa."

Sebelum Keira menjawab, Meilan menyela halus, "Keira sekarang sibuk kerja di D.N. Tapi malam ini tentu harus ikut keluarga."

Kalimat itu terdengar bangga, tetapi Keira tahu fungsinya: mengembalikan dirinya ke posisi pelengkap.

Kiara cepat menyerahkan hadiah. "Tante, ini sedikit hadiah untuk Ko Ethan. Papa bilang dulu Ko Ethan menyukai lukisan pemandangan dari aliran ini."

Mama Kho tampak terkejut senang. "Kamu ingat?"

Kiara tersenyum malu. "Sedikit. Kak Keira juga bantu mengingatkan."

Bagus.

Kali ini Kiara menyebutnya, tetapi hanya sebagai catatan kaki.

Mama Kho menerima hadiah itu dengan wajah lembut. "Ethan pasti suka."

Saat nama itu disebut, suara di ruang utama sedikit berubah. Beberapa tamu menoleh ke tangga.

Keira ikut menoleh.

Seorang pria turun dari lantai atas dengan langkah tenang. Kemeja putih, jas abu-abu, wajah yang lebih matang daripada ingatan Keira, tetapi senyumnya masih sama lembutnya.

Ethan Kho.

Selama beberapa detik, matanya menyapu ruangan dengan sopan.

Lalu berhenti pada Keira.

Senyumnya hilang sedikit, digantikan sesuatu yang terlalu lama ditahan.

"Keira," katanya pelan.

Kiara yang berdiri di samping Meilan langsung menegang.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!