NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Dunia Maison Fevre

Jarum mesin jahit bergerak cepat, memecah pagi Maison Fevre dengan suara halus yang rapat.

Ning berdiri di depan meja potong sambil menahan ujung kain organza warna sampanye. Di pergelangan tangannya terselip bantalan jarum kecil, rambutnya digulung asal dengan pensil pola, dan di samping kakinya ada dua tas kain berisi sampel yang harus ia bawa ke ruang fitting.

"Ning, garis pinggangnya turun setengah senti," seru Jia dari meja sebelah.

"Aku lihat."

Ning menunduk. Pensilnya bergerak di atas kertas pola, pendek-pendek, bersih, tidak ragu. Ia tidak lagi terlihat seperti perempuan yang dulu datang dengan wajah pucat dan mata kosong. Wajahnya masih berubah pelan dari hari ke hari, tetapi di bawah lampu putih studio, yang paling mencolok justru matanya.

Fokus. Hidup.

Jia menyipitkan mata, lalu berbisik, "Kamu akhir-akhir ini beda banget, tahu gak?"

"Beda gimana?"

"Lebih... mahal."

Ning nyaris tertawa.

"Itu pujian atau tuduhan?"

"Pujian, lah. Kalau tuduhan, aku bilang kamu mirip istri konglomerat yang nyamar jadi asisten."

Ujung pensil Ning berhenti sepersekian detik.

Jia tidak menyadarinya. Ia sudah kembali menarik benang yang kusut sambil mengomel pelan soal klien yang mengubah ukuran di menit terakhir.

Pintu kaca depan terbuka. Lonceng kecil berbunyi.

Boss Fendi keluar dari ruangannya dengan langkah cepat. "Ning, Jia, fokus sebentar. Klien VIP datang."

Ning menaruh pola, melepas jarum dari bantalan, lalu merapikan blus putihnya. Saat ia menoleh, tubuhnya langsung membeku.

Yenni berdiri di dekat sofa tamu, memakai dress midi biru tua, tas kecil di pergelangan tangan, dan senyum yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

"Selamat pagi, Pak Fendi," ucap Yenni.

"Selamat pagi, Bu Yenni. Senang sekali Ibu datang lagi."

Ning menahan napas. Di luar rumah, Yenni bukan sahabat yang bisa memeluknya seenaknya. Di sini, Yenni adalah klien, seorang perempuan dari lingkaran sosial yang semua orang di Maison Fevre kenal sebagai pelanggan besar.

Yenni menoleh padanya.

"Ning."

Satu kata itu terdengar biasa. Namun mata Yenni lembut.

"Bu Yenni," balas Ning, profesional.

Boss Fendi tersenyum puas. "Bu Yenni ingin membuat setelan keluarga untuk ulang tahun Felix. Saya pikir Ning bisa bantu konsep awal. Tangannya cukup rapi, sense warnanya juga bagus."

"Saya memang ingin Ning yang pegang," kata Yenni.

Studio yang tadi ramai mendadak lebih pelan. Beberapa staf pura-pura mengecek kain, tetapi telinga mereka jelas terbuka.

Ning mengambil tablet dan buku ukuran. "Untuk acara formal atau semi formal, Bu?"

"Semi formal. Di hotel, tapi Felix tidak suka yang terlalu kaku. Kalau bisa tetap nyaman untuk anak seusianya."

Mendengar nama Felix, sudut bibir Ning naik sedikit. Anak itu pasti akan berisik kalau dipaksa memakai jas terlalu tebal.

"Kalau begitu, untuk Felix bisa pakai jaket ringan, potongan clean, bahan yang jatuhnya bagus tapi tidak panas. Warna keluarga bisa senada, bukan seragam persis."

Yenni duduk, memperhatikan cara Ning bicara. Ning tidak terburu-buru menjual desain. Ia bertanya dulu, mendengar, lalu menggambar garis cepat di tablet. Dalam sepuluh menit, di layar sudah muncul tiga siluet: dress Yenni yang anggun, jas Hendra yang sederhana, dan jaket Felix yang lebih muda.

Jia yang berdiri di belakang diam-diam mengangkat ibu jari.

Yenni melihatnya.

Ada rasa bangga yang menusuk dadanya pelan. Dulu Ning bisa menggambar berjam-jam tanpa sadar makan. Sekarang, di kehidupan yang baru ini, ia kembali memegang pensil, kembali bernapas lewat garis-garis desain, tetapi dengan gaji asisten, jam kerja panjang, dan perjalanan yang dulu menghabiskan tenaga dari Tangerang ke Jakarta Selatan.

Ning pernah menjadi putri keluarga Tju. Sekarang ia berdiri sambil membawa sampel kain untuk orang lain.

Yenni menunduk sedikit, menyembunyikan panas di matanya.

Lonceng pintu kembali berbunyi.

Seorang perempuan masuk dengan langkah tajam. Kacamata hitamnya baru dilepas setelah ia berdiri tepat di tengah studio. Tas bermerek di lengannya mengilap, bibirnya merah tua, matanya langsung menyapu ruangan seperti mencari kesalahan.

Boss Fendi agak kaku. "Bu Lili."

Lili Beng tidak menjawab salam itu dengan benar. Tatapannya berhenti pada Ning.

"Ini asisten baru yang ramai dibicarakan itu?"

Suasana studio menegang.

Ning menutup tablet pelan. "Selamat pagi, Bu Lili."

"Pagi." Lili melihatnya dari kepala sampai kaki. "Kamu yang waktu itu bantu fitting klien di ruangan saya?"

"Saya membantu tim, Bu. Kalau ada yang kurang nyaman, saya bisa cek ulang."

Lili tersenyum tipis. Senyum itu tidak hangat.

"Perempuan muda sekarang memang percaya diri sekali. Baru pegang jarum sedikit, sudah merasa bisa masuk ke ruang klien lama."

Jia di belakang Ning langsung memegang gulungan meteran lebih erat.

Boss Fendi maju setengah langkah. "Bu Lili, Ning hanya menjalankan arahan studio."

"Saya bicara dengan dia, Pak Fendi."

Ning merasakan beberapa pandangan tertancap di punggungnya. Ia paham jenis tatapan Lili. Bukan sekadar menilai pekerjaan. Ada luka lama yang dilempar ke orang yang salah.

Ia menurunkan dagu sedikit. "Kalau Ibu keberatan saya menangani bagian tertentu, saya akan minta arahan langsung dari Pak Fendi. Tapi untuk pekerjaan yang sudah dipercayakan, saya tetap akan pastikan hasilnya sesuai standar Maison Fevre."

Nada Ning tenang. Tidak menantang, tidak juga mundur.

Lili tampak tidak suka karena tidak mendapat reaksi yang ia inginkan.

"Standar?" Lili tertawa pendek. "Standar itu bukan cuma soal jahitan. Di tempat seperti ini, orang juga harus tahu batas."

Yenni meletakkan cangkirnya ke meja.

Bunyinya kecil, tetapi cukup untuk membuat semua orang menoleh.

"Bu Lili benar," kata Yenni lembut. "Karena tahu batas itu penting, saya rasa klien juga perlu menghargai staf yang sedang bekerja."

Wajah Lili berubah.

Yenni tersenyum, masih sopan. "Saya memilih Ning karena konsepnya cocok untuk keluarga saya. Kalau ada masalah dengan jadwal studio, tentu Pak Fendi yang mengatur. Tapi kalau masalahnya hanya karena Ning masih muda, saya kira itu bukan alasan profesional."

Untuk beberapa detik, studio benar-benar sunyi.

Lili menatap Yenni, menimbang nama keluarga, lingkaran pertemanan, dan pengaruh yang berdiri di balik senyum itu. Akhirnya ia memasang kembali kacamata hitamnya.

"Saya tunggu revisi gaun saya sore ini."

"Tentu, Bu," jawab Boss Fendi cepat.

Lili pergi dengan langkah sama tajamnya.

Begitu pintu tertutup, Jia mengembuskan napas panjang.

"Aku kira meteran ini bakal jadi senjata," gumamnya.

Ning meliriknya. "Jangan. Itu inventaris kantor."

Jia hampir tertawa, lalu buru-buru menutup mulut karena Boss Fendi masih ada di sana.

Boss Fendi menatap Ning cukup lama. "Kamu handled it well."

"Terima kasih, Pak."

"Nanti setelah makan siang, ikut meeting kecil. Ada peluang project baru. Jangan pulang cepat."

Ning berkedip. "Project baru?"

Yenni mengambil tasnya dengan santai, seolah tidak punya hubungan apa pun dengan kalimat itu. "Saya juga akan ikut sebentar. Komite orang tua JEIS sedang mencari studio untuk konsep seragam event tahunan dan beberapa opsi uniform tambahan. Saya rekomendasikan Maison Fevre."

Jantung Ning memukul lebih kuat.

JEIS.

Sekolah Kian.

Sebuah proyek resmi, bukan sekadar membantu fitting atau menggambar ulang ide desainer senior.

"Saya belum tentu pantas pegang sebesar itu," ucap Ning pelan.

Yenni menatapnya. Kali ini, sebagai sahabat.

"Kalau kamu tidak pantas, aku tidak akan bawa nama sekolah anakku ke sini."

Boss Fendi mengangguk. "Kita mulai dari konsep. Ning, kamu siapkan moodboard. Jia bantu kumpulkan bahan. Saya mau lihat cara kamu membaca kebutuhan sekolah internasional, bukan cuma membuat baju bagus."

"Baik, Pak."

Setelah Yenni pergi, Jia langsung menyeret kursinya mendekat.

"Ning, kamu sadar gak? Itu JEIS. Kalau konsepmu kepakai, nama kamu bisa naik."

Ning menatap layar tablet yang masih menampilkan sketsa keluarga Yenni. Ujung jarinya dingin, tetapi bukan karena takut.

Karena pintu yang lama tertutup tiba-tiba terbuka sedikit.

"Aku akan kerja sebaik mungkin," katanya.

Jia menyeringai. "Bagus. Nanti kalau kamu terkenal, jangan lupa traktir aku kopi."

"Kopi duluan. Terkenalnya nanti."

Mereka tertawa kecil, lalu kembali bekerja.

Malamnya, saat Ning pulang ke Menteng Enclave, ruang makan sudah terang. Kevin duduk di ujung meja dengan tablet kerja di samping piringnya, sedangkan Kian menatap ponsel sambil pura-pura tidak menunggu.

"Mama pulang," kata Kian tanpa mengangkat wajah.

Langkah Ning berhenti di ambang ruang makan.

Satu panggilan itu masih bisa membuat dadanya penuh.

"Iya, Mama pulang."

Kevin mengangkat mata. Tatapannya singkat, tetapi hangat. Di lehernya, rantai tipis dengan cincin lama itu terlihat sedikit dari balik kerah.

"Hari ini capek?" tanyanya.

"Lumayan. Tapi ada kabar baik." Ning duduk di sebelah Kian. "Maison Fevre mungkin dapat project dari JEIS."

Kian akhirnya menoleh. "JEIS?"

"Iya. Baru tahap konsep."

"Kalau seragamnya jelek, aku protes."

Ning menyipitkan mata. "Kalau bagus?"

Kian mengambil sendok. "Aku bilang ke Felix jangan banyak komentar."

Kevin menutup tablet kerjanya.

Ning melihat gerakan kecil itu. "Kamu sendiri bagaimana? Hari ini kerjaan banyak?"

"Biasa."

Jawaban Kevin pendek seperti biasa, tetapi tangannya menggeser semangkuk sup hangat ke dekat Ning.

"Makan dulu. Cerita setelah itu."

Ning tersenyum.

Rumah ini dulu hanya menyimpan barang-barang lama dan rindu yang tidak selesai. Sekarang ada suara sendok, protes remaja, sup panas, dan seorang laki-laki yang belajar menutup tablet saat istrinya pulang.

Keesokan harinya, menjelang jam makan siang, Ning masuk ke ruang ganti kecil Maison Fevre untuk mengganti blazer yang terkena kapur pola.

Di atas bangku kayu, ada sebuket mawar putih dibungkus kertas abu-abu.

Ning berhenti.

Tidak ada nama pengirim.

Di sela bunga, terselip kartu kecil.

Besok siang, aku traktir makan.

Ning membaca kalimat itu dua kali.

Kevin tidak pernah menulis seperti ini.

Dan justru karena itu, tengkuk Ning mendadak dingin.

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!