NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Didikan untuk Jay

Nampan porselen di tangannya terasa lebih berat daripada sebelumnya.

Keira tidak punya waktu lama untuk memikirkan maksud Celeste.

Hari-hari di Kediaman Ciu terus bergerak seperti mesin yang tidak peduli siapa yang masih lelah. Memasuki minggu kedua, jadwal Keira makin padat. Stephanie mulai lebih stabil, tetapi tetap membutuhkan pendampingan ketika bayi menangis terlalu lama. Jayden, di sisi lain, mulai mencari Keira dengan cara yang sama sekali tidak manis.

Ia tidak memanggil.

Ia membuat masalah.

Pagi itu, Keira dipanggil ke taman setelah seorang staf berlari ke paviliun belakang.

"Suster Keira, Adik Jay di taman. Dia tidak mau dengar siapa pun."

Keira baru selesai mencatat jadwal minum bayi Stephanie. Ia menyerahkan buku kepada pengasuh pendamping, lalu pergi.

Di taman belakang, Jayden berdiri di dekat pot bunga besar dengan wajah merah karena marah. Di depannya, seekor anjing kecil milik tukang kebun bersembunyi di balik kaki pemiliknya. Jayden memegang ranting kecil dan menunjuk ke arah anjing itu.

"Aku bilang duduk! Kenapa dia nggak duduk?"

Tukang kebun tua tampak bingung. "Adik Jay, dia takut."

"Aku nggak peduli!"

Keira berhenti beberapa langkah dari mereka. "Adik Jay."

Jayden menoleh. Begitu melihat Keira, wajahnya langsung lebih galak. "Kamu lagi."

"Iya. Aku lagi."

"Aku nggak panggil kamu."

"Staf memanggil saya karena Adik Jay membuat orang lain takut."

"Aku cuma main!"

Keira melihat ranting di tangan Jayden. "Kalau main membuat yang lain takut, itu bukan main. Itu memaksa."

Jayden menghentakkan kaki. "Dia anjing. Dia harus nurut!"

"Dia bukan mainan."

"Aku mau dia duduk!"

"Kalau Adik Jay ingin dia duduk, Adik Jay harus membuat dia percaya kamu tidak akan menyakitinya."

Jayden mengerutkan hidung. "Ribet."

"Iya," kata Keira. "Makanya lebih mudah menyuruh orang daripada membuat orang percaya."

Tukang kebun menunduk, tidak berani bereaksi. Namun Keira melihat bahunya sedikit rileks.

Jayden melempar ranting itu ke rumput, bukan ke anjing. Masih marah, tetapi setidaknya tangannya kosong.

"Aku mau makan."

"Baik. Kita ke ruang makan kecil."

Jayden berjalan duluan dengan dagu terangkat, seolah ia menang. Keira membiarkannya. Anak lima tahun tidak perlu kalah di depan semua orang untuk belajar. Ia hanya perlu bertemu akibat dari pilihannya sendiri.

Di ruang makan kecil, pengasuh tua sudah menyiapkan makan siang. Nasi, sup ayam, sayur, dan potongan buah. Melissa duduk di sofa samping dengan tablet di tangan, pura-pura membaca laporan, tetapi jelas menonton.

Jayden duduk, mengambil sendok, lalu menatap Keira.

"Suapin."

Keira berdiri di samping meja. "Adik Jay bisa makan sendiri."

"Aku mau disuapin."

"Kalau tangan Adik Jay sakit, saya bantu."

Jayden melihat kedua tangannya, lalu cemberut. "Nggak sakit."

"Berarti bisa sendiri."

Sendok itu dilempar ke lantai.

Pengasuh tua langsung bergerak hendak mengambil. Keira mengangkat tangan kecil, memberi isyarat berhenti.

Jayden menatapnya, menunggu kepanikan.

Keira mengambil sendok bersih dari rak, meletakkannya di samping piring. "Satu kali lagi sendok dilempar, makan siang selesai."

"Aku nggak takut."

"Aku tahu."

Jayden menyendok nasi, memasukkannya ke mulut, mengunyah dengan mata terus menantang Keira. Dua suap. Tiga suap. Lalu ia tiba-tiba mendorong piring.

Nasi dan sup tumpah ke lantai.

Pengasuh tua menutup mulut.

Melissa akhirnya mengangkat kepala.

Jayden menyilangkan tangan. "Aku nggak mau makan."

Keira mengambil napas pelan. "Baik."

Ia mengangkat piring yang tumpah, menyerahkannya kepada staf untuk dibersihkan, lalu mengambil gelas air minum Jayden dan meletakkannya tetap di meja.

"Makan siang selesai."

Jayden membelalak. "Buat yang baru!"

"Tidak."

"Aku mau nasi yang baru!"

"Adik Jay sendiri yang memutuskan untuk tidak makan saat mendorong piring."

"Aku cuma marah!"

"Boleh marah. Tapi piring yang didorong tetap tumpah."

Jayden turun dari kursi. "Mama!"

Melissa menaruh tablet. Untuk pertama kalinya, senyumnya tidak terlalu santai. "Keira, mungkin buatkan sedikit saja. Dia masih kecil."

Keira menoleh kepada Melissa, menunduk cukup sopan. "Nyonya Ketiga, kalau saya menyerah sekarang, besok dia akan lebih parah."

Ruangan diam.

Pengasuh tua menatap lantai. Staf yang memegang kain pel membeku.

Jayden melihat ibunya, yakin ia akan diselamatkan.

Melissa menatap Keira.

Keira tidak menantang. Ia hanya berdiri dengan tenang, tetapi punggungnya terasa tegang. Menolak keinginan anak mudah. Menahan ibunya yang punya kuasa di rumah ini jauh lebih sulit.

Beberapa detik berlalu.

Melissa akhirnya bersandar kembali. "Jam makan berikutnya pukul tiga."

Jayden terperangah. "Mama!"

"Kamu dengar Suster Keira."

Jayden menangis.

Keras, seperti ancamannya di hari pertama. Ia duduk di lantai, memukul karpet dengan telapak tangan, berteriak bahwa ia lapar, bahwa Keira jahat, bahwa ia tidak mau melihat Keira lagi. Keira duduk di kursi kecil dekat pintu, tidak mendekat untuk memaksa, tidak menjauh untuk menyerah.

"Kalau Adik Jay mau dipeluk setelah selesai menangis, bilang," katanya.

"Nggak mau!"

"Baik."

Pukul satu, Jayden berhenti menangis karena lelah.

Pukul dua, ia mulai melirik meja kosong.

Pukul setengah tiga, ia memegang perut.

"Aku lapar," gumamnya, suaranya kecil.

Keira berjongkok di depannya. "Aku tahu."

"Kamu jahat."

"Mungkin terasa begitu."

"Aku mau makan sekarang."

"Jam makan pukul tiga. Lima belas menit lagi."

Jayden menatap jam dinding seperti benda itu musuh pribadi. Air matanya masih menempel di pipi, tetapi kali ini ia tidak berteriak.

Tepat pukul tiga, Keira membawa porsi kecil nasi hangat, sup, dan telur kukus. Ia meletakkannya di meja.

"Aturannya sama. Makanan tidak dilempar. Kalau kenyang, bilang cukup."

Jayden naik ke kursi dengan wajah kusut. Ia mengambil sendok. Tangannya agak kaku, tetapi ia makan sendiri.

Satu suap.

Dua suap.

Setelah beberapa menit, ia berbisik, hampir tidak terdengar, "Enak."

Keira pura-pura tidak menjadikannya kemenangan besar. "Bagus."

Jayden menghabiskan setengah porsi, lalu menaruh sendok pelan.

"Cukup."

Keira tersenyum tipis. "Terima kasih sudah bilang."

Anak itu menatapnya dari balik bulu mata basah.

"Ci Keira."

Pengasuh tua menoleh cepat.

Melissa yang berdiri di ambang pintu juga berhenti.

Keira menahan sesuatu yang hangat di dadanya. Ia tidak membuat wajahnya berubah terlalu banyak, karena Jayden masih terlalu mudah malu.

"Iya, Adik Jay?"

"Besok kalau aku nggak lempar makanan, aku boleh main mobil merah?"

"Boleh. Setelah makan."

Jayden mengangguk kecil, seolah baru menandatangani perjanjian penting.

Malam itu, setelah Jayden akhirnya tertidur di ruang bermain dengan mobil merah di samping bantal, Keira keluar pelan dan menutup pintu.

Koridor sudah sepi.

Di dekat vas tinggi samping pintu, ada sebuah cangkir teh hangat dan satu keping biskuit mentega di atas piring kecil.

Tidak ada pesan.

Tidak ada nama.

Keira menatapnya lama.

Tehnya masih mengepul, seolah seseorang baru saja meletakkannya di sana dan pergi sebelum ia membuka pintu.

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!