Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Uang Gaji dan Janda Sri
Amplop empat juta di tasnya terasa mendadak berat seperti batu.
Bu Yati berdiri di bawah pohon mangga kecil cukup lama sampai layar ponselnya redup sendiri. Pesan Tari masih seperti duri yang tertancap di matanya.
Mama, aku mau nikah sama dia. Nggak apa-apa kan?
Dulu, Bu Yati menjawab terlambat. Dulu ia berkata pelan lewat telepon, "Kalau kamu sudah yakin, Ibu ikut saja." Kalimat itu terdengar sabar, terdengar seperti restu, padahal sebenarnya ia hanya takut ribut dengan Pak Tono dan anak-anak lelaki.
Kali ini, ibu jarinya menekan layar dengan mantap.
Tunggu Mama. Jangan putuskan apa pun sebelum Mama datang.
Pesan itu terkirim dengan centang satu.
Sinyal Tari di kampung memang sering hilang. Justru itu yang membuat dada Bu Yati makin sesak. Anak perempuannya jauh, sendirian, dan mungkin sedang dikepung mulut-mulut yang menyuruhnya menerima nasib.
Bu Yati menyimpan ponsel. Sebelum berangkat menjemput Tari, ia butuh uang, kartu gaji, dan rumah yang tidak lagi bisa mengikat kakinya.
Sore turun saat ia kembali ke rumah Pak Tono. Anto dan Watini belum pulang. Bagus duduk di kursi bambu, pura-pura memperbaiki charger HP, tapi matanya langsung menempel ke tas kain Bu Yati. Pak Tono mondar-mandir di ruang tengah seperti orang kehilangan tempat duduk.
"Bu'e," katanya begitu melihat Bu Yati masuk. "Tadi kamu keterlaluan. Sampai satu kampung tahu."
Bu Yati meletakkan tas di atas meja. "Bagus. Berarti besok tidak perlu menjelaskan lagi."
Pak Tono terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
Sebelum ia menemukan kalimat baru, pintu depan dibuka kasar. Guntur masuk dengan seragam SMP kusut, rambut basah keringat, tas disampirkan satu bahu.
"Mak, minta uang seratus lima puluh ribu," katanya tanpa salam.
Bu Yati menatap anak bungsunya.
Tur. Anak yang pada malam kematiannya mengunci pintu lebih rapat.
Wajah remajanya masih penuh kesal, belum ada garis lelah laki-laki dewasa. Di matanya ada manja yang dulu selalu membuat Bu Yati luluh.
"Untuk apa?" tanya Bu Yati.
"Les tambahan. Guru minta bayar hari ini."
"Nama gurunya siapa?"
Guntur mengerutkan kening. "Lho, Mak kok nanya?"
"Kalau untuk sekolah, Ibu antar langsung besok pagi. Sekalian minta kuitansi."
Guntur langsung mendecak. "Ribet amat! Teman-teman bayar sendiri."
"Teman-temanmu bayar les atau bayar nongkrong di warnet belakang pasar?"
Wajah Guntur berubah. Bagus yang duduk di kursi hampir tertawa, tapi cepat menunduk saat Bu Yati meliriknya.
"Mak nggak percaya sama aku?"
"Tidak."
Jawaban pendek itu membuat ruang tengah hening.
Guntur seperti ditampar tanpa tangan. "Ya sudah! Pelit sekarang!" Ia membanting tas ke kursi, lalu mengambilnya lagi. "Aku keluar."
"Keluar boleh," kata Bu Yati. "Pulang sebelum Isya. Kalau lewat, pintu kukunci."
Guntur berhenti di ambang pintu, menoleh dengan mata menyala. "Mak berubah."
"Iya."
Bu Yati menatapnya tanpa berkedip. "Lebih baik kamu tahu dari sekarang."
Guntur pergi sambil menghentak sandal. Pintu bergetar saat tertutup. Pak Tono langsung menghela napas panjang.
"Anak masih kecil jangan dikerasi begitu. Nanti makin liar."
Bu Yati berbalik padanya. "Yang bikin anak liar itu uang mudah dan bapak yang selalu bilang sudahlah."
"Maryati..."
"Keluarkan kartu gajimu."
Pak Tono membeku. "Apa?"
"Kartu gaji. Buku tabungan. PIN mobile banking. Semua."
Bagus benar-benar berhenti memainkan charger.
Pak Tono tertawa kaku. "Kamu ini habis dari rumah besan langsung mau rampok suami sendiri?"
"Bukan rampok. Mulai hari ini, uang rumah dipegang aku."
"Selama ini juga aku kasih uang belanja."
Bu Yati mengambil ponsel Pak Tono dari meja. Laki-laki itu refleks ingin merebut, tapi Bu Yati mengangkat wajah.
"Mau aku buka di depan Bagus atau di depan satu RT?"
Pak Tono menelan ludah. Ia tahu istrinya hari ini bukan lagi perempuan yang takut pada pintu terbuka.
"PIN," kata Bu Yati.
"Itu privasi."
"PIN."
Bagus batuk pelan. "Pak, kasih saja. Daripada nanti ramai lagi."
Pak Tono menatap anaknya marah, tapi akhirnya menyebut angka dengan suara tertahan.
Bu Yati membuka aplikasi bank. Riwayat transfer muncul. Ia tidak perlu mencari lama. Nama Sri berkali-kali muncul di layar, jumlahnya tidak besar sekali, tapi rutin. Dua ratus ribu. Tiga ratus ribu. Lima ratus ribu menjelang Lebaran. Ada catatan kecil dari Pak Tono sendiri: buat obat, buat beras, buat anak.
Bu Yati memutar layar ke arah Bagus.
"Lihat."
Bagus mendekat, alisnya naik. "Sri? Janda Sri?"
Pak Tono langsung mengeras. "Dia tetangga butuh bantuan. Suaminya sudah tidak ada."
"Aku juga istrimu," kata Bu Yati. Ia menarik ujung dasternya yang sudah pudar. Jahitan di ketiaknya terlihat jelas. "Tapi aku pakai daster bolong. Dia pakai batik baru waktu pengajian minggu lalu, ya?"
Wajah Pak Tono merah. "Jangan fitnah."
"Transfer ini fitnah?"
Bu Yati menggulir layar lagi. Ada lebih banyak daripada yang ia ingat. Uang kecil yang dulu membuatnya menahan beli minyak goreng, uang kecil yang membuat Tari tidak punya ongkos pulang saat butuh, uang kecil yang setelah bertahun-tahun menjadi lubang besar di hidupnya.
"Mulai bulan ini," kata Bu Yati, "gajimu masuk ke aku. Kamu pegang lima ratus ribu untuk bensin dan makan di bengkel. Kalau kurang, bawa kuitansi."
"Aku kepala keluarga!"
"Kepala keluarga yang mengirim uang ke janda sementara anak perempuan sendiri mau dijual nasibnya ke kampung orang?"
Pak Tono tersentak. "Tari kenapa?"
"Itu urusanku. Karena selama ini kalau soal Tari, kamu selalu bilang nanti."
Bagus pelan-pelan duduk lebih tegak. "Bu, soal lowongan kerja..."
Bu Yati menoleh. Senyum Bagus langsung muncul, manis dan hati-hati.
"Aku pikir, kalau aku dapat kerja tetap, gajiku bisa bantu rumah. Aku juga bisa bantu Ibu jemput Tari nanti."
"Tidak."
Senyum Bagus patah sedikit. "Tidak bagaimana?"
"Lowongan itu tidak untuk kamu. Tidak untuk Anto. Tidak untuk siapa pun dulu. Aku simpan."
"Bu, dari awal katanya buat aku."
"Dari awal aku juga bodoh. Sekarang tidak."
Bagus diam. Di matanya ada hitungan baru, lebih tajam dari sebelumnya.
Bu Yati mengambil kartu ATM dari dompet Pak Tono, lalu memasukkannya ke dalam tas kain bersama amplop empat juta.
"Aturan rumah mulai malam ini," katanya. "Siapa pun yang tinggal di sini dan sudah punya penghasilan, setor lima ratus ribu sebulan untuk makan, listrik, air, dan beras. Yang tidak setor, jangan buka tudung saji seenaknya."
Pak Tono duduk lemas di kursi. Bagus tidak protes lagi, tapi rahangnya bergerak kecil.
Malam belum benar-benar turun ketika suara azan Magrib terdengar dari musholla. Bu Yati menutup tas kainnya rapat. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, uang rumah berada di tangannya.
Namun lega itu tidak sempat tumbuh.
Bagus tiba-tiba melihat ke arah pintu belakang. "Ratih belum pulang dari siang."
Bu Yati mengangkat kepala.
"Melati juga nggak ada," lanjut Bagus, wajahnya perlahan mengeras. "Dia bawa Mel ke rumah ibunya pagi tadi."
Di luar, langit berubah gelap.
Dan kali ini, dingin yang merayap di punggung Bu Yati bukan karena hujan.