Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Kenapa Dia yang Bebas Hukuman?
Aku membuka pintu sambil menggendong Sena.
Darman berdiri dengan buku stok di ketiak. Di belakangnya, seorang prajurit membawa baki sarapan tambahan yang belum kusentuh.
"Masuk, Pak."
Ia tidak duduk. "Mi dua porsi?"
"Saya yang ambil dan masak."
"Margarin?"
"Satu setengah sendok. Bawang goreng kira-kira dua sendok. Kecap sedikit. Saya siap ganti dan menerima sanksi."
Darman membuka buku, membandingkan jawabanku dengan catatan. "Komandan meninggalkan uang."
"Satu porsi untuk beliau. Satu porsi saya yang bayar."
"Kenapa nggak bilang dari pagi?"
"Bapak belum bertanya resmi. Di ruang makan terlalu banyak orang yang ingin dengar bukan untuk urusan stok."
Alis Darman naik. Prajurit di belakangnya menunduk menyembunyikan senyum.
"Bawa Sena. Pak Hendra minta keterangan di ruang rapat logistik."
Aku mengganti popok Sena, membungkusnya dengan kain tipis, lalu mengikuti mereka. Di ruang rapat kecil, Lettu Hendra sudah menunggu. Bu Ratna duduk di sisi kanan bersama dua perempuan dan selembar kertas penuh tanda tangan.
Jadi ini bukan sekadar dua porsi mi.
"Silakan duduk, Mbak Laras," kata Hendra. "Kami akan mencatat kejadian dan menyelesaikan sesuai prosedur."
Aku duduk dengan Sena di pangkuan. Darman menjelaskan stok berkurang, pengakuanku, dan uang dari Bram. Hendra mencatat tanpa komentar.
Ratna menunggu sampai ia selesai.
"Kalau boleh, Pak Hendra, kejadian ini menunjukkan masalah lebih besar," katanya. "Beberapa ibu khawatir penempatan janda muda sebagai ibu susuan di kompleks perwira menimbulkan ketidaknyamanan. Kami mengusulkan penggantian. Ada calon lain yang lebih matang dan sudah berkeluarga."
Ia mendorong kertas bertanda tangan.
Sena merasakan tubuhku menegang. Ia mencengkeram kerudungku dan mulai merengek.
"Apakah calon itu sedang menyusui?" tanyaku.
Ratna tersenyum. "Itu bisa dibicarakan dengan klinik."
"Apakah Sena mau minum darinya?"
"Belum dicoba."
"Jadi Ibu ingin mengganti sumber makan bayi yang baru mulai pulih berdasarkan kekhawatiran orang dewasa, bukan rekomendasi dokter?"
"Jangan memelintir. Kami menjaga nama baik."
Hendra mengangkat tangan. "Cukup. Usulan akan kami telaah. Soal mi, Mbak Laras mengaku dan biaya sudah dibayar. Tetap ada teguran tertulis."
"Saya terima," jawabku.
***
Aku, Bram, menerima pesan Adi saat memeriksa kendaraan di garasi batalyon.
`Komandan, Mbak Laras dipanggil logistik. Bu Ratna bawa surat tanda tangan.`
Aku membaca pesan itu dua kali. Urusan stok memang harus diselesaikan, dan Laras sudah tahu risikonya. Namun surat tanda tangan tidak ada hubungannya dengan dua porsi mi.
"Lanjutkan pemeriksaan tanpa saya," kataku kepada perwira pemeliharaan.
Dalam perjalanan ke gedung logistik, Adi menyusul dengan napas terengah.
"Isi suratnya apa?"
"Katanya mau ganti ibu susuan, Komandan. Calonnya sepupu salah satu anggota Persit."
"Rekomendasi klinik?"
"Nggak ada. Saya sudah tanya perawat. Mereka malah bilang jangan ganti pola lagi karena berat Sena baru mulai stabil."
Aku memperlambat langkah. "Siapa yang memberi tahu mereka ada pertemuan?"
Adi mengusap tengkuk. "Saya dengar dari dapur, lalu cek ke klinik."
"Sekali ini berguna."
Wajahnya langsung cerah. "Siap, Komandan. Berarti lain kali saya boleh dengar kabar dapur?"
"Tidak."
Wajah itu jatuh lagi.
Di depan ruang rapat, suara Laras terdengar jelas. Ia tidak menangis atau membela diri dengan kisah kemiskinan. Ia menanyakan data, kondisi Sena, dan rekomendasi dokter. Setiap pertanyaannya tepat mengenai lubang dalam usulan Ratna.
Aku berhenti di balik pintu.
Seharusnya aku membiarkannya menyelesaikan sendiri. Ia mampu. Justru karena ia mampu, aku tidak ingin orang-orang menjadikan statusnya sebagai alasan untuk terus menguji batas.
Laras datang ke kesatrian untuk bekerja. Selama pekerjaannya benar, tak seorang pun berhak memaksanya menebus dosa yang tidak pernah ia lakukan.
Ketika Hendra menyebut teguran tertulis, aku mendorong pintu.
***
Pintu terbuka.
Bram masuk. Semua orang berdiri kecuali aku yang masih memegang Sena.
"Lanjutkan," katanya.
Hendra menjelaskan singkat. Bram membaca lembar usulan Ratna, lalu meletakkannya kembali.
"Mi itu saya yang minta dibuatkan. Biayanya catat ke konsumsi pribadi saya. Kalau ada pelanggaran, saya penanggung jawabnya."
Ratna tampak kehilangan warna. "Tapi, Pak Danyon, persoalannya bukan cuma mi. Ada kekhawatiran bersama."
"Kekhawatiran medis dibahas dokter. Kekhawatiran disiplin dibahas logistik. Kekhawatiran pribadi tidak perlu memakai kop organisasi."
Ruangan hening.
Bram menatap Hendra. "Bagaimana kondisi Sena sejak Laras datang?"
"Berat badan belum ditimbang ulang, Komandan, tapi asupan masuk, muntah berkurang, dan catatan buang air membaik."
"Maka tidak ada alasan mengganti pengasuh. Surat ini arsipkan sebagai usulan yang tidak didukung evaluasi klinis."
"Siap."
Ratna meremas tali tasnya. "Kami hanya berniat baik."
"Niat baik tetap perlu data, Bu Ratna."
Ia tak mampu menjawab.
Darman berdeham dan menunjuk buku stok. "Untuk urusan dapur, saya tetap butuh aturan yang jelas. Kalau orang lapar malam, siapa yang memberi izin dan bagaimana mencatatnya?"
"Buat kotak konsumsi darurat untuk petugas malam dan kebutuhan medis," kata Bram. "Setiap pengambilan ditulis. Hendra susun prosedurnya hari ini."
"Siap, Komandan."
Aku menatap Darman. "Bagian saya tetap dipotong dari uang bulanan."
Darman mengangguk. "Itu baru adil."
Hendra mencoret draf teguran, lalu menulis ulang dasar pelanggaran dan penyelesaiannya. Tak ada perkara yang dihilangkan hanya karena Bram datang. Yang berubah hanyalah kesempatan Ratna memakai kesalahanku untuk mengusirku.
Untuk pertama kalinya sejak masuk kompleks, aku merasa aturan bisa menjadi pagar, bukan hanya pisau.
Asal orang yang memegangnya masih punya nurani.
Pertemuan selesai. Aku keluar paling akhir karena membenahi kain gendongan. Bram menyusul di lorong.
"Lain kali kalau lapar, bilang ke Adi. Jangan nekat sendiri."
"Kalau saya bilang, apa setiap tengah malam Bapak akan ikut makan?"
Ia berhenti.
Aku baru sadar telah berbicara terlalu berani. "Maaf."
"Nggak perlu." Suaranya rendah. "Tapi tetap bilang."
Ia berjalan pergi. Dari ujung lorong, Ratna memandang kami dengan wajah kaku.
Sore itu surat teguranku tetap dibuat. Aku menandatanganinya tanpa protes. Di bawah keterangan pelanggaran, Hendra menulis bahwa biaya telah dilunasi dan kebijakan tambahan makanan akan diatur melalui rekomendasi klinik.
Darman menyodorkan salinan kepadaku. "Kamu bebas dari hukuman tambahan karena Komandan ambil tanggung jawab."
"Saya nggak bebas. Tegurannya ada."
"Orang-orang nggak akan lihat begitu."
Benar saja. Saat kembali ke kamar, Bu Ratna berdiri di ujung tangga.
"Mbak Laras nggak sederhana ternyata," katanya.
"Saya cuma lapar, Bu. Yang membuatnya rumit bukan saya."
Aku masuk dan mengunci pintu yang akhirnya bisa menutup rapat.
Di balik daun pintu, jantungku belum juga tenang.
"Sadar, Laras," bisikku pada diri sendiri. "Dia Komandan. Kamu ibu susuan anaknya. Jangan mengarang mimpi."
Namun ketika Sena tertawa kecil dalam pelukanku, yang teringat justru suara Bram di lorong.
Tetap bilang.